Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Tak Pantas Di Cintai


__ADS_3

"Jadi anak nya Pak Frans, yang memukuli kamu? " Tanya Mami Rosa.


"Iya Mam, dia yang labrak. Ternyata dia satu kampus sama Mei. " Jawab Meidina.


"Terus? "


"Ya Pak Frans tinggalkan saya begitu saja, sekarang aja dia belum kontak saya. Gaya nya jadikan saya istri, tetap saja berat sih sama keluarga. "


"Mami, ingin kamu keluar sekarang, tinggalkan dunia hitam ini. "


"Nggak Mam, sebelum saya bertemu dengan orang yang pertama meniduri saya. Tidak akan keluar, kalau keluar saya akan cari dimana dia. "


"Apa kamu tidak memikirkan masa depan? "


"Saya tidak mempunyai masa depan, masa depan saya sudah hancur. Hanya menunggu seorang pria yang mencintai saya dengan tulus dan mengangkat derajat saya. Tapi itu semua nya tidak akan pernah mungkin terjadi."


"Mami tidak ingin kamu terluka, kemarin penjara sekarang tubuh kamu. Akan kamu terima luka yang bagaimana lagi buat badan kamu, Mami harus apa sekarang? "


"Mami, saya pantas dapatkan perlakuan ini, karena saya salah. Buat apa melawan yang ada tetap saja rugi, Saya tidak akan pernah menyesal Mam, karena ini keputusan saya. Hanya masa depan saja, yang di jadikan korban. "


"Kamu istirahat lah, Mami akan sering kemari jenguk kamu. Kalau kamu mau pulang ke rumah, pintu rumah Mami selalu terbuka buat kamu. "


"Iya Mami, terima kasih. "


Setelah Mami Rosa pulang, Bagas datang dengan masih mengenakan seragam nya, Bagas menghampiri Meidina.


"Bagaimana kondisi kamu? sudah baikan. "


"Sudah, walau masih ada sedikit nyeri. "


"Ini ada obat, kamu minum, kemarin kan baru salep nya saja. Semoga di campur pengobatan dari dalam cepat sembuh. "


"Terima kasih Pak. " Ucap Meidina menerima obat dari Bagas.


"Kamu jangan panggil saya Bapak, panggil saya Bagas. Umur kita kan pasti tidak jauh beda, mungkin tua saya beberapa tahun."


"Saya panggil Bang saja ya. "


"Terserah kamu, saya masuk ke dalam rumah Ilham dulu. "


"Iya Bang, sekali lagi terimakasih. "


"Sama - sama. " Ucap Bagas langsung pergi.


Meidina tersenyum sambil menatap Bagas masuk kedalam rumah Ilham, di dalam kamar Meidina langsung membuka plastik berisi obat untuk dirinya.


"Di kasih begini saja udah senang. "


*****


"Kamu sendirian ya? " Sindir Stella.


"Stella, iya nih. " Udah Anisah.


"Si pelakor itu nggak akan masuk kampus deh, mungkin sudah mati. "

__ADS_1


"Maksud kamu apa ya? "


"Teman , kamu itu sudah berurusan sama saya. Lagian kamu kenapa sih, masih mau temenan sama pelakor malah sebagai pemuas para lelaki. Nggak jijik apa. "


"Benar Anisah, dia itu mahasiswi hanya sebagai topeng, tapi setelah keluar dari kampus, bakalan tuh di obral dia akan mengangkang. " Ucap Susan.


"Saya tidak memandang orang dengan seperti itu, tapi kalian yang harus introspeksi diri, Meidina salah, tapi tidak seharusnya kalian main hakim sendiri. " Ucap Anisah langsung berdiri dan meninggal Stella bersama teman - teman nya.


"Belagu banget, sok pintar dalam agama. " Ucap Stella kesal.


****


"Mas, kok tumben datang ke rumah? ada apa ya Mas? "


"Dek, teman kamu Meidina terluka. "


"Astagfirullah, iya Mas saya tahu dari Stella. "


"Stella, yang memukuli Meidina? "


"Benar Mas, dia datang - datang bicara begitu, Mas tahu bagaimana kondisi nya? "


"Sekarang sudah sedikit baikan, dia ada di rumah kontrakan nya. "


"Rumah, yang seperti rumah bordir? "


"Bukan, rumah nya dia tinggal sendiri. Kamu pernah datang kesana? "


"Sebenarnya, saya pernah datang ke rumah yang banyak wanita penghibur nya. Meidina marah, kalau saya datang kesana, saya hanya kasih dia gamis. "


*****


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." Meidina tersenyum saat mendengar suara Bagas, dengan menyisir dulu rambut nya, dan merapikan pakaian nya.


"Abang." Ucap Meidina langsung merubah senyum nya yang tadi sangat bahagia kini berubah ada sedikit kecewa saat melihat Bagas datang bersama Anisah.


"Mei, katanya kamu di pukuli sama Stella? "


"Anisah, iya. Silahkan duduk. "


"Mas Bagas kasih tahu saya, dan Stella juga mengaku sama saya, dia tiba - tiga datang tidak memiliki rasa bersalah dia bilang. "


"Nggak apa - apa, Saya sudah kebal. "


"Kamu kenapa, tidak menuntut dia? "


"Saya yang salah, saya pantas di hukum sama dia. "


"Mei, bagaimana juga kamu manusia. Kamu juga layak di hargai, bukan di injak - injak. Dan kamu juga layak dicintai. "


"Siapa yang akan mencintai saya, bekas para pria yang hanya ingin bersenang - senang, menikmati tubuh saya. Hidup saya memang begini, makan dari hasil begini, walau ada rasa suka dan cinta, cukup dia tahu saja saya sudah senang. " Ucap Meidina dan Bagas langsung melirik ke arah Meidina tapi langsung menundukkan lagi wajah nya.


"Mungkin, nggak ada pria yang mau, menerima saya apa ada nya. Saya ikhlas menerima takdir ini, dan cinta saya tidak terbalas juga itu biasa. "

__ADS_1


"Pria yang seperti apa yang kamu sukai? "


"Selera saya terlalu tinggi, entah kenapa saya bisa jatuh cinta sama dia. Tapi saya bagai langit dan bumi, dan itu nggak akan mungkin saya di balas cinta nya, Kalau pun dia masih sendiri, mungkin akan berpikir 1000 kali lagi, bahkan keluarga nya juga. "


"Dia sudah memiliki pasangan? "


"Saya ambilkan minum dulu ya. " Ucap Meidina langsung masuk untuk mengambil air minum.


Meidina pun keluar, dan menyuguhkan minuman soft drink dan satu toples biskuit.


"Silakan di minum, hanya ada ini saja. "


"Terima kasih. " Ucap Anisah, dan membantu membuka minuman kaleng untuk Bagas dan memberikan pada calon suami nya.


"Kalian tanggal berapa mau menikah? "


"2 minggu lagi saya, pergi untuk lomba MTQ tingkat internasional, di Timur tengah. disana sekitar satu minggu an, pulang nya langsung acara nikahan kita, satu minggu saya pulang dari sana. Kamu nanti datang ya? "


"Iya, pasti saya datang. "


"Dek, Mas ke rumah Ilham dulu. Dia ada di dalam baru bangun tidur, nanti kalau mau pulang chat aja. "


"Iya Mas. "


Meidina melihat Bagas masuk ke dalam tempat tinggal Ilham, dan langsung menundukkan kepala nya sambil memainkan jemari nya.


"Meidina, saya tuh sama Mas Bagas di jodoh kan loh, kita jalan juga baru sekarang - sekarang, pas mau nikah. Padahal perjodohan nya sejak dua tahun kemarin, Mas Bagas waktu itu kan melanjutkan pendidikan lagi. Dia fokus itu dulu. "


"Kamu beruntung, memiliki calon suami seperti dia. "


"Jodoh, itulah rahasia ilahi. Kita kenal sejak kecil, tidak memiliki rasa suka. Atau apa lah, saat tumbuh rasa itu saat di jodoh kan. "


"Semoga lancar sampai hari H. "


"Amin..!! "


*****


"Anisah memang akrab ya sama Meidina. " Ucap Ilham.


"Iya, dia akrab. " Ucap Bagas.


"Anisah tahu kalau Mei suka sama kamu? "


"Nggak, dia nggak tahu. "


"Abang ini bagaimana, kalau tahu Anisah cemburu lah. "Ucap Lastri.


" Dia juga tadi blak - blak an bilang suka sama saya, tapi dengan kata - kata halus, sehingga tidak menyakiti hati Anisah. " Ucap Bagas


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2