
"Makasih Bang, untuk hari ini." ucap Meidina.
"Iya, sama - sama. Malah Abang, yang ucapkan terima kasih sama kamu. Sudah mau menerima Abang. "
"Bang, Saya siap, bila suatu hari Abang memutuskan saya, saya siap bila saya di sakiti. Mungkin, saya bukan yang terbaik, buat Abang. "
Radit memegang tangan Meidina, di usap nya punggung tangan nya, dan di kecup pula punggung tangan nya.
"Abang tidak akan, pernah meninggal kan kamu, Abang sudah memilih kamu."
"Makasih kembali ya Bang, makasih banget."
"Sama - sama sayang, terima kasih untuk semua nya."
"Abang hati - hati ya, sampai ketemu lagi."
"Iya sayang. "
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Saat akan membuka pintu, Radit menahan tangan Meidina. Wajah Radit, di dekatkan nya. Meidina menutup kedua mata nya, di kecup kening Meidina.
"I love you. " bisik Radit sambil membelai wajah Meidina.
"I love you too." ucap Meidina tersenyum.
"Besok, antar makan siang, seperti biasa. Abang tunggu di kantor."
"Iya Bang. "
****
"Kamu kenapa ketawa? "tanya ibu Mira.
" Anu Bu, saya resmi pacaran sama Meidina." jawab Radit.
"Alhamdulillah, selamat sayang. Kapan kamu, bawa kesini? "
"Nanti saya atur jadwal nya, soalnya kemarin. Meidina tidak mau, katanya belum siap."
"Pintu rumah ini, akan selalu terbuka. Kapan pun, pacar kamu datang kesini."
"Makasih Bu, sudah merestui hubungan kami."
"Ibu hanya berdoa semoga kamu bahagia sayang, semoga ini jodoh kamu yang terakhir. Kamu bisa move on dari Latifah, orang tua mana yang tidak sedih, melihat anak nya terus mengingat orang masa lalu. Dan sekarang, Ibu sama Ayah, bahagia dan lega. Kamu bisa melupakan Latifah, dan membuka hati untuk. Meidina masuk kedalam hidup kamu."
"Doakan, semoga lancar Bu."
"Amin."
****
"Mei." sapa Anisah.
"Anisah, kamu sudah pulang dari rumah sakit?"
"Semalam saya pulang, karena saya memaksa ingin di rumah."
"Duduk, seharusnya kalau ingin bertemu dengan saya, kamu telepon saja. Nanti saya akan ke rumah, kamu kan belum pulih benar."
"Nggak apa - apa, saya jenuh. " ucap Anisah sambil melirik ke arah sebuah rantang.
"Kamu mau kemana? "tanya Meidina.
" Oh, itu saya mau kirim makan siang, buat Bang Radit. "jawab Meidina.
" Cieeela.. yaudah sana kamu, kirim kasihan nanti dia kelaparan. "
"Nanti saya kirim paka kurir saja."
"Nggak apa - apa, saya juga mau pamit. "
"Tapi kan baru datang, masa langsung pergi. "
"Nggak apa - apa, saya ingin ke rumah Abi."
"Oh yaudah, maaf ya. "
"Nggak apa - apa kok. "
****
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Meidina masuk, dan meletakkan rantang nya di atas meja tamu. Radit, langsung mengunci pintu ruangan nya, dan langsung duduk di sofa, sedang kan Meidina membuka rantang, yang berisi bistik daging, capcay dan nasi serta kerupuk udang.
"Enak nih. "
"Spesial buat Abang, tapi ingat tiga kali lipat. "
"Sekarang lima kali lipat. "
"Awas ya, kalau bohong. "
"Nggak percaya, Abang bayar cash. " Radit langsung membuka dompet nya, dan memberikan lembaran warna merah sebanyak sepuluh lembar.
Saat akan menutup dompet nya, Meidina melihat sebuah photo seorang wanita. Tanpa sadar Radit, tidak tahu kalau Meidina melihat nya.
"Kamu makan belum Mei, kita sama - sama makan. "
"Nggak Bang, terima kasin. Lihat Abang saja, saya sudah kenyang."
Radit menikmati makan siang nya, sedangkan Meidina melihat seisi ruangan nya. Dan Meidina, melihat sebuah photo Radit bersama seorang wanita, Radit mengenakan seragam Polisi sedang kan Wanita nya memakai jas warna putih.
"Abang cinta banget ya sama dia. "
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Radit langsung mengambil air minum, dan segera bangun dan menaruh figura tersebut ke dalam sebuah laci.
"Maaf."
"Nggak apa - apa Bang, jangan buang masa lalu dengan paksa. "
"Maaf, Abang lupa untuk menyimpan semua nya. "
"Kita juga memiliki masa lalu, yang kita cintai. Masa lalu, yang harus kita benar - benar hapus. Walau itu sulit, tapi kita harus bisa."
"Maaf ya. " ucap Radit memegang tangan Meidina.
"Iya Bang, nggak apa - apa kok. Sekarang Abang lanjut makan ya, sayang kalau nggak di habiskan.'
" Abang, tiba - tiba tidak selera makan. "
"Mau gitu? "
"Iya, gimana?"
"Boleh."
****
"Apa tidak menunggu Abang pulang? " ucap Radit saat mengantarkan Meidina sampai depan pintu kantor Polisi.
"Nggak usah, nggak enak kalau lama disini."
"Malam minggu, bisa ketemu sama Ayah dan Ibu? "
"Abang, saya belum siap. "
"Mau sampai kapan? kita kan sudah resmi pacaran, dan nanti gantian, Abang ingin temui Abi kamu. "
"Malu Bang. "
"Tenang, orang tua Abang welcome loh."
"Besok malam ya? "
"Iya, besok malam."
"Iya deh Bang, tapi awas tanggung jawab."
"Iya, tanggung jawab apa ih, hamilin kamu saja belum."
"Ih.. Abang. "
Hahahaha..
"Tenang santai, nggak bakal gimana - gimana kok."
"Ya sudah, saya pamit. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
__ADS_1
*****
"Sayang, kita jalan yuk. "ajak Bagas.
" Jalan kemana Mas? " tanya Anisah.
"Kita lama, tidak makan di luar. Mau kan, kita makan di luar? "
"Dinner romantis? " ucap Anisah.
"Iya, kita Dinner romantis."
"Ok, saya siap - siap dulu. "
"Dandan yang cantik. "
"Pasti sayang, buat suami pasti tampil sempurna. "
"Mas tunggu, jangan lama - lama. "
"Mas, nggak ganti pakaian gitu? "
"Pria itu sat set sat set, beda sama perempuan. "
"Ya sudah, tunggu. "
****
"Bagus dong, kalau kamu di ajak sama dia ke rumah nya. " ucap Mami Rosa.
"Tapi kok, deg deg an loh Mam. "
"Wajar, pertama. "
"Mami, jujur ya. Saat lihat ada photo mantan nya, hati saya kok sakit ya. "
"Itu tandanya, kamu sudah mulai suka sama dia. "
"Gitu Ya Mam, duh saya jadi keringat dingin loh. "
"Acaranya kan besok, santai saja kali."
"Masalah nya, ini kencang dan bertemu calon mertua Mam. Ini kan pengalaman pertama Meidina, aduh gimana Mam? bakal nanti malam tidak bisa tidur. "
"Kamu itu, mending kamu, siapkan pakaian untuk besok malam, tampil yang cantik. Ingat, tutur kata, dan gaya bahasa tubuh kamu, itu yang sopan. Yang lebih beri bawa, jangan menunjukkan kamu pernah bar - bar. "
"Ya Mami, makasih untuk saran nya."
****
Meidina turun dari mobil, milik Radit. Yang membawa nya, untuk bertemu dengan orang tua nya.
Meidina merasakan gugup, saat Radit menggandeng nya. Untuk masuk bertemu dengan kedua orang tua Radit.
Terlihat ada sebuah mobil dan terdengar suara, orang berbicara dan tertawa. Meidina berhenti, saat akan sampai di pintu
"Kenapa? "
"Ada tamu ya? "
"Iya, itu mobil Om saya. "
"Om? "
"Iya, dia biasa kalau malam minggu, suka ngumpul disini sama istri dan anak - anak nya. Ayah saya kan, kakak tertua. Dan adik - adik yang lain nya, banyak di luar kota. "
"Grogi."
"Ada Abang. " Radit menarik pelan, tangan Meidina dan membawa masuk.
"Assalamu'alaikum." sapa Radit.
"Walaikumsalam." balas semua nya.
Meidina tersenyum, saat kedua orang tua Radit menyambut nya. Dan saat akan menyapa keluarga Om nya Radit. Meidina kaget, dengan pria yang sangat Meidina kenal. Begitu juga, dengan pria yang kini menatap Meidina.
"Om Edwin. " ucap Meidina dalam hati nya.
.
.
.
__ADS_1