Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Pecandu


__ADS_3

"Roky, kamu bagi itu buat saya. "


"Tapi Mei, ini nggak gratis loh. "


"Udah buruan, berapa pun saya bayar.Ini gara - gara kamu kasih,ke saya waktu itum"


"Serius, kamu bakalan butuh ini terus loh."


"Udah buruan. "


Roky memberikan apa yang diminta Meidina, setelah menghisap nya tubuh Meidina merasakan lebih baik.


"Kamu akan ketergantungan Mei, sama seperti saya. "


"Gara - gara kamu. "


"Kamu mau. "


"Saya lagi mabok curut, kamu paksa. "


"Kalau butuh, kamu tinggal hubungi saya aja. Atau mau coba barang baru? " Roky memberikan sebuah serbuk putih pada kemasan plastik kecil.


"Nggak, ini saja sudah cukup menyiksa. Tapi enak juga ya kalau lagi fly begini, rasanya hilang beban hidup. "


Meidina merasakan tubuh nya kini enteng, dan mulai rasakan tak sadar, dia bicara di luar kendalinya, begitu juga dengan Roky.


*****


"Lita, kok saya akhir - akhir ini nggak melihat Meidina ya? "


"Meidina kan, sekarang udah nggak kuliah lagi. "


"Kenapa? "


"Pihak kampus keluarkan dia secara tidak hormat. "


"Kasus apa? sampai dia di keluarkan? "


"Katanya sih, denger - denger gosip nya, dia itu jadi simpanan Papi nya Stella, bahkan Stella sekarang di penjara karena menganiaya Meidina. Kamu tahu, kenapa pihak kampus mengeluarkan Meidina? "


"Nggak tahu, kenapa? "


"Karena Mami nya Stella, adakah salah satu investor di kampus ini, dari beberapa pemilik Yayasan. "


"Jadi masih pemilik. "


"Benar, makan nya, di keluarkan."


*****


"Maaf mba, Meidina nggak pulang ke rumah ini. " Ucap Eva.


"Kemana ya? "


"Ke rumah kost an nya. Coba aja kesana. "


"Oh disana. "


"Iya kesana aja. "


"Makasih ya. "


"Sama - sama. "


*****


"Bang, Meidina kok belum keluar kamar. Kita mau pamit sama dia, dan belum kasih alamat baru kita. " Ucap Lastri sambil memegang perut nya yang besar.


"Nanti Abang ketuk pintu nya. "

__ADS_1


Tok.. tok...


Ilham mengetuk pintu kost an Meidina, namun tidak terbuka juga, hingga beberapa kali terdengar suara sahutan dari dalam.


"Bang Ilham. " Ucap Meidina yang masih penampilan acak - acak an.


"Mei, Abang sama mba Lastri pindah hari ini ke rumah yang baru. Ini alamat kita, kalau ada apa - apa, kamu kesana saja ya. " Ucap Ilham.


"Iya Bang, mba Lastri nanti kalau lahiran kasih kabar Mei. "


"Pasti Mei. "


Tak lama sebuah motor matic berhenti tepat, di depan kost an Meidina. Anisah tersenyum ke arah Meidina.


"Assalamu'alaikum." Sapa Anisah.


"Waalaikumsalam." Sapa Meidina, Ilham dan Lastri.


"Loh Bang Ilham sama Mba Lastri, mau pindah ? " Tanya Anisah.


"Iya Anisah, alhamdulillah ada rejeki kita beli rumah. " jawab Ilham.


"Alhamdulillah, nanti saya main sama Mas Bagas. "


"Datang ya nanti di acara syukuran rumah baru."Ucap Lastri.


"Insya Allah. "


***


"Kamu benar - benar di keluarkan? "


"Iya, kenapa? " Ucap Meidina sambil merokok.


"Kok mereka begitu, padahal jelas - jelas mereka salah, dan seharusnya kamu itu kembali lagi ke kampus buat kuliah."


"Mungkin saya, ditakdirkan menjadi orang seperti ini. Buat apa kuliah, saya mati - matian belajar, akhirnya nya di depak juga."


"Saya kerja lah. "


"Kerja dimana? "


"Kamu itu polos atau bodoh sih? kamu tahu kan, kerjaan saya itu apa. "


"Kalau mau, kamu kerja di perusahaan travel milik orang tua saya gimana? "


"Terima kasih. "


"Yang jelas, yang nya halal. "


"Saya nggak pantas, saya kotor. "


"Saya kan pernah bilang, kalau di mata Allah itu sama. Kamu juga bisa belajar sedikit - sedikit, meninggalkan hal buruk ini. Cepat lah insaf, sebelum terlambat. "


"Makasih Anisah kamu selalu menasehati saya, seharusnya kamu tidak berteman dengan wanita seperti saya. Nggak pantas untuk di jadikan sahabat. "


"Saya tulus, kalau tidak tulus buat apa saya kesini. "


"Kalau kamu tahu, apa yang sedang saya rasakan, kamu bakal kecewa. "


*****


"Jadi kamu habis ketemu sama Meidina? " Ucap Bagas.


"Iya Mas, kasihan Meidina. Menurut Mas, bagaimana ya Meidina bisa keluar dari kehidupan malam nya? "


Batas hanya diam, dan memainkan ponsel nya, tapi pikiran nya tertuju pada Meidina.


"Sekarang, dia nggak kuliah, kerjaan nya apa?"

__ADS_1


"Ya seperti itu. "


"Oh iya, kamu catat nama - nama yang akan dj undang ke pernikahan kita nanti."


"Iya Mas, nanti saya akan tulis siapa - siapa nama yang akan di undang. "


*****


"Mei, ada seorang yang mau pake kamu. " Ucap Mami Rosa.


"Siapa Mam? "


"No name, dia akan bayar kamu 350 juta."


"Nggak jelas Mam, nanti polisi gimana? "


"Mami akan minta photo nya ya. "


"Iya Mam. "


Meidina terus menghisap rokok nya, dan menegak minuman keras yang membuat nya sedikit mabuk.


"Nah Mei, dia kirim. " Tunjuk Mami Rosa pada Meidina, dan Meidina pun mengangguk kan kepala nya.


"Sip, minta alamat nya. "


"Ok nanti Mami akan chat lagi. "


*****


"Nih, ini stok terakhir sama saya, jadi kamu pake sehemat mungkin. "


"Berapa aja, asal kamu kasih stok sama saya."


"Iya, tapi tunggu. "


Meidina mengelinting menjadikan nya seperti rokok, lalu langsung menyalakan korek dan mengisap nya seperti rokok.


"Nih.. minum. " Roky memberikan gelas kecil berisi minuman beralkohol.


"Roky, kayak gini nih, yang bikin beban hilang, tapi satu yang buat hati ini masih dendam. Pria yang memp*****sa saya, kalau tahu saya habisi dia. "


"Sudahlah, anggap aja dia udah mati. "


"Nggak bisa begitu, yang buat saya rusak itu dia. "Ucap Meidina.


"Tapi Roky, saya itu cinta sama Bagas. Dia pria yang pertama saya sukai, tapi saya salah mencintai orang. Dia orang suci nggak seperti saya kotor. "Ucap Meidina kembali.


"Kamu terlalu tinggi. "


"Memang, terlalu tinggi. Dia punya kedudukan. "


*****


Meidina berdandan cantik, dengan mengenakan pakaian yang super seksi. Dirinya turun dari sebuah taksi dan berjalan masuk ke dalam hotel bintang 5.


"No 521, type luxury. " Meidina menekan tombol lift, menuju ke lantai 10 dimana klien yang memesan nya berada di kamar tersebut.


Meidina pun keluar, dan mencari kamar dimana, pria yang memesan nya, berada di kamar tersebut.


"Seperti nya pria kaya yang akan jadi mangsa." Ucap Meidina tersenyum simpul.


Kamar yang di tuju pun tepat berada di depan nya, Meidina menekan bel kamar tersebut, dan saat pintu kamar pun di buka, mata Meidina membelalak lebar.


"Ka- kamu. "


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2