Assalamu'Alaikum Pak Polisi

Assalamu'Alaikum Pak Polisi
Cinta Tak Bisa Di Sentuh


__ADS_3

"Mas, saya sudah siapkan makan malam." Ucap Anisah menyambut suami nya pulang.


"Makasih sayang. " Ucap Bagas, sambil mengusap kepala Anisah.


Bagas pun duduk di depan meja makan, Anisah menuangkan nasi di atas piring dan serta lauk nya. Bagas pun makan, menikmati makanan yang di buatkan oleh Anisah.


"Bagaimana kasus Meidina? "


"Sudah tertangkap. "


"Alhamdulillah."


"Kuliah kamu gimana dek? "


"Lancar Mas, alhamdulillah. "


"Bayar semester kapan? "


"Minggu depan juga nggak apa - apa. "


"Nanti Mas, transfer ya. "


"Iya Mas, makasih. "


Bagas melanjutkan makan nya, Anisah terus menatap suami nya, yang sedang khusu makan.


"Kenapa nggak makan sih? malah lihatin Mas terus. "


"Saya hanya ingin, menatap wajahnya Mas dengan puas."


"Memang nya, setiap hari tidur nggak pernah merasakan puas ya, lihat wajah Mas yang ganteng ini. "


"Ih ganteng, pede banget. "


"Emang Mas kan ganteng, nggak cantik. "


"Ih... Mas, sudah lanjut makan nya. "


"Mas suapin ya, kita makan sama - sama."


"Boleh."


Bagas menyuapi Anisah, dan Anisah pun sebaliknya. Terdengar tawa kedua nya, kadang dengan candaan di saat makan.


*****


"Kamu sudah minum obat nya? "


"Sudah Mam. "


"Mami mau pergi, kamu nggak apa - apa kan sendirian? "


"Nggak apa - apa Mami, saya biasa kok sendirian di rumah. "


"Kalau ada apa - apa, kamu hubungi Mami."

__ADS_1


"Iya Mam, hati - hati. "


"Ya sayang, bye. '


"Bye."


Meidina masuk kedalam kamar nya, Meidina melihat mukena yang pernah di beri oleh Bagas. Meidina langsung mengambil air wudhu dan menunaikan shalat isya.


Setelah menunaikan shalat Isya, Meidina memanjakan doa, dengan mata berkaca - kaca.


"Ya Allah, hamba mohon ampun, hamba sadar. Apa yang hamba lakukan ini adalah dosa, dan hamba sadar, jatuh nya hamba ada seseorang yang ingin menyelamatkan hamba mu ini. Ya Allah, rasa ini begitu sangat dalam, hanya dia yang bisa membuat hamba nyaman. Dia yang selalu membuat hamba, merasakan bagaimana rasanya di hargai, bagaimana rasanya di cintai dengan tulus. Walau raga dan jiwa nya tidak bisa saya miliki. Saya bahagia, bisa mencintai nya, bahkan cinta saya bersambut, hanya sebatas mengakui. Seandainya, Allah mengijinkan sekali saja bisa memeluk nya, walau terakhir, saya akan selalu mengingat nya. Dan terkubur bersama raga ini selamanya. "


Meidina melipat mukena nya,Lalu Meidina menutup gorden kamar nya, tapi Meidina melihat Anisah ada di depan pintu gerbang.


Meidina langsung turun, dan berjalan ke arah pintu depan. Dan menemui Anisah, yang berdiri sambil terus menekan bel.


"Anisah."


"Mei, boleh saya masuk? "


Meidina menganggukkan kepalanya, dan mengajak nya masuk.Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Anisah datang sendiri, dengan mengendarai mobilnya.


"Kamu ada apa? malam - malam begini datang kesini? "


"Mei, apa kamu nyaman bersama suami saya? "


"Kamu kenapa, tanya seperti itu? "


"Saya punya perasaan Mei, saya bisa membaca gerak tubuh suami saya. Dan walau dia tetap ada di samping saya, pikiran nya itu sama kamu. Jujur Mei, saat tahu suami nya ada rasa sama kamu, tidur saya tidak pernah nyenyak. Kenapa? takut Mei, saya takut. Takut, tidak di cintai lagi. "


"Jujur Mei, saya tidak mau di madu. Seperti Umi saya, saya tidak seperti Umi yang kuat menghadapi kenyataan. "


"Kamu tenang saja Anisah, saya tidak akan pernah memiliki jiwa raga suami kamu. Saya sadar diri, posisi saya, hanya sebagai duri. Kamu tidak usah, berpikir terlalu dalam tentang perasaan saya. Bang Bagas, selama nya itu milik kamu. "


******


Anisah langsung masuk ke dalam kamar nya, Anisah sebelum pergi, memberikan sedikit obat tidur. Hingga kepergian nya, Bagas tidak mengetahui nya.


"Maafkan saya Mas, saya seperti ini karena, saya tidak mau seperti Umi. Saya harus pertahankan rumah tangga ini, saya tidak mau dia ikut masuk ke dalam rumah tangga kita. " Ucap Anisah sambil memeluk tubuh suami nya.


Bagas terbangun, saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 , Bagas langsung bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan Shalat Shubuh.


Sedangkan Anisah, sedang membuat sarapan untuk suami nya. Anisah menata sebuah cemilan, untuk suami nya di bawa ke kantor Polisi.


"Yank, kamu nggak bangunin Mas buat Shalat Shubuh. " Tegur Bagas.


"Saya sudah bangunkan, tapi Mas tidur nya nyenyak banget. Saya goyang - goyang, nggak bangun juga. "


"Tidur nya Mas, kayak orang bukan tidur sih."


"Kenapa? "


"Apa karena capek kali ya, jadi Mas tidur nyenyak banget. Bangun - bangun, malah sudah pagi. "


"Mau sarapan atau minum susu? "

__ADS_1


"Roti saja. "


Anisah mengambil kan Roti, yang terlebih dahulu di beri selai rasa strawberry. Sedangkan Bagas sambil memeriksa ponsel nya. Bagas membaca salah satu pesan, dan mata nya terbelalak kaget saat membaca salah satu pesan.


*****


Bagas dan Meidina melihat tubuh Pak Tedi sudah terbujur kaku, Meidina memandang jenazah tersebut dengan rasa puas.


Dokter memeriksa, kematian tersangka terkena serangan jantung. Meidina tersenyum puas dan langsung meninggalkan tempat kejadian.


"Mei." Panggil Bagas yang menyusul Meidina.


"Pelaku utama sudah meninggal semua, mereka sudah mendapatkan balasan nya. "


"Terus? "


"Sekarang tinggal mencari pelaku yang kamu cari. "


"Dia mungkin sedang hidup bahagia, tidak seperti saya selalu hidup menderita. "


"Mei, sekarang kamu mau melangkah kemana? Abang tuntun kamu. "


"Nggak Bang, saya punya tujuan sendiri. Abang jangan bawa - bawa saya, Abang tahu kan bagaimana sikap Anisah? Saya memang mencintai Abang, biar saya mencintai tak bisa memiliki. Bang, terima kasih sudah membantu saya, dalam setiap kasus Abang bantu. Tidak ada Abang, mungkin saya sudah terpuruk. Abang bantu saya, untuk lepas dari obat - obat an terlarang, hingga orang yang telah mempe*******sa saya. "


"Abang hanya ingin, mengangkat derajat kamu. Dan kamu pantas di perlakuan, seperti ratu. Walau ratu tidak akan pernah bisa di miliki. "


******


"Anisah, apa kabar sayang? " Sapa Umi Sarah.


"Alhamdulillah baik Umi, tumben Umi kesini? " Ucap Anisah.


"Umi yang panggil, Abi kamu sedang sakit." Ucap Umi Aminah.


"Abi sakit apa Umi? " Tanya Anisah panik.


"Abi kamu demam, pulang dari luar kota langsung sakit, tapi sudah di periksa dokter." Jawab Umi Aminah.


Anisah langsung masuk kedalam kamar Abi nya, terlihat Abi Mulia tengah tertidur pulas.


"Abi, semoga cepat sembuh. Abi itu capek, karena banyak nya undangan, yang meminta Abi mengisi tausyiah. "


"Waktu mau berangkat, Abi mampir ke Umi. Sudah mengeluh sakit, sudah Umi larang tapi Abi memaksa. "


"Umi seharusnya bisa tegas, Umi tidak pernah tegas seperti Umi saya. Sekarang Abi sakit, Umi bisa apa? " Ucap Anisah.


"Umi kan sudah bilang tadi, melarang Abi. "


"Mending Umi pulang, disini masih ada Umi saya, lagian Abi kan lebih berat kesini dari pada sama Umi. "


"Anisah, kamu sedang apa nak? nggak baik bicara begitu. " Tegur Umi Aminah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2