
Umi Sarah berdiri, di sebuah rumah bercat warna putih, mencocokkan alamat yang di beritahu oleh Bagas. Umi Sarah, lantas berjalan masuk membuka pintu gerbang rumah, dimana Meidina tinggal.
"Assalamu'alaikum." Ucap Umi Sarah mengucapkan salam.
Tok... tok...
"Assalamu'alaikum." Ucap Umi Sarah kembali.
"Walaikumsalam." Balas Meidina, lalu membuka pintu rumah nya.
Umi Sarah tersenyum, saat Meidina membuka pintu, dan mempersilahkan Umi Sarah untuk masuk.
"Ibu tahu alamat rumah saya, dari siapa? "
"Bagas , yang kasih tahu. "
"Oh, Bang Bagas. "
"Panggil saya Umi. " Ucap Umi Sarah.
"Iya Umi. " Ucap Meidina.
"Kamu tinggal sama siapa? "
"Sama Mami, hanya berdua. "
"Oh, terus kamu buat catering itu di bantu siapa? "
"Kadang sendirian, kadang kalau Mami lagi di rumah, ya Mami yang bantu saya. "
Umi Sarah melihat ke arah perut Meidina, hati nya begitu sangat sakit melihat Meidina hamil tanpa suami.
"Kandungan kamu bagaimana? "
"Alhamdulillah sehat, Bang Bagas pasti cerita semua nya. "
"Maaf."
"Nggak apa - apa Umi. "
Umi Sarah melihat ke sekeliling rumah, rumah yang tampak begitu sangat besar, dan terlihat nyaman untuk Meidina.
"Kamu nyaman tinggal disini? "
"Hanya rumah ini, dimana tempat saya untuk berlindung. Hanya rumah ini, dimana keluarga saya itu tinggal. Tidak ada lagi, keluarga selain Mami Rosa. "
"Mei, boleh kalau Umi menganggap kamu seperti anak Umi? "
Meidina menatap ke arah Umi Sarah, dan tersenyum ke arah nya. Umi Sarah, sangat terharu melihat senyuman nya.
"Kenapa umi? "
"Kamu, mengingat kan anak Umi yang 23 tahun yang lalu hilang. Kalau dia masih ada, mungkin sudah sebesar kamu. "
"Perempuan."
"Iya , perempuan. Usia sekitar satu bulan dia di culik, hilang dan tidak ada jejak sampai sekarang. "
"Semoga, anak Umi masih hidup ya Umi."
"Umi sangat yakin, dia masih hidup."
*****
"Bang, Meidina itu benar anak kita. "
"Umi, jangan dulu berkata seperti itu, kalau fakta nya bukan, kita kecewa. "
"Nggak Bang, saya yakin. Meidina anak kita yang hilang, dua puluh tiga tahun yang lalu. Bahkan, hidup nya begitu sangat miris, wanita malam, hamil tanpa suami. "
"Umi, apa Meidina tahu? "
"Tidak Bang, dia belum tahu. "
"Bagaimana, kalau seandainya Meidina tahu? dan fakta memang benar anak kita, dia pasti kaget mungkin ada kecewa di pikiran nya, kenapa bisa ada di tangan wanita yang membesarkan nya. "
__ADS_1
"Saya akan terus dekat dengan dia, mungkin ini doa saya yang terjawab. "
*****
Meidina merasakan sangat sakit, hingga mencengkram sisi sofa. Tubuh yang pucat, menahan pusing, dan sakit nya perut yang sangat luar biasa.
"Nak, kamu harus bertahan sampai usia kamu 9 bulan, kamu harus kuat. " Ucap Meidina.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Ucap Meidina berusaha bangun dengan menahan sakit.
Ceklek
Pintu rumah terbuka, terlihat Anisah datang dengan menenteng dua kantong kresek.
"Anisah, masuk. "
Anisah pun masuk, dan meletakkan dua kantong kresek tersebut di atas meja.
"Mami Rosa kemana? "
"Mami, sedang keluar kota. Ada bisnis pembukaan, cabang Club Casablanca. "
"Oh, sedang tidak ada orderan ya? "
"Ada, hanya sebatas gorengan saja. "
"Laris ya. "
"Alhamdulillah, bisa buat makan."
"Saya bawakan kamu, susu ibu hamil. Kita sama - sama sedang hamil, saya ingat kamu."
"Terima kasih, jadi merepotkan. "
"Tidak kok, tidak merepotkan. "
"Saya buatkan minum dulu. "
Meidina diam, dan tersenyum lalu menggeleng kan kepala nya, dan Anisah pun tersenyum tipis.
"Kamu percaya sama saya, dia jarang kemari, bahkan tidak pernah kesini lagi. "
Meidina menatap ke arah Anisah, begitu juga Anisah yang kini sedang menatap nya.
"Anisah, saya memang mencintai suami kamu, tapi saya itu tidak akan pernah memiliki nya. Bahkan menyentuh secuil pun, saya belum pernah. Saya yakin, suami kamu hanya memiliki rasa yang sama terhadap saya, tapi dia tidak akan pernah berpaling dari kamu. Dan hanya kamu, yang paling dia sayang. Saya masih ingat, dia tidak akan pernah menduakan kamu."
"Kamu juga harus tahu, apa yang terjadi sama kamu. Suami saya, seperti memiliki ikatan batin. Dia bahkan sering kepikiran, kamu kalau kamu terjadi sesuatu. "
"Maaf, kalau saya merepotkan. "
"Kamu tahu, suami saya ingin mengangkat anak yang kamu kandung. "
"Saya akan besarkan anak saya, besarkan anak saya sendiri. "
*****
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam, Alhamdulillah Mei. " Ucap Lastri.
"Mba, ini saya bawakan masakan buat mba." Ucap Meidina, membawa rantang tersebut ke arah dapur.
"Kamu jangan repot - repot. "
"Nggak Mba, saya kan jarang ke sini. Anak mba mana? "
"Mikail, sedang tidur. "
Meidina masuk kedalam, kamar anak Lastri dan Ilham, terlihat bayi mungil yang lucu tengah tertidur pulas.
"Mei, mba ada daster hamil masih layak kok. Kamu mau? "
"Boleh."
__ADS_1
Terdengar suara motor, Meidina melihat dua orang pria, berseragam cokelat berjalan masuk kedalam rumah Ilham.
Meidina tersenyum ke arah Ilham dan Bagas, Lastri pun datang yang tadi sempat pergi sebentar ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk Meidina.
"Mba, saya pamit dulu. "
"Loh, Abang datang kok kamu pulang. " Ucap Ilham.
"Iya nih, masa kesini cuman nganterin makanan. " Ucap Lastri.
"Saya, ada perlu lagi mau ke Apotek. "
"Kamu naik apa? " Tanya Ilham.
"Tadi naik angkot, buat bawa motor atau mobil saya sudah nggak sanggup. " Jawab Meidina.
"Abang antar, kamu mau ke Apotek kan? kita searah. "Ucap Bagas.
" Nggak usah Bang, makasih. "
"Benar, kamu diantar sama Bang Bagas saja."Ucap Lastri.
" Nggak usah, jangan terima kasih. "
Meidina berdiri dan langsung pamit pergi, dan Bagas menatap ke arah Ilham serta Lastri.
"Kejar dia. " Ucap Ilham.
Bagas langsung berdiri dan mengejar Meidina, yang sedang berdiri di depan rumah Lastri.
"Abang ingin bicara sama kamu. "
"Maaf Bang, nggak bisa. "
"Kita sudah lama , tidak komunikasi. Abang hanya ingin tahu kabar kamu sama anak yang kamu kandung. "
"Alhamdulillah sehat. "
"Syukurlah."
Meidina memegang perut nya, Bagas melihat seperti Meidina menahan rasa sakit. Tangan Meidina terus memegang perut nya, tampak wajahnya tidak bisa sembunyikan apa yang sedang di rasakan.
"Kamu ada masalah? "
"Nggak ada. "
"Jangan bohong sama Abang, kamu kenapa?"
"Apa sih Bang, masih ingin tahu tentang saya. Mau saya begini begitu, bukan urusan Abang. Seharusnya, Abang itu sadar sudah punya istri. Bagaimana perasaan dia, seharusnya Abang lebih perhatian sama Anisah, bukan saya. "
"Abang hanya ingin tahu saja. "
"Cukup Bang, jangan buat saya terus mencintai Abang, jangan buat saya banyak berharap sama Abang. Cukup kita saling tahu, tolong Bang hargai perasaan Anisah. "
*****
"Abang sama mba apa yakin, yang di katakan sama mba Sarah itu, kalau Meidina anak nya?" Ucap Daus.
"Abang, merasa seperti ada sedikit kemiripan saat Sarah mengatakan nya. Tapi Abang akan cari tahu lebih dalam lagi. Saya takut, Sarah kecewa kalau memang Meidina bukan anak kami yang di cari. " Ucap Abi Mulia.
"Abi, Umi terus berdoa untuk Sahara, suatu saat dia akan di temukan. Umi yakin Sahara masih hidup. "Ucap Umi Salmah.
" Mba, itu dari dulu selalu baik sama Mba Sarah, padahal Abang tega menduakan cinta kakak saya. " Ucap Daus.
******
"Kamu sehat nak, harus kuat. Jangan seperti Mamah, biar mamah yang sakit, tapi kamu harus bisa bertahan. "Ucap Meidina sambil memegang perut nya.
Meidina menatap ke arah cermin, sambil mengusap perut nya, terukir sebuah senyuman indah di wajahnya.
" Kita akan berjuang sama - sama ya nak."
.
.
__ADS_1
.