
Bagas mendekati Anisah yang sedang mengusap perutnya, yang sudah masuk usia 4 bulan. Bagas pun mengusap perut Anisah, lalu mencium nya.
"Mas, bagaimana perkembangan nya? "
"Polisi masih mengejar, dia seperti tikus yang bersembunyi dengan pintar nya. "
"Semoga cepat tertangkap ya Mas, mungkin dia takut karena Om Daus sudah tiada, dan tidak mau di penjara sendirian. "
"Semoga saja, semoga cepat tertangkap. "
"Amin ya Mas. "
Bagas tersenyum lalu mengusap kembali perut Anisah, terlihat wajah Bagas yang tampak begitu sangat bahagia.
Sedang kan Mami Rosa, tengah menanda tangani surat jual beli club nya. Kini club nya telah di jual dan di miliki oleh pengusaha asing.
Dengan harga yang lumayan tinggi, Mami Rosa bisa langsung membeli rumah untuk tempat tinggal dirinya, Meidina dan ketujuh anak buah nya.
Di bantu oleh Ilham, akhirnya proses penjualan pun berjalan lancar.
"Terima kasih Pak Ilham, saya senang bekerja sama dengan anda. " Ucap Mr. Tan.
"Sama - sama Mr. Tan, Semoga usahanya lancar ya. "
"Amin."
Mami Rosa tersenyum bahagia dan ada rasa sedih, club yang penuh kenangan dari awal merintis hingga menjadi besar.
"Mami , harus rela ikhlas ya. Karena kita akan membuka lembaran baru, dengan meninggalkan masa lalu kita. " Ucap Meidina.
"Iya Mei, Mami ikhlas kok. " Ucap Mami Rosa.
"Sekarang, kita langsung ke rumah baru. " Ucap Ilham.
"Hayuk Bang. " Ucap Meidina, dan lain nya dengan semangat.
****
"Ilham, ini luas banget, dapur sama ruang tengah nya. Kita bisa produksi usaha kita disini. " Ucap Mami Rosa.
"Iya Mam, Bang Ilham pintar pilih. " Ucap Meidina.
"Iya, sengaja. Karena kamu kan, katanya mau buka usaha catering, di bantu sama Mami Rosa. "
"Sekali lagi makasih Bang. "
*****
"Meidina, ada tamu. " Ucap Wulan.
"Siapa? " Tanya Meidina penasaran.
"Abi kamu. " Jawab Wulan.
Meidina lalu berjalan ke arah ruang tamu, dan Abi Mulia tersenyum ke arah nya. Meidina pun lalu mencium punggung tangan Abi Mulia.
"Abi sendiri? " Tanya Meidina.
"Iya Nak, Abu sendirian. Gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah Abi, Mei sehat. "
"Nak, kenapa kamu tidak tinggal sama Abi saja, kenap harus disini? "
"Abi dapat nomer saya dari siapa? "
"Abi dapat dari Bagas. "
__ADS_1
"Bang Bagas, belum pernah kesini. "
"Mungkin dia dapat dari teman nya. "
"Saya lebih senang tinggal disini Abi, karena dari kecil inilah keluarga saya. "
"Nak, katakan sama Abi, kamu mau apa? akan Abi turutin. "
"Saya tidak ingin apa - apa, yang saya ingin kan hanya, kebahagiaan. Bukan harta, tapi cinta. Itu yang saya ingin kan. "
"Cinta orang tua? "
"Itu yang utama, tapi cinta seorang imam buat menuntun saya. "
"Apa kamu memiliki seseorang yang kamu cintai? "
"Ada Abi, tapi tidak akan pernah bisa saya miliki. Seandainya bisa, untuk sekali walau sebentar, saya mau tapi itu tidak akan pernah bisa terjadi. "
"Siapa dia? "
"Dia pria yang sangat hebat, bagaimana menghargai seorang wanita seperti saya. Dia menerima kondisi saya, tapi saya tidak akan pernah bisa memiliki jiwa raga nya bahkan hati dia. Tapi walau seperti ini, saya sangat bahagia. "
"Abi akan bantu, kamu kalau mau. "
"Jangan Abi, cukup Abi tahu saja, saya sudah senang. Sekarang saya dengan dia jauh, sangat jauh. Karena memang cinta kita ini salah dan tidak akan pernah bersatu. "
****
Meidina membawa masuk, beberapa kantong kresek berisi makanan, dan buah dari Abi Mulia. Teman - teman nya, langsung mengeksekusi nya. Meidina tersenyum, melihat nya.
"Abi kamu baik ya. " Ucap Santi.
"Ternyata saat tahu, kamu anak nya dia nggak menolak." Ucap Wulan.
"Orang tua yang sayang, akan menerima anak nya pulang. Walau itu kondisi nya , tidak seperti yang di harap kan. "
****
"Belum, saya belum main ke rumah baru nya.' Jawab Bagas.
" Lama ya, setelah kebakaran itu, bulan kemarin. "
"Iya, ini lebih baik. "
"Belajar lah lupakan Meidina, ada Anisah yang setia sama kamu. "
"Tolong jaga Meidina, saya tidak bisa menjaga nya lagi. Kasus ini, saya serahkan sama kamu yang bagian menangani seperti ini. Saya lepas, dan saya tidak ingin rasa ini terus ada. "
"Kamu yakin? "
"Apa saya harus mendua? "
"Tidak kan? "
"Iya tidak. " Ucap Ilham.
"Dia saudara kandung istri saya, tidak mungkin kalau saya. " Ucap Bagas terhenti.
"Saya akan sampaikan. " Ucap Ilham.
"Jangan, nggak usah. "
*****
"Bukan nya, itu Toni. " Ucap Ryan.
"Iya." Ucap Bayu, langsung bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Kita ikuti dia. " Ucap Ryan pun bangun dari duduk nya.
Kedua nya, berjalan mengikuti Toni. Ryan pun langsung menghubungi kepolisian setempat, untuk meminta bantuan.
Toni yang curiga, di ikuti dari belakang langsung lari. Ryan dan Bayu pun mengejar Toni, mereka terus mengejar Toni, hingga melewati gang sempit.
Praaaannnggg
Toni melemparkan sebuah tong, untuk menghalangi Ryan dan Bayu. Tembakan pun akhirnya nya di letuskan, Ryan dan Bayu terus menembaki Toni, namun lari nya begitu sangat gesit.
Dor
Dor
Dor
Suara sirine mobil polisi terdengar, karena Ryan memberi tahu kan posisi mereka. Toni terus berlari, hingga berhenti di jalanan buntu.
"Menyerah kamu, kita pulang ke penjara. " Ucap Ryan.
"Hahahahah... kalian tidak akan bisa menangkap saya. " Ucap Toni.
"Lama - lama, kamu banyak bicara. " Ucap Bayu langsung menghajar Toni.
Buuugghhh
Buuugghhh
Perkelahian ketiga nya terjadi, Toni terus melawan, hingga Ryan menendang Toni dari belakang, dan tersungkur. Bayu pun dengan sigap langsung menduduki punggung Toni dan memborgol nya.
"kamu mau kabur hah..!!! "
"Saya pasti keluar. "
"Siapa yang akan membantu kamu, Daus sudah almarhum. " Ucap Bayu.
*****
"Benar kah, baik saat pesawat tiba, akan langsung menjemput kalian dengan pengawalan yang sangat ketat. " Ucap Ilham.
"Bagaimana, apa Toni berhasil di tangkap? " Tanya Bagas.
Ilham langsung mematikan ponsel nya, dan menganggukkan kepala nya.
"Alhamdulillah." Ucap Bagas.
"Mereka kini sudah berada di Bandara, mereka di bantu pihak kepolisian sana, dan di pesawat akan ada pengamanan khusus untuk mereka bertiga sampai turun nanti. " Ucap Ilham.
"Akhirnya Mei, orang yang sudah merusak masa depan kamu sudah di tertangkap. " Ucap Bagas.
"Kamu tidak kasih tahu dia? "Tanya Ilham.
" Tidak, kamu saja. Kamu yang hubungi dia, katakan besok untuk datang ke kantor Polisi." Jawab Bagas.
*****
"Mei, apa kamu siap? bertemu dengan pria itu? " Tanya Mami Rosa.
"Saya harus siap Mam, bagaimana juga dia pria yang selama ini saya cari. " Ucap Meidina.
"Kita berangkat sekarang. "
"Tunggu Mami. " Ucap Meidina masuk kedalam kamar nya.
"Kamu ambil apa Mei? " Tanya Mami Rosa mengikuti langkah Meidina masuk kedalam kamar nya.
"Saya akan berikan ini pada dia, seperti apa yang dia lakukan pada saya dulu. "
__ADS_1
.
.