
Meidina hadir, dalam acara rutin bulanan, acara mengaji dan pengajian antar kerabat. Semua nya berkumpul, Meidina yang merasakan minder lebih memilih memisahkan diri, dan menata makanan. Anisah menghampiri Meidina, dan membantu menata kue di atas piring.
"Kenapa nggak gabung? " tanya Anisah.
"Disini saja, saya malu. "
"Malu kenapa? mereka kan saudara kamu juga."
"Disini saja, sambil dengar kan pengajian nya."
"Gabung lah, banyak sepupu yang ingin kenal dekat sama kamu. "
"Disini saja. "
Ponsel Meidina berdering, panggilan dari Radit tapi Meidina membiarkan nya. Hingga muncul, notifikasi pesan.
"Kenapa tidak di angkat? " Tanya Anisah.
"Nggak apa - apa. " jawab Meidina singkat.
"Pak Radit, suka ya sama kamu? "
"Nggak tahu, saya tidak mau tahu."
"Kenapa tidak kamu terima? dia itu baik loh. Anak nya Kapolres, ibu nya seorang dokter. "
"Saya tidak mau, dan tidak mau dekat sama seorang pria. "
"Kenapa? "
"Tidak apa - apa. "
"Apa karena hati kamu, masih sama Mas Bagas? "
Meidina menatap tajam ke arah Anisah, dan membanting lap tangan di atas meja. Anisah menatap balik, ke arah Meidina.
"Kamu kenapa sih? selalu mengaitkan saya sama Bang Bagas. Kamu harus tahu Anisah, saya sama Bang Bagas sudah lama tidak komunikasi, hanya sebatas say hallo. Apa kamu itu securiga sama saya, kalau saya itu tidak mau menerima pria lain, karena Bang Bagas? tidak Anisah, tidak..!! " ucap Meidina dengan suara lantang.
Hingga yang berada di ruang keluarga dan tamu, mendengar suara keras Meidina. Abi Mulia pun menghampiri kedua putri nya, bahkan Bagas, Mumtazd dan Alif pun menghampiri nya juga.
"Ada apa ini? "
"Maaf Abi, ini salah paham saja. " ucap Anisah.
"Ini tidak salah paham, tapi tuduhan. Demi Allah, saya kenapa menolak Bang Radit, bukan karena Bang Bagas. Tapi saya malu, saya sadar diri. Kalau saya memiliki masa lalu yang buruk, Bang Bagas belum tentu mau menerima saya, dia terima belum tentu keluarga nya menerima. Saya sadar diri, sadar diri kalau saya ini bekas banyak pria. Hanya pria yang terakhir saya cintai, Bang Bagas. Dan sekarang, saya tidak memiliki rasa lagi. Percuma di pertahankan, sakit. Tapi saya menolak nya, bukan karena masih cinta sama Bang Bagas. Tapi saya malu, saya kotor, saya sadar diri. Itu yang saya alami sekarang. Kenapa, saya memisah, saya malu, malu dengan kalian. "
Meidina pergi begitu saja, Abi Mulia mengejar putri nya, Anisah menatap ke arah Bagas. Dan Bagas lebih memilih pergi, meninggal kan Anisah.
__ADS_1
"Mas."
**
"Abi tidak pernah, malu sama masa lalu anak Abi. Bagaimana juga, kamu adalah anak Abi."
"Saya yang malu Abi, saya ini tidak cocok hidup sama Abi, apalagi di cintai oleh orang suci. "
"Manusia itu, tidak semua nya suci. Abi juga, bukan manusia suci. Abi juga tidak pernah, mengaku Abi tidak pernah melakukan dosa. Semua pasti pernah, hanya kadang tidak sadar dosa yang kita lakukan. "
"Saya di sukai pria, sama seperti Bang Bagas. Tapi saya tolak, saya tahu maksud Anisah, saya memang mencintai suami nya. Saya menolak bukan berarti saya, masih suka sama Bang Bagas. Tapi saya malu, saya kotor, saya tidak pantas. Itu alasan saya, kenapa menolak dia. Bagaimana saya, harus katakan jujur, kalau saya tidak ada niat merusak rumah tangga mereka. "
****
"Mas."
"Sudah berapa kali, jangan bawa - bawa Meidina lagi. Dia nggak tahu apa - apa, ini juga nggak ada hubungan nya. Apa kamu tidak percaya sama suami kamu dan saudara kamu? "
"Maafkan saya Mas, maaf. Saya tidak maksud begitu. "
"Terus apa? kalau lagi - lagi, di ungkit? "
"Saya takut, saya takut Mas meninggal kan saya. "
"Astagfirullah, kamu itu otak nya dimana Anisah. Kapan saya ada niat, meninggal kan kamu. Kamu takut, saya akan menikah sama Meidina. Ok, saya akan menikah sama Meidina malam ini, kalau itu yang kamu mau. Biar pikiran kotor kamu, jadi kenyataan. "
"Tolong lah, jangan sampai kita berantem, hanya karena masalah ini lagi, ini lagi. Kita berpikir dewasa lah, masa kamu pikiran nya jelek saja. Mas akui, pernah mencintai Meidina, tapi Mas sudah putuskan untuk lupakan dia. Dia seperti itu, bukan karena Mas, tapi karena dia memiliki sifat seperti itu. Dia itu memikirkan ke depan nya bagaimana, dan jarang pria dan keluarga nya akan menerima dia. Mungkin disini, hanya baru Mas yang menerima apa ada nya. Tapi Mas kan, punya kamu. Dia juga sadar, Mas milik kamu. "
****
"Kenapa buka Meidina? " Tanya Radit pada Bayu.
"Maaf Komandan, ini di antar sama kurir. " Jawab Bayu.
"Yaudah, makasih. " ucap Radit dan langsung menghubungi Meidina.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, Mei kenapa kamu nggak antar sendiri, malah suruh kurir? "
"Maafkan saya Bang, mulai sekarang kurir saja ya. "
"Kamu menjauh, apa. karena kemarin? "
"Bang, tolong buang rasa itu. Abang salah menyukai saya, masih banyak wanita cantik, dan wanita yang memiliki derajat tinggi. Bukan saya Bang, saya tidak pantas. "
"Abang tidak memandang orang, mau kaya miskin sama saja. "
__ADS_1
"Saya tidak mau, Abang kecewa sama saya, dan keluarga Abang akan malu. Jangan sampai, di depan umum, Abang sebagai pemimpin malah malu, karena memperistri saya. "
"Malu kenapa Mei, kamu itu baik. Kamu anak orang berpendidikan, keluarga kamu jelas, taat agama. Apalagi Mei, apalagi coba. "
"Abang salah, jangan di lihat dari situ."
"Abang mencintai kamu Mei. "
"Sebelum terlalu jauh, carilah tahu siapa saya, jangan sampai Abang menyesal, suatu saat."
Meidina menutup ponsel nya, saat itu Bagas sudah berdiri di belakang Meidina, Bagas mendekat dan duduk di samping nya.
"Abang kenapa kemari? jangan sampai Anisah marah Bang. "
"Maafkan Anisah ya, maaf kalau dia lancang. "
"Nggak apa - apa Bang, sudah biasa. "
"Terus, perasaan kamu sama Radit gimana?"
"Nggak ada, saya akan terus berusaha untuk tidak mencintai lelaki. "
"Jangan begitu, apa kamu akan sampai tua, akan terus sendiri. "
"Sendiri lebih baik, itu lebih baik. Tidak akan ada yang tersakiti. "
"Terima kasih, Abang bisa kenal dekat sama kamu. "
"Saya yang berterima kasih sama Abang, kalau saya bisa seperti ini karena Abang."
****
"Bang Radit. "
"Mei, tolong jangan menghindari saya. "
"Bang, maaf ya, saya tidak bisa. "
"Mei, jelaskan. Kenapa? Saya juga bertanda tanya, kalau kamu bilang cari tahu tentang kamu, dulu nya itu seperti apa? saya tidak peduli, dan tidak mempermasalahkan itu. Saya itu, tulus mencintai kamu. Saya sangat mencintai kamu, apa adanya. "
"Apa Abang masih mau? kalau saya itu bekas wanita malam, pecandu, pemabuk, bahkan sudah pernah tidur bersama banyak pria, bahkan saya terakhir korban peme******sa."
.
.
.
__ADS_1