
Anisah terus membuka gorden mengintip, untuk memastikan suami nya pulang. Anisah mencoba menghubungi Bagas, namum tidak juga di angkat.
Rumah dimana, menjadi tempat tinggal mereka berdua, adalah rumah Bagas yang sengaja di beli nya untuk sudah menikah nanti.
"Astagfirullah, buang rasa cemburu saya. Mungkin karena suami saya, memang bertanggung jawab karena dia lah yang membawa Meidina berhijrah.
Terdengar suara , pintu gerbang terbuka. Anisah dengan segera membuka pintu rumah nya,terlihat Bagas datang.
" Assalamu'alaikum. "
"Walaikumsalam." Anisah langsung menyambut suami nya.
"Nunggu lama ya? "
"Iya Mas. "
"Maaf ya, Mas tadi menunggu sampai Meidina tidur. "
"Apa keadaan Meidina buruk? "
"Dia, terguncang psikis nya. Bahkan dia sering meminta tolong, ucapan yang keluar dari mulut nya. Mas juga belum tahu siapa yang tega sama dia, karena Meidina belum bisa menceritakan. "
"Ya Allah, kasihan Meidina. "
"Mas mandi dulu ya . "
"Saya siapkan air hangat ya Mas. "
"Iya sayang. "
Sedangkan Meidina bangun dari tidur nya, tak ada Bagas yang tadi menemani tidur nya. Meidina langsung memeluk bantal guling kembali, dan mengucapkan kata minta tolong.
"Tolong saya Bang, tolong. "ucapnya pelan.
******
Bagas memeluk tubuh Anisah sangat erat, setelah melakukan penyatuan. Anisah, merasakan sangat nyaman berada dalam pelukan nya.
Anisah membalikkan tubuh nya, dengan menatap wajah suami nya, yang kini sedang tertidur lelap.
Tangannya meraba wajah Bagas, hingga jari lentik nya berakhir di bibir nya. Satu kecupan mendarat, Bagas yang belum tidur nyenyak merasakan sebuah gerakan. Dan langsung di peluk erat tubuh Anisah.
"Sudah, Mas capek. "
"Ih.. siapa lagi yang mau. "
"Tadi ngapain, main kecup. "
"Nggak boleh? emang nya kalau kecup bibir tanda nya mau gitu. "
"Iya."
"Ih.. itu sih Mas Bagas nya, yang mau. "
Bagas tersenyum, mereka pun tidur saling berpelukan, dalam satu selimut. Sedangkan di rumah sakit Meidina terus terjaga, rasa takut Meidina terus rasakan. Tubuh nya semakin bergetar, dengan keringat dingin membasahi tubuh nya.
__ADS_1
*****
"Mas mau kemana? " Tanya Anisah, yang melihat Bagas setelah Shalat shubuh langsung memakai sepatu dan seragam Polisi.
"Mas mau ke rumah sakit, ada telepon. Kalau Meidina terus teriak - teriak, tapi Dokter sudah memberikan obat penenang, dia sempat melukai dirinya sendiri membenturkan kepala nya di tembok. "
"Ya Allah, saya akan ikut Mas. "
*****
"Pasien mengamuk tengah malam, dia bilang minta tolong bahkan ingin keluar dari sini. Hanya sekali memanggil nama Pak Bagas, katanya hanya Bapak yang bisa melindungi nya. " Ucap Dokter Rafael.
Bagas menatap sekilas ke arah Anisah, lalu kembali menatap ke arah Meidina yang tertidur karena sebuah suntikan obat penenang.
"Dok, apa bisa saya bawa pulang? " Ucap Bagas.
"Mas, kamu akan bawa Mei? "
"Iya, mungkin Meidina aman bersama kak Alif dan Kam Mumtaz. "
"Tapi kondisi Meidina. "
"Percaya sama Mas, Meidina akan aman dan tenang disana, dan akan lebih baik dari pada disini. " Ucap Bagas.
Anisah menarik keluar Bagas dari kamar rawat Meidina, dan menatap suami nya seakan penuh pertanyaan.
"Mas, saya memang sejak dulu berusaha ingin Meidina berubah, hingga saya tidak tahu Mas bawa Meidina ke pesantren, Mas menangani kasus nya. Kita satu hati untuk Meidina, tapi bawa dia pulang apa bukan resiko? "
"Jujur Mas akan tenang dia bersama keluarga Kak Alif. "
"Tapi Mas. "
*****
Mumtaz membawa Meidina masuk ke dalam kamar nya, Meidina hanya bisa diam dan menatap ke sekeliling kamar.
"Ini kamar Bagas, dia sengaja menyuruh kami kamu tidur di kamar nya. Mungkin, akan aman buat kamu. "
Meidina langsung merebahkan tubuh nya, dan langsung memeluk bantal guling, yang biasa Bagas peluk saat tidur.
Bagas hanya menatap dari jauh bersama Anisah, begitu juga Alif. Mumtaz tersenyum melihat Meidina tersenyum ke arah nya, lalu memejamkan kedua mata nya.
****
"Bagaimana kalau Anisah tahu, kamu kasih perhatian pada wanita yang menyukai kamu? Kakak rasa, kamu juga memiliki rasa suka pada Meidina. "
"Saya akan jelaskan. "
"Kamu ingat, jangan rusak rumah tangga kamu, karena Meidina. Sebenarnya kamu sudah terlalu jauh, dia masih memiliki keluarga walau bukan keluarga kandung."
"Entah Kak, saya kepikiran dia terus. "
"Hilang kan rasa itu. "ucap Alif.
*****
__ADS_1
"Mba."
"Mei, kamu sudah baikan? "
Meidina tersenyum dan membantu memasak di dapur bersama Mumtaz, kakak ipar Bagas.
"Biar saya saja, kamu istirahat di kamar. Nanti kalau sudah matang, nanti Mba panggil."
"Nggak apa - apa, saya sudah mulai baik sekarang. "
"Alhamdulillah, kamu sudah nggak takut lagi kan? "
Meidina menggelengkan kepala nya, sambil memotong sayuran, bersama Meidina. Bagas mengintip saat akan pergi Dinas, Bagas menyempatkan diri nya untuk melihat Meidina. Bagas tersenyum saat melihat Meidina tidak seperti kemarin.
*****
"Hanya Meidina yang tahu siapa pelakunya, tapi bagaimana dia akan cerita, di lihat kondisi nya masih seperti itu. "
"Kita pelan - pelan. " Ucap Ilham.
"Sungguh keterlaluan mereka, Meidina kini seperti tidak memiliki harga diri, itu yang di rasakan dia. Saya kasihan sama dia Ilham."
"Kita pelan - pelan , kita juga sambil mencari informasi siapa tahu akan membuahkan hasil. "
*****
"Nih buat kamu. " Anisah memberikan sebuah buku pada Meidina. Buku salah satu mata kuliah yang pernah Meidina baca saat masih jadi Mahasiswa.
"Saya kangen suasana kampus, saya kangen tugas kuliah. "
"Rasa kangen kamu, bisa kamu curahkan membaca buku itu. Apa kamu ingin melanjutkan kuliah?" Tanya Anisah, dan Meidina menggelengkan kepala nya.
"Saya takut di banyak orang sekarang, saya tidak mau keluar rumah,Saya takut. " Meidina menyerahkan kembali buku itu pada Anisah.
"Disini bukan orang jahat, bahkan mereka di luar tidak jahat semua. "
"Pergi, kalau kamu mau ajak saya keluar kamu pulang. " Meidina langsung seperti ketakutan.
"Anisah, Meidina belum sembuh total, dia baru pagi tadi berinteraksi baik sama kakak, mungkin kadang kejiwaan nya belum stabil. " Ucap Mumtaz.
"Iya kak. "
*****
"Anak Mami, kamu pasti kangen sama Mami ya? "
"Mami, jangan kasih tahu kalau Mei disini. Karena tamu Mei semua nya bukan orang baik. "
"Apa yang kemarin berbuat jahat sama kamu itu, salah satu nya tamu kamu? "
"Mami, Meidina takut. Meidina takut, mereka mengikuti Mami dan menculik Meidina kembali. "
"Siapa Mei? siapa katakan sama Mami. "
"Meidina tidak mau menyebut namanya, Meidina takut. "
__ADS_1
"Mei, ada Mami Mei, kamu jujur sekarang. Ada Bagas Mei, dia akan bantu kamu. Dan kamu tahu kan, Bagas tahu kamu mencintai nya. Bagas seperti ini sama kamu tidak mungkin dia tidak memiliki rasa, dia akan menolong kamu, seperti yang sebelum nya. "
Anisah diam berdiri mematung, saat tidak sengaja lewat kamar Bagas yang di tempati oleh Meidina, Meidina melihat Anisah yang sedang menatap nya.