
Seperti biasa setelah mengantar Indri ke sekolah, aku akan kembali pulang, dan sibuk mengurusi ikan ikan, memberi makan, memindahkan, mengganti air, mengawinkan, banyak lagi yang lain, pokoknya ada aja kegiatanku setiap hari dengan ikan ikan.
Di tengah asyik mengambil ikan dari kolam untuk dipindahkan ke dalam botol kecil, karena ikannya sudah mulai besar dan tak bisa ditempatkan disatu tempat lagi. Tiba tiba terdengar suara motor, dan berhenti tepat di dekat ku.
"Pagi bang Ardi." Sapanya.
Ternyata ia adalah cita. Aku jengkel dan kesal sekali. Benar saja kata Indri ia wanita murahan. Berani beraninya lagi ia datang ke sini. Jikapun Indri tidak ada di rumah, apakah ia tidak merasa malu dengan ibuknya Indri? Aku kesal sendiri.
"Cita, ngapain kamu kesini?" Ketusku, aku jengkel sekali. Aku muak melihat wajahnya yang sok manis itu.
"Ih bang Ardi kok gitu. Aku kesini kangen sama kamu, kamu tak lagi mau menghadiri acara reunian. Makanya aku samperin kesini." Ucapnya dengan manja yang dibuat buat.
"Cita cukup ya! Ini rumah mertuaku, apa kamu tidak malu datang kesini, Indri memang sedang di sekolah, tapi mertuaku ada disini. Kamu punya otak gak sih? Aku sudah punya istri dan bahagia dengan keluargaku." Aku mulai kesal dan mengatainya.
"Tapi Ardi aku masih mencintaimu, aku ingin kembali bersamamu!" Ucapnya.
Ia sedikit kelihatan kesal karena kukatai, terlihat ia tak lagi menggunakan panggilan abang kepadaku.
Aku dan Cita seangkatan, kami hanya beda usia beberapa bulan saja. Sejak pacaran dulu ia memang memanggilku abang.
"Hentikan semua keinginanmu, karena itu tidak mungkin, aku memiliki istri yang teramat kucintai. Kita hanya masa lalu. Tak lebih. Jadi berhenti menjebakku!" Ucapku membentaknnya.
Aku lihat ia menangis, tapi aku tak peduli. Itu pasti air mata buaya saja. Aku tinggalkan ia begitu saja, aku berjalan menuju rumah.
"Istrimu juga mempunyai pria lain di luar sana. Aku akan kembali dengan membawa bukti itu, dan saat itu terjadi kamu akan bertekuk lutut mengejarku karena merasa dikecewakan istrimu." Ucapnya lantang.
Aku yang sudah hafal dengan permainan mereka, tak mempedulikan ucapannya. Aku tetap berlalu meninggalkannya.
Dari dalam ku lihat ia berlalu dengan motornya.
Saat aku sedang mengintipnya dari balik jendela.
"Nak Ardi, tadi siapa?" Ucap ibuk mengagetkanku.
__ADS_1
"Eh anu buk, dia Cita, dia yang menjebakku, sehingga Indri meragukan kesetiaan ku." Jelasku.
"Ya sudah, bicarakan baik baik dengan Indri, yang namanya perempuan, mudah dipengaruhi, apalagi berhubungan dengan perselingkuhan suaminya." Ibuk menasehati.
"Iya buk, tapi ibuk percayakan sama aku? Gak beranggapan yang sama dengan Indri juga kan?" Aku mulai menyelidik penilaian ibuk terhadapku.
"Ibuk tersenyum kecil. Nak, tadi saat wanita itu datang, ibuk tengah berada di ruang depan, tanpa kalian sadari ibuk memperhatikan percakapan kalian."
Ibuk mengaku menyaksikan kedatangan dan percakapan antara aku dan Cita. Otomatis ibuk mempercayaiku, karena dari percakapan kami tadi aku mentah mentah menolak Cita.
"Jika ibuk mencurigai mu sudah pasti ibuk menginterogasimu sekarang. Tapi dari tatapan dan tindakan mu kepada wanita itu, ibuk yakin kamu tak mempunyai hubungan dengannya. Ditambah sikap dan gelagatmu tak seperti menyembunyikan sesuatu." Terang ibuk lagi.
"Makasih sudah mempercayai ku buk. Indri sudah mulai percaya jika kami dijebak, namun ia tetap akan mencari bukti agar percaya seratus porsen. Ibuk doakan saja kami bisa membungkam mulut orang orang yang berusaha merusak rumah tangga kami." Balasku.
"Iya nak Ardi, pesan ibuk cuma satu, jangan pernah kecewakan Indri, ia hidup dalam belenggu dendam akibat perceraian ibuk, jangan sampai apa yang dirasakan Indri dirasakan juga oleh anak anak kalian." Ibuk menasehati sambil menepuk halus bahuku.
***
Sementara Indri di sekolah.
"Waktunya menjemput Rey." Gumamku. Dan segera melenggang menuju pintu.
Saat sampai di gerbang sekolah, tanganku dicekal seseorang dari arah belakang. Aku sontak kaget. Dan segera melirik ke arah seseorang tersebut.
Wajahku pucat pasi. Aku merasakan takut yang luar biasa. Yang mencekal seorang lelaki, dengan wajah menggunakan masker dan dikepalanya bertengger topi. Badannya dibaluti jaket kulit. Persis seperti penjahat di film film yang dulu sering ku tonton.
"Kamu siapa?" Ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku.
Namun usaha ku sia sia. Ia begitu kuat mencekal pergelangan tangan ini.
Sambil tertawa ia membuka maskernya.
"Apakah sekarang kamu masih belum mengenaliku?" Ucapnya diikuti kekehan tawanya.
__ADS_1
Aku mendelik. Kaget. Gak menyangka juga bakalan bertemu secara langsung setelah sekian tahun.
Ya dia adalah Ronal. Kenapa dia bisa mengetahui aku bekerja disini? Berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiranku.
"Lepaskan!" Ucapku sambil mengayunkan tangan, dan akhirnya cekalannya terlupas juga.
Kuusap pergelangan tanganku yang sedikit sakit karena ulahnya.
"Maaf Ndri, aku gak berniat membuat tanganmu kesakitan." Ucapnya lembut sambil berusaha ingin memegangi tanganku.
Secepat kilat ku elakkan tangan. Hingga niatnya tak terjadi.
"Ronal! Mau apa kamu kesini?" Ucapku seperti orang ketakutan.
Aku memang merasakan sedikit takut bertemu kembali dengannya. Mengingat sebuah kata kata yang ia selipkan di buket coklat tadi pagi. Aku bergidik ngeri. Takut ia akan nekat.
Ku lihat ke sekeliling. Tak ada orang. Hanya para penjual di pinggir jalan. Tapi cukup jauh dari posisiku saat ini.
"Kenapa kamu seperti orang ketakutan begitu Ndri? Aku gak akan berbuat jahat kok. Dan aku gak akan menyakitimu, baik fisik apalagi bathin. Aku gak sama dengan suamimu yang tega menghadirkan wanita lain dalam keluarga kalian." Ucapnya, seperti tau saja apa yang aku rasakan.
Aku masih diam.
"Bagaimana kamu sudah terima buket coklat dari ku? Kamu suka?" Tanyanya lagi.
Aku masih diam. Aku sedang berpikir bagaimana caranya biar aku bisa melarikan diri darinya.
"Ndri! Aku masih mencintaimu. Aku dulu meninggalkanmu untuk meraih masa depan agar aku bisa membahagiakanmu. Itu terbukti sampai saat ini aku belum juga menikah. Jangankan menikah, selama aku putus darimu aku menjaga hati dan perasaan ini hanya untukmu. Tapi kamu malah menikah dengannya." Jelasnya panjang lebar.
"Ronal diam! Berhenti berharap seperti itu. Aku sudah menikah, sudah punya anak. Dan bahagia dengan keluargaku." Ucapku dengan nada keras.
"Tapi Ndri. Dia mengkhianatimu. Mustahil seorang wanita bahagia dengan pasangan yang sudah menghianatinya." Jawabnya lagi. Sambil tersenyum mencemooh perbuatan suamiku yang barusan ia jelaskan.
"Berhenti kamu menuduh suamiku." Balasku lagi.
__ADS_1
"Itu bukan tudahan Indri! Itu kenyataan. Aku akan buktikan! Suamimu pintar bersembunyi dibalik topeng kebaikannya! Dan saat itu terjadi. Tanganku masih terbuka lebar untuk menerimamu. Bahkan dengan anak anakmu." Ucapnya sambil tersenyum dengan tatapan mata mengisyaratkan agar aku mempercayainya.