
Aku yang sudah habis jam mengajar, kebetulan setiap hari ini aku hanya mengajar jam pertama dan kedua saja. Aku yang lagi sibuk memeriksa tugas tugas siswa di mejaku di ruang majelis guru.
Tiba tiba.... ada panggilan via whatsapp dari gurunya Rey. Akupun segera mengeser simbol gagang telfon warna hijau, dan segera menempelkannya ketelinga.
"Assalamualaikum buk."
"Walaikum salam. Bund sepertinya Rey kurang enak badan dari tadi gak semangat, saya cek ternyata panasnya tinggi bund." Gurunya Rey pun menjelaskan keadaan Rey.
Saya kaget dengan keadaan Rey yang disampaikan gurunya. Belum sempat saya berkomentar. Gurunya sudah kembali bersuara.
"Kalau bisa bunda jemput saja Reynya, karena kasihan, dari tadi juga tak bisa melakukan kegiatan." Bu guru memberikan saran.
"Baik bu, saya segera jemput sekarang."
Aku seketika menghentikan kegiatan, menutup buku buku siswa, menutup buku nilai dan selanjutnya merapikan buku buku ke pinggir meja.
Akupun bergegas keluar kantor, ingin menjemput Rey, posisi sekolah Rey yang berdekatan, yang hanya dibatasi oleh jalan. Jadi hanya beberapa menit aku sudah sampai di sekolahan Rey.
Aku langsung mengucapkan salam dan masuk ke ruangan, di pojok ruangan sudah terlihat Rey terduduk lemes sambil nyender ke gurunya. Akupun mendekati, dan langsung memeriksa panasnya. Dan memang panas sekali. Wajahnya terlihat pucat. Kedua telinganya memerah. Tangan dilipat didada karena ia merasa kedinginan dan menggigil. Aku sangat khawatir dengan keadaan Rey.
Setelah bercerita dengan gurunya, dan gurunya memberikan ia izin untuk pulang lebih awal, aku dan Rey langsung pulang menuju sekolah ku.
Diperjalan menuju sekolah ku, sambil jalan kaki aku selalu menggandeng tangan Rey. Sambil menelfon suamiku.
Aku gegas mencari kontak Ayah Rey&Aihzan, setelah menemukannya langsung aku tekan gambar gagang telfon warna hijau.
Tuuut.... tuut... tuut...
"Assalamaulaikum, bund." Terdengar dari seberang sana ucapan suami pertanda telfon ku sudah diangkatnya.
"Walaikum salam yah, yah bisa jemput sekarang? Rey demam di sekolahnya, ini bunda sudah menjemputnya." Ucapku memberitahukan kalau Rey demam.
"Bisa bund, ayah jemput sekarang ya, owh iya apa yang terasa sama Rey bund?" Suamiku mencemaskan keadaan Rey.
"Panasnya tinggi yah, makanya ayah segera kesini dan kita langsung bawa Rey berobat."
"Iya bund, kalau gitu ayah jalan sekarang. Assalamualaikum bund."
"Walaikum salam yah, hati hati ya!"
"Iya bund." Setelahnya aku langsung mematikan sambungan telfon.
Kami yang sudah sampai di kantor, aku menyuruh Rey duduk di kursi, dan segera mengemasi barang ke dalam tas.
Sementara kue ku masih banyak di atas meja. Karena hari yang masih pagi. Tentu saja teman teman belum ada yang membeli, karena biasanya teman mengambil kue yang mereka ingini disaat jam istrahat.
Kalaupun ada beberapa yang mengambil lebih awal, karena takut kehabisan. Tapi tetap uangnya mereka bayar pas jam istirahat, atau pas sudah mau pulang saja.
Hingga hari ini aku pulang tak membawa hasil dagangan.
Kue kue tetap aku tinggalkan di atas meja. Aku tiitp pesan kepada teman yang duduk di depanku.
"Ren, aku mau puluglng lebih awal, karena Rey sakit. Aku titip kue ya, nanti kalau ada teman yang ngambil, gak apa apa." Ucapku memesan pada Rena.
"Owh iya Ndri. Semoga Rey cepat sembuh, jangan lupa dibawa berobat."
"Iya Ren, makasih ya."
__ADS_1
Aku lihat suami masih belum datang. Akupun pergi izin untuk pulang lebih awal kepada wakil kepala sekolah.
Setelah mengatakan keadaan Rey, bapak mengizinkannya.
Suami yang sudah kelihatan menunggu di gerbang, akupun menggandeng Rey keluar menuju ayahnya.
Sesampai di depan motor, Rey langsung naik, begitupun dengan aku.
"Apa yang terasa nak?"
"Panas badan Rey yah, terus lesu aja bawaannya. Makan juga gak enak. Tadi bekal gak abis." Rey menjelaskan apa yang ia rasakan.
"Kalau begitu kita berobat ya."
"Iya yah."
Suami pun melajukan motor menuju rumah bidan tempat biasa kami berobat.
Beberapa menit kami sampai di rumah bidan tersebut, yang masih searah dengan rumah kami.
Kami pun bergegas turun dan menuju pintu masuk.
"Asslamuaikum." Ucapku.
"Walaikum salam." Terlihat bu bidan muncul dari dalam sambil menjawab salam.
"Silahkan masuk, siapa yang sakit?"
"Rey bu." Ucapku sambil menuju tempat duduk yang disediakan bu bidan.
"Wah tinggi ini, apa aja yang terasa? Batuk? Pilek?"
"Iya bu, batuk dan pilek juga ucapku."
"Kepala sakit?"
Rey menggeleng.
"Perut sakit?"
Rey pun menggeleng.
Lalu bu bidannya mengambilkan obat obat yang ia butuhkan yang sesuai dengan keluhan Rey.
Menunggu sebentar. Lalu ia sudah menyerahkan obat ke arah kami. Sambil menjelaskan petunjuk minumnya.
"Berapa bu?" Sambil meraih obat.
"Tiga puluh lima ribu saja."
Suamipun langsung menyerahkan uang sesuai nominal yang disebutkan bu bidan.
"Makan dulu sebelum minum obatnya, semoga lekas sembuh."
"Baik bu, terimakasih bu." Kamipun segera berlalu.
Di rumah neneknya kaget, karena kami pulang lebih awal. Setelah mengatakan kalau Rey sakit, dia baru kelihatan tenang. Mungkin ia takut ada hal lebih buruk yang terjadi.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, akupun langsung mengambilkan Rey nasi dan menyuapinya. Hanya beberapa suap, Rey sudah menolak. Akupun tak memaksanya lagi untuk makan.
Segera ku kasih obat, dan setelah minum obat, aku menyuruhnya untuk tidur.
Reypun menurut.
Ia menuju ke kamar dan merebah disanan. Beberapa menit berlalu ia sudah tertidur.
Aku yang melihat banyak rentengan kue di atas meja di ruang tengah.
"Ayah, kue kue belum ayah antar ke warung kak Indah dan bu Nani?" Akupun bertanya, karena tak biasa biasanya ayah telat mengantarkan kue.
"Tadi sepulang mengantarkan bunda ke sekolah, ayah sudah kesana bund. Kan sekalian tadi kue kuenya sudah ayah bawa pas nganterin bunda."
Memang benar, tadi kue kue itu sudah dibawa suami pas nganterin kami sekolah.
"Terus kenapa kue kuenya masih ada disini yah?
Suami terdiam. Dan gak menjelaskan apa apa.
"Yah.... kenapa?" Aku pun kembali bertanya. Penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kue kita di warung kak Indah ataupun bu Nani semuanya habis bund. Hanya saja uangnya tidak ada. Masih terpakai sama kak Indah, dan bu Nani juga. Karena sudah tiga kali uangnya terpakai sama kak Indah, sesuai rencana kita kemaren, makanya ayah tak lagi meninggalkan kue disana. Dan di warung bu Nani, anaknya masih sakit bund, dan ia berencana pulang kampung, otomatis gak jualan lagi. Dan uangnya juga terpakai sama bu Nani." Suami menjelaskan dengan lesu.
Terlihat guratan kekecewaan diwajahnya.
"Terus gimana lagi yah? Kapan orang orang itu berjanji mau bayar?"
"Kak Indah, katanya kalau sudah punya uang. Sementara bu Nani...." suami menjeda ucapannya.
"Sama bu Nani gimana yah?"
"Ayah sudah ikhlaskan saja bund, bu Nani awalnya berniat akan membayar bila sudah punya uang nanti di kampungnya. Tapi karena melihat anaknya yang sakit keras. Ayah jadi kasihan bund."
"Jadi ayah ikhlaskan saja uang sebanyak itu yah?" Aku kembali memastikan.
"Iya bund. Bunda marah?"
"Ya udah yah, gak apa apa. Semoga Allah menggantinya dengan yang lain."
"Amiin. Maka dari itu ayah gak jadi beli bahan kue bund. Karena kue ini masih ada." Ucapnya sambil menunjuk ke arah onggokan kue di atas meja.
Tiba tiba Aihzan datang menghampiri kami.
"Bunda... adek mau jajan!" Rengeknya.
"Anak bunda mau jajan apa?" Ucapku sambil berjongkok menyamakan posisi kami.
"Makanan bund."
Aku yang ingin mengambilkan air kompresan Rey, menyuruh ayahnya untuk mengantarkan Aihzan belanja.
"Yah, anterin si adek jajan yah, bunda mau kompres Rey, biar panasnya cepat turun."
"Bund, ayah gak ada uang lagi bund." Ucapnya lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Seketika aku kaget. Karena tadi pagi suami mengatakan dikantongnya ada uang lima ratus ribu untuk membeli bahan kue, sementara bahan kuenya tak jadi dibeli.
__ADS_1