
Bagas sampai di depan kamar rawat Meidina, saat membuka pintu nya, terlihat Radit tertidur sambil memegang tangan Meidina.
Dengan jalan perlahan , Bagas mendekati nya. Meidina dengan wajah nya sedikit pucat, tertidur pulas dengan alat medis di tubuh nya.
"Mei, bangun lah. Dua pria, yang begitu sayang sama kamu. Ingin kamu, membuka mata kamu. Lihat, pria yang tertidur dengan memegang tangan kamu. Apa kamu, tidak ingin melihat nya? Abang, ingin kamun bangun, dan memakai gaun putih bersama dia. Abang ingin kamu, merasakan kebahagiaan itu, walau bukan dengan Abang tapi dengan pria pilihan hati kamu. Abang ingin lihat, kamu merasakan kebahagiaan." ucap Bagas pelan.
Kedua mata Meidina membuka, dengan pandangan samar, Meidina melihat pria berdiri di samping nya.
Bagas tersenyum, dan Meidina menoleh ke kanan, melihat Radit tengah tertidur pulas. Bagas berjongkok hingga sejajar dengan tempat tidur Meidina.
"Abang senang kamu bangun, lihat dia begitu sangat mencintai kamu. Dia rela tidak makan, hanya ingin tetap di samping kamu. Apa kamu, mau mengakhiri semua nya? " ucap Bagas kembali.
Meidina diam, namun mata nya kembali menutup, dan Bagas membangun kan nya lagi. Meidina kembali membuka mata nya.
"Jangan tidur lagi, cukup untuk tidur nya. Abang sama Radit berharap kamu bangun."
"Bang." ucap Meidina pelan.
"Iya." ucap Bagas dan Radit bersamaan.
Radit yang masih setengah sadar, langsung bangun, dan menatap ke arah Meidina. Bagas menyatukan tangan Radit, dan menatap kedua nya.
"Bahagia lah, bersatulah. " ucap Bagas.
"Maafkan Abang, maafkan Abang." ucap Radit.
Bagas bangun, dan meninggalkan mereka berdua. Bagas melemparkan senyum nya, lalu menutup rapat pintu kamar rawat Meidina.
"Maafkan Abang, maaf kalau ini membuat kamu terluka. "
Meidina tersenyum, dan tangan nya di angkat nya untuk memegang wajah, Radit yang kini sangat dekat.
"Kenapa, masih bisa memegang wajah ini? kenapa saya masih selamat."
__ADS_1
"Karena, kita harus ditakdirkan bersama." ucap Radit.
"Saya ikhlas , kalau ini memang harus berakhir. Carilah wanita, yang benar - benar suci. "
"Nggak, nggak akan. Abang tetap ingin sama kamu."
"Saya tidak ingin, menjadi perusak hubungan Abang dengan keluarga besar , lepaskan saya."
Radit menggenggam erat tangan Meidina, di cium nya punggung tangan kekasih nya, hingga air mata nya menetes.
"Abang mohon, jangan ulangi lagi. Abang mohon, jangan pergi. "
"Bang."
"Cukup, cukup Mei. Kita tutup masalah kamu dengan Om Edwin, kamu mau kan? kita sama - sama bulan madu ke bukit cinta? mau kan, itu yang kamu inginkan. Kita akan bulan madu, ke bukit cinta."
"Bang, kamu terlalu baik untuk dapatkan wanita seperti saya. Dari masalah ini saya sadar, bukan bahagia saya bersama Abang."
"Nggak, nggak. Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu itu sumber kebahagiaan Abang, kamu segala nya." ucap Radit membelai wajah Meidina.
"Kita akan menikah. "
****
"Kenapa sih Om? kok punya om tidak berdiri - diri? " ucap Seorang wanita penghibur yang kesal melihat milik Pak Edwin, milik nya begitu lemas.
"Ayo dong, kamu bantu saya. "
"Om, saya sudah bantu berdiri kan ya, ini sudah 2 jam, saya capek om kalau tidak ada reaksi. "
"Saya itu bayar kamu. "
"Maaf Om, saya mundur. Lebih baik, saya cari pelanggan lain. "
__ADS_1
"Kamu, nggak sopan ya, saya lapor kan ke Mami kamu."
"Silahkan, yang ada Om lah yang di ledek. Sudah nggak jalan, sok make jasa kita."
"Kamu...!!! "
****
"Alhamdulillah ya Allah, kamu akhirnya siuman nak. " ucap Abi Mulia.
Ibu Heni dan Pak Halim pun berada di kamar rawat Meidina, Radit mengabari kedua orang tua nya, bahwa Meidina telah siuman.
"Pernikahan, tetap di gelar. Mau masa lalu seperti apa, kami tidak permasalahkan. Biarkan itu menjadi kisah pahit, kisah itu akan tertutup rapat. Dengan kisah baru, kalian berdua. " ucap Ibu Mira.
Meidina tersenyum, Radit pun tersenyum dengan terus menggenggam erat tangan Meidina.
"Abang buktikan, tidak meninggal kan kamu, jadi jangan takut Abang tidak menerima kamu. Maaf, yang kemarin Abang kaget."
"Atau pernikahan kalian di percepat bagaimana? " ucap Pak Halim.
"Boleh tuh Yah, rencana Akad nikah kita majukan, bagaimana sayang? resepsi tetap di tanggal itu? "
"Bagaimana Pak Mulia? " tanya Pak Halim.
"Boleh, lebih cepat lebih baik." jawab Abi Mulia.
Dari balik pintu, yang terbuka sedikit, Bagas mendengar pembicaraan mereka, Bagas tersenyum saat mendengar nya.
"Abang lega, kamu akhir nya menemukan kebahagiaan itu. Abang kini, melepaskan kamu sepenuh nya, terima kasih sudah pernah hadir di hati ini. " ucap Bagas, lalu pergi meninggalkan kamar rawat inap Meidina.
.
.
__ADS_1
.