Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Dimana kamu


__ADS_3

Bagas dan Anisah berada di atas pelaminan, yang sedang menerima tamu undangan, memberikan selamat pada kedua nya. Bagas sesekali mencari sosok Meidina namun tidak ada.


"Mas Alif. " Ucap Tati.


"Kenapa Tati? "


"Maaf, seharusnya sama Umi kasih tahu nya." Ucap Tati.


Istri Alif, Mumtaz menatap ke arah suami nya, dan langsung bertanya pada Tati.


"Ada apa Tati? " Tanya Mumtaz.


"Mba Meidina pergi, bawa tas nya. " Jawab Tati.


"Abi, siapa Meidina? "


"Dia yang di bawa oleh Mas Bagas ke pesantren, dia itu wanita malam yang hijrah namun baru kemarin dia keluar dari rumah sakit, karena kasus obat terlarang, dia sebenarnya dalam masa rehabilitasi. " Tati menjelaskan.


"Dia pergi dengan siapa? "


"Sendiri."


Alif lalu berdiri, dan berjalan naik ke atas pelaminan, dan menghampiri adik nya.


"Orang yang kamu bawa, pergi dari pesantren." Bisik Alif.


Bagas kaget, dan langsung menatap ke arah Tati, Anisah yang mendengar nya langsung memegang erat lengan Bagas.


"Mas, Mei pergi kemana? "


"Kak, boleh minta tolong untuk orang cari dia?"


"Nanti akan kakak minta bantuan, kamu jangan kepikiran dengan dia, hari ini adalah hari sakral, dan hanya sekali dalam seumur hidup. "


*******


Meidina berjalan menuju gang masuk ke kontrakan nya, namun saat hendak masuk sebuah motor berhenti tepat di depan nya. Mata Meidina terbuka lebar, saat Roky menghampiri nya.


"Meidina, saya cari kamu. Ternyata kamu disini? "


"Kamu ke rumah sakit? " Tanya Meidina.


"Iya, dan saya yakin kamu pasti kesini." Jawab Roky.


"Kita ke kontrakan. "


"Jangan Mei, saya di suruh Mami. "


"Mami, kenapa tidak telepon saya? "


"Mami sakit, makan nya saya ke rumah sakit, dia ingin bertemu sama kamu. "

__ADS_1


"Sakit, antar saya kesana Roky. " Ucap Meidina dengan rasa khawatir.


*****


Bagas melihat Anisah, tak berhijab rambut panjang tergerai indah, wajah cantik nya kini Bagas dapat melihat nya secara dekat.


"Kamu cantik. " Ucap Bagas membelai pipi Anisah.


"Mas juga tampan. " Ucap Anisah tersenyum.


"Mas, akan buat kamu bahagia malam ini, malam pertama yang tidak akan pernah di lupakan. "


Anisah memejamkan kedua matanya, saat bibir Bagas menyentuh bibir nya, sebuah ciuman dengan lembut tapi pasti, kedua nya saling menikmati.


Tubuh Anisah, kini di baringkan di atas tempat tidur, dengan Bagas menindih tubuh Anisah. Rasa pertama kali Anisah rasakan, membuat detak jantung nya semakin cepat, hingga saat tangan Bagas bermain di sekitar dada nya, dan sudah membuka satu persatu kancing piyama Anisah.


Bagas dengan wajah serius, langsung melahap habis tubuh Anisah, hingga meninggal beberapa jejak, tanda merah. Dan Anisah segera menahan suara, saat lidah suaminya kini menyapu dan bermain di sekitaran milik nya.


"Kalau sakit, kamu gigit pundak Mas. " Ucap Bagas, dan di anggukkan kepala oleh Anisah.


Bagas pun mengarahkan milik nya, hingga akhirnya masuk dengan sempurna. Hentakan demi hentakan, rasa sakit tergantikan rasa nikmat.


****


Bagas terus memeluk tubuh Anisah, yang kini hanya berbalut selimut, hingga terdengar bunyi Adzan shubuh berkumandang. Bagas membangun kan istri nya, yang masih kelelahan karena pertempuran semalam.


"Mandi besar dulu, nanti kita shalat berjamaah. " Ucap Bagas.


"Kenapa? Mas sudah tahu. "


"Matanya, seakan lapar. "


"Hahahah... mandi, duluan atau kita mandi sama - sama? "


"Sendirian saja, nanti lama. "


"Yaudah, ke kamar mandi duluan. "


Anisah bangun, dan merasakan sangat perih di area milik nya, dengan menatap Bagas, Anisah langsung di gendong ala bridal style menuju ke kamar mandi. Dan mereka pun mandi bersama, dan hanya mandi besar tidak lebih.


*****


Meidina menangis setelah apa yang terjadi pada dirinya, Pak Tedi dan Pak Roy tertawa puas setelah apa yang mereka lakukan, pada tubuh Meidina.


Roky membuang wajah nya, saat dirinya menyaksikan adegan mereka yang memaksa Meidina untuk, melayaninya dengan paksa.


"Nih barang yang kamu butuh kan, kami kasih kamu gratis. " Ucap Pak Roy melemparkan barang haram ke arah Roki, dan Roki langsung memasukan ke dalam kantong jaket nya.


"Roky, apa kamu tidak ingin menikmati tubuh teman kamu? " Tanya Pak Tedi.


"Cobalah, mumpung gratis. Pantas, Bram tergila - gila padanya. Ternyata legit juga , sungguh nikmat nya. " Ucap Pak Tedi kembali.

__ADS_1


"Hahahah.. mending kita jangan lepaskan dia dulu, saya masih belum puas. " Ucap Pak Roy.


Hahahahah...


"Hei.. Meidina, kamu masih kuat kan,melayani kami? " Teriak Pak Tedi.


Meidina yang tak berdaya, hanya bisa pasrah, kedua tangan dan kaki nya di ikat, tubuh nya masih tampak mengkilat karena keringat, bahkan tampak bekas cambukan, hingga jejak tanda gigitan menghiasi tubuh putih nya.


******


Bagas dan Anisah tengah bersiap - siap untuk berangkat ke Mesir, bersama kedua orang tua nya, sedangkan Alif dan istri nya kini menetap di tanah air.


Abi Nasir ingin menikmati hari tua bersama Umi Aminah di sana, dan pesantren akan di kelola oleh anak pertama nya, Alif.


"Kak, Apa belum ada kabar dari Meidina? "


"Belum, kata kamu tempat kontrakan nya tidak ada, di tempat dia kerja tidak ada. " Ucap Alif.


"Kemana dia, saya kok jadi cemas begini."


"Biar Meidina jadi urusan saya, kamu bersenang-senang lah bersama istri kamu. "


"Tolong kabari, kalau ada kabar tentang Meidina. "


"Iya, pasti itu. "


*****


Aaaaaaaa


"Ampun om, aaaaaaa ampun.. !!! Meidina terus berteriak


Meidina terus meringis meminta ampun. Berteriak dengan sisa tenaga ketika mereka terus menyiksanya. Tubuhnya sudah berantakan, ia sendiri tak tahu lagi bagaimana dirinya sekarang. Hentakan yang dirasakan bukan lagi sebuah kenikmatan, melainkan rasa sakit yang tak bisa lagi ia tahan. Keringat yang mengucur deras dari tubuhnya justru menjadi penyemangat kedua pria yang sejak tadi menerkamnya bagai sebuah sandwich nikmat hingga ingin terus memakannya dengan lahap.


Dan terdengar sayup - sayup suara, beberapa orang masuk kedalam, sekitar 7 orang memegang tubuh nya. Dan Meidina pun tak sadarkan diri.


******


Bagas terbangun dari mimpi buruk nya, saat berada di dalam pesawat, nafas nya naik turun , namun Anisah tidak melihat nya karena Anisah pun tertidur.


" Apa yang terjadi sama kamu Mei, kamu menangis memanggil nama saya, memohon, berteriak. "


Bagas menatap luar jendela pesawat, melihat awan putih seperti kapas, yang melayang. Namun pikiran nya, terbayang pada wajah Meidina.


"Ya Allah, semoga sepulang dari Mesir, saya bisa bertemu dengan nya lagi. Dengan keadaan apapun itu. "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2