
"Eva, Meidina mana? " Tanya Mami Rosa.
"Bukan nya,Mami tahu sekarang Mei sudah jadi milik Polisi itu. " Ucap Eva.
"Polisi? "
"Mami nggak tahu, yang bayar 350 juta itu Kapolsek yang membantu Meidina. "
"Benar Mami tidak tahu, jadi dia yang bawa Meidina? "
"Iya Mami, Meidina di suruh meninggalkan dunia nya, malah kemarin penampilan Meidina berubah. "
"Apa Polisi itu mencintai Meidina? "
"Meidina yang suka sama dia, entah lah kalau Polisi nya. "
"Kalau memang dia, ingin merubah Meidina. Pasti suka, nggak mungkin kan kalau nggak suka. "
"Saya juga gitu Mam sependapat. "
"Ya udah, kalau memang itu jalan yang di pilih Meidina Mami nggak akan larang, dengan anak buah Mami juga nggak akan larang kalau memang mau pilih jalan lain. "
"Ini yang semua suka sama Mami, yang selalu tidak pernah mengengkang anak buah nya. "
*****
"Mba Mei, saya ini juru masak disini. Panggil saja saya Bude Astuti. "
"Salam kenal Bude. " Ucap Meidina.
"Kamu bisa masak sayur lodeh, pepes jamur?"
"Bisa Bude. "
"Bagi tugas saja, Bude masak buat Para Santri di bantu Tati, kamu masak khusus keluarga Pak Kyai. "
"Iya biar enak. " Ucap Tati.
"Baik mba Tati. "
Meidina pun menjadi juru masak untuk keluarga Bagas, dengan penuh perasaan Meidina memasaka untuk keluarga prai yang di sukai nya.
*****
"Kamu, Meidina. "
"Umi, iya saya Meidina. "
"Masya Allah kamu cantik, sekarang kamu yang masak untuk kami? " Ucap Umi Aminah.
"Benar Umi, saya yang masak. "
"Kamu ikut makan ya sama kami. "
"Nggak Umi, Terima kasih. " Tolak Meidina.
Bagas dan Abi Nasir pun datang, dan langsung duduk di depan meja makan. Umi langsung mengambil piring , lalu menuangkan nasi dan lauk nya di atas piring untuk suami nya.
"Meidina, makasih ya sudah masakin buat kami. " Ucap Bagas.
"Sama - sama. " Meidina langsung pergi meninggalkan keluarga Bagas dan kembali ke dapur.
"Umi, Abi minta nanti Umi saja yang ajarin Meidina Shalat dan Mengaji. Abi tidak ingin, dia jadi orang ketiga, jangan sampai pernikahan Bagas dengan Anisah batal."
"Baik Abi. " Ucap Umi Aminah menatap ke arah Bagas.
Bagas pun tidak bisa membantah dan langsung makan, masakan yang di buat kan oleh Meidina.
*****
Meidina membuka tas nya, dan mengunci pintu kamar nya rapat, tubuh yang sudah merasakan ketagihan barang haram, langsung menggunakan nya.
Meidina membuka bungkus rokok, namun bukan rokok biasa, dan langsung merokok nya, kini tubuh nya merasakan fly.
__ADS_1
Tok... tok...
"Meidina."
Meidina yang dalam keadaan fly tidak menghiraukan ketukan pintu, Tati terus mengetuk pintu kamar nya, namun Meidina tetap diam, dengan melepaskan hijab nya sambil menghisap rokok, yang di dalam nya bukan bakau biasa.
*****
Bagas melihat di dalam Masjid saat akan shalat berjamaah, tidak melihat Meidina. Sampai selesai Shalat pun tidak ada, Bagas pun berjalan ke arah kamar Meidina dan langsung mengetuk pintu kamar nya.
Tok... tok...
"Mei, kamu di dalam? "
Tok.. . tok...
"Meidina."
Ceklek
"Abang, ada apa? "
"Kamu meninggalkan Shalat, apa kamu sedang halangan? "
"Nggak Bang, maaf saya ketiduran."
"Oh, masih ada waktu. Kamu ambil air wudhu dan Shalat Ashar sekarang. "
"Iya Bang. "
"Umi."
"Sedang apa kamu, di depan kamar Mei? "
"Saya tidak melihat Mei shalat berjamaah, jadi saya kesini. "
"Jangan sekali - kali kamu datang ke kamar nya, kalau sampai Abi kamu tahu, dia bisa marah. Biar Meidina disini urusan Umi. "
"Maaf Umi. "
"Umi, Abang mana? "
"Umi suruh dia pergi, kamu mau shalat kan? "
"Iya Umi. "
"Yaudah, sekalian belajar mengaji sama Umi. Nanti kalau tidur, pakai alarm biar shalat nya nggak ketinggalan. "
"Maaf Umi. "
******
"Mana barang nya? " Meidina melihat ke kanan dan ke kiri sambil memasukan barang haram yang sudah menjadi candu nya.
"Kamu yakin, aman? "
"Aman, nggak akan ada yang tahu. "
"Jadi kamu berhenti? "
"Iya, saya taubat. "
"Taubat, kamu masih make. "
"Saya nggak bisa tinggalin yang ini, kalau pekerjaan itu saya bisa. Tapi yang ini tidak bisa. "
"Kalau butuh, kamu kabari saya lagi. "
"Iya, makasih. "
"Saya pamit. " Ucap Roki langsung menjalankan mesin motor nya.
Dari jauh, Abi Nasir melihat Meidina menyebrang setelah bertemu dengan seorang pria, Abi Nasir lalu kembali lagi masuk kedalam rumah nya, yang berlantai dua.
__ADS_1
"Umi harus hati - hati, jangan percaya terlalu dalam. "
"Maksud Abi? "
"Abi tidak suka, melihat orang hijrah bukan dari niat hati, tapi karena orang yang di cintainya. Kalau sudah tidak suka, akan kembali ke jalan yang dulu. "
*****
"Semoga pulang nanti, membawa harum negara kita. " Ucap Bagas, saat mengantarkan Anisah ke Bandara.
"Terima kasih Mas, doa kan dalam perjalanan selamat sampai tujuan. "
"Mas akan terus selalu mendoakan kamu."
"Umi, Abi Anisah pergi dulu. "Ucap Anisah sambil bersalaman dengan kedua orang tua nya.
" Menang kalah, Abi sama Umi tetap bangga sama kamu. " Ucap Abi Mulia.
"Nanti kasih kabar nak, kalau sudah sampai sana. " Ucap Umi Salma.
Panggilan untuk penumpang pesawat pun sudah terdengar, dengan segara Anisah menuju ke pesawat bersama peserta lain nya.
"Hati - hati, nanti langsung kabari Mas. "
"Iya Mas, Assalamu'alaikum. "
"Walaikumsalam." Ucap Bagas, Abi Mulia dan Umi Salma.
*****
Meidina duduk melihat para santri perempuan sedang duduk di taman sembari membaca buku, sedang kan Santri laki - laki berada terpisah dengan tembok.
"Kamu lihat apa? " Tanya Tati.
"Saya kangen belajar. " Jawab Meidina.
"Sama, saya lulus SMA langsung kesini, mau lanjut kuliah udah nggak mampu otak nya, makan nya kerja di dapur. "
"Terakhir belajar, beberapa minggu yang lalu. Saya senang, bisa merasakan duduk di bangku kuliah, walau hanya beberapa semester. "
"Kamu kuliah? "
"Tapi di keluarin. "
"Sayang, kenapa nggak pindah? "
"Nggak, mungkin jalan nya begini."
"Nggak ada kata terlambat, kamu masih bisa. Kuliah itu, bisa merubah nasib orang, kerja juga jabatan nya tinggi. "
"Saya wanita nakal, tidak seperti kamu bayangan kan. Hanya beruntung, ada yang membawa saya kesini. "
"Tujuan kamu, setelah masuk kesini apa? "
"Belajar agama, tapi mungkin belum 100 persen. "
*****
"Mami." Meidina langsung memeluk Mami Rosa yang datang mengunjungi nya.
"Mami tahu dari siapa? saya ada disini? "
"Roky, yang kasih alamat kamu. Mami kangen sama kamu. "
"Sama Mami, maaf Mami kalau Mei sekarang sudah memutuskan kesini. "
"Nggak apa - apa, Mami senang, jangan kamu lanjut kan seperti Mami. Mami ini pendosa, kamu itu memang bukan anak Mami, siapa tahu orang tua kamu itu orang benar, jangan sampai mereka melihat kamu di tempat yang salah. "
"Saya hanya ingat sama Mami, karena Mami bagaimana juga telah merawat saya. "
.
.
__ADS_1
.