Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Terlepas dari Belenggu Kebencian


__ADS_3

Sekelabat bayangan menyisakan keheningan, aku terbangun menyisakan air mata yang masih membasahi mimpi.


Ternyata aku hanya bermimpi. Aku kembali mencerna ucapan demi ucapan dalam mimpi tersebut.


Setelah merenung begitu lama, air mata kembali membanjiri pipi, tanpa suara, hanya ada aliran air mata.


Kutatap jam di hp menunjukkan angka sepuluh malam. Ternyata aku sudah tertidur sekitar sejaman.


Seketika ingat dengan kejadian tadi, ingat akan kedatangnnya, seketika bayangan ibuk terlintas dipikiranku.


Bagaimana perasan ibuk sekarang, apakah ibuk merasakan hal yang sama denganku, apakah ibuk juga membecinya, jangan jangan ibuk sudah mengusirnya, atau ibuk berbesar hati menerimanya.


Berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiran, hingga aku berniat menemukan jawabannya.


Aku gerakkan kaki melangkah, tangan terayun memutar hendel pintu kamar, perlahan ku buka pintu, kosong dan keheningan yang aku dapatkan.


Kemana orang orang? Kemana Rey dan Aihzan? Kenapa begitu sepi? Apakah yang sudah terjadi?


Kembali pertanyan pertanyaan bermunculan melalui bibir ini.


Ingin melihat apa yang terjadi di luar.


Ku coba melangkahkan kaki, menyempurnakan tubuh ini berada di luar kamar, beberapa melangkah, aku menemukan Rey, Hasbih dan Aihzan tegeletak, tertidur pulas di depan televisi. Mungkin awalnya mereka berbaring sambil menonton televisi yang memutar film kesukaan mereka, dan sekarang ketiganya sembari bermain dengan indahnya mimpi masing masing, entah sudah berapa lama televisilah yang menonton mereka.


Sayup sayup terdengar seperti orang yang sedang berbincang bincang.


Kembali kulangkahkan kaki dengan perlahan lahan, agar tak ada seorangpun yang mengetahui keberadaanku, kususun langkah begitu pelan, sambil mengendap ngendap, memperhatikan sekeliling benar benar aman dari kehadiran seseorang.


Sampai tibalah aku, di depan batas antara ruang keluarga dan ruang tamu, yang dibatasi oleh dinding, dan ada pintu kaca yang menghubungkan antara ruang tamu dan keluarga.


Pintu kaca putih yang dihiasi dengan tirai tirai magnet membuat aku bisa bersembunyi dibaliknya, untuk menguping mendengarkan pembicaraan orang orang yang ada di balik sana.


Terlihat disana ada abang duduk di sebelah kanan Dinda, dan om ku di sebelah kirinya. Sementara di samping om ada suamiku yang serius mendengarkan percakapan yang terjdi di antara mereka.


Ibuk dan kakak iparku duduk saling bersisian.


Aku tetap berdiam diri di sana tanpa berniat ikut di dalam diskusi mereka.

__ADS_1


Terlihat dan samar samar terdengar, Dinda bersuara.


Kembali aku mendekatkan tubuh dan menajamkan indera pendengaran.


"Andai kak Indri tau betapa sayangnya Bapak kepadanya, mungkin ia tidak akan menyiksa Bapak dengan kebenciannya seperti ini. Selama hidupnya, selama kami bersama tak pernah sekalipun bapak melupakannya, namanya selalu dilafaskan dalam doa doa oleh Bapak. Mendoakan untuk segala kebaikannya, mendoakan agar hatinya terlepas dari kebencian." Ia menjelaskan seakan tak ingin ada yang terlewatkan.


"Kehadiran sayapun tak menutup kerinduannya ke kak Indri, hadirnya saya tak mengganggu cinta kasihnya ke kak Indri, mungkin kak Indri beranggapan bahwa dengan kehadiran saya, menjadikan Bapak melupakannya, padahal tidak sama sekali, kak indri masih anak yang pertama menjadikan ia cinta pertamanya, terbukti dari nama yang disematkan kepada saya, dia memberi nama kepada saya, sebagian mengambil nama dari kak Indri, Indriani Putri, putri pertamanya, masih menggunakan Indriani untuk putri keduanya, Bapak menyematkan Indriani di akhir nama saya," jelasnya sambil menahan air mata.


"Alasan menyematkan nama Indriani di belakang nama saya, agar Bapak selalu mengingat kak Indri." terangnya panjang lebar.


Ya, kalau masalah menyematkan Indriani, memang benar, karena nama Dinda yaitu Dinda Indriani.


"Uang memang tak lagi pernah Bapak kirimkan, karena memang perekonomian Bapak yang sedikit sulit, akan tetapi alunan doa doa setiap sujudnya, tak pernah lupa ia kirimkan. Permohonan maafnya tak pernah alfa ia titipkan kepada yang maha kuasa." Tambahnya.


Semua masih tak bergeming. Karena melihat Dinda yang masih mengumpulkan kekuatan untuk berbicara.


"Dan tentang ibuk, Bapak selalu berpesan kepada saya agar kelak Bapak sudah tiada, berharap saya menyampaikan maafnya kepada ibuk, ia mengakui kesalahannya yang telah berkhianat dan meninggalkan ibuk, Bapak sangat menyesali perpisahan yang terjadi antara ibuk," Jelasnya lagi.


Memang semenjak ibuk pulang kampung, mereka tak pernah lagi berjumpa, ibuk selalu menghindari untuk berinteraksi dengan Bapak.


Pernah disaat aku berusia delapan tahun, Bapak pulang dengan membawa keluarga barunya. Mendengar kepulangannya, untuk menghindarinya, ibuk pulang ke rumahnya.


Ibuk bisa menyisakan sedikit penghasilannya, karena hampir dari seluruh kebutuhan kami sudah dipenuhi oleh keluarga dan orang tua bapak.


Namun walaupun sudah memiliki rumah sendiri, kami masih saja tinggal di rumah nenek, karena nenek yang mulai tua, ia meminta agar kami selalu menemaninya. Karena ia sudah mengganggap ibukku sebagai anakknya sendiri.


Dan ibuk hanya akan pergi ke rumahnya untuk membersihkannya saja.


Ibuk seakan dibawa oleh pikirannya kebeberapa tahun silam, janji dan perpisahan kembali hadir dengan jelas dipikirannya.


Air matanya mengalir begitu derasnya. Ia tak mampu berkata kata.


"Ibuk.. aku mohon lepaskan semua dendam yang terjadi, aku selaku salah satu dari anak Bapak menyampaikan maaf Bapak!" Ucapnya penuh pengharapan.


Ibuk berpikir dengan cermat, tiba tiba ia teringat dengan ceramah ceramah yang ia dengar setiap selesai sholat shubuh di masjid. Tentang dendam dan memaafkan.


_____Tak akan menjadi hina kita yang memaafkan, tak akan menjadi rendah kita yang melepaskan dendam, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.

__ADS_1


Memaafkan adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu memberikan maaf atas kesalahan orang lain.


Banyak kemulian dari keikhlasan dalam memberikan maaf, diantaranya, mendatangkan kecintaan, mendapat pembelaan dari Allah, memperoleh keampunan dari Allah, dan mulia disisi Allah.


Nabi Shallallohu alaihi wa sallam, bersabda :


"Barang siapa menahan amarahnya, padahal dia mampu untuk membalas, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat dihadapan para makhluk hingga memberikan pilihan kepadanya bidadari mana yang ia inginkan,"


Begitu mulianya kita yang saling memaafkan._____


Itulah ceramah yang hampir setiap hari ibuk dengar.


Tanpa disadarinya, ibuk meneteskan air mata.


"Aku sudah dari dulu memaafkan Bapak kalian, aku juga tidak mau berdendam, aku juga tidak ingin menanggung dosa atas dendam dendam ku ini.


Andai aku dendam, akan ku balas perbuatan Bapak kalian dari dulu. Tapi kebaikan orang tuanya, orang tuanya yang begitu sayang dan bertanggung jawab, tidak hanya kepada anak anaknya, kepada aku yang sudah mantan istri anaknya saja masih tetap ia sayangi, bahkan sayangnya seperti menyayangi anaknya sendiri.


Sehingga kebaikan itu semua telah menutupi apa yang dilakukan oleh Bapak kalian, hanya saja untuk bertemu aku yang tidak sanggup, sampai maut memisahkan kami." Terang ibuk panjang lebar.


Aku yang menguping, meneteskan air mata, ibukku saja orang pertama yang dikhianati mampu memaafkan dan menerima masa lalunya.


Antara ibuk dan bapak apabila terjadi perpisahan maka status berubah menjadi mantan, sementara antara aku dan Bapak, seperti apapun perpisahannya, seperti apapun masalahnya, kami tidak akan bisa menjadi mantan, karena di dalam darahku mengalir darah Bapak.


Mendengar ibuk mampu memaafkan dan menerima masa lalunya.


Aku lagsung berlari dan memeluk ibuk, entah aku yang menguatkan ibuk, entah aku yang butuh penguatan, yang jelas mendengar ibuk memaafkan Bapak, seperti bongkahan yang menimpa tubuh ini telah terangkat, bagaikan terlepas dari sebuah masalah besar.


Jujur saja, yang membuat hati semakin diselimuti kebencian adalah karena aku memikirkan perasaan ibuk. Toh sekarang, orang yang aku pikirkan telah memaafkan semua yang telah terjadi, terus tidak ada alasan bagiku lagi manyimpan kebencian ini.


Bagai terlepas dari belenggu kebencian. Perlahan aku berjalan mengarah ke Dinda.


"Tak ada alasanku lagi untuk membencimu, karena ibuk saja mampu menerimamu, apa lagi aku, yang di dalam darah kita mengalir darah yang sama." Ucapku tegas.


Mendengar itu, semua orang yang berada di sana mengucapkan Alhamduliiah, dan Dinda segera memeluk tubuh ini.


***

__ADS_1


Bantu vote yang teman teman... Agar author lebih semangat lagi..


__ADS_2