Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Fakta Dari Cerita


__ADS_3

Radit tersenyum, seakan Meidina membohongi nya. Kedua mata Meidina berkaca - kaca, sedangkan Radit menatap seakan masih tidak percaya.


"Hiks.. hiks.. kenapa, saya tidak mau sama Abang? saya itu, hiks.. hiks.. sudah tidak perawan lagi. Kalau Abang, tidak percaya tanya sama anggota Abang di kantor polisi, tanya sama Bang Bagas, atau Bang Ilham. Dia tahu, tahu semua nya tentang saya. Terserah, mau percaya atau tidak. Tapi itu fakta nya, dan itu gak Abang. " ucap Meidina langsung menutup pintu rumah nya.


Radit diam berdiri , di depan pintu rumah Meidina, sedangkan Meidina bersandar di belakang pintu sambil terisak.


Hiks.. hiks.. hiks...


"Tolong Bang, jangan cintai wanita seperti saya. Cintai lah wanita yang, benar - benar bisa menjaga kehormatan dan tidak terhina."


Radit pun pulang, dengan perasaan yang tidak menentu. Meidina tertunduk sambil menangis, Mami Rosa dan para sahabat nya hanya bisa memandang dengan rasa sedih.


****


"Benar yang di katakan Mei, dia wanita malam. Dan sebenarnya Meidina itu, adalah Sahara. Saudara kandung istri saya, hanya satu Ayah beda ibu. Dia anak dari istri kedua, dan saat berumur satu bulan, dia di culik, dan yang menculik nya adalah adik dari, ibu kandung Anisah. Meidina, di temukan oleh Mami Rosa, wanita yang membesarkan nya mendidik dia dengan baik, hanya saja saat SMP, Meidina di per****sa oleh suruhan Om Daus, adik dari mertua perempuan saya. Dari situ, Mei awal terjun ke dunia hitam, karena satu tujuan mencari pria yang pertama kali menodai nya. Bertahun - tahun, dia cari akhirnya menemukan nya, Meidina hanya korban, orang tua nya. Hanya sang Paman sakit hati, lantaran sang kakak di madu, dan wanita yang di cintai sang Paman menikah dengan bapak mertua saya. Itu sebagian cerita dari saya, mungkin sudah cukup. "


"Cukup, cukup buat saya. "


"Terserah, kamu mau lanjut atau mundur."


"Terima kasih info nya. "


****


"Mas, kenapa? " tanya Anisah.


"Nggak apa - apa. " jawab Bagas.


"Jujur sama saya, ada apa? "


"Radit, sudah tahu tentang Meidina. "

__ADS_1


"Terus? "


"Mas ceritakan semua nya, nggak tahu kelanjutan nya. Yang jelas Radit shock. "


"Saya kasihan sama Meidina. "


"Kalau kamu kasihan, tolong jangan terus sudutkan dia. Meidina itu, belum bisa bahagia. "


"Maafkan saya Mas. "


"Mas, mau istirahat dulu. "


****


Radit menatap rantang nasi, yang di kirim oleh kurir, dan lalu Radit memberikan kembali pada kurir tersebut. Sehingga membuat sang kurir, menjadi bingung.


"Ini buat bapak saja. "


"Tapi Pak? "


"Serius Pak? "


"Iya serius, ini saya bayar ongkos nya dua kali lipat. "


"Terima kasih Pak. "


*****


"Makasih Pak, padahal di kembali kan nanti juga nggak apa - apa. " ucap Meidina.


"Katanya, sekalian saja. "

__ADS_1


"Oh gitu ya, kalau begitu makasih banyak. "


"Kamu masih antar makanan, untuk Pak Kapolsek? " tanya Eva.


"Kan dia yang minta. "


"Apa yakin di makan? secara dia sudah tahu siapa kamu, itu rantang yakin, isi nya dimakan? "


Meidina hanya diam, dan langsung berjalan ke arah dapur. Dan mencuci rantang tersebut, sedangkan Eva memperhatikan Meidina terlihat sangat sedih.


"Kalau dia memang sayang, benar - benar menerima kamu apa ada nya, dia akan kemari. "


"Saya kan sudah menebak, kenapa saya tolak di awal. Nyata nya kan, saya itu mencintai pria dan disukai pria cukup sama Bang Bagas saja. Tidak ada yang lain, dan memang tidak ada pria yang mau sama saya."


"Apa kamu, akan terus, seperti ini hidup sendiri? "


"Iya, karena tidak akan pernah ada pria yang mencintai saya dengan tulus. Hanya satu pria tapi tidak akan pernah bisa saya miliki. Saya pun, sedang belajar melupakan dia, dan sedikit lupa tentang dia. "


"Kamu suka tidak sama Pak Radit? "


"Tidak, saya tidak akan mencintai seorang pria atau menyukai nya. Saya memutuskan untuk, hidup sendiri. Dan ini kebahagiaan saya, sendiri itu lebih baik."


"Jangan bicara begitu Mei, kamu itu bisa bahagia tapi bukan sendiri, tapi bersama pria yang tulus mencintai kamu. Tunggu lah, pria yand sudah di depan mata.Dia itu, saya yakin jodoh kamu. Percaya deh omongan saya." ucap Eva.


Meidina menaruh rantang yang sudah dicuci nya, dan berjalan ke arah meja untuk memeriksa sayuran yang akan di pakai nya.


"Mei, mungkin Pak Radit bukan jodoh kamu, tapi masih ada Radit yang benar - benar akan menerima kamu, apa adanya. Percaya sama saya, jodoh kamu itu sudah di depan mata, entah itu Pak Radit atau bukan. Saya yakin, kamu akan menemukan kebahagiaan kamu, lewat pasangan kamu nanti."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2