Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Tertangkap


__ADS_3

"Kenapa, kenapa kamu lakukan itu pada Meidina...!!! " Bentak Bagas pada Riki, sambil menarik kaos nya.


"Maafkan saya. " Ucap Roky.


Buuuuggghhhh


Buuuugghhhh


Bagas terus menghajar Roky, hingga babak belur, dan sampai disitu Bagas, memukul tubuh Roky, dengan kursi hingga hancur.


Aaaaarrrrrgggghhh


"Ampun...!!! "


"Komandan, stop komandan. " Ucap Bayu, langsung menarik jauh tubuh Komandan nya.


"Kamu, kamu katanya teman dekat Mei, tapi apa, kamu menjerumuskan dia dengan obat - obat an terlarang. Dan kamu bawa dia, ke orang untuk menikmati tubuh dia bersama - sama. Kamu tahu, kejiwaan Mei sekarang terganggu, kamu bisa ganti apa...!!! " Bentak Bagas.


"Maaf kan saya, hukum saya. " Ucap Roky, dengan tubuh lemas dan sakit.


"Katakan, katakan dimana mereka? "


Roky diam, dengan tubuh bergetar. Ilham membentak Roky, dan akhirnya Roky pun bicara.


"Ngomong bodoh, kamu tuli ya? " Bentak Ilham.


"Nama nya Pak Tedi, dan Pak Roy, dan ada beberapa anak buah nya, yang saat itu, memang ikut menikmati tubuh Meidina."


"Apa Mei, tidak hanya satu atau dua orang, tapi lebih. " Ucap Bagas tak percaya.


"Iya, kedua nya tergabung dalam Alam group, dan mereka juga diam - diam pemasok obat - obat an terlarang, termasuk saya dan Meidina konsumsi."


"Jangan - jangan kamu, juga ikut menikmati nya? " Ucap Bagas mencengkram dagu Roky.


"Sa - saya, sempat juga untuk ikut. Tapi saya tidak melakukan nya. "


"Jangan bohong, atau saya tembak kepala kamu. " Bagas langsung mengarahkan pistol nya ke arah kepala Roky.


"Sumpah Pak, saya tidak ikut. Sumpah, karena saya tidak tega. '


" Tapi, kasih dia obat itu tega? "


"Pak, kalau boleh jujur, kenapa Mei seperti itu. Memang saya tawari, dia pun tahu dan mau. Tapi kalau Bapak tahu, dia hanya ingin lari dari masalah, walau cara salah. Bapak tahu, dia seperti itu karena, rasa sakit mencintai sepihak, dan banyak yang menganggap dia sampah. "


"Karena saya? "Ucap Bagas.


"Bapak asal tahu, dia itu baru mencintai seorang pria, benar - benar pria yang menghargai seorang wanita. Rasa cinta nya besar, tapi dia masih ingat akan posisi nya. "


"Tapi semua nya hancur, hancur gara - gara kamu. "


*****


"Kerahkan anggota, dan segel perusahaan nya juga. " Perintah Bagas.


"Siap komandan. " Ucap Bowo.


"Kalau mengelak, berikan surat penangkapan nya, kalau melawan tembak mereka. " Ucap Bagas yang sudah emosi di atas ubun - ubun.


"Komandan, Roky sakau. " Ucap Ilham.


"Panggil Dokter Sinta, dia yang pernah menangani Meidina. Jaga Roky, jangan sampai ada orang asing menemui nya. "

__ADS_1


"Siap Komandan. "


Anggota yang di kerahkan oleh Bagas pun langsung meluncur ke tempat di mana akan menangkap para tersangka. Bagas pun ikut dalam penangkapan tersebut.


*****


"Kamu cerita sama Umi, apa yang ingin kamu ceritakan? "


"Umi, perasaan Umi bagaimana, memiliki madu? "


"Kenapa kamu tanya begitu? "


"Awal pertama, Abi menikah lagi, apa Umi sakit hati? "


"Awalnya iya, tapi kesini Umi harus menerima nya. Abi pun menikahi Umi Sarah, tidak diam - diam menikah. Tapi ijin sama Umi, kalau Abi akan menikahi Umi Sarah, murid nya Abi, sewaktu mengaji. "


"Apa Anisa, akan seperti Umi? di duakan juga."


"Maksud kamu? "


"Umi ingat, teman Anisah yang ingin Anisah bawa dia untuk bertaubat. Ternyata menyukai Mas Bagas, dia menyukai Mas Bagas sebelum kami menikah. Bahkan Mas Bagas juga menyukai nya. "


Umi Salmah langsung memeluk tubuh Anisah, tak kuasa menahan sedih, Anisah menangis di dalam pelukan nya.


"Hiks.. hiks... Anisah, nggak kuat Umi. Bila harus seperti Umi, Anisah takut Umi. Takut Mas Bagas, akan memilih dia. "


"Ingat nak, kamu tidak boleh takut. Cinta yang kuat, tidak akan pernah jauh dari kita, walau ada duri sekitar kita. "


*****


"Sarah, saat nya Abang pulang, ini jatah kamu minggu ini. Abang satu minggu bersama Salmah, satu Minggu bersama kamu. Adil kan, sejak dulu Abang berlaku adil. "


"Iya Bang, makasih ya Bang. Selama ini, Abang masih mempertahankan saya sebagai seorang istri. "


"Iya Bang, kalau anak kita masih ada, pasti sudah sebesar Anisah. " Ucap Umi Sarah dengan terisak.


"23 tahun, kamu tidak pernah berhenti menangis setiap malam, hingga air mata kamu kering. "


"Hati seorang Ibu Bang, bagaimana rasanya kehilangan. "


*****


"Apa - apaan ini? " Tanya Pak Roy.


"Kami dari kepolisian, akan menangkap Bapak dan teman Bapak bernama Tedi, dan beberapa anak buah Bapak atas tindakan pe******sa bernama Meidina, dan pemasok obat - obat an terlarang. " Jawab Ilham.


"Kata siapa? saya bisa tuntut orang yang melaporkan nya. "


"Sebaiknya Bapak jangan mengelak, nanti bisa di jelaskan di kantor, karena bukti juga kuat. "


"Alah.. saya tidak bersalah. "


Braaaakkk


Pak Roy melemparkan tumpukan berkas ke arah Ilham, dan langsung mengarahkan tembakan nya.


Dor


Dor


Baku tembak pun terjadi, hingga anak buah nya pun melakukan perlawanan. Bagas pun ikut menembak, hingga tembakan nya tepat mengenai beberapa anak buah Pak Tedi.

__ADS_1


Dor


Dor


Awwwwww


Pak Tedi terjatuh, saat kaki nya tertembak oleh peluru milik Bagas. Bagas terus mendekat, dengan pistol masih mengarah tepat di jantung nya.


"Rupanya, Polisi baru bisa membongkar kedok kami. "Ucap nya sambil tersenyum.


"Saya tidak akan kasih ampun, hukum bertindak, dan kamu akan menikmati nya sebentar lagi. "


Cuih...


"Saya tidak akan pernah takut, karena hukum akan berpihak kami. "


"Dan kamu tidak tahu? Berani lukai Meidina, berhadapan dengan saya. "


Dor


Dor


Bagas menoleh seorang pria tertembak di belakang nya, dan segera menembak Pak Roy, dengan kecepatan gerakan nya, Bagas langsung menembak Pak Roy, yang akan menembak nya.


Dor


Dor


****


"Meidina." Panggil Bagas.


"Abang." Ucap Menoleh nya, saat berada di sebuah taman rumah sakit.


"Ada berita bahagia. "


"Berita apa Bang? "


"Orang yang telah per*****" sa kamu, sudah tertangkap. "


"Siapa yang melaporkan nya? "


"Teman kamu, Roky. Dan kini dia, mendekam di penjara. "


"Dia jahat, dia yang bawa saya. " Teriak Meidina tiba - tiba.


"Iya, kamu tenang. Tapi satu orang yang belum tertangkap, bernama Tedi. "


Aaaaaaaa


"Jangan sebut namanya. " Teriak Meidina dengan menutup kedua telinga nya.


"Tenang Mei, tenang. Kamu aman disini, tidak ada yang berani melukai kamu. "


"Saya takut, saya takut. "


"Jangan takut, mereka sudah tertangkap. Bahkan Roy mati tertembak di tangan Abang."


Meidina diam, dan hanya diam tak berbicara kembali. Bagas terus menatap ke arah Meidina, dan mengambil sesuatu dari dalam saku jaket nya.


"Pegang ini, tasbih yang biasa Abang gunakan untuk berdzikir. Pakailah, disaat selesai shalat atau kamu sedang sendiri, berdzikir lah. "

__ADS_1


Meidina memegang dan mengangkat kepalanya, menatap kedua mata Bagas. Dan tersenyum, Bagas pun membalas senyuman Meidina.


"Tersenyum lah, Abang rindu senyuman kamu, godaan kamu yang nakal. Mana Meidina yang ceria, itu yang Abang rindu saat ini. "


__ADS_2