
"Kamu kenapa Mei? " Tanya Umi Aminah saat Meidina menaruh beberapa masakan nya di atas meja makan, untuk makan malam.
"Ng - nggak apa - apa umi. " Jawab Meidina.
"Kamu kamu kayak gelisah gitu, dan mata kamu merah loh. "
"Nggak apa - apa Umi. "
"Gemetar loh. "
"Nggak apa - apa Umi, sa - saya pergi ke belakang dulu. " Meidina langsung berlari pergi ke belakang.
Sedangkan Bagas terus memperhatikan tingkah laku Meidina, Sedangkan Umi Aminah menuangkan nasi di atas piring untuk suami nya, serta lauk nya.
Bagas pun makan, namun masih memikirkan Meidina, rasa curiga nya begitu sangat kuat. Dan makan pun semakin tidak berselera.
"Bagas, kabar Anisa bagaimana? "
"Oh, Anisah belum kasih kabar Abi. Tapi kata Umi nya, sudah mendarat selamat. Sekarang sedang isolasi selama 3 hari, sebelum tampil."
"Anisah itu, wanita yang taat sama Agama, dan menurut apa kata orang tua. Dia juga akan menjadi istri yang selalu menurut apa kata suami. Kamu jadilah suami yang untuk membimbing dia ke jalan yang benar, kelak surga bersama anak , istri dan cucu - cucu kamu. "
"Insya Allah, Bagas akan menjadi imam yang baik, dan selalu menjaga Anisah."
Sedangkan Meidina merasakan menggigil, berada di dalam kamar nya, hanya sisa sedikit dan langsung di rokok nya, badan nya terasa lebih baik.
Meidina setelah itu langsung membuka hijab nya, dan merebahkan tubuh nya di atas kasur, ras nge fly membuat nya sedikit meracau, hingga lama - lama tertidur.
*****
"Tati, kamu lihat Meidina tidak? " Tanya Umi Aminah.
"Tidak Umi, ada apa ya? "Jawab Tati bertanya kembali.
" Umi, mau mengajak dia ikut ke pengajian. Kamar nya terkunci rapat. "
"Mungkin di kunci dari dalam, bisa jadi tidur."
"Aneh, dia kok sering banget diam di kamar."
*****
"Roky, barang saya habis. Tolong kamu kasih ke saya. " Ucap Meidina melalui sambungan telepon nya.
"Mei, stok punya saya habis, saya juga baru make tadi. "
"Sehari saya nggak bisa , nggak pake. "
"Jujur Mei, saya nggak bisa kesana, takut ketahuan. "
"Saya bayar berapa pun, bawa yang banyak. Biar kamu nggak sering kesini. "
"Gini aja deh, kamu keluar aja deh dari pesantren, ngapain kamu disana? kalau kamu itu masih bertingkah begini. "
"Nggak bisa Roky, Bang Bagas sudah bawa saya kesini. Kamu tahu, saya cinta sama dia, biar bisa dekat sama dia, saya harus mau disini. "
__ADS_1
"Mei, dia bawa kamu itu kesana, untuk kamu berubah, bukan malah jadi pecandu. "
"Kamu juga kan, yang kasih saya pertama kali suruh coba. "
"Ok saya ngaku salah, sekarang kamu udah jadi pecandu kayak saya. Kamu nggak akan bisa lepas, kecuali kamu mau mati kesakitan."
"Kamu tahu, saya butuh banget. Berapa pun uang nya saya bayar. "
"Maaf Mei, stok saya habis. "
Tanpa ragu - ragu, Meidina pun menyayat tangan nya, dan menghisap darah nya sendiri hingga merasakan lebih baik.
******
"Kamu harus tanggung jawab Roky. " Ucap Mami Rosa.
"Ya ini Mam, saya bilang nggak ada. "Ucap Roky.
" Meidina, belum 100 persen berubah. Dia sekarang malah tersiksa dengan barang haram. Kita sebagai orang terdekat nya, jangan malah menjerumuskan, Meidina harus bisa berubah seperti apa yang di ingin kan Bagas. "
"Iya Mam, saya salah. "
*****
"Mei, kamu nggak enak badan ya? " Tanya Lastri, saat Meidina membantu memasukan kue untuk acara syukuran rumah baru nya.
"Nggak kok, baik - baik saja. " Jawab Meidina dengan tangan gemetar dan mata memerah dan pucat.
"Mei, lebih baik kamu istirahat ya. "
"Ng - nggak apa - apa. " Ucap Meidina, yang berusaha menahan nya, dari sejak malam.
"Astagfirullah Mei, kamu kenapa Mei? " Tanya Bagas panik.
Aaaaaaaaa
"Pergi Bang, jangan dekati saya Bang. "
"Mei..!!! "
Meidina lalu mengambil sebuah pisau kecil dan akan menyayat tangan nya, dan langsung di ambil paksa oleh Bagas, saat pisau ada di tangan nya, Bagas menarik lengan panjang tangan Meidina ke atas, terlihat ada bekas sayatan yang masih baru dan luka belum kering.
"Katakan, dari mana kamu dapat barang itu hah...!!! "
"Jangan atur - atur saya, saya ini bukan wanita yang kamu harap kan, saya kotor, saya pecandu, kamu salah membawa saya ke pesantren untuk berubah saya. Benar apa yang di katakan Abi kamu Bang, saya berubah bukan karena hati tapi karena kamu. "
"Meidina, saya ini membawa kamu kesana, ingin kamu berubah. "
"Tapi apa, saya berubah juga saya tidak bisa menikah sama kamu, saya mencintai kamu tapi apa kamu tidak mencintai saya. Saya begini karena kamu Bang..!!! "
Aaaaaaarrrrrggghhh
Meidina seperti kesakitan dan terus berusaha melukai diri nya sendiri, Bagas berusaha untuk menghentikan Meidina.
"Ilham.... tolong Ilham... !! " Teriak Bagas.
__ADS_1
Aaaaaaarrrrrggghhh
"Lepas...!!! " Teriak Meidina.
"Ilham....!!! "
Ilham yang mendengar panggilan Bagas, langsung berlari bersama Lastri.
"Astagfirullah, kenapa Meidina? " Tanya Ilham melihat Bagas memeluk erat tubuh Meidina.
"Dia sakau. "
"Hah.. sakau. "
"Astagfirullah Meidina, kenapa Bang? "
"Cepat, siapkan Mobil saya akan bawa Meidina."
"I - iya baik. " Ucap Ilham.
"Bagas, terus bagaimana dia. "
"Terpaksa saya ikat tubuh dia. " Ucap Bagas langsung mengambil tali mengikat tubuh Meidina.
"Lepas Bang. " Ucap Meidina sudah sangat lemas.
"Maafkan saya, kalau saya tidak bisa hadir di acara syukuran kalian. "
"Iya nggak apa - apa. "
"Komandan."
"Bayu, kamu kemudikan mobil saya. "
"Siap komandan. " Ucap Bayu tanpa bertanya lagi.
"Kamu kenapa menolong saya, kalau kamu itu nggak cinta sama saya. "
Bagas hanya diam sedang kan Meidina terus berusaha agar tubuh nya terlepas dari ikatan, Meidina terus mengerang hingga keringat membasahi tubuh nya.
"Kamu tahu, saya itu cinta sama kamu Bang, kamu yang sudah membuat saya begini, kamu tahu, saya berani berubah itu karena kamu, misal kamu melihat saya belum berubah, karena ini bukan dari hati saya, tapi demi kamu Bang. "
Bagas hanya diam, sedangkan Bayu sesekali melirik ke arah Komandan nya, hati Bagas kini tidak menentu, sedangkan Meidina terus merasakan kesakitan.
*****
"Abi bilang juga apa? dia itu tidak 100 persen berubah. Bukan dari hati, tapi karena kamu. Kalau dia niat berubah, dia akan belajar berhenti pakai barang haram. Sekarang kamu lihat, dia seperti ini. "
"Abi, orang untuk berubah itu perlu proses, mungkin dari lihat saya dulu, nanti baru akan ke hati nya. Tidak semudah untuk merubah nya. "
"Apa kamu menyukai nya? "
Bagas hanya diam, sembari melihat Meidina yang sudah sedikit tenang. Namun masih terlihat sangat tersiksa.
.
__ADS_1
.
.