
"Jadi mau tanggal 15? " tanya Meidina.
"Iya, deal. " ucap Radit.
"Baik, buat jam berapa? "
"Jam 11 harus sudah sampai. "
"Iya, siap. " ucap Meidina tersenyum.
"Boleh minta nomer ponsel kamu? "
"Boleh." Meidina lalu memberikan nomer ponsel nya pada Radit.
"Makasih ya, kalau butuh lagi kan, saya bisa contact kamu. "
"Iya." ucap Meidina tersenyum.
Radit tersenyum dengan tatapan suka pada Meidina, dan Meidina merasakan tidak nyaman saat dirinya di tatap oleh Radit.
Setelah Radit pergi, Mami Rosa menghampiri Meidina, dan tersenyum ke arah nya. Meidina hanya diam dan pergi, meninggal kan Mami Rosa yang masih menatap mobil milik Radit.
"Kayak nya, itu Pak Polisi suka sama kamu."
"Jangan ngaco Mam. "
"Benar loh, dia suka sama kamu."
"Mami ini, mana mau dia sama saya, dia kalau tahu siapa saya, pasti dia bakalan pergi."
"Ya kan belum tentu. "
"Sudah Mami, jangan ngawur. "
"Ingat perkataan Mami, dia pasti menyukai kamu. "
"Ih, Mami apaan sih, nggak ada yang suka sama Mei. "
*****
"Kamu kalau kesini, selalu saja bawa makanan. " ucap Abi Mulia.
"Nggak apa - apa kok Abi, kan sesekali saya kasih Abi masakan Mei. Mau setiap hari, Mei juga mau. "
"Masya Allah, Abi bersyukur memiliki putri dua - dua nya sayang sama Abi."
"Alhamdulillah, sekarang Abi makan ya. "
"Nak, saran Abi kamu mau nggak? "
"Saran apa Bi? "
"Abi kirim kamu ke Mesir. "
"Makasih Bi, saya lebih bahagia seperti ini. Tidak perlu pendidikan yang tinggi, segini saja sudah bangga. Sekolah hasil keringat sendiri, walau jual tubuh. "
"Maafkan Abi nak, maafkan. "
"Nggak perlu Abi, ini kan bukan salah Abi. "
"Tapi nak, Anisah mendapatkan pendidikan yang tinggi, kamu tidak. Abi tidak mau, seakan membandingkan. "
"Kata siapa, membandingkan Abi. Nggak kok, nggak akan ada yang dibandingkan. Meidina sudah bahagia seperti ini, ini sudah takdir Meidina Ayah, jadi Ayah nggak usah khawatir ya. Mei baik - baik saja, Mei bahagia."
****
Radit datang menghampiri Meidina yang sedang membawa masakan di dalam panci, dengan beberapa teman - teman nya. Di bantu oleh para Anggota Polisi.
"Komandan, biar kami yang bantu angkut." ucap Ryan.
"Nggak apa - apa. " ucap Radit sambil mengedipkan mata nya pada Meidina.
Sedang kan Meidina hanya diam, tak menghiraukan Radit. Saat Meidina akan membawa tempat saji, Radit langsung mengambil dari tangan Meidina.
"Biar saya saja, kamu duduk saja ya. "
"Tapi..!! " ucap Meidina tak bisa berkata - kata lagi.
Meidina menyusun masakan di meja prasmanan, Radit menghampiri lagi. Dan langsung dari sendok mencicipi masakannya.
"Hem, enak banget. Oh iya kamu mau nggak? kalau setiap hari kamu kirim makanan buat saya? "
"Setiap hari gimana? "
"Buat makan siang, jam 11 harus sudah ada di Polsek. "
"Satu."
__ADS_1
"Iya, buat saya saja. "
"Tapi, siapa yang antar? soalnya kan kita sibuk. "
"Saya bayar, tiga kali lipat nya. "
"Makasih, tapi nggak bisa. "
"Please."
Teman - teman Meidina menatap ke arah nya, Meidina hanya diam tidak menjawab nya. Sedang kan Radit menunggu jawaban dari Meidina.
"Gimana? " Tanya Radit.
"Mei, ambil. Lumayan tiga kali lipat. " bisik Eva.
"Tapi sama bahan bakar saja kurang, kalau satu."
"Lima kali lipat. "
"Iya, kalau lima kali lipat. "
"Mulai besok ya. "
"Iya, deal. "
"Deal."
****
Pak Halim dan Ibu Mira terus memperhatikan Meidina, Radit menceritakan wanita yang sudah menggangu pikiran nya.
"Kamu yakin, dia single? " Bisik Ibu Mira.
"Yakin, saya sudah tanya anggota saya Bu." ucap Radit.
"Cantik, ya kan Ayah. "
"Iya cantik, kamu pintar memilih. " ucap Pak Halim.
"Jadi kalau Radit, pdkt sama dia boleh? "
"Boleh, siapa yang larang. " ucap Pak Halim.
Ibu Mira menghampiri Meidina, sambil sedikit bercakap-cakap. Meidina membalas obrolan ibu Mira, setiap pertanyaan, dan setiap Obrolan Meidina bisa mengikuti alur nya.
"Siap bu, nanti tinggal kabari saja, Pak Radit punya nomer saya. "ucap Meidina.
" Oh gitu ya, yasudah nanti saya kabari."
****
"Gimana dia? " Tanya Radit saat di ruang kerja nya.
"Asik nak, ibu dukung. " Jawab Ibu Mira.
"Yes, makasih bu. Kalau Ayah gimana? " ucap Radit.
"Ayah sih terserah kamu saja." ucap Pak Halim.
"Bismillah, semoga berhasil mendekati dia."
"Amin, semoga berhasil. " ucap Ibu Mira.
*****
"Menu nya apa? " Tanya Santi.
"Apa ya, masa harus sama. Kan harus beda - beda. " jawab Meidina.
"Di jadwal saja, dan kenapa nggak tanya dulu dia suka nya apa, dan yang nggak suka apa."
"Benar juga kata kamu, nanti saya tanyakan."
"Telepon saja. "
"Aduh, dia minta nomer saya, malah saya nggak punya nomer dia. Apa besok nya saja lah, sekalian antar makanan nya. "
"Nah iya, begitu saja. "
****
"Siang Pak. "
"Siang, masuk Mei. " ucap Radit.
"Ini pak, makan siang nya. Ada sayur asem, ayam goreng, lalaban sama sambal terasi, tahu sama tempe. "
__ADS_1
"Ok, makasih ya. "
"Ehm, boleh saya tahu. Yang tidak suka apa ya? "
"Makanan nya? "
"Iya."
"Apa saja masuk, nggak ada yang tidak suka."
"Oh, syukur kalau begitu. Berarti saya bebas kasih makan siang nya. "
"Iya bebas aja, yang penting kamu yang masak dan kamu yang antar. "
"Iya Pak, kalau begitu saya permisi. "
"Mei, ini uang nya. " ucap Radit memberikan uang kertas warna merah.
"Ini kebanyakan, kan lima kali lipat makan siang sudah di bayar. "
"Nggak apa - apa, bonus. "
"Alhamdulillah, makasih. "
"Sama - sama. "
Saat keluar, Meidina bertemu dengan Bagas. Meidina tersenyum sambil menganggukkan kepala nya.
"Kamu habis ngapain? " Tanya Bagas.
"Habis antar makan siang, buat Pak Kapolsek." jawab Meidina.
"Oh, kirain habis ngapain. "
"Abang mau bertemu sama Pak Kapolsek?"
"Iya, sama mau bertemu Ilham. Katanya sudah pulang, habis pelatihan nya. "
"Oh, pantas dari kemarin saya tidak lihat Bang Ilham. "
"Tadi kamu lihat? "
"Nggak Bang. "
****
"Bagas, masakan saudar kamu enak."
"Alhamdulillah, kalau kamu suka. "
"Dia sudah punya pacar belum? "
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Bagas tiba - tiba terbatuk, dan langsung meminum air putih kemasan. Dan tenggorokan nya pun merasakan lega.
"Kamu tanya apa? "
"Dia sudah punya pacar? "
"Meidina? "
"Iya, siapa lagi. "
"Belum."
"Kamu bisa nggak? jodohin saya sama dia? "
Uhuk.. uhuk.. uhuk.
Bagas kembali terbatuk, dan minum kembali air putih kemasan gelas.
"Kamu suka sama dia? "
"Iya, saya suka sama dia. Kalau sudah punya pacar, saya mundur sebagai pria sejati. Kalau belum, saya maju. "
"Kamu suka apa nya? "
"Suka pada pandangan pertama, dan timbul rasa lebih. Kamu harus tahu, baru sekarang saya jatuh cinta lagi pada seorang wanita. "
"Oh gitu ya. "
"Iya, setelah kepergian nya. Hati saya terasa hampa, bahkan hati ini terus tertutup untuk wanita yang berusaha dekat. Tapi entah kenapa, sama Meidina malah rasa itu tumbuh. "
.
.
__ADS_1
.