
"Mei, ada tamu tuh? " Ucap Eva.
"Siapa Ev, saya mau kuliah. " ucap Meidina sambil memoles wajah nya dengan bedak.
"Nggak tahu, nggak kenal? Pelanggan kamu mungkin. "
"Pelanggan yang mana ya? Om Frans bukan, Roki teman saya bukan, yang kemarin pakai hijab? "
"Bukan juga. "
"Ya udah makasih ya, suruh tunggu saja. "
Meidina pun keluar dari kamar nya, dan melihat Pak Tedi serta Pak Roy yang bertamu. Meidina langsung menebar senyum dan langsung duduk di sofa.
"Ada apa ya Om, kemari? "
"Kamu mau kemana? Rapih benar. " Tanya Pak Roy.
"Saya mau kuliah. " Jawab Meidina.
"Kamu kuliah? ambil jurusan apa. " Tanya Pak Tedi.
"Sistem Manajemen. " Jawab Meidina.
"Kalau begitu, kamu kenapa tidak kerja sambil kuliah di perusahaan Om, gaji akan kasih 3 kali lipat. Asal kamu bisa menemani Om. " Ucap Pak Tedi.
"Maaf Om, seperti nya saya tidak bisa. "
"Kenapa? apa kamu masih ingin kerja sebagai wanita malam, melayani dan menemani para pria hidung belang untuk minum di club, dan di booking oleh pria - pria berdasi. " Ucap Pak Roy.
"Lebih baik saya kerja di club, dari pada saya kerja di perusahaan Om , bukan di lihat dari cara kinerja nya tapi hanya untuk pemuas. "
"Berapa yang kamu Terima dari Frans? 100 juta, 200 juta, kamu tidak mau menemani kami untuk tidur bersama, tapi kamu kalau sama Frans mau? "Ucap Pak Roy.
"Kalau kamu mau, kami berdua kasih lebih. " Ucap Pak Tedi.
"Maaf Om, sudah waktu nya saya harus ke kampus. Karena saya ada kuis, silakan Om Tedi dan Om Roy bisa pamit. "
Pak Tedi dan Pak Roy hanya bisa menatap kesal Meidina, dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada Meidina.
"Dia mau booking kamu? " Tanya Eva.
"Walau saya, wanita seperti itu. Saya tidak mau kalau cara nya seperti itu, saya akan melayani yang menghormati seorang wanita." Jawab Meidina.
__ADS_1
"Mei, status kamu di kampus tahu kan kamu kerja di Club, dan mereka pasti sudah tahu kehidupan wanita malam. "
"Tahu, bahkan saya ini, sengaja tidak mau bergaul dengan mereka. Karena ada saja yang merasa jijik sama saya, bahkan ada juga yang menghormati saya. Tapi kebanyakan mereka, sering bully saya. "
"Kamu punya masa depan, tidak seperti kami disini. Kamu memiliki pendidikan yang tinggi, kenapa kamu masih lanjut, bahkan terjun ke dalam nya. "
"Sebelum saya menemukan pria yang telah merenggut masa depan saya, tidak akan berhenti, saya mencari dia di dunia malam , karena dunia malam mempertemukan saya dengan dia. "
"Sampai kapan? Bahkan Om Frans pun ingin membawa kamu keluar dan jadikan kamu istri nya, seperti nya hanya dia yang tulus. "
"Om Frans terlalu baik, saya tidak bisa menerima nya. "
"Apa karena sudah memiliki seorang istri dan anak? "
"Tidak juga, dia hanya sebatas ladang uang, dia juga tahu. Tapi dia tetap ingin jadikan saya istri, walau saya katakan Om adalah ladang uang saya. "
"Mami Rosa, bahkan tidak ingin kamu ikuti jejak nya, terlanjur kamu terjun, Mami juga pilih - pilih kalau ada tamu untuk kamu bahkan kamu tidak boleh di bawa keluar kota, hanya sebatas minum di club,tapi kamu malah buka open booking. "
"Kalau tidak begini, saya tidak menemukan orang itu. "
"Tapi sekarang belum kan? "
*****
"Sambil merem juga, selesai. " Ucap Meidina sambil mengedipkan salah satu mata nya, dan menggigit bibir bawah nya. Pak Arif hanya menggeleng kan kepala nya, sambil menatap Meidina keluar dari dalam kelas.
"Wuis, anak pintar selalu duluan. "
"Kamu sama ada kuis? "
"Sama, minggu depan kita kan UTS. "
"Nanti malam, ada job dimana? "
"Kayak nya, di Club Mahatan deh. "
"Oh disitu, disana mah bayaran gede, nggak kayak di club saya. "
"Di mana saja saya sih, yang penting bisa dapat duit, buat bayar kuliah. "
"Oh iya, kemarin saya pernah pinjam 5 juta, saya balikin sekarang. Transfer ya, saya lagi ingat takut lupa lagi. "
"Kamu ada? "
__ADS_1
"Ada kemarin dari Om Frans. "
"Kenapa nggak nikah aja sih sama dia, Om Frans royal sama kamu. Hanya dia pelanggan setia, beda yang lain. "
"Makan nya, saya nggak mau. Dia terlalu baik."
"Disini juga banyak orang yang sok suci, dan munafik, tidak seperti kamu blak - blak an. "
"Terus mau di tutupi bagaimana? kerjaan saya begini, di tutupi juta pasti bakalan tahu. "
"Eh Ayam kampus? nggak cari mangsa kamu disini? " Ucap Stella yang tiba - tiba menghampiri Meidina dan Roki.
"Kayak nya, level mahasiswa nggak main deh stel. " Sindir Cindy.
"Betul juga, atau bisa jadi dosen kita ada yang booking dia. " Ucap Stella.
"Wah, bahaya. Orang seperti dia kenapa sih, pihak kampus masih pertahankan mahasiswi seperti dia, seharusnya di keluarkan. "Ucap Novi.
" Kalian itu, rese banget deh. Urus diri kalian sendiri, saya saja nggak rese sama kalian." Ucap Meidina.
"Mei, mending kita pergi. " Ucap Roki.
"Eh Roki, kamu lagi bela dia, mentang - mentang kamu satu dunia. Seharusnya orang - orang seperti kalian itu, nggak pantas kuliah disini, karena disini tempat nya orang beragama dan memiliki derajat yang tinggi. " Ucap Stella .
"Stel, kamu kalau bicara jangan ngasal ya, kamu pikir saya ini tidak memiliki agama dan tidak beradab. Saya masih memiliki sopan santun, bahkan mungkin Meidina lebih baik dari pada kamu, yang munafik sok suci. " Ucap Roki.
"Apa kamu bilang? munafik sok suci, ngaca.. nih kamu juga ngaca Mei, nggak pantas kalian kuliah disini, terutama kamu Mei, kamu itu sampah masyarakat. "
Plaaakkk
Meidina menampar pipi Stella, dan Stella kembali menampar pipi Meidina. Saat Meidina akan memukul wajahnya Stella, Roki langsung menarik tangan Meidina.
"Jangan kamu kotori tangan kamu, untuk merusak wajah nya. Biar alam saja yang menghukum nya. " Ucap Roki.
"Asal kamu tahu, saya juga tidak ingin seperti ini. Kamu pikir, pekerjaan ini adalah cita - cita saya hah.. saya juga ingin memiliki masa depan, apa salah kalau saya memiliki pendidikan tinggi, apa salah saya kuliah di sini. Saya bayar kuliah disini, bukan dari uang orang tua kamu. " Ucap Meidina lantang, hingga membuat semua mahasiswa menatap nya.
"Kalian disini, kalau kalian tidak suka sama saya, bilang jangan bisa nya bicara di belakang. Saya akan angkat kaki, kalau pihak kampus mengusir saya. Saya juga perlu pendidikan, walau cara saya cari uang itu salah, tapi bukan begini kalian perlakukan saya. Bagaimana juga, saya manusia yang memiliki perasaan. "
.
.
.
__ADS_1