
Meidina selesai mengaji dan langsung melipat mukena nya, sedangkan Bagas duduk diam di depan kamar rawat Meidina.
Meidina tidak tahu, kalau Bagas sedang berada di luar, tubuh nya di baringkan di atas tempat tidur namun kedua mata nya masih belum bisa terpejam.
"Kamu sedang apa Bang? Serasa sangat jauh sekarang, kamu mungkin tidak akan perhatian lagi sama saya nantinya. Perhatian kamu, membuat saya semakin besar rasa, kamu kan tahu saya itu menyukai kamu. Tapi malah kamu juga, yang meminta saya untuk berubah, sama seperti Anisah."
Sedangkan Bagas, menyandarkan kepala di tembok saat sedang duduk, entah kenapa kedua kaki nya, berat untuk meninggal kan rumah sakit.
Bagas sesekali menengok ke arah pintu, namun langsung mengalihkan kembali pandangan nya, hingga pukul tengah malam, Bagas memutuskan untuk pulang.
****
"Dokter, apa saya bisa pulang? karena saya ingin melihat Pak Polisi menikah. "
"Maaf Meidina, kondisi kamu masih dalam pengawasan. " Ucap Dokter Sinta.
"Oh gitu ya. "
"Kalau kamu mau, boleh kirim ucapan, nanti akan ada yang antar ucapan kamu kesana."
"Nggak Dok, jangan. "
"Kamu, sangat mencintai Pak Bagas ya? "
"Dokter tolong jangan kasih tahu siapa - siapa, saya hanya ingin melihat nya saja. "
"Saya paham, bagaimana rasa nya mencintai sendiri, tidak di balas, seakan hati tetap sakit."Ucap Dokter Sinta.
"Sabar ya, suatu saat kamu akan temukan orang yang seperti kamu suka. " Ucap Dokter Sinta kembali.
"Dokter berkata seperti itu, karena Dokter tidak tahu siapa saya, dan orang itu belum tentu akan menerima saya. "
*****
Terlihat ramai di rumah Anisah, mempersiapkan pernikahan nya. Anisah terlihat tampak bahagia, senyum nya tidak pernah berhenti.
"Adik kakak, akhir nya mau menikah. " Ucap Ainun Kakak Anisah.
"Saya nggak menyangka Kak, besok sudah menjadi istri nya Mas Bagas. "
"Ingat, kalau sudah jadi istri, kamu harus pandai membuat suami kamu betah di rumah, pandai bersolek untuk suami. Karena itu yang utama. "
"Insya Allah, Mas Bagas akan setia. "
"Rupa nya disini, anak perempuan Umi." Ucap Umi Salma.
"Umi." Anisah langsung memeluk tubuh Umi nya.
"Kenapa nak? "
"Saya sedih. "
"Sedih kenapa? kamu mau menikah sama orang yang kamu cintai masa sedih. "
"Umi kan tahu, setelah menikah nanti saya tidak tinggal disini lagi. "
"Kan kamu tinggal nya dimana? tinggal masih di satu kota, bukan tinggal beda benua. "
"Sedih nya, kan nggak bisa manja sama Umi."
__ADS_1
"Manja nya, sama suami. "
"Ah Umi. " Anisah memeluk erat tubuh Umi nya, air mata pun jatuh di pipi nya.
****
"Mau nikah besok, lemes banget. " Ucap Ilham.
"Ilham, boleh saya titip ucapan. "
"Ucapan apa? "
"Tolong jaga Meidina, mungkin setelah menikah saya tidak bisa menjaga dia seratus persen. "
"Bukan nya, Meidina akan tinggal di pesantren milik keluarga kamu? "
"Tinggal juga, saya mungkin tidak banyak waktu seperti ini. Saya harus jaga hati, saya tidak mau nanti nya menjadi bumerang dalam pernikahan kami. "
"Yang jadikan bumerang itu, adalah kamu, kalau kamu tidak memiliki rasa sama dia. Kenapa tidak bersikap biasa saja, malah kamu bersikap seperti ini. Kamu jangan bohongi diri kamu. "
"Jujur, semenjak dia hadir, dia selalu mengganggu pikiran saya. Entah kenapa, saya tidak bisa melihat dia tersiksa karena tidak adil nya kehidupan nya. Bagaimana saya tidak bisa diam saja. "
"Karena kamu mencintai nya. "
*****
"Dokter, saya mau keluar saja dari rumah sakit. "
"Nggak bisa Mei, kamu kondisi nya belum pulih. Masih harus dalam pengawasan Dokter." Ucap Dokter Sinta.
"Saya ingin bertemu dengan keluarga saya, tolong Dok, saya ingin berkumpul dengan keluarga saya. "
"Biar saya, dirawat di rumah saja, tolong saya ingin pulang saja. "
"Baik, kalau itu mau kamu. Tapi saya dan rumah sakit tidak mau bertanggung jawab, kalau kamu kenapa - napa. "
"Iya Dok, saya tidak akan menuntut rumah sakit. Karena ini kemauan saya. "
"Terus, saya harus bilang apa kalau nanti Pak Bagas bertanya? dan dia pasti marah. "
"Saya tidak mau, dia terus memberikan perhatian sama saya. Dia kan bukan siapa - siapa saya, cukup sampai disini dia membantu saya. "
"Baik kalau begitu, saya akan minta pada suster untuk membawakan kamu surat perjanjian nya. "
"Terima kasih Dok. "
*****
"Apa, keluar dari rumah sakit!!! " Ucap Bagas saat menerima panggilan telepon dari rumah sakit, dimana Meidina di rehabilitasi.
"Maafkan kami Pak, ini keinginan pasien sendiri. " Ucap Dokter Sinta dari seberang.
"Terima kasih Dok, untuk kabar nya. "
"Sama - saja Pak, boleh saya bilang sesuatu?"
"Boleh Dok, kenapa? "
"Meidina sangat mencintai Pak Bagas, mungkin dia pergi tidak mau membebankan Bapak. Karena Pak Bagas, sebentar lagi menjadi suami orang. Meidina sering bilang, kalau dirinya sadar diri, sampai disini saja sudah cukup. "
__ADS_1
"Terima kasih untuk info nya. "
"Sama - sama Pak. "
Bagas yang sudah mengenakan pakaian pengantin pria, dan siap untuk berangkat ke tempat di mana akan melakukan proses akad nikah.
"Bagas, yuk nak kita berangkat. Jemputan dari pengantin wanita sudah datang. "
"Iya Umi. "
Saat Bagas masuk kedalam mobil dan mobil baru melaju pelan, Bagas melihat Meidina berada di pintu gerbang. Bagas ingin menghentikan mobil yang membawa nya, terlihat Meidina menatap nya hingga mobil menjauh.
Bagas kembali menoleh ke belakang, terlihat Meidina masih tetap berdiri. Sedangkan Meidina kedua matanya berkaca - kaca, sambil terus menatap ke arah jalanan, sedangkan mobil yang di tumpangi Bagas sudah berlalu.
*****
"Meidina." Sapa Tati.
"Kamu Tat. " Ucap Meidina sedang memasukan pakaian nya, kedalam tas.
"Mau kemana? "
"Saya mau pulang. "
"Pulang kemana? Kamu itu tinggal nya disini."
"Saya ingin berkumpul dengan keluarga saya, bagaimana pun yang paling nyaman itu bersama keluarga yang dari kecil merawat saya.Walau disini sudah memberikan tempat teduh yang damai. "
"Kalau Pak Bagas tanya bagaimana? "
"Bilang saja, pamit pulang. "
*****
"Serius? " Tanya Ilham.
"Serius, dia pulang. " Jawab Bagas.
"Ya sudah, setelah akad nikah saya akan ke pesantren. " Ucap Ilham.
"Maaf ya merepotkan kamu. "
"Iya, nggak apa - apa. "
*****
Meidina tertidur di kedua paha Mami Rosa, terlihat kedua matanya yang sangat sembab, datang langsung menangis dan memeluk wanita yang sudah merawat nya.
"Tidur nak, kamu mungkin lelah, menangis mengeluarkan semua rasa yang kamu rasakan saat ini. Mami tahu, dia itu cinta pertama kamu, yang membawa kamu untuk berubah. Tetap lah seperti ini, seperti dia membawa kamu ke jalan yang benar. Semoga, sedih kamu akan tergantikan sebuah kebahagiaan, yang akan membawa kamu jauh dari dunia kelam. "
****
"Saya terima nikah nya Siti Anisah Khumaira Binti Mohammad Mulia Al Malik, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar Satu juta rupiah di bayar tunai. " Ucap Bagas dengan lancar, saat proses akad nikah.
.
.
.
__ADS_1