
POV ARDI
Hari ini aku merasakan sifat Indri yang begitu berbeda dengan biasanya. Itu terlihat saat pertama kali aku bertemu dengannya di gerbang sekolah.
Tak ada lagi senyuman terpancar di bibirnya. Dengan diam ia menaiki motor. Tetap diam sepanjang perjalanan.
Aku yang tak betah dengan kondisi diam seribu bahasa. Akupun memulai berbicara.
Menanyakan kenapa tumben hari ini diam tak seperti biasanya. Tapi lagi lagi pertanyaanku tak mendapatkan jawaban dari yang bersangkutan. Yang ada hanya jawaban dari Rey, mengatakan mungkin bundanya lapar, karena selama di sekolah bundanya, ia tak melihat bundanya makan ataupun menikmati cemilan seperti hari biasanya.
Mendengar penuturan Rey akupun menawarkan untuk makan dulu sebelum pulang. Namun lagi lagi hanya keheningan yang ku dapatkan. Aku semakin penasaran dengan sikapnya yang begitu dingin. Tak sengaja mata ini beradu di kaca spion. Lagi lagi penasaran menyerang pikiranku. Indri dengan cepat mengalihkan pandangannya, aku sentuh tangannya, dengan kasar ia menepis tanganku.
Rasa penasaran begitu menjalar di dalam hatiku. Banyak pertanyaan ingin ku lontarkan agar penasaran ku terjawab atas apa yang menyebabkan perubahan sifatnya. Tapi ku tahan untuk mengeluarkan pertanyaan yang sudah saling berdesakan untuk dilontarkan, karena aku menyadari di tengah tengah kami ada Rey, ia akan merekam jelas pertikaian antara kami, dan itu tidak bagus untuk perkembangannya. Untung aku menyadari itu lebih cepat. Sehingga aku pun diam. Melakukan hal yang sama dengan Indri. Sampai perjalanan berakhir di teras rumah.
Indri dan Rey pun turun, terlihat Rey langsung bergabung dengan Aihzan dan nenek yang sedang bermain. Indri terlihat sekilas menyapa Aihzan dan berlalu ke kamar. Aku yang sudah selesai memarkir motor. Melangkah menuju anak anak, kukecup kening keduanya, dan juga berlalu ke kamar. Berniat meminta penjelasan kepada Indri. Untuk menuntaskan rasa penasaran yang dari tadi menyerang pikiran. Sungguh tak mengenakkan sekali berada disuasana seperti ini.
Tanpa ketukan ku buka pintu, terlihat Indri menelungkup di ranjang. Aku bergerak melangkah dan duduk di sisi ranjang. Mencoba kembali menanyakan apa yang terjadi. Namun lagi lagi pada pertanyaan pertama Indri masih belum menjawab apa apa. Akupun mulai diserang emosi. Emosi diperlakukan seperti ini. Diam tanpa memberikan penjelasan.
Ku rangkul bahunya hingga aku berhasil membuat Indri terduduk, aku semakin penasaran dengan apa yang aku lihat. Indri menangis. Dari air mata dan isakannya memperlihatkan ia sedang bersedih yang luar biasa. Ku rangkul tubuhnya dalam pelukan ini. Ingin memberikan kekuatan agar bisa membantu kesedihannya. Namun aku kaget luar biasa. Indri seperti tak terima berada dipelukanku. Sekuat tenaga ia mendorongku, hingga pelukan terlepas.
__ADS_1
Aku sedih, bercampur panik. Banyak hal yang aku rasakan, semua menjadi satu. Rasanya sungguh nano nano. Sedih, kesal, kecewa, entahlah. Aku tak tau apa yang membuat Indri seperti itu.
Berkali kali aku membujuk untuk Indri mengatakan apa yang membuat ia seperti ini, namun setiap pertanyaanku dijawab dengan bentakan bahkan ancaman dari Indri.
Ia buang dengan kasar seluruh pakaian ku yang tersusun rapi dalam lemari. Hingga helaian pakaian berserakan di lantai, di kasur, bahkan tak jarang juga ada yang mendarat ditubuhku. Aku benar benar tak mengenali Indri saat ini. Semakin ku desak ia, ia semakin emosi, hingga mengancam akan menggoreskan gunting kepergelangan tangannya.
Tentu saja aku tak ingin itu terjadi. Dengan perlahan ku mundurkan langkah, mengambil keputusan lebih baik aku mengalah, daripada orang yang begitu aku sayangi terluka.
Begitu kalutnya aku saat ini, hingga aku menyalahkan keadaan, dengan tegas ku katakan jika uang menjadi masalah ini. Maka aku lebih memilih untuk hidup di kondisi seperti dulu.
Aku kembali meminta ia memberikan penjelasan. Akhirnya setelah banyak drama yang kami lalui, ia melemparkan kasar ponselnya ke arahku, meminta aku menjelaskan atas sebuah foto. Aku segera mengambil ponselnya. Begitu ponsel ku hadapkan ke pandangan, aku terbelalak melihat pemandangannya.
Aku kembali terduduk di sisi ranjang, dengan posisi membelakangi Indri. Terdengar ia memutar hendel pintu. Sedetik setelah itu, belum jadi Indri membuka pintu, terdengar ponsel ku berbunyi. Indri langsung meraih ponselku. Posisi ponsel yang di atas nakas, memang lebih dekat ke arah Indri, aku tak mengerti kenapa ia begitu berambisi mengambil ponsel. Jelas jelas itu bunyi ponselku. Arahnya berasal dari atas nakas, sementara ponsel Indri tergeletak di atas ranjang di belakangku. Aku biarkan Indri membuka ponselku. Karena memang tidak ada yang aku rahasiakan darinya.
Beberapa saat ia menatapi ponselku, perlahan air matanya mengalir. Setelahnya ia terduduk di lantai, seiring dengan itu air matanya masih mengalir begitu deras membasahi pipi.
Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Ponsel yang masih digenggamannya kuraih dengan sedikit kasar.
Setelah ponsel berada digenggamanku, saat itu juga aku dapat mengambil kesimpulan atas kejadian yang baru saja memporak porandakan hati dan perasaan istriku.
__ADS_1
Ku genggan ponsel dengan erat. Mengungkapkan rasa kesalku. Kesal kepada orang orang itu. Yang begitu tega merusak kebahagian keluargaku. Merusak perasaan dan kepercayaan istriku.
Indri yang masih dikuasai gejolak emosi, tak bisa menerima apapun penjelasanku. Hingga akupun terbawa emosi, hingga bentakan untuk pertama kalinya terlontar kepada istri yang benar benar aku cintai. Aku benar benar telah merusak perasaan hatinya. Akhirnya aku memilih untuk memberikannya waktu. Akupun meninggalkan Indri di kamar sendirian. Dan mencari sedikit angin sejuk untuk mendinginkan perasaan, agar aku tak semakin menyakiti Indri.
***
Dua hari yang lalu aku mendapatkan undangan dari teman semasa sekolah menengah atas. Aku kaget juga dengan undangan ini, sudah lebih sepuluh tahun, baru kali ini aku mendapatkan undangan itu.
Tanpa berpikir yang aneh aneh, aku meminta izin untuk menghadirinya kepada Indri. Tanpa keraguan Indri mengizinkanku menghadirinya.
Pertemuan singkat tadi benar benar menjadi bumerang untuk keutuhan rumah tanggaku.
"Aku menyesal mengikuti acara itu." Aku membatin sambil terduduk lesu di deretan ikan ikan pelihraanku, yang sudah merubah perekonomian keluarga kami.
"Aku bodoh." Akupun merutuk diri sendiri.
"Tak seharusnya aku kembali bergaul dengan mereka. Sungguh sangat menjadi penyesalan bagiku pertemuan pertama untuk beberapa tahun terakhir tak lagi pernah berkomunikasi dengan mereka.
"Aku tak akan pernah lagi berhubungan dengan kalian!" Aku masih saja menyesali pertemuan singkat tadi siang.
__ADS_1
Aku kembali memikirkan bagaimana cara menjelaskannya kepada Indri. "Aku benar benar tak terima andai rumah tanggaku berantakan karena ulah kalian." Aku kembali merutuki kebodohan ini, yang mau saja terjerat ke dalam perangkapnya.