Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Tidak Ada Kata Terlambat


__ADS_3

Motor Meidina mogok, Mei pun turun dan memeriksa motor nya, namun saat mencoba menjalankan kembali , tetap tak ada tenaga pada motor nya.


Saat sedang berdiri, menengok kanan kiri mencari bengkel terdekat, mendengar suara orang melantunkan Ayat suci Al - Qur'an, Meidina merasa suara nya tidak asing bagi nya. Dan Meidina baru sadar, Masjid di tempat dirinya berhenti, adalah Masjid yang kemarin bersama Roki motor nya sempat mogok.


Meidina mengambil syal untuk menutupi kepala nya, Meidina berjalan ke arah Masjid dengan penasaran siapa suara merdu saat mengaji.


Saat sampai di depan teras Masjid, Meidina melihat banyak anak - anak yang sedang mengaji, dan melihat satu pria yang di kenal nya.


Meidina tersenyum, sambil terus melihat dari jauh, Bagas yang sedang mengaji. Hati Meidina merasakan sangat tenang, ayat demi ayat yang di lantunkan oleh Bagas.


"shadaqallahul adzim. " Bagas menutup Al - Quran nya, Meidina langsung pergi saat Bagas tak sengaja melihat nya.


Bagas berdiri, dan melangkah keluar dari dalam Masjid, Bagas melihat seorang wanita berlari kecil keluar dari halaman Masjid.


"Meidina." Ucap Bagas.


****


"Kamu bisa nggak? jauh dari bengkel nih. " Ucap Meidina saat menghubungi Roki.


"Aduh sorry Mei, saya lagi jauh nih. Kamu hubungi anak buah Mami saja gimana? "


"Mereka nggak di angkat. "


"Gimana ya, saya punya bengkel langganan tapi nggak punya nomer ponsel nya. "


"Gimana dong, udah sore gini nih. "


"Meidina."


"Roki, udah dulu. " Meidina menutup telepon ny, saat Bagas sudah ada di depan nya.


"Kamu tadi ada apa datang ke Masjid? "


"Eh.. anu itu, anu. " Ucap Meidina gugup, saat ini Meidina melihat Bagas mengenakan pakaian koko, sarung dan peci. Melihat penampilan yang sangat berbeda.


"Motor kamu kenapa? "


"Mogok, disini bengkel terdekat dimana ya? "


"Masih jauh, ada 3 kilometer lagi. "


"Saya harus dorong dong. "


"Kalau boleh, saya coba cek. Kamu ikut saya. "


Meidina mengikuti langkah Bagas, saat mengikuti langkah Bagas Meidina di bawa nya masuk kedalam lingkungan pesantren, Meidina kemudian menghentikan langkah nya, saat Bagas memarkirkan motor nya di depan pos satpam.


"Kamu tunggu disini, saya ambil alat nya dulu."


"Iya."


Meidina menatap lingkungan pesantren, pakaian yang sangat berbeda dengan dirinya, yang sekarang mengenakan jeans ketat, namun atasan nya di tutupi oleh Cardigan dengan rambut di tutupi oleh Syal panjang.


Bagas memeriksa motor Meidina, satu persatu di cek, saat Bagas sedang membetulkan motor nya, banyak para santri yang menyapa nya, dan memanggilnya dengan sebutan Ustadz.

__ADS_1


"Maaf kalau boleh tahu, Pak Polisi ini sambil mengajar mengaji disini? "


"Tidak hanya mengaji, kadang mengisi ceramah. Kalau sedang waktu luang, sering di undang ke pengajian. "


"Oh."


"Selesai nih, kamu coba. "


Meidina mencoba menjalankan motor nya, dan kembali normal dengan suara halus. Bagas langsung memasukkan peralatan nya kedalam box.


"Makasih Pak Polisi, kalau nggak ada Bapak, mungkin saya harus dorong. "


"Sama - sama. "


Suara Adzan maghrib berkumandang, Meidina pun langsung naik ke atas motor nya, karena hari sudah mulai sedikit gelap.


"Kamu nggak shalat Maghrib dulu? "


"Hah.. Shalat? "


"Iya, Shalat Maghrib dulu, kamu muslim kan? "


"Iya saya muslim "


"Nggak baik, kalau langsung jalan. Tunggu sampai waktu Maghrib selesai. Kita Shalat di Masjid dulu. "


Meidina pun turun dari motor nya dan mengikuti langkah Bagas, menuju ke tempat wudhu. Bagas menoleh saat melihat Meidina mengikuti langkah nya.


"Kamu ambil Wudhu di tempat perempuan, ini khusus laki - laki. "


Meidina berjalan ke arah tempat Wudhu khusus perempuan, Meidina hanya diam berdiri memperhatikan para santri yang sedang berwudhu.


"Kak, silahkan kakak dulu. " Ucap sala satu Santri perempuan.


"Heh.. kamu saja dulu. " Ucap Meidina.


"Nggak apa - apa, kakak saja dulu. "


Meidina tersenyum, dan saat sudah berada di depan kran air, Meidina diam dan bingung harus mulai dari mana.


"Kakak nggak apa - apa kan? "


"Kamu saja dulu, tiba - tiba perut kakak sakit." Ucap Meidina langsung berlari, dan Bagas melihat Meidina berlari ke arah motor nya, dan dengan cepat keluar dari area Masjid.


*****


Meidina diam di dalam kamar nya, dengan terus menutupi wajah nya, rasa malu saat dirinya mengingat kejadian tadi di area pesantren.


"Saya menyukai orang yang salah, nggak pantas saya menyukai nya. Shalat saja nggak bisa, apalagi mengaji. Sampai cara wudhu pun nggak hafal. " Udak Meidina tersenyum sendu.


"Kamu sadar Mei, dia bukan level nya kamu. Dia pria suci, nggak seperti kamu wanita kotor. "


Meidina mengusap air mata nya, saat menyadari dirinya adalah manusia yang terhina, namun entah kenapa hati Meidina merasakan sangat teduh bila melihat Bagas.


"Kenapa juga, saya mencintai pria seperti dia. Dia juga kalau tahu pasti nggak akan mau, bahkan keluarga nya juga. Pantas kata Mba Lastri, saya nggak pantas suka sama dia, dan dia juga sudah memiliki tunangan. Pasti sangat beruntung, calon istri nya memiliki calon suami seperti dia. "

__ADS_1


*****


"Mei nggak masuk? " Tanya Mami Rosa.


"Mei baru pulang tadi jam 7 malam, langsung masuk kamar tapi tidak keluar lagi." Jawab Wulan.


"Apa dia sakit ya? "


"Saya kurang tahu Mam, tapi Mami coba saja hubungi dia. "


"Nanti Mami ke rumah saja, sekarang Mami mau stay disini, karena banyak pengunjung. Tidak ada Mei takut nggak ada yang kendalikan Club ini. "


*****


"Hi.. Meidina. " Sapa Anisah, saat Meidina duduk di samping nya.


"Anisah, boleh saya nanya? "


"Tanya apa? Kalau saya bisa jawab, akan saya jawab sekarang. "


"Hukum shalat itu wajib ya? " Tanya Meidina, dan membuat Anisah tersenyum.


"Shalat itu wajib hukum nya, buat umat muslim. Shalat itu sebagai tiang Agama, meninggal kan satu waktu saja itu hukum nya dosa, apalagi kita sama sekali tidak menjalankan nya. Padahal kita mengerjakan Shalat itu, dalam satu waktu nggak lama kok,tidak sampai 30 menit. Tapi masih banyak orang yang malas atau lebih mengutamakan kepentingan dunia nya. " Jawab Anisah.


"Kalau orang seperti saya, pasti sudah terlambat ya? "


"Tidak ada kata terlambat, dan ingat satu hal, di mata Allah semua nya itu sama. "


"Makasih ya, sudah kasih penjelasan buat saya. "


"Saya siap membantu kamu, saya akan selalu membimbing kamu untuk belajar. "


"Terima kasih. "


"Sama - sama. "


****


"Umi, punya Mukena satu lagi? " Tanya Bagas.


"Punya, buat apa? " Jawab Umi Aminah kembali bertanya.


"Boleh Bagas minta? "


"Boleh, nanti Umi ambil kan."


Umi pun lalu membawa mukena di tangan nya, dan memberikan nya pada Bagas.


"Buat siapa? "


"Ada Umi, niat Bagas baik kok, Bagas ingin dia pakai Mukena ini saat Shalat nanti. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2