Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Sakit nya Hati


__ADS_3

"Ibu tidak tahu, kalau Meidina itu sudah keluar hampir satu minggu yang lalu. " Ucap Perawat.


"Keluar, satu minggu yang lalu. " Ucap Mami Rosa.


"Benar Bu, beliau meminta untuk keluar dari sini. Dan ada bukti tanda tangan dia di atas materai nya juga, nanti saya tunjukkan."


Setelah menunggu, Mami Rosa melihat tanda tangan asli Meidina di atas materai, dan Mami Rosa lalu segera meninggalkan rumah sakit, khusus para pecandu obat terlarang.


"Terima kasih. "


"Sama - sama. "


Mami Rosa lalu mengendarai mobil nya, menuju ke arah pesantren dimana Meidina tinggal.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam, ada yang bisa saya bantu? "


"Maaf, saya ingin bertemu dengan Meidina. "


"Ibu mari ikuti saya. "


Seorang santri perempuan membawa, Mami Rosa ke rumah Mumtaz, kakak ipar dari Bagas itu menyambut nya dengan sangat ramah.


"Maaf, saya ingin bertemu dengan Meidina. Saya ini, Mami angkat nya. "


"Bu, saya mohon maaf. Kalau Meidina tidak ada disini. "


"Meidina keluar dari rumah sakit. "


"Benar Bu, terus terang. Adik ipar saya tidak tahu, terakhir melihat itu katanya saat hari pernikahan Bagas dengan Anisah. "


"Pak Polisi menikah!! "


"Benar Bu, mereka kini sedang di Mesir, baru akan pulang 3 hari lagi. "


"Astaga, Meidina pasti sedih. "


"Maaf Bu, kenapa? "


"Meidina itu sangat mencinta Pak Bagas. "


"Apa, mencintai!! "


"Dia berubah, karena Bagas. Hanya saja Meidina itu bukan wanita, seperti istri Pak Bagas. "


"Bagas sudah menikah. "


"Ini alasan dia, keluar dari rumah sakit, bahkan pesantren. Meidina pasti sangat sedih. "


"Terus terang, saya dan suami tidak tahu kalau Meidina , menyukai adik ipar saya."


*****


"Jadi Meidina itu mencintai Bagas. " Ucap Alif.


"Kepergian dia pasti ada hubungan nya. " Ucap Mumtaz.


"Apa Bagas tahu, akan hal ini? "


"Abi, pasti Bagas tahu. Dia bawa kemari itu kenapa? kalau Bagas sendiri tidak memiliki rasa. "


"Pantas saja, seperti khawatir. Anisah tahu tidak ya? "


"Semoga saja, Anisah tidak tahu. Jangan sampai tahu, karena akan berdampak pada rumah tangga mereka. "

__ADS_1


*****


Dengan jalan terseok, wajah yang lebam. Meidina berjalan, tubuh nya terlihat sangat kucal, bahkan kedua telapak kaki nya berdarah.


Meidina seperti ketakutan, saat melihat orang menatap nya jijik. Meidina, diturunkan dari sebuah Mobil, di depan pembuangan sampah. Tidak ada yang tahu, bahwa Meidina adalah korban kejahatan.


"Tolong saya. " Ucap Meidina pelan.


"Tolong saya. " Ucap Meidina kembali.


Sebuah mobil patroli polisi, berhenti saat melihat Meidina berjalan seperti orang bingung dan ketakutan.


"Kayak kenal? " Ucap Bayu.


"Siapa? " Tanya Bowo mata nya ke arah tangan Bayu yang sedang menunjuk.


"Orang gila. " Jawab Bowo.


"Kamu nggak kenal? "


Bowo menggeleng kan kepala nya, Bayu segera turun dari mobil, diikuti juga oleh Bowo.


"Mba Meidina. " Panggil Bayu.


Meidina tetap diam, hanya kata tolong yang keluar dari mulut nya, namun Meidina seperti orang ketakutan saat Bayu mencoba memegang tangan nya.


"Ini kan? " Tunjuk Bowo.


"Dia Meidina. " Ucap Bayu.


"Kenapa., bisa begini? " Ucap Bowo.


"Tolong saya, tolong saya. " Ucap Meidina pelan.


"Seperti nya, ada yang tidak beres. "


*****


"Saya, akan pulang sekarang. Tolong jaga, jangan sampai dia kabur lagi. " Bagas langsung menutup telepon nya, dan langsung membuka koper nya, menaruh semua pakaian nya, dan pakaian Anisah.


"Mas, mau kemana? "


"Kita pulang sekarang, cepat kamu ganti pakaian. "


"Bukan nya, kita pulang lusa besok? "


"Kita pulang sekarang. "


"Ada apa Mas? "


"Meidina, di temukan. Tapi kondisi nya, memprihatinkan. "


"Inalilahi, sekarang dimana dia? "


"Rumah sakit. "


*****


"Maaf Bapak - bapak dan ibu, pasien mengalami kekerasan fisik dan se***al." Ucap Dokter.


"Kekerasan? "


"Terlihat, dari area milik nya, terjadi secara paksa, hingga mengalami pendarahan. Bahkan kejiwaan nya, terganggu. "


"Ya Allah. " Ucap Alif.

__ADS_1


Alif dan Mumtaz menatap Meidina, yang sedang memeluk bantal guling, tubuh nya bergetar takut, sambil terus mengucapkan kata tolong.


"Tolong saya, tolong saya. "


"Meidina...!!! " Mami Rosa langsung menerobos masuk dan memeluk tubuh Meidina, tangis Mami Rosa pecah namun Meidina tetap diam hanya mengucapkan kata tolong.


"Mei, katakan sama Mami. Siapa yang tega sama kamu? siapa yang membuat kamu merasakan seperti dulu lagi, persis kejadian nya. "


"Maaf, persis kejadian nya, gimana? " Tanya Alif.


"Meidina, pernah di per*****sa, waktu masih SMP. Mungkin dia seperti itu, pasti terguncang karena masa lalu yang dia sedikit lupa kembali muncul. "


"Meidina, kamu sadar Mei, ini Mami. Kamu jangan seperti ini. "


*****


"Yank, kamu langsung pulang ke rumah. Mas ingin ke rumah sakit. "


"Mas, kita baru saja turun dari pesawat. Perjalanan kita jauh loh, besok lagi ke rumah sakit. Kita sama - sama kesana. "


"Nggak bisa, maaf ya. " Bagas berlari menggunakan taksi, sedangkan Anisah menggunakan taksi yang berbeda.


Di dalam taksi, Anisah hanya bisa diam. Ada rasa kecewa dan rasa cemburu, namun Anisah berusaha untuk menepis nya.


*****


Bagas berlari, terlihat Mami Rosa dan Mumtaz kakak ipar nya yang sedang berada di rumah sakit.


Bagas membuka pintu kamar rawat, dirinya berdiri mematung saat melihat kondisi Meidina yang memilukan.


Bagas berdiri di depan nya, hati Bagas sakit melihat kondisi Meidina. Bagas terus mencoba mendekat dan duduk di samping Meidina.


Mami Rosa hanya bisa terisak, Mumtaz pun ikut sedih walau belum kenal dengan sosok Meidina. Meidina menoleh ke arah Bagas, mereka pun saling bertatapan mata.


"Tolong, tolong saya. "


"Abang akan tolong kamu, ceritakan siapa yang melakukan nya? "


"Tolong, tolong saya. " Ucap Meidina kembali dengan mata yang berkaca - kaca.


"Iya, katakan. "


Meidina diam, dan terus memeluk bantal guling, dengan wajah nya di benamkan di bantal guling.


"Kalau kamu butuh bantuan, Abang siap. Dan kalau kamu, tidak mau cerita Abang nggak masalah. Tapi alangkah baik nya, kamu cerita sama Abang, kita berbagi cerita. "


Meidina menatap ke arah Bagas dengan mata yang berkaca - kaca, Bagas tersenyum ke arah nya. Tangan Meidina mendekat dan menyentuh lengan Bagas, namun di tarik nya kembali.


"Saya kotor ya, sudah kotor semakin kotor. Hiks.. hiks.. hiks...Pasti Abang jijik, di sukai wanita seperti saya. "


Bagas tersenyum dan menggeleng kan kepala nya, Bagas berusaha mengambil bantal guling yang di peluk Meidina namun Meidina semakin erat memeluk nya.


"Tak ada kata jijik, kalau jijik saya nggak akan datang kesini. Bukti nya, duduk dekat sama kamu sekarang. "


Meidina tersenyum, Bagas pun tersenyum. Mami Rosa bahkan Mumtaz pun tersenyum, melihat Meidina yang baru menampakkan wajahnya dari sendu ke ceria.


"Apa, Abang mau jadi teman hidup saya? melindungi saya, dari kecil saya tidak pernah merasakan di lindungi, tubuh ini selalu di siksa. "


Bagas diam, dan hanya menundukkan kepala nya, Meidina kembali memeluk bantal guling nya dengan kembali membenamkan wajah nya.


"Nggak bisa ya, iya Abang milik orang. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2