Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Masa Lalu Yang Mengganggu


__ADS_3

Radit berjalan masuk ke dalam ruangan nya, dan terlihat sudah ada Ibu Stefani duduk. Radit mencium punggung tangan nya, dan Ibu Stefani tersenyum ke arah nya.


"Tante, kenapa nggak bilang kalau mau kesini? "


"Tante, hanya ingin bicara berdua sama kamu."


"Kabar Om, katanya sekarang sedang perjalanan bisnis ya? "


"Iya, mungkin dia akan baru pulang saat kamu menikah. Oh iya, bagaimana persiapan pernikahan kamu? "


"Alhamdulillah lancar, baru 50 persen."


"Radit."


"Iya Tante, ada apa? "


"Kamu yakin, mencintai Meidina? "


"Yakin, kenapa? "


"Apa tidak ada, wanita selain dia? "


"Tunggu, sebenarnya ada apa sih? kenapa Tante tiba - tiba, bicara seperti ini. Pasti ada sesuatu, tolong Tante jelaskan apa yang akan Tante, bicarakan? "


"Tante, sebenarnya tidak ingin rumah tangga kamu terganggu nanti. Tapi sebenarnya tahu, bagaimana om kamu itu di luar sana. Dan apa yang, dia lakukan ada di dalam laptop ini. Dia simpan, dia tonton sendiri, Tante tahu ini sakit, tapi sebelum kamu nikahi dia kamu cari file nya di laptop ini, Tante tidak mau melihat, bukan Tante mau gagalkan pernikahan kamu, tapi alangkah baik nya kamu lihat. "


"Tunggu, apa Om Edwin pernah pakai Meidina? "


Ibu Stefani terdiam, dan menarik nafas nya dengan panjang. Radit langsung lemas, dan mengusap wajah nya dengan kasar.


"Maafkan Tante, melakukan ini Tante hanya demi rumah tangga Tante, dan tidak ingin om kamu mengganggu istri kamu nanti. Tante sarankan, kamu pikir lagi."


"Saya mencintai nya Tante. "


"Tolong, jangan buat bumerang."ucap Ibu Stefani.


" Kamu, lihat dulu dan pikirkan baik - baik.Apa kamu mau menikah, dengan orang yang pernah berhubungan dekat dengan om kamu, bahkan lebih."


Setelah kepergian Tante Stefani, Radit banyak diam. Hingga Meidina datang, membawa makan siang untuk nya.


"Bang, saya masakin tumis toge, sama botok tahu, dan ikan goreng plus sambal. " ucap Meidina sambil membuka rantang nya.


"Bang."


"Eh iya sayang. "


"Kok melamun sih, makan siang dulu. "


"Iya, makasih ya. "


"Bang, tadi ora WO kabari, katanya nanti mau pernikahan kita gaya internasional atau tradisional? "


"Terserah kamu saja. "


"Kalau Abi, minta yang ada nuansa timur Tengah nya. "


"Ikutin apa kata Abi."


"Terus, undangan sudah jadi. Dan souvenir juga sudah jadi, gedung semua nya siap pakai. Uang nya sudah di lunasin, pokoknya sudah siap lah. "


Radit hanya diam, dan fokus pada makan siang nya, sedangkan Meidina hanya bicara sendiri.


"Bang."


"Hem."


"Kok dari tadi, saya terus yang bicara. Abang, nggak komentar apa atau gimana? "


"Abang lagi makan, Abang dengar kok."


"Bang."


"Iya, nanti kalau sudah menikah, kita mau bulan madu dimana? "

__ADS_1


"Mau nya kemana?"


"Saya ingin tidur di villa, di bukit cinta. Pemandangan nya, indah sekali. Udara nya sejuk, pokok nya damai."


"Kamu pernah kesana? "


"Pernah, waktu main ke sana, sama teman - teman, itu juga acara ulang tahun teman, yang semua nya di tanggung sama pacar nya. ucap Meidina.


" Banyak spot romantis, itu bagus banget." ucap Meidina kembali.


"Nanti kita kesana."


"Makasih Bang. "


"Kamu nggak ingin, pergi ke luar negeri atau kemana? "


"Nggak Bang, pernikahan kita saja sudah banyak makan biaya." ucap Meidina, dan Radit tersenyum tipis.


****


Radit masih berada di kantor Polisi, Laptop milik Om nya, masih berada di dirinya. Radit pun membuka laptop dan menyalakan nya, dan mulai berselancar mencari, sebuah file yang benar - benar apa yang di maksud oleh Tante nya.


"Seperti nya, file hidden." ucap Radit lalu membuka format file, yang di hidden, dan menemukan fila tersebut.


Radit membuka, sebuah folder terdapat banyak video, adegan dewasa. Satu persatu di buka nya, ternyata sangat pemain adalah om nya sendiri.


Radit, tak menonton hingga tuntas, hanya membuka sebentar. Dan membuat Radit, terkejut dengan detak jantung yang sangat cepat, sebuah video adegan Meidina dimana sedang bermain dengan om nya.


Radit memegang dada nya, dengan satu tangan di kepalkan nya. Kedua mata Radit memerah dan berkaca - kaca.


"Astagfirullah." ucap Radit.


Radit langsung mematikan video nya, dan menutup laptop tersebut. Radit terisak, tak kuat melihat nya.


"Kenapa, kenapa harus Om Edwin." ucap Radit.


"Tante Stefani, selama ini tahu. Ya Allah, kami mau menikah nya saja, ada saja halangan nya."


****


"Alhamdulillah sudah beres, tinggal hari H saja. " jawab Meidina.


"Mei, kamu pasti bahagia, memiliki calon suami seperti Pak Radit. Dia itu teman dekat, suami saya. Makan nya, suami saya sangat mendukung kamu sama dia."


"Dia pria yang mau menerima saya, apa adanya. Keluarga nya, welcome banget. Tadinya, saya takut banget, tidak mau menerima saya."


"Kalau cinta, tidak akan memandang kisah masa lalu, dia dan keluarga nya akan menerima apa adanya. "


****


"Radit, kamu kok nggak makan? " tanya Ibu Mira.


"Iya, kenapa kamu? " tanya Pak Halim.


"Nggak apa - apa, Radit lagi nggak nafsu makan. " jawab Radit.


"Kamu sakit? "


"Nggak Bu, nggak sakit. Hanya saja, sedang tidak nafsu makan saja. "


"Makan lah, nantinya tambah sakit."


"Radit, ingin keluar dulu Bu, Ayah mau cari angin segar. " ucap Radit langsung bangun dari duduk nya, dan pergi.


"Bu, Radit kenapa? " tanya Pak Halim.


"Ibu juga tidak tahu. " jawab Ibu Mira.


"Apa mereka berantem? "


"Ibu juga tidak tahu, mudah - mudahan saja tidak. "


Radit mengendarai motornya sangat kencang, dan membelokkan ke rumah Meidina. Terlihat warung makan yang di buka nya masih ramai.

__ADS_1


Meidina langsung menghampiri Radit, yang masih berdiri di atas motor nya. Meidina meminta Radit, untuk masuk tapi tidak mau.


"Abang ingin ajak kamu jalan. "


"Nanti, saya bilang sama Mami Rosa dulu. "


"Iya, Abang tunggu."


Meidina menghampiri Mami Rosa yang sibuk melayani pembeli, Meidina berbisik pada Mami Rosa.


"Mami, saya mau keluar dulu sama Bang Radit. "


"Oh iya, hati - hati Mei. "


"Iya Mami, Mei pamit dulu. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


***


Di perjalanan, Radit diam dan fokus mengendarai motor nya, sedang kan Meidina pun tidak berani mengajak nya bicara. Hingga, kedua sampai di rumah, yang akan di tempati mereka berdua setelah menikah.


Radit langsung berjalan mendahului Meidina, dan Meidina hanya diam. Dan sudah menebak, pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Bang."


"Duduk Mei. " ucap Radit, dan Meidina pun duduk di samping Radit.


"Abang kenapa? "


"Mei, kamu tahu kan, Abang menerima masa lalu kamu. Abang tidak ingin tahu cerita kamu, Abang tidak mau ungkit masa lalu kamu lagi. Tapi hari ini, Abang mengetahui sesuatu, tentang kamu yang membuat dada Abang sakit, bahkan hampir tidak bisa bernafas. Abang, hanya ingin dengar langsung dari kamu, dan Abang tidak akan marah."


"Apakah, Abang akan pergi meninggalkan saya? "


"Janji Abang, tidak akan pernah meninggalkan kamu."


"Mei siap Bang, kalau memang Abang melepaskan Mei sekarang."


"Katakan Mei, kamu itu selama ini menutupi nya. "


"Maafkan saya Bang. "


"Kenapa Mei? "


"Karena saya, takut kehilangan Abang. "


Radit memalingkan wajah nya, bahkan kedua mata nya tampak berkaca - kaca. Bahkan tangan nya pun bergetar, Meidina hanya menundukkan kepala nya.


"Kalau Abang, ingin melepaskan saya. Hari ini, saya siap Bang. Saya menerima nya, ini resiko saya. Dari pada, kita menikah tapi ada masa lalu saya di depan kita. Saya ikhlas Bang, dan saya akan ganti semua yang sudah di siapkan. "


"Bukan masalah ganti nya, kenapa harus Om saya Mei..!! "


"Maafkan saya Bang, saya tidak jujur karena ini yang saya takutkan. Saya takut, saya takut kehilangan Abang, saya takut kebahagiaan saya di ambil lagi. "


"Justru, diam nya kamu, tidak jujur yang buat Abang kecewa. "


"Maafkan saya Bang, maafkan saya. " ucap Meidina terisak.


"Kita pulang, Abang antar kamu pulang."


****


Mami Rosa mengetuk pintu kamar Meidina, namun tidak ada jawaban. Bahkan berkali - kali, Meidina tidak menyahut nya.


"Mei, buka pintu nya Nak? cerita sama Mami, kamu punya masalah apa? Sejak malam kamu tidak menjawab, dan langsung masuk dengan terisak."


Tapi tidak ada jawaban apapun, Mami Rosa melihat Eva, Wulan masih berdiri di belakang nya.


"Apakah Meidina baik - baik saja Mam? " tanya Eva.


"Mami tidak tahu." ucap Mami Rosa langsung pergi meninggalkan pintu kamar Meidina.


Sedang kan di dalam kamar, Meidina terus memejamkan kedua mata nya. Dengan masih mengenakan mukena nya, tampak gelap tidak bercahaya hanya AC yang masih menyala.

__ADS_1


__ADS_2