
Ini namanya kebaikan dibalas dengan kejahatan ucapku membathin di kamar sendirian.
***
Barang bang Doni pertama kali bisa sampai berada di toko kami, karena memang kebaikan suami dan kasihan dengannya, karena bang Doni yang disuruh keluar dengan paksa karena tak lagi lancar dalam membayar sewanya, ia yang tak lancar membayar sewa dengan alasan dagangan yang tak laris lagi.
Suamiku yang melihat kejadian itu, dan merasa kasihan, sehingga ia berinisiatif untuk memberikan tempat kepada bang Doni, karena memang toko kami yang sedikit luas, dan kami yang sudah tidak mengontrak lagi, dan hanya terpakai sebagian saja oleh dagangan kue, karena kami tak banyak stok kue di toko. Kami yang selalu menjual kue kue yang baru saja di masak. Kapan perlu yang hangat hangat pas baru masak sudah di jual di toko.
Karena masih ada tempat untuk barang dagangan bang Doni akhirnya suamiku mengajak bang Doni jualan saja di toko kami, kebetulan barang dagangannya yang berupa pakaian anak anak, sehingga tak terlalu memakan tempat juga. Dia diizinkan jualan di toko kami, murni suami berniat baik, dan itupun kata bang Doni cuma untuk beberapa waktu ke depan, hanya menjelang ia ada waktu untung mengangkut barang dagangannya ke kotanya, atau menjelang ia dapat kontrakan baru.
"Bund, bagaimana kalau kita izinin aja bang Doni mengisi sebagian ini, kan sayang ini gak terisi!" Bujuk suamiku.
"Janganlah yah, nanti takutnya ada sesuatu dan hubungan kita dengannya jadi gak sehat." Jawabku menolak.
"Gak apa apa bund, pahalanya besar bila kita bisa membantu orang lain yang kesusuahan." Bujuk suami lagi.
Aku yang kurang setuju, dan menolak ajakan suami.
Namun akhirnya terpaksa setuju karena menurut suami bang Doni orang yang baik, dan berdalih kita dapat pahala apabila membantu orang lain.
Akhirnya aku menyaksikan sendiri saat bang Doni mengangkut barang daganganya.
Bang Doni yang hanya kami kenal karena kami sama sama penjual di pasar yang sama, tanpa tau dia sebelumnya. Karena tempat tinggal kami yang berbeda kota dengannya.
Hari itu juga suamiku ikut membantu bang Doni memindahkan barang dagangannya dari toko di depan ke toko kami.
Sehari, seminggu, sebulan, semua baik baik saja, bang Doni selalu datang dan ia menjual sendiri barang dagangannya.
Namun setelah sebulan ia tak datang lagi, ditelfonpun nomornya sudah tidak aktif. Akhirnya karena toko kami yang buka setiap hari, sementara barangnya masih terpajang dengan rapi di dalam toko, akhirnya sedikit sedikit ada juga pembeli yang menanyai barangnya. Karena barangnya semua sudah ada bandrolnya, sehingga masih dengan niat menolong suami akhirnya menolong menjualkannya sesuai dengan harga yang ada dibandrolnya. Dan selalu mencatat apa saja yang terjual, dan uangnya tak pernah kami pergunakan.
Begitulah, hari berlalu, bulanpun berganti. Hingga lima bulan sudah bang Doni tak datang datang lagi ke toko.
Kami yang tak pernah mengganggu ataupun memindahkan barang barang bang Doni, jadi ada saja orang yang ingin membeli, ya walaupun gak seberapa, akhirnya terkumpulah uangnya hingga dua juta.
***
__ADS_1
Aku yang tengah asyiknya memainkankan jemari dikeybord hp. Dikagetkan oleh bunyi hp suami yang kebetulan tertinggal di rumah, sementara ia pergi ke rumah mama. Segera ku lihat hp, ternyata ada panggilan dari nomor tak dikenal. Segera ku geser tombol hijau.
"Assalamualaikum." Ucapku sembari menempelkan benda pipih ke pipi ini.
"Walaikum salam... ini Indri ya? Ardinya ada?" Tanyanya.
"Iya, bang Ardi lagi keluar. Ini siapa ya?" Akupun balik bertanya agar aku bisa menyampaikan kepada suami nanti siapa yang menelfonnya.
"Ini bang Doni, Ndri." Jawabnya.
Wah aku kaget donk.
"Owh, ada apa ya bang?" Tanyaku lagi pura pura tak tau masalahnya.
"Ndri coba tanya Ardi kapan dia mau bayar?" Ucapnya.
Aku langsung emosi lagi.
"Begini ya bang, bukannya bang yang selama ini sudah menitipkan barang dagangan kepada kami? Lah kenapa kami yang tiba tiba harus ganti rugi?" Aku berucap dengan nada lembut namun penuh penegasan.
"Gini aja bang, gak enak juga bahas ini melalui telfon. Bagaimana kalau abang datang saja ke rumah mama. Kapan bisanya?" Akupun menantangnya.
"Baik, kalau gitu besok sore." Iapun menjanjikan akan datang besok.
Akhirnya panggilan ditutup.
Aku melanjutkan mengetik novelku disalah satu aplikasi online.
Sorenya suamiku pulang.
"Yah, tadi bang Doni nelfon, dan aku menyuruhnya untuk datang ke rumah mama besok. Kita ketemuan disana besok. Kita harus selesaikan masalah ini agar tak berlarut larut." Ucapku.
"Tapi bund. Kita tak punya bukti, pasti kita akan kalah. Dia licik bund, dia punya catatannya." Suami pun mulai cemas.
"Tenang saja, ayah gak pernah dimintai menanda tangani apapun oleh bang Doni dulukan?" Aku memastikan.
__ADS_1
"Ya gak sih."
"Ya tenang aja. Lagian kalau gak dihadapin kapan mau selesainya, selamanya kita akan tetap dihantui bayang bayang Doni yang selalu menagih ganti rugi. Apa ayah gak pusing dibuatnya?" Aku balik bertanya.
"Ya juga sih bund."
***
Waktu yang ditunggupun datang. Kami segera ke rumah mama.
Tak lama disana bang Donipun datang.
Setelah basa basi, akhirnya bang Doni menjelaskan kenapa kami harus membayar hingga tujuh juta kepadanya.
Suamiku kembali menjelaskan.
"Bang dari awal aku membantu bang Doni agar bisa berjualan disana. Kami mengizinkan bang Doni menempati toko kami. Karena menurut saya bang Doni orang yang baik dan jujur. Makanya saya tak pernah meminta bukti apa saja barang bang yang ada di toko kami. Tapi kenapa tiba tiba bang Doni menghilang? Dan datang datang sudah meminta ganti rugi saja? Lima bulan lho bang, barang bang Doni memenuhi toko kami. Harusnya bang berterimaksih barang bang masih kami jaga, dan tetap ada penjualan setiap kami buka toko, ya walaupun sedikit sedikit." Suami ku menjelaskan.
"Ya tapi kan kalian sering tutup makanya barang dagangan saya kurang laku." Jawabnya membela diri.
"Hello.... bang kalaupun kami mau tutup, mau buka, apa hubungannya kami harus memikirkan barang bang Doni? Dari awalkan kami memberikan tempat dengan percuma dan hanya sebatas beberapa waktu saja kepada bang Doni, dan tetap bang Doni sendiri yang mengelolah? Dan kenapa sekarang mempertanyakan kami yang sering tutup, sementara bang Doni gak tau rimbanya, selama lima bulan lagi." Aku mulai kesal.
"Karena aku lagi sakit." Belanya.
"Sakit, emang gak bisa hubungin kami, kasih kabar kami? Atau suruh istrinya ngabarin kami." Ucapku semakin kesal.
"Yang jelas sekarang aku punya bukti catatan jumlah awal barangku pindah ke toko kalian." Ucapnya lagi masih bersikukuh kami harus tetap membayar ganti rugi.
"Itu bukti tidak akurat, buktinya tak berlaku kemaren bang Doni bawa ke kantor polisikan?" ucapku mengejek.
"Jadi bang Doni tetap gak mau diselesaikan baik baik secara kekeluargaan, dan menerima penjualan yang ada sama kami?" Aku kembali bertanya.
"Ya tidaklah mana mau aku rugi. Kalau kalian tetap gak mau bayar. Kita selesaikan saja di kantor polisi. Karena kata polisi kemarenpun, kalau tak bisa deselesaikan secara kekeluargaan datang kesana lagi aja." Ucapnya tegas merasa menang.
"Baik. Kita ke kantor polisi aja. Tapi sebelumnya, silahkan dengarkan ini terlebih dahulu." Ucapku menantang bang Doni.
__ADS_1