
Meidina turun dari mobil nya, dan berjalan masuk kedalam kantor polisi. Bagas langsung berdiri dari duduk nya, saat Meidina datang.
Ilham langsung membawa Meidina kedalam ruangan , di ikuti oleh Bagas dan Mami Rosa. Meidina melihat seorang pria yang selama ini di tunggu nya, dan masih terekam sangat jelas wajah pria yang pernah menodai nya.
Dari dalam tas nya, Meidina mengambil botol minuman keras, membuka tutup botol nya. Dan berjalan ke arah pria yang kini sedang menatap nya.
"Saya tidak akan pernah lupa, wajah kamu. Saya gadis polos yang tidak tahu apa - apa, kamu per*****sa, hanya karena bayaran yang tinggi. Kamu tahu, akibat kamu masa depan saya hancur, bahkan saya kini terjun ke dunia hitam hanya demi mencari kamu. Saya kira, kamu hanya pria yang haus kepuasan, tapi ternyata ada udang di balik batu. Kamu masih ingat, bagaimana cara kamu, meniduri saya. Air mata keluar, saya minta ampun, tapi kamu tidak peduli. Bagaimana saat itu perasaan saya, kamu sudah injak - injak harga diri saya, kamu tendang saya, setelah kamu pakai. Tubuh saya penuh, tanda merah yang kamu berikan. Begitu sangat jijik nya saya saat itu, hingga saya cuci tubuh nya berjam - jam, sampai Mami saya ikut menangis. Kamu ingat hah...!!! " Ucap Meidina dengan nada keras.
"Maafkan saya, hanya di suruh Daus saat itu."
"Kamu seharusnya berpikir dua kali, apa karena uang semua nya jadi lupa. Saya tidak tahu apa - apa, dan apa kurang cukup saya di pisahkan dari orang tua, setelah ini saya di per****sa sama kamu. Apa masih kurang puas ha..!! "
Ilham, Bagas dan Mami Rosa hanya berdiri melihat, Meidina mengeluarkan semua nya setelah bertahun - tahun di pendam nya.
"Ini hari dimana saya tunggu, saya tunggu untuk balas dendam. Bagaimana kamu, orang yang pertama merusak hidup saya. "Bentak Meidina.
" Saya minta maaf. "
"Terlambat untuk kata maaf, tidak ada kata maaf. Apa kamu, bisa kembali kan kesucian saya, apa kamu bisa kembali kan masa depan saya hah...!!! "
"Jawab...!! " Jangan diam saja kamu. " Bentak Meidina.
"Maaf..!! " ucap Toni.
"Maaf kata kamu, saya bilang tidak ada kata maaf untuk kamu, sekarang kamu minum ini, dulu kamu cekoki saya dengan minuman ini hingga saya mabuk. " ucap Meidina langsung meminumkan paksa ke mulut Toni, hingga satu botol habis.
"Hahahahaha.. rasakan itu, tapi ini belum apa - apa. "
Praaaaaannnngggg
Meidina memecahkan botol, minuman beralkohol tersebut ke lantai hingga pecah. Mami Rosa, Ilham, Bagas dan beberapa anggota lain nya melihat dan membiarkan Meidina melepaskan semua amarah nya.
Meidina berjalan, ke arah Bagas dan menatap dengan tatapan tajam. Bagas pun menatap ke arah Meidina yang sedang di landa amarah besar.
"Bang, lepas ikat pinggang abang. " pinta Meidina.
"Ok, abang lepas. " ucap Bagas melepaskan ikat pinggang nya.
__ADS_1
"Komandan, apa ini tidak keterlaluan. " Bisik Ryan.
"Biarkan saja. " ucap Bagas.
Meidina memegang ikat pinggang milik Bagas, tanpa berkata apa pun, Meidina mencambuk tubuh Toni, hingga kesakitan.
Ceeeettttaaaaassss
Ceeeeettttaaaassss
"Ampun...!!! " Teriak Toni.
Tampa pedulikan teriakan Toni, Meidina terus mencambuk tubuh Toni, hingga terlihat luka cambukan di kedua tangan Toni, bahkan bagian punggung hingga membabi buta Meidina mencambuk nya.
Bahkan Meidina menyingkirkan meja yang menghalangi tubuh nya, dan menendang milik Toni dengan kasar, hingga terjungkal kebelakang dari kursi.
Terlihat Toni, tampak kesakitan, seakan belum puas, Meidina ingin menghajar nya lagi. Tapi Bagas menahan nya, lengan Meidina di pegang nya.
"Kenapa, kenapa Abang tahan? saya ingin dia merenggang nyawa sekarang. " ucap Meidina.
"Cukup, dia sudah cukup tersiksa. Biar ini urusan polisi, kamu jangan habiskan tenaga kamu hanya untuk balas dendam. Sudah cukup, biar hukuman nya kami yang lakukan."
****
"Belum Mami, saya belum puas kalau hukum belum menjerat nya. " Jawab Meidina.
"Biar Bagas dan anak buah nya, yang melanjutkan. Jangan kotori tangan kamu, dengan menyiksa dia. "
"Walau dia di hukum mati, tetap tidak bisa mengembalikan semua nya. Bagi saya belum puas, kalau dia tidak merenggang nyawa hari ini. "
"Mei, semua nya sudah berakhir. Pencarian kamu, akhir nya final juga. Sekarang kamu, bisa lanjut kan hidup dengan tenang. " ucap Bagas.
"Bagi Abang, saya akan melanjutkan hidup dengan tenang. Setenang nya saya, tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan itu. "
"Abang mengerti, perjalanan panjang kamu sudah berada di tujuan. Sekarang kamu, bisa melanjutkan perjalanan yang baru. Saya harap, kamu bahagia dan mendapatkan apa yang tidak kamu punya. "
"Yang saya punya, adalah orang yang mencintai saya, itulah apa yang saya cari. Seharusnya, saat ini saya bisa merasakan, kebahagiaan dan cinta yang tulus. Cinta yang dirasakan secara langsung, tapi nyata nya bukan cinta yang saya harapkan. Tapi, masih banyak cinta yang lain nya. Cinta yang membuat saya, bahagia dengan cara saya. "
__ADS_1
****
"Mei." Panggil Bagas saat Meidina akan masuk kedalam mobil nya.
Mami Rosa memberikan tanda, untuk menunggu di dalam mobil milik Meidina. Bagas dan Meidina lalu duduk, di kursi tamu kantor.
"Maaf kalau Abang, cegah kamu pergi. "
"Apa ada yang perlu, Abang sampaikan? "
"Iya, Abang ingin katakan sesuatu sama kamu. "
"Apa Bang? "
"Mulai sekarang, kita harus belajar membuang rasa yang kita punya. Kita adalah saudara, kita adalah keluarga. "
"Saya paham Bang, lupakan saya. Buang rasa yang sama, ada istri yang benar - benar sayang sama Abang. "
"Apa kamu, tidak ingin membuka hati untuk pria lain? "
"Tidak Bang, saya takut akan kecewa. Bagaimana saya itu dulu, saya takut pria lain menolak nya, tidak seperti Abang. Saya akan bahagia, walau saya akan tetap mencintai dalam hati. Cinta yang tidak pernah saya miliki, walau raga dan jiwa nya tidak bisa miliki. "
"Maafkan Abang, kita di pertemukan dalam waktu yang salah. " ucap Bagas.
"Bang, terima kasih ya, sudah membantu saya. Tidak pernah bosan, Abang menolong saya, dengan kasus yang berhubungan dengan saya. "
"Sama - sama, Abang dengan bisa kenal sama kamu. Bisa dekat sama kamu, itu yang mungkin tidak akan pernah abang lupakan. "
"Jangan pernah bahas masalah saya lagi, di depan Anisah. Hargai perasaan nya, sayangi Anisah. "
"Abang akan sayangi dia, sampai nafas kita terhenti. "
"Bang, asal Abang tahu, cinta saya sama Abang, akan saya bawa sampai kedua mata ini tertutup rapat. Bahkan, saya akan menjadi kan Abang raja di hati saya. Walau raja nya, tidak bisa saya peluk. "
Bagas tersenyum begitu juga dengan Meidina, Hati mereka, sama - sama untuk belajar saling melupakan. Hanin merasakan sakit, pada hati nya. Begitu juga Bagas, sakit hati karena untuk jalan terbaik bagi Meidina dan Bagas.
.
__ADS_1
.
.