
"Kamu, mau apa? kalau dia itu saudara kamu. Kamu, akan membenci dia karena dia anak istri kedua abi kamu? " Ucap Bagas.
"Apa kisah, saya seperti kisah Abi dan Umi? "
"Kamu masih, berpikir kalau saya nanti suatu saat akan menduakan kamu? otak kamu dimana Anisah. Dan setelah kamu tahu, Meidina itu saudara kamu, apa kamu akan terus mencurigai nya? "
"Kenapa Mas, tidak pernah cerita? "
"Saya sudah sering cerita sama kamu, masalah yang menimpa Meidina. Bukan saya menutupi nya, kamu harus tahu, musuh sebenarnya adalah salah satu keluarga kamu, yang ingin Meidina itu selama nya pergi dari dunia ini. Inti masalah nya adalah orang tua kamu. Meidina adalah korban, hanya kamu yang beruntung hidup dalam keluarga yang menganut agama yang kuat, sedangkan Meidina hancur. Dia banyak cobaan berat, dia lakukan sendiri menghadapi semua nya. Tolong, jangan sudut kan, Meidina, dia tidak akan merebut Mas, seperti Umi Sarah yang mau menikah sama Abi kamu. "
****
"Daus...!!! " Panggil Umi Sarah dengan lantang.
"Daus...!!! " Panggil kembali Umi Sarah.
"Sarah, kamu itu, kenapa teriak - teriak panggil Daus. " Ucap Umi Salmah.
"Mana Daus Mba, mana? "
"Sabar dulu, tenang. Ada apa kamu cari Daus?"
"Dia pasti dalang penculikan Sahara. "
"Kamu jangan asal tuduh ya, saya tidak terima, adik saya kamu tuduh seperti itu. "
"Bukti, mobil Anisah di bawa oleh Daus, menabrak Meidina. Dari bukti yang Bagas temukan, pasti dalang nya adalah Daus dengan menggunakan tangan kanan nya. "
"Kamu jangan asal bicara, kalau Bang Mulia tahu, kamu bisa kena marah. "
"Saya tahu mba, dari dulu mba tidak mau menerima kehadiran saya. Padahal, mba yang rebut Bang Mulia dari saya. Katakan mba, kalau mba itu tahu sebenarnya, apa yang terjadi pada anak saya. "
"Sarah, demi Allah saya tidak tahu apa - apa. Mungkin ada ke salah pahaman."
"Sarah...!!! " Ucap Abi Mulia.
"Kamu kenapa tuduh Daus, dia itu adik kamu." Ucap Abi Mulia.
"Adik, dia bukan adik saya, tapi adik istri pertama Abang. Katakan, katakan kalau di balik ini semua, mba tahu adik mba yang menculik Meidina. "
"Sarah...!!! "
"Abang, dari awal tidak pernah percaya. Apalagi, kalau Meidina itu adalah Sahara. Apa karena, Meidina wanita malam, karena salah asuh. "
"Bukan begitu Sarah, tapi apa kamu yakin Meidina anak kita. Bisa saja dia, bilang Meidina anak kita. "
"Kita tes DNA, kita ke rumah sakit. Dan saya yakin, bahwa Daus lah, dalang semua nya. "
****
"Anisah, Abang. " Ucap Meidina.
Anisah langsung memeluk tubuh Meidina, dengan sangat erat Anisah memeluk nya. Hingga Meidina, merasakan sangat bingung.
"Sahara."
__ADS_1
"Saya Meidina, bukan Sahara. "
"Anisah, sudah tahu. Abang yang cerita, dia kaget kamu itu saudara kandung nya, jadi Abang bawa dia kesini. "Ucap Bagas.
" Kamu, anak istri muda nya Abi. "
"Iya, saya anak istri muda nya. "
"Nggak menyangka, kamu adalah Sahara yang hilang 23 tahun yang lalu, dan sekarang kembali dengan nama Meidina, dan mencintai pria yang sama. " Ucap Anisah.
"Itu takdir, tapi saya tidak di inginkan untuk hidup. Kamu, yang sangat beruntung. Terlahir dari istri sah, tapi status saya masih di ragukan, dan saya pun masih ragu, kalau Ayah kita sama. "
"Kita tes DNA sekarang. "Ucap Abi Mulia.
" Abi, kok bisa sampai sini? " Ucap Anisah.
"Abi sama Umi, kemari. Ingin membawa Meidina ke rumah sakit, untuk tes DNA. "
"Kalau begitu, kita langsung ke rumah sakit. " Ucap Bagas.
"Mei, mereka ragu , kamu anak Umi sama Abi, jadi kita ke rumah sakit, tes DNA bukti satu - satu nya. " Ucap Umi Sarah.
****
"Ibu Bapak, untuk hasil nya tidak bisa hari ini. Jadi menunggu minggu depan. " Ucap Suster.
"Terima kasih sus, saya terima tanda bukti nya. " Ucap Abi Mulia.
"Sama - sama Pak, kalau begitu saya permisi."
"Kencang lagi? " Tanya Bagas.
"Iya, rasanya kencang sekali. " Jawab Anisah.
"Kamu pasti capek dan stres, seharusnya kamu tidak ikut ke rumah sakit. " Ucap Umi Salmah.
"Apa perlu, kita cek ke dokter kandungan?" Ucap Abi Mulia.
"Iya, sekalian saja. Kan kita, belum cek dokter lagi. " Ucap Bagas.
Meidina terdiam, dan mengusap perut nya yang rata, Umi Sarah mengusap punggung nya, dan Meidina tersenyum.
Mereka membawa Anisah ke dokter kandungan, sedangkan Meidina dan Umi Sarah memilih duduk menunggu.
"Apa Umi bahagia, menikah dengan Abi? "
"Umi bahagia, di saat sekarang ada kamu."
"Kenapa, Umi mau menikah di jadikan istri kedua? "
"Lebih dulu Umi dari pada Umi Salmah. "
"Umi tahu, kalau saya itu mencintai Bang Bagas, kisah Umi dan saya hampir sama. Tapi beda nya, saya hanya sebatas mencintai tidak bisa memiliki. "
"Kamu, kelak suatu saat nanti. Akan mendapatkan pria yang benar - benar, mencintai kamu apa ada nya. Mau menerima masa lalu kamu, keburukannya kamu, tidak hanya melihat dari sisi luar nya saja."
__ADS_1
"Cinta saya, hanya pada satu pria. Tapi selama nya, tidak akan pernah bisa memeluk saya. Hidup saya, sudah cukup tersiksa, capek Umi. "
Bagas berdiri di belakang, Umi Sarah dan Meidina, mendengar kan semua apa yang di bicarakan kedua nya.
*****
"Ibu hanya capek, jangan stress. Nanti pengaruh sama janin nya. " Ucap Dokter kandungan yang memeriksa Anisah.
"Tapi semua nya sehat kan? " Tanya Bagas.
"Alhamdulillah sehat, saya saran kan jangan banyak pikiran. "
"Bagaimana saya tidak stress dok, banyak sekali masalah. " Ucap Anisah.
"Mungkin, bisa bapak nya bawa jalan - jalan, mencari suasana baru. "
"Bagas, itu ide bagus nak, kalian kan di sibuk kan aktifitas juga. Apa salah nya, mengikuti saran dokter. " Ucap Umi Salmah.
"Insya Allah, saya atur jadwal nya. " Ucap Bagas.
****
Uhuk... uhuk...
Meidina terbangun, saat merasakan sesak dan bau asap yang menyengat. Meidina terbangun saat melihat kamar nya penuh asap dan ada api yang berkobar.
"Ya Allah,api...!! "
"Tolong...!!! "
Meidina berusaha untuk keluar dari kamar nya, namun api semakin besar. Meidina semakin sesak, bahkan pusing karena asap tebal berada di dalam kamar nya, dan Api semakin menjalar.
"Tolong...!!! "
Aaaaaaa
Braaaaakkkkk
"Ya Allah, tolong kebakaran...!! " Teriak Mami Rosa saat baru datang.
Orang - orang sekitar, langsung membantu memadamkan api, namun Api semakin menyala besar.
"Tolong Pak, anak saya ada didalam. Ya Allah Mei, kamu bagaimana disana. "
Umi Sarah terus berusaha untuk melepaskan, bantal yang sudah menutup wajah nya, semakin di tekan, hingga pasokan udara sedikit.
Mmmmppphhhhh
Tenaga Umi Sarah, semakin habis, dan semakin lemas, saat tekanan di atas bantal saat dirinya tertidur, semakin menekan.
.
.
.
__ADS_1