
Gedung gedung tinggi menjulang menjadi saksi perjalanan kami, karena hari yang sudah sangat larut malam, dan sudah sangat sepi dari aktivitas orang orang, hanya lampu lampu yang menghiasi gedung menambah kesan mewah.
Kurang dari satu jam kami sudah sampai di rumah, benar saja, ternyata sudah banyak perubahan disekitar rumah abangku.
Lantas grab berhenti di halaman, kami semua segera turun, dan tak lupa menurunkan semua barang bawaan, setelah semua dirasa selesai, abang menyodorkan selembar uang merah kepada driver.
Setelah itu, driver berlalu menyisakan kami yang sedang menunggu pintu di buka dari dalam.
Setelah ketukan dan ucapan salam, pintu terbuka, dan terlihat di balik pintu istri abangku, terlihat dari raut wajahnya ia begitu senang dengan kedatangan kami.
Dari baru datang sampai pagi menjelang, kami tidak ada tidur, kedatangan kami yang sudah hampir shubuh, memaksa kami untuk tidak tidur lagi.
Kami sibuk dengan kegiatan masing masing, bersih bersih dan berganti pakaian, aku juga secara bergantian memandikan anak anak dan mengganti pakaian mereka, agar terasa segar, setelahnya mereka tidur.
Sementara kami melanjutkan kegiatan, mulai dari membereskan barang bawaan, oleh oleh, serta mempersiapkan sarapan, karena shubuh telah berlalu, shubuh segera beranjak disambut dengan suasana dipagi hari yang dihiasi embun pagi.
Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyuman yang sangat mengagumkan hati, senyuman yang memancarkan kehangatan teriknya kala pagi hari yang sangat dingin.
Kunikmati kehangatan mentari sambil menikmati sarapan di teras, kami semua menikmati sarapan disini, aku merasa bahagia saat ini, berkumpul dengan orang orang yang aku sayangi, bersama dengan abangku merasa aku mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang dulu pernah hilang. Aku seakan memiliki keluarga besar.
Sekilas kembali teringat kepada sosok yang selalu dirindu, "Bapak" andai ia masih bisa berkumpul di tengah tengah kami, andai ia masih bisa berkumpul dengan anak dan menantu, bersenda gurau dengan cucu, alangkah sempurnanya hidup ini.
Walaupun ada suami yang setia di sampingku, tapi kehadiran abang seakan mengisi relung hati yang pernah kosong, ada abang di sampingku seolah diri ini bagai dipagari besi, kuat dan terlindungi.
Begitulah hausnya aku akan keluarga lengkap selama ini.
***
Hari berlalu dengan menyenangkan, kami sangat bahagia disini, anak anak begitu asyik bermain, walaupun mereka baru saja bertemu. Tetapi pertalian darah seakan menuntun mereka, sehingga keakraban terjalin seketika pertemuan pertamanya.
Sudah beberapa hari kami disini, merasa sudah puas melepas lelah, keesokan harinya aku berniat akan pergi jalan jalan.
"Bang gimana kalau besok kita jalan jalan saja?" Aku mulai buka suara di saat makan malam berlangsung.
"Setuju, bagaimana dengan yang lainnya?" Ucap abang sambil melirik ke arah yang lain.
"Setuju, tapi kemana?" Balas kakak iparku.
Suami, ibuk dan anak anak pun terlihat setuju.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita ke Kota Tua, naik kereta api, aku belum pernah nih coba naik kereta," ucapku malu malu.
Memang benar, seumur umur aku belum pernah naik kereta api, lahirnya saja yang di ibu kota, tapi besarnnya di kampung tercinta.
Semua setuju, anak anak bersorak sorai, mereka begitu bahagia besok akan naik kereta api.
"Naik kereta api, tut tut tut...
Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo kawanku lekas naik
Kereta ku tak berhenti lama."
Begitulah Reyhan dan Hasbi mengungkapkan kegembiraan hatinya.
Kami semua tertawa melihat tingkah dua anak ini.
Hasbi adalah anak kedua abangku, anak pertamanya juga laki laki yang berusia 12 tahun, usia Hasbi dan Reyhan memang tak terpaut jauh, Reyhan lebih besar satu tahun di banding Hasbi. Makanya mereka akrab sekali.
***
Setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah, aku dan suami keluar meninggal kan duo bocil yang masih setia dengan mimpinya.
Di ruang keluarga sudah ada ibuk, abang dan kakak iparku yang tengah berbincang tentang apa yang akan dipersiapakan untuk dibawa jalan jalan. Akupun dan suami ikut berpartisipasi ide di sana.
Akhirnya segala persiapan selesai. Dan para bocil bocil pun semuanya sudah bangun. dan sudah rapi dengan pakaian masing masing.
Tepat jam setengah delapan pagi kami berangkat, kami sengaja pergi pagi, menghindari panas, karena aku lihat lihat di sosial media, Kota Tua tidak banyak pohon pelindungnya, sehingga terkesan panas.
Kami ke stasiun menggunakan jasa grab. Sesampainya di stasiun kami langsung mengantri di pintu masuk. Tak berapa lama akhirnya kami sampai di halte kereta api tujuan Kota tua.
Kereta pun datang, kami sama seperti penompang lain juga bergegas untuk masuk kereta.
Suasana di kereta sangat ramai, mungkin karena pagi hari, banyak sekali penompang yang berebut, karena semua penompang kebanyakan pekerja, mereka seakan akan di atur oleh waktu, tidak mau terlambat sampai di tempat kerja, berdiripun di dalam kereta tidak masalah bagi mereka, asalkan mereka sampai di tempat tujuan tanpa terlambat.
__ADS_1
Aku perhatikan sikap sosial orang orang disini sangat tinggi, mereka yang berkesempatan duduk, tetapi sedang tidak membawa anak anak atau bukan ibu hamil, tidak juga usia tua apalagi penyandang disabilitas, tanpa dikomando, mereka akan memberikan tempat duduknya kepada penompang yang membawa anak anak atau ibu hamil, usia tua, dan disabilitas.
Melewati beberapa stasiun dan waktu lebih dari satu jam perjalanan akhirnya kami sampai ditujuan, yaitu Kota Tua, yang orang orang disana menyebutnya KoTu.
Kota Tua terletak di Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat, DKI Jakarta, adalah salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Jakarta.
Masuk kota tua yang tidak dipungut biaya, menjadikan tempat wisata ini banyak dikunjungi, terutama oleh kalangan muda, dikarenakan tempat tersebut banyak sekali view view untuk berfoto.
Selain menghadirkan bangunan tua ala Eropa, Kota Tua Jakarta juga menghadirkan sisi sejarah.
Kami sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan Kota Tua, walaupun di Kota Tua tidak banyak pohon pohon pelindung, tetapi melihat bangunan bangunan tua, dan jasa foto dengan memerankan tokoh tokoh yang terlibat dalam perjuangan dahulu, seakan akan kita berada dimasanya.
Sementara kami asyik menikmati pemandangan dan berfoto ria di tempat yang menurut kami bagus, tiga bocil Rey, Hasbi dan Aihzan, sibuk dengan dunianya sendiri, mereka saling perang gelembung, memamerkan bahwa gelembung mereka yang paling hebat.
Diperjalanan sebelum masuk Kota Tua mereka sempat membeli gelembung tersebut, dengan rengekan yang luar biasa. Mau tidak mau tiga gelembung berpindah tangan, dari penjual ke tangan ketiga bocil tersebut.
Kami menghabiskan waktu sampai dzuhur disini, akhirnya selesai sholat dan makan siang, kami berencana kembali pulang.
***
Kami yang berlibur ke rumah abang, hampir setiap hari meluangkan waktu untuk bersama, baik jalan bersama, ataupun hanya sekedar berbincang sambil bersenda gurau, kebetulan selama kami disini abangku mengambil cuti bekerja.
Tak terasa hari ini, hari terakhir kami untuk bersama, besoknya aku harus kembali pulang, karena libur hampir berakhir.
Keasyikan bersenda gurau dan bercengkrama, tak terasa hari sudah sore. Perlahan matahari beringsut dari peraduan, jarum jam dinding menunjuk ke arah angka enam, pertanda hari sudah sangat senja. Sinar mentari berwarna jingga menghiasi langit. Kumandang adzan magrib sayup sayup terdengar dari kejauhan, kami semua segera masuk berniat untuk melaksanakan sholat magrib.
Belum beberapa menit di dalam, belum ada satupun kegiatan yang dilakukan semenjak masuk tadi, ketukan terdengar dari arah luar.
"Tok.. tok... tok.. Assalamualaikum.." Ucap seseorang dari luar.
Aku bergegas ke arah pintu berniat membukakan pintu, karena penasaran juga dengan siapa yang berkunjung diwaktu magrib seperti ini.
"Walaikum salam..," ucapku sembari sedikit berlari
"Sebent..." ucapanku seketika terhenti, mata tak berhenti berkedip, emosi langsung bergejolak.
"Kamu?" Ucapku kasar. Sembari membanting pintu dan beranjak pergi meninggalkan ia yang masih berdiri.
***
__ADS_1
Penasaran dengan siapa yang datang?
Bantu vote, like dan komentnya kak, buat karya dan author baru ini..