
Tanpa aku sadari air mata ini menetes begitu saja, sambil menatap benda pipih ini menampilkan hasil yang membuat hati ini menjerit, begitu kecewa. Bagaimana tidak, hal yang selama ini aku harapkan, hal yang selama ini aku impikan, masih saja menyisakan kecewa yang teramat mendalam. Seketika bayang-bayang orang-orang yang telah ikut andil dalam kehidupanku, seakan-akan menampakkan diri untuk memberi semangat, bahwa hasil yang barusan aku ketahui belum akhir dari semuanya, aku masih bisa berusaha untuk kembali meraihnya.
Memang rezeki tidak akan kemana, rezeki sudah tertakar, tidak akan pernah tertukar, apalagi nyasar, mungkin semangat itulah yang harus aku sematkan dihati dikala kekecewaan melanda diri.
Namun yang namanya kita sebagai manusia pasti tetap akan merasakan kecewa disaat hasil yang kita dapatkan belum memuaskan hati.
Namaku Indriani Putri, yang biasa dipanggil hari-hari dengan panggilan Indri. Usiaku 32 tahun, aku sudah menikah dan memiliki satu putra dan satu putri.
Aku adalah seorang guru honorer yang berharap ingin sukses menjadi seorang Pegawai Negeri. Aku adalah anak yang dilahirkan dari keluarga broken home. Ibuk dan bapakku sudah berpisah sejak aku berusia 13 bulan. Dari usia itu aku sudah terpisahkan dengan bapakku, sementara aku dibesarkan oleh orang tua bapakku, yang biasa aku sebut dengan sebutan nenek dan kakek. Aku memiliki satu saudara kandung laki-laki, yang juga dibesarkan oleh orang tua bapakku. Yang paling memilukan hatiku, dan yang belum bisa aku terima sampai saat ini adalah aku mempunyai ibu tiri dan empat saudara dari pernikahan kedua bapakku, ini yang sampai sekarang belum bisa aku damaikan dengan hati ini.
Aku besar tanpa merasakan figur seorang ayah, sehingga membuat hati ini begitu rapuh, begitu mudah kecewa dan patah disaat badai kehidupan menghantam penuh gelombang. Ditambah dengan kehadiran keluarga baru bapakku, semakin membuat hati ini penuh luka dan bahkan diselimuti dendam yang masih belum bisa aku damaikan.
Walaupun demikian keluarga bapakku begitu sayang kepadaku, mereka, nenek, kakek, saudara bapakku begitu tulus menyayangi aku dan abangku. Aku sangat bersyukur akan anugrah itu sehingga aku mampu mendapatkan gelar sarjana di usiaku 22 tahun
Flashback on
Saat usiaku 13 bulan aku dijemput oleh kakekku (orang tua bapak) ke Jakarta, karena ibuk dan bapakku memang menetap di Jakarta sejak mereka menikah.
Bapakku yang bekerja sebagai sopir pribadi pengusaha asing di jakarta, membuat ia harus mengabdikan banyak waktunya kepada bosnya. Bapakku sudah menjadi orang kepercayaan bosnya, kadang tak jarang kami sering menunggui rumahnya dikala mereka pulang kampung ke negaranya. Rumahnya berada di lokasi perumahan elite, rumahnya begitu mewah, banyak barang-barang antik di sana.
__ADS_1
Berarti aku sudah pernah juga yang tidur di rymah mewah. Hehe begitu cerita yang aku dapat dari ibukku.
Begitu senang bapakku bekerja di sana, ia sangat menjaga waktu dan disiplin bekerja, bentuk syukurnya telah dipertemukan dengan bos nan baik hati.
Tanpa diduga dan diharapkan, suatu ketika terjadi kesalah pahaman antara bapakku dengan bosnya tersebut, bapakku yang orangnya sangat tempramental, tidak bisa menerima ketika ia disalahkan sementara ia tidak merasa bersalah, karena memang waktu itu miss comunication antara pasangan pasutri yaitu bos bapakku tersebut, keterlambatan bapakku menjemput bos laki-lakinya ke bandara yang diakibatkan istri sibosnya lupa memberitahukan kepada bapakku yang lagi standby di rumah mereka untuk menjemput suaminya ke bandara. Sehingga terjadilah keterlambatan bapakku menjemput sibosnya.
Bosnya marah besar dan ia menumpahkan kesalahan kepada bapakku, akhirnya dengan keadaan yang terjadi, bapakku tidak terima sama sekali, akhirnya karena sikap emosiannya, dia tinggalkan sibos di bandara lengkap dengan mobilnya.
Begitulah bapakku, andaikan itu semua dulu tidak terjadi, andaikan dulu bapakku berbesar hati memberi maaf atas kesalah paham tersebut, mungkin hidupku sudah bahagia dengan adanya bapak dan ibuk yang selalu mendampingiku, dan abang yang selalu melindungiku, tanpa ada saudara-saudara lain dari pernikahan kedua bapakku. Namun itu semua hanya andai-andaiku saja, hanya harapan semu semata, sekarang bapakku sudah tenang disana. Semoga bapak ditempatkan disiNya.
Akhirnya karena problem itu, bapakku berhenti bekerja, walapun bosnya sudah berkali-kali datang ke rumah kami, untuk meminta maaf atas kekeliruan yang terjadi, dan kembali mengajak bapak untuk bekerja lagi dengan mereka, namun bapak tetap dipendiriannya, ia tak mau lagi bekerja dengan mereka, walau berat hati sibos tentu menghargai keputusan bapak. Hingga akhirnya bapakku menyandang status pengangguran.
Namun itu semua hanya tinggal janji manis dari bibir bapakku, pengobat hati agar kami bertiga mau untuk pulang ke kampung dan dengan setia menunggu bapak datang untuk kembali berkumpul.
Setibanya kami di kampung halaman kami, yang kebetulan ibuk dan bapakku berasal dari kampung yang sama, tetapi karena ibukku tinggal sebatang kara dan tidak ada rumah peninggalan dari kedua orang tuanya, jadilah kami menetap di rumah orang tua bapakku. Kebetulan orang tua bapakku hanya memiliki satu anak perempuan, sehingga orang tua bapakku sudah menganggap ibukku sebagai anak kandungnya sendiri, begitu juga dengan ibukku, yang tidak lagi memiliki orang tua dia merasa kembali memiliki orang tua lengkap semenjak tinggal dengan mertuanya. Ibukku memperlakukan mertuanya begitu tulus, tidak hanya memperlakukan mertua saja, dia juga begitu tulus dan sayang kepada saudara-saudara bapakku, begitu juga sebaliknya, saudara bapakku teramat sayang kepada ibukku, dan semua itu masih berlaku sampai saat ini.
Hari demi hari, minggupun berlalu, bulanpun tak bisa ditahan untuk tak berputar, beberapa bulan kemudian bapakku sudah mampu mengembalikan perekonomiannya lagi, ia tak lagi menyandang status pengangguran, ia sudah mendapatkan pekerjaan baru, terbukti ia sudah hampir setiap bulan mengirimi kami uang.
Namun itu tidak berlangsung lama, 1 tahun lebih kami di kampung bapak sudah mengingkari janjinya, ia mengirimkan uang yang disertai dengan surat menanyakan kabar kami, dan dipenghujung surat menyampaikan ia akan menikah lagi. Bagai petir di siang hari, bagai gelombang menghempas pantai, ibuku terpuruk dengan berita yang baru saja ia dapati, sejak saat itu ibuku resmi menyandang status janda.
__ADS_1
Walaupun demikian, walaupun bapakku sudah mempunyai istri baru namun kami bertiga tidak dilepaskan oleh keluarga bapakku, mereka masih saja menampung dan membiayai segala keperluan kami, dan itu berlangsung sampai aku tamat kuliah.
Disaat pernikahan kedua bapakku, kira-kira di tahun 1992 dan usia aku masih 2 tahunan, masih usia balita, masih sangat butuh kasih sayang dari orang tua lengkap, butuh kehangatan ayah dan bunda dalam perjalanan tumbuh kembangku, usia yang masih belum begitu merasakan apa-apa, hanya tau nangis, ketawa, ngantuk, makan dan asi, di usia itu aku belum merasakan kehilangan sosok seorang ayah dan ketimpangan kasih sayang yang hanya aku dapat dari ibuk dan keluarga bapak, tak lagi aku rasakan sentuhan jemari tangan bapak menyentuh tubuh mungil ini, celoteh dari bibirnya tak lagi aku dengar saat dulu waktu bersama ia menggambarkan bahwa ia begitu bahagia memilikiku. Semua hilang seketika. Namun kehilangan disaat balita tidak membuat perubahan apa-apa di saat itu.
Tetapi seiring berjalannya waktu, kepincangan kasih sayang, semakin terasa hingga akhirnya berlanjut sampai aku berusia 19 tahun. Pada usia itu aku harus kembali kehilangan, kehilangan yang sesungguhnya, yang selama ini aku tidak munafik, bahwa ada terselip di lubuk hati yang paling dalam untuk aku berkeinginan menyatukan kembali bapak dan ibuk. Akan tetapi semua itu pupus sudah. Hatiku sangat hancur dikala itu.
Flashback off
Aku kembali merenung memikirkan nasib ke depannya, terpikir untuk mencari pekerjaan sampingan.
Aku bergerak berjalan menyusuri rumah hingga aku temukan tempat di pinggir pintu untuk merenungkan nasib diri.
Aku begitu larut dalam pikiran, aku tidak tau entah sudah berapa lama aku berkelana dengan pikiranku sendiri, sehingga pukulan lembut, pukulan yang selama ini aku rindukan, aku langsung melirik ke arah pukulan, ternyata di sana sudah berdiri orang yang selama ini begitu aku rindukan, senyumnya begitu menawan dan menusuk relung hati yang selama ini kosong. Relung hatiku seakan terisi penuh, bagaikan hp yang sudah tercharger 100%. Pikiranku terasa segar bagaikan bunga yang baru disiram setelah berminggu-minggu tak mencicipi segarnya air. Manik mataku membelalak seakan tak percaya, air mataku berhamburan keluar membasahi pipi.
Bibir ini bergetar mengucap panggilan yang sudah 30 tahun silam tak pernah aku ucapakan....
"Bapak..."
Bersambung
__ADS_1