Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Goresan Masa Lalu


__ADS_3

"Kamu?" Ucapku kasar, sembari membanting pintu dan beranjak pergi meninggalkan ia yang masih saja berdiri.


Ia adalah salah satu saudara sebapakku. Orang yang sampai saat ini belum bisa aku terima. Aku tau kalau itu adalah dia, karena aku sudah sering melihat foto fotonya yang berseliweran diberandaku, walaupun aku belum bisa menerimanya, tapi di sosial media kami berteman. Kami seolah olah tak saling kenal. Tak pernah berinteraksi satu sama lain selama ini.


Dan juga kata squdara saudara yang lain, bahwa wajah kami hampir mirip.


"Siapa?" Tanya abangku


Aku yang berlari dari arah pintu segera menuju kamar, tanpa berniat menjawab pertanyaan abangku.


Heran dengan tingkah ku, ia lalu menuju pintu.


Betapa kagetnya juga abangku.


Ia kaget bukan karena baru pertama kali bertemu dengan saudara sebapaknya itu, melainkan abangku kaget karena menurutnya, dia datang diwaktu yang tidak tepat.


Selama ini hubungan antara adik adikku dengan abangku, cukup baik, hanya aku yang masih diselimuti kebencian masa lalu.


Mereka bahkan saling kunjung, untu menjalin silahturahmi disaat perayaan hari hari tertentu.


Abang ku yang amat menjaga perasan ibukku. Ia takut kehadiran anak tirinya membuat ibuk kembali ke masa lalunya.


"Dinda...?" Ucap abangku seakan tak peracaya bahwa wanita yang manggendong balita dihadapannya adalah salah satu anak almarhum bapaknya, yaitu adiknya juga.


"Kenapa datang tanpa memberi kabar? Kan baru seminggu yang lalu dari sini?" Ucap abangku lagi.


"Aku dengar kakak dari kampung datang kesini, aku ingin sekali bertemu dengannya," ucapnya tegas.


"Tapi ini tidak tepat Dinda.. ada ibuk abang disini, abang tidak mau ia mengingat masa lalunya dengan kehadiranmu disini, mengertilah!" Pinta abangku.


Abangku berniat agar Dinda mengerti dengan keadaan saat ini, ia berharap Agar Dinda kembali saja ke rumahnya, tanpa harus bertemu dengan aku ataupun ibuk.


Namun tiba tiba ibuk datang.


"Siapa nak? Kenapa tidak di ajak masuk?" Ucap ibuk dan ia sudah berada diposisi belakang abang.


Melihat ibuk yang muncul di belakang abang, Dinda langsung meraih tangan ibuk, dan langsung bersalaman.


"Aku adalah anak dari bapak, aku adalah saudara abang dan juga kak Indri." Ucapnya lantang.


Seketika, abang panik, ibukpun terkejut, ia seakan tak percaya, kebahagiaannya yang beberapa hari ini dirusak oleh kehadiran orang dimasa lalunya.


"Aku datang kesini untuk bertemu kak Indri, dan memperbaiki hubungan yang sudah sangat lama diselimuti kebencian," ucapnya berharap diterima oleh ibuk.


Sambil menjabat tangannya, "Silahkan masuk." Ucap ibuk.


Karena tak mungkin juga ibuk mengusirnya. Nalurinya sebagai seorang ibuk bertindak, ia kebelakangkan keegoisannya, dan berlalu masuk berniat menyusul aku ke kamar, seakan dia langsung mendapat jawaban atas tingkahku yang aneh, yang berlalu ke kamar dan mengurung diri di kamar.


Sementara aku mengurung diri di kamar, suamiku tak berhenti mengetuk ngetuk pintu, ibuk juga, ibuk dan suami seakan berlomba mengetuk pintu agar aku membukanya.


Ketukan demi ketukan tak kuhiraukan.

__ADS_1


Panggilan tak kunjung ku jawab apalagi berniat membuka pintu.


Suami menelfonku, segera ku rijeck. Dan segera mengirim chatt melalui aplikasi hijau.


[Beri aku waktu untuk sendiri, dan tolong jaga anak anak, sampai aku siap aku akan keluar dengan sendirinya]


Pesan ku kirim.


Dan suami sepertinya segera membaca, terlihat sudah ceklis biru.


[Ok, tenangkan pikiranmu, sholatlah dan berdoa, minta pertolongan kepadaNya, sebaik baik penolong adalah Allah SWT,]


Balasan suami di akhir ucapannya, tak lupa ia dibubuhkan emoticon semangat dan berdoa, hanya aku baca, tak lagi ku balas.


Aku menangis sejadi jadinya. Aku marah kepada diri ini. Aku bahkan menyalahkan kenapa perasaan ini sedemikian benci. Padahal dia sama sekali tidak tahu apa apa.


Dengan sisa tangisanku, aku beranjak menuju kamar mandi berniat untuk berwudhu dan menunaikan sholat magrib,


Seusai sholat aku tak lupa berdoa, berdoa untuk hati ini bisa menerimanya, berdoa agar dendam ini musnah seketika.


Kembali aku menangis sejadi jadinya, sejadah menjadi saksi bisu keluh kesahku.


Selesai menumpahkan segalanya. Aku beranjak mengambil kertas dan sebuah pulpen.


*Goresan Masa Lalu*


Suara jangkrik di malam yang gelap seakan menjadi alunan musik saat masa itu menari nari dipikiran


Dahulu...puluhan tahun berlalu seakan masih terlukis dipikiran


Goresan halus itu masih membekas


Tangisan...


Air mata...


Seakan dua sejoli yang selalu mempermainkan pikiran


Bathin dan pikiran berkecamuk memikirkan goresan halus tanpa tinta


Jiwa... Kenapa goresan halus itu masih saja membekas???


Kucoba meredam hati...


Memahat cinta kasih yang pernah berbekas


Namun, masih membenci..


Andai semua bisa kembali diputar


Tak kan ku biar...

__ADS_1


Benci dan emosi


Menjadi pemenang hati..


Tak dapat ku pungkiri, aku juga tersiksa dengan kebencian ini.


Aku berbaring sambil memeluk goresan masa laluku. Tanpa berniat, aku tertidur dengan sisa sisa air mata di pipiku.


***


Sentuhan lembut di pundak, membuat aku seketika berniat membuka mata. Penasaran dengan siapa yang memberikan sentuhan dengan lembut, sentuhan yang begitu mendamaikan hati. Sementara aku ingat sekali bahwa aku masih mengurung diri di kamar ini. Aku coba membuka mata perlahan, demi mengetahui sentuhan yang begitu mendamaikan hati. Mata terasa sangat perih, mungkin diakibatkan oleh air mata yang aku tumpahkan sedari tadi.


Namun tetap aku paksakan terbuka, karena sentuhan seakan akan memaksa aku untuk membuka mata. Begitu mata terbuka, samar samar aku lihat senyum dari wajah yang tak begitu asing dari penglihatanku.


Tanpa berucap sepatah katapun. Aku mencoba mengumpulkan seluruh ingatan, menstabilkan goncangan jiwa dari masalah yang baru saja terjadi.


Manik matanya seakan menatapku dalam, sampai ke dalam hati yang sedang tak baik baik saja. Bahasa wajahnya menggambarkan pertanyaan terhadap apa yang sedang menimpaku.


Seketika ia tersenyum, dan merangkul tubuh ini ke dalam pelukannya, dipeluknya aku sembari mengusap pucuk kepala.


"Maafkan Bapak nak!" ucapnya


Ia masih memelukku dengan erat sambil badannya bergetar menggambarkan bahwa ia sekarang sedang menangis.


"Bapak?" Lirih ku.


Seketika aku ingat, senyum yang aku rindukan, senyuman yang sering menghiasi mimipi ku.


Aku diam dan terpaku, sedikitpun tak terniat untuk membalas pelukannya. Aku masih saja dikuasai amarah kebencian atas perpisahan yang aku alami selama ini.


Seakan mengerti tentang apa yang aku rasakan.


Ia segera mengurai pelukan, menyentuh lembut kedua sisi bahu ini, mengarahkan pandangan, hingga kami bertatapan.


Manik hitam matanya seakan memberikan isyarat, seolah olah mentransfer beribu kekuatan, berharap aku mampu melewati ini semua.


"Nak, adikmu tidak salah, ia tidak tau apa apa. begitu juga dengan kamu, kalaupun ada yang harus bersalah disini, orangnya yaitu Bapak. Bapak yang sudah membuat hati kamu penuh kebencian, Bapak yang sudah membuat kamu penuh kekecewaan, karena Bapak yang tak setia kepada kalian, Bapak yang mengingkari janji, sehingga menghadirkan duri dalam daging antara kalian."


Aku masih tak bergeming.


"Maafkan Bapak, berbaikanlah, berjanjilah agar bisa menerima masing masingnya, kalian semua adalah harapan Bapak, jadilah anak anak yang sholeh dan sholehah, jangan jadikan kebencian diantara kalian menyiksa Bapak, agar Bapak tenang disana," Ucapnya dengan isakan yang tak bisa digambarkan.


Tanganya mengurai ke bawah, hingga menyentuh jemari, perlahan ujung ujung jari mengikis jarak.


Sekelabat bayangan putih menyisakan keheningan, aku terbangun dengan sisa air mata yang masih membasahi pipi.


***


Bantu vote, like dan koment ya kak, agar karya dan author baru ini, tidak tenggelam begitu saja !!!


Terimakasih sudah membaca...

__ADS_1


__ADS_2