Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Kembali Berdamai


__ADS_3

Ardi yang mendengar semuanya. Berniat akan pergi saja. Ia tak mau Indri dan mertuanya tau, kalau ia sudah mengetahui pembicaraan jelek mertua tentang dirinya. Ia berniat untuk berpura pura tak mengetahui tentang yang baru saja ia dengar. Tapi baru saja ia berbalik badan berniat menjauh.


"Ayah...."panggilan Aihzan putri kecilnya menghentikan langkahnya.


Mendengar panggilan itu, ia tak mampu lagi melangkahkan kakinya maju ke depan. Seketika ia urungkan niatnya.


Indri dan mertua sedikit terkaget dari dalam. Mereka langsung berhenti berdebat. Ibuk berlalu ke kamarnya. Sementara Indri berusaha keluar kamar sambil berjalan memegangi dinding. Karena masih sedikit lemas akibat pingsan tadi. Dipikirannya berkecamuk banyak pertanyaan. Kapan bang Ardi sampai di rumah? Apakah bang Ardi sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Ibuk? Jika iya bagaimanakah perasaan bang Ardi sekarang? Ia merasa malu bercampur kasihan kepada suaminya.


Sementara Ardi berhenti sejenak, dan membalikkan badan karena Aihzan sudah memeluknya dari belakang.


"Ayah udah pulang? Gendong yah!" Rengek Aihzan


"Anak ayah yang cantik ini minta digendong?" Sambil berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aihzan.


"Iya ayah. Sekalian adek mau jajan." Rengeknya lagi.


Seketika hatinya bergetar. Ia marah kepada diri sendiri. Ia benar benar merasa tak berdaya. Untuk jajan yang hanya berapa ribu saja ia tak mampu.


"Adek mau jajan? Sini sama bunda aja. Bunda juga sekalian mau membeli sesuatu." Indri ikut bicara. Ia berusaha membantu posisi Ardi. Agar tak kentara ia tak memegang uang. Kebetulan Indri masih memegang beberapa lembar dua ribuan.


"Jangan bund. Bunda masih lemes bangat. Sini biar ayah saja. Bunda duduk di dalam saja." Ucap suami langsung mengambil alih menggandeng tangan Aihzan.


Akupun menurut, dan menyelipkan uang ke tangan Aihzan.


"Baik yah." Berlalu ke dalam rumah.


***

__ADS_1


Dimalam harinya. Aku masih saja tiduran di kamar bareng Rey dan Aihzan.


Sementara suami duduk di teras luar.


"Ndri. Ini uang kamu berobat sekarang gih." Ucap ibuk tiba tiba masuk ke dalam kamar.


"Gak usah buk aku udah mendingan." Akupun menolak dengan halus.


Tiba tiba suami ikut masuk. Entah dia mendengar perkataan ibuk, entah kebetulan saja.


"Buk. Aku minta maaf ya. Aku belum bisa bahagia in Indri. Buk, dengan aku memelihara ikan ikan hias itu, aku sedang membangun usaha buk, ikan ikan itu nanti bisa aku pasarkan. Hanya saja sekarang masih belum panen buk. Ada kemaren yang bertanya. Karena ikanku belum siap panen. Aku ambilin ke teman buk. Dengan alasan biar aku kecipratan sedikit. Dan ada uang masuk tambahan. Tapi ternyata orangnya belum jemput jemput sampai sekarang. Nah sementara ke temanku, aku janjiin bayar sore tadi. Makanya buk, uang hasil jualan Indri di sekolah kepakai untuk bayar ikan temanku. Dan untuk jualan kue buk. Sebenarnya kue kue kami laku. Cuma saja ada tempat kami menitipkan kue kue, orangnya belum bayar. Dengan alasan kepakai sama mereka. Aku minta maaf buk, kalau aku kesannya sudah memforsir tenaga Indri untuk bekerja. Setelah Indri sembuh, aku gak akan lagi membiarkan Indri membuat kue setiap harinya buk. Dan aku akan lebih mekunin usaha ikan hias. Ikan ikan juga gak lama lagi panen. Ini juga beberapa hari lagi sudah ada yang mesan ke Singapura sebanyak lima puluh ekor buk." Ucap suami menjelaskan.


"Ya ibuk juga gak menyalahkan kamu Ardi. Cuma ibuk kasian sama Indri. Kerja sampai capek begitu. Tapi kalian masih saja tak memegang uang sedikitpun."


"Itukan karena uang terpakai sama orang buk. Sama kak Indah. Terus tadi buat bayar ikan teman bang Ardi. Terus ada lagi di warung bu Nani. Tapi yang di Bu Nani sudah diikhlaskan saja buk, karena bu Nani anaknya sakit dan ia sudah pulang kampung." Akupun membantu membela suami.


"Iya buk. Sekali lagi aku minta maaf ya buk." Ucap bang Ardi lagi.


"Iya sama sama ibuk juga minta maaf. Kalaupun masih mau tetap jualan kue gak apa apa. tapi jangan setiap hari. Kasian. Tuh sekarang dapat sakitnya karena kurang istirahat."


"Iya buk."


Ibuk pun berlalu.


"Yah, sepertinya bunda libur menulis dulu."


"Iya bund. Bunda libur dulu aja. Nanti kalau udah sembuh lanjut lagi. Sekarang bunda istirahat saja. Udah malam juga."

__ADS_1


Anak anak yang sudah tidur. Akhirnya kamipun merebah bersiap memanjakan diri dengan memberikan haknya.


Beberapa saat setelahnya, mata pun belum tertidur sempurna. Dering ponsel kembali membangunkanku. Aku segera duduk dan mengambil benda pipih tersebut. Penasaran dengan siapa yang menghubungi. Setelah hp digenggamanku. Aku lihat panggilan dari nomor tak dikenal. Segera ku angkat dan menempelkan benda tersebut ke telinga.


"Assalamualaikum." Sapaku.


Terdengar jawaban dari sana.


"Walaikum salam. Benar ini dengan nomor miliknya buk Indri? Ucap dari seberang.


"Oh iya. Saya suaminya. Ini siapa ya?"


Lama bercerita melalui sambungan telfon. Ternyata yang menelfon adalah mantan siswa Indri. Lebih tepatnya siswa di saat ia Praktek Lapangan waktu kuliah dulu.


Ia menemukan no telfon saya di kertas kue kue dagangan kami. Ternyata ia punya usaha oleh oleh terbesar di kota kami. Ia menawarkan untuk kami menitipkan kue kue kami di tempatnya, ia mengetahui kami memiliki usaha kue, dari warung yang biasa tempat kami menitipkan kue. Tak sengaja ia berteduh di saat kehujanan di perjalanan.


Ia memberikan penawaran yang sangat menarik, yaitu kue kami akan dibayar sebelum terjual. Sistem bayar di depan. Owh betapa senangnya aku. Aku janjikan kepadanya untuk memberikan jawaban setelah Indri sembuh.


Setelah panggilan telfon ditutup. Aku berpikir, cukup kami mengisi toko mantan siswanya Indri saja. Otomatis itu tidak akan merepotkan kami setiap malam. Dan akupun yakin Indri akan setuju. Sesuai saran ibuk tadi, dengan begini kami tak harus membuat kue setiap harinya.


Aku tak sabar menunggu pagi menjelang. Untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Indri.


Hari sudah sangat malam. Jam menunjukkan jam sebelas. Kini suasana sudah sangat sepi. Hanya terdengar nyanyian nyamuk dan suara cicak yang saling sahut sahutan. Akupun diserang kantuk yang luar biasa, dan akhirnya tertidur pulas mengikuti Indri dan anak anak.


***


Disaat tidur nyenyak menemani diri. Aku merasakan ada pergerakan hebat di sekelilingku. Tempat tidur bergetar. Terdengar seperti orang menggigil. Lampu yang mati, hingga aku tak tau apa yang sudah terjadi, ia tak mengetahui apa penyebab dari getaran tersebut. Secepat kilat aku mencoba duduk, dan berdiri untuk menekan skalar lampu. Seketika aku kaget bukan kepalang.

__ADS_1


"Bund, bunda...."


__ADS_2