
Meidina mengerucut kan bibir nya, saat tahu motor yang di kendarai Bagas, berbelok sebelum belokan ke arah tempat tinggal Meidina.
Meidina langsung masuk kedalam tempat tinggal nya, dengan badan yang sangat capek, dan remuk. Terlihat rumah sangat sepi, karena semua teman - teman nya pergi bekerja.
"Kenapa kamu? " Tanya Meidina, saat melihat Eva tidak bersemangat.
"Kamu masih punya, obat buat nggak hamil?"
"Nanti saya, periksa dulu di tas. " Meidina membuka tas nya, dan mencari yang di minta Eva.
"Nah masih ada, satu strip. " Meidina menyerah kan pada Eva.
"Kamu telat? "
"Seperti nya. "
"Hah.. serius? siapa Bapak nya? "
"Mana saya tahu, kan banyak pria yang tidurin saya. "
"Ya pasti lah, ada satu pria yang kamu mungkin nggak ingat, atau siapa gitu. "
"Apa mungkin, pria bule itu ya? "
"Yakin dia? "
"Selama disini, dia pakai saya selama satu bulan. Dan malah tanpa pengaman. "
"Ya anak nya dia, kamu kejar dia. "
"Kejar ke negara nya? dia aja punya istri. "
"Terus, mau kamu buang ? "
"Ya terus mau gimana lagi, saya aja belum siap. "
"Memang nya sudah dapat berapa? "
"Saya tidak mau tahu, buat apa di pertahankan kalau dia saja tidak bertanggung jawab. "
"Kamu tiga kali kan, kecolongan. Semoga nanti tidak kecolongan lagi. "
"Kamu sendiri, apa pernah? "
"Karena saya terus konsumsi obat nya."
*****
"Tumben malam - malam kesini? " Tanya Ilham sambil menghisap rokok nya dan tersanding dua cangkir kopi hitam.
"Ketiduran tadi, mau pulang juga lagi malas, main saja ke kamu. " Jawab Bagas.
"Untung tahu, jadwal nya ya saya tidak lagi piket. "
"Tahu lah, saya kan atasan nya kamu. "
"Saya ingin kasih tahu sama kamu. " Ucap Ilham.
"Kasih tahu apa? "
"Meidina itu suka sama kamu. "
"Terus? "
"Saya bilang, kamu sudah ada yang punya. Dan dia nggak pantas sama kamu. "
"Dia teman satu jurusan sama Anisah, kamu tahu apa yang dilakukan Anisah? "
"Apa? "
"Anisah ingin dia insaf. "
"Anisah, nggak nyangka kamu ingin sadarkan tuh bocah. " Ucap Ilham tertawa dan menggeleng - geleng kan kepala nya.
"Mei itu, disini tinggal lama, tapi mungkin karena pada nggak suka , karena sering pulang pagi, kadang di antar sama pria yang berbeda. Tapi dia itu, aslinya baik, ceria hanya mungkin karena dunia nya yang seakan terus merubah dia. "
******
"Mam, ini ada tips dari Om Frans. "
"Ambil saja, itu bagian kamu. Yang kerja kan kamu. " Ucap Mami Rosa.
__ADS_1
"Ini besar loh Mam, kita bagi dua ya. "
"Nggak usah, Mami juga sama anak - anak lain juga begitu. "
"Makasih Mam, kalau begitu Mei masukin lagi. "
"Kuliah kamu gimana Mei? "
"Lancar, kenapa Mam? "
"Nggak apa - apa, hanya nanya saja. "
"Mam."
"Iya kenapa Mei? "
"Mami kan tahu kan, kalau misi Mei berhasil. Mei akan pergi? "
"Iya, Mami ingat itu. "
"Mei nggak akan lupa sama Mami, Mei akan pergi dari dunia ini. Karena Mei masih belum ikhlas Mam, tentang kejadian itu, yang membuat Mei harus terjun ke dunia ini."
"Mami yang minta maaf, tidak bisa jaga kamu. Mami itu sayang sama kamu, bahkan sama yang lain nya juga. Mami tidak membeda - bedakan. "
"Mam, boleh Meidina curhat? "
"Curhat apa? "
"Meidina itu suka sama seseorang, tapi dia tidak menyukai Mei, dia sudah punya calon istri. "
"Kamu suka sama pria seperti apa? Jangan - jangan om Frans? "
"Bukan Mam, Mami juga tahu. "
"Jujur sama Mami, siapa tahu Mami bisa bantu kamu. "
"Saya mencintai Pak Bagas. "
"Bagas, Bagas siapa? "
"Pak Kapolsek Bagas. "
"Saya juga berpikir, itu nggak akan bisa. Hanya mencintai dalam diam, dan dia anak seorang Kyai, nggak akan mungkin menyukai wanita seperti saya. Calon istri nya pintar mengaji, baik, rajin Shalat sedangkan saya, mengaji dan shalat saja nggak bisa. "
"Meidina, ini salah Mami, tidak mengajarkan kamu. "
"Semua Nya bukan salah Mami, dan saya pun entah asal usul nya dari mana, mungkin saya juga terlahir dari anak wanita malam, hasil hubungan gelap, makan nya Mei dia buang."
*****
"Kamu lama Mei, nggak masakin Mba. "
"Mba Lastri kangen ya, sama masakan Mei? "
"Iya kangen, kamu juga jarang main. "
"Mba kan tahu sendiri. "
"Abang mana Mba? " Tanya Meidina kembali.
"Lagi keluar, nggak tahu kemana. "
"Mba."
"Kenapa Mei? "
"Mba kan tahu, saya suka sama Pak Bagas, menurut mba, kalau dia tahu gimana ya? "
"Dia sudah tahu Mei. " Ucap Ilham yang baru datang.
"Bang, serius dia tahu? "
"Abang yang kasih tahu. "
"Abang...!!! "
"Kok, Abang kasih tahu. " Ucap Lastri.
"Kenapa? " Ucap Ilham.
"Aduh Bang kenapa harus kasih tahu sih, saya kan malu Bang. " Ucap Meidina.
__ADS_1
"Iya nih. " Ucap Lastri mencubit pinggang Ilham.
"Ya maaf. "
"Bang Ilham. "
Terdengar suara mobil berhenti, ucap salam yang di ucapkan oleh pria yang yang meidina sukai, langsung saja Meidina menutup wajahnya.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Balas Ilham dan Lastri.
"Kamu kenapa? " Tanya Ilham.
"Gara - gara Abang, saya malu. " Jawab Meidina.
"Bukan nya, kamu terang - terangan kan dengan bahasa tubuh, kalau kamu suka. " Ucap Ilham.
"Tapi bukan dengan begini. "
"Assalamu'alaikum." Sapa salam Bagas kembali.
"Walaikumsalam, iya masuk saja. " Ilham langsung berdiri menemui Bagas.
"Lagi ngapain sih, balas salam tapi nggak keluar - keluar? "
"Maaf, itu ada si Meidina. "
"Oh, kirain sedang apa. "
"Bang, saya pamit. Mba Lastri saya pamit. " Ucap Meidina.
"Kok pulang, nanti lah. " Ucap Ilham.
"Iya, padahal masakan nya saja belum di makan. " Ucap Lastri.
"Itu kan sengaja buat kalian, saya pamit. " Ucap Meidina langsung berjalan ke arah motor nya, dan pergi meninggalkan rumah Ilham.
"Bang, makan yuk, keburu dingin. " Ajak Lastri.
"Makan Gas, kamu belum makan kan? "
"Makasih, silahkan saja kalau mau makan."
"Makan lah Bang, banyak loh tadi masak nya."
*****
"Masakan Mei itu enak ya, dia pintar masak. " Ucap Ilham.
"Sejak hamil, selalu kangen masakan dia." Ucap Lastri.
"Kalau dia buka restoran atau warung makan, pasti laris. "
"Tanpa ada embel - embel nya. " Ucap Lastri.
"Embel - embel nya gimana? " Tanya Bagas.
"Jangan di teruskan, habis kan Bang. " Jawab Lastri.
Bagas menikmati masakan Meidina, hingga habis, Ilham dan Lastri tersenyum saat melihat Bagas begitu sangat menikmati masakan Meidina.
*****
"Om Edwin. "
"Hi.. Meidina, Om boking kamu lagi." Ucap Pak Edwin sambil meletakkan sebuah amplop berisi uang.
Mami Rosa, menatap ke arah Meidina, namun Meidina menyerah kan kembali amplop warna cokelat tersebut.
"Maaf Om, saya sudah ada yang boking permanen. " Tolak Meidina.
"Siapa? apa kamu mau berhenti bekerja seperti ini? "
"Maaf ya om, saya tidak mau. Om Frans marah, karena Om kan saingan nya Om Frans."
.
.
.
__ADS_1