Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Akibat hanya mendengar secuil pembicaraan


__ADS_3

Alarm ponsel berdering dengan kerasnya pertanda jam sudah diangka lima pagi. Aku segera duduk dan meraih ponsel, berniat mematikan alarm. Saat alarm sudah aku matikan, ponsel masih digenggaman, terlihat di sana tertulis hari selasa.


"Ya ampun, sekarang selasa, hari terakhir aku harus menyelesaikan novelku. Aku masih butuh empat BAB lagi untuk menyelamatkan karyaku."Ucapku di dalam hati. Aku terlihat gelisah.


Seusai aku mengajar. Aku manfaatkan jam kosongku yang lumayan panjang. Untuk menyelesaikan empat BAB yang menjadi targetku sampai hari ini bertukar dengan hari esok. Aku asyik menulis di aplikasi melalui ponselku, sambil duduk di ruang majelis guru.


Sedang asyik menulis. Aku merasakan kebelet pengen ke kamar mandi. Segera ku tunaikan panggilan alam ini. Saat menuju kembali ke meja. Aku melihat beberapa teman yang bercerita membelakangiku.


Aku tak begitu tau mereka bercerita tentang apa. Tapi yang jelas aku sempat mendengar.


"Kasian Indri. Kalau itu terjadi, nanti dia mau ditempatkan dimana?"


Duar, jantungku mengentak mendengar kalimat yang baru saja aku dengar. Tubuh bergetar.


"Ada apa ini? Ditempatkan dimana? Apakah posisiku di sini sebagai honorer sudah tak lagi aman?"


Aku kembali masuk ke kamar mandi. Takut bertemu dengan orang orang yang barusan membicarakan tentang diriku. Lebih tepatnya takut mengetahui kebenaran bahwa posisi ku sudah tak aman lagi.


Dipikiranku sekarang hanya memikirkan bahwa posisiku sudah terancam. Mungkin ada guru baru yang masuk ke sini, dengan jurusan mata pelajaran yang sama denganku.


Aku lantas masuk ke kamar mandi. Mengunci pintu dari dalam. Tanpa aku sadari aku terisak di kamar mandi. Kusenderkan tubuh ini ke dinding. Sekuat tenaga ku tahan tangisan ku agar tak mengeluarkan suara. Namun butiran bening tak lagi mampu aku bendung.


Aku kalut. Aku takut kehilangan pekerjaan. Walaupun sekarang usaha suami ku sedikit sudah mulai menghasilkan. Namun aku sudah terlanjur mencintai pekerjaanku. Status pegawai negeri saja belum aku genggam, sekarang status honorku pun terancam.


Entah sudah berapa lama aku di kamar mandi. Hingga air mata tak lagi ada. Semua sudah luruh membasahi pipi.


Perlahan ku usap pipi. Kubuka jilbab dan mencuci muka. Untuk menghilangkan bekas air mata.

__ADS_1


Setelah semua ku rasa aman. Aku keluar kamar mandi dengan mengendap endap. Sama seperti maling saja. Aku pastikan orang yang tadi membicarakan ku, tak berada diposisi tadi. Ku intip dari balik dinding. Ternyata sudah sepi. Orang orang yang berada di ruang majelis guru pun sudah berbeda dari yang tadi.


"Aman." Ucapku dan melenggang menuju tempat duduk.


Aku segera mengenggam ponsel, berniat mencari informasi dari yang aku dengar sepintas tadi.


Aku segera menuju aplikasi warna hijau. Ternyata sudah banyak pesan yang masuk. Seakan menunggu antrian untuk dibuka.


Mataku tertarik melihat pulahan pesan di group whatsapp khusus pegawai honorer. Ku sentuh group tersebut. Dan segera menscroll ke atas. Mencari pesan paling atas yang belum ku baca.


Ternyata.... Ada informasi tentang perekrutan tenaga honorer untuk di angkat menjadi pegawai negeri.


Sesaat setelah membaca informasi tersebut. Senyum merekah terlihat dibibirku. Aku bahagia sekali. Kesedihan yang menimpa beberapa menit yang lalu seakan sirna tak bersisa.


Aku scroll dan baca komenan teman teman. Terlihat mereka juga sangat gembira mendengar kabar ini.


Tiba tiba aku teringat dengan pembicaraan teman yang aku dengar sepintas tadi. Namun mampu membuat air mata mengalir tanpa bisa ku tahan sedikitpun.


Kembali ku cerna potongan kalimat demi kalimat yang ku dengar tadi. Tapi kok gak cocok dengan informasi yang aku baca di whatsapp group. Aku berpikir keras. Mengetuk ngetukkan jari di atas meja. Rahasia apa yang belum ku ketahui. Aku masih saja membatin.


Tiba tiba terbesit untuk langsung bertanya ke yang bersangkutan. Dari pada aku menduga duga. Aku langsung berdiri dan mencari salah satu teman yang tadi sempat ku lihat dan ku dengar membicarakan tentang aku.


Aku berjalan ke luar. Ke ruangan piket. Ke dapur. Kantor kepegawaian. Namun tak bertemu dengan salah satu teman yang tadi bercerita. Mungkin saja mereka semua sedang di dalam kelas.


Aku berniat kembali ke ruang majelis guru. Tiba tiba di perjalanan aku berselisih dengan teman yang ku cari. Tak ku buang waktu. Langsung ku bertanya dan meminta menjelaskan kalimat yang tadi ia lontarkan.


"Eh itu. Kamu dengar. Emang tadi dimana? Kok aku gak lihat kamu ada tadi, saat aku bicara seperti itu?" Ia bukannya memberi penjelasan malah balik bertanya.

__ADS_1


"Aku tadi ke kamar mandi, dan mau keluar aku mendengar pembicaraan itu." Aku masih sabar.


"Itu, apa kamu belum tau informasi? Akan ada perekrutan tenaga honorer." Ucapnya masih belum menjawab pertanyaanku.


"Udah, tapi setelah aku mendengar pembicaraanmu." Terlihat mulai sedikit kesal.


"Nah itu. Perekrutan tahun ini hanya untuk pegawai honorer negeri. Tidak dengan swasta. Jika swasta diikut sertakan, penempatannya akan susah. Misal nih, yang dari swasta lolos, yang dari negeri belum, otomatis yang dari swasta yang lolos akan ditempatkan di negeri, nah, sementara yang tidak lolos di negeri itu mau ditempatkan kemana? Begitu." Ucapnya menjelaskan.


"Jadi tadi itu, perumpamaan, jika aku gak lolos, dan yang lolos dari swasta. Maka aku kan di tempatkan dimana?" Ucapku memperjalas.


"Bener. Tu pintar. Pasti nanti lolos." Ucap temanku malah menanggapi sambil bercanda.


Sementara aku memendam malu. Gara gara perumpamaan ini, tadi aku sudah mengeluarkan butiran bening. Waduh malunya aku. Ucapku dalam hati.


Dan berlalu menuju meja. Aku senyum senyum sendiri, karena benar benar malu. Beruntung tak ada orang lain yang memgetahui aku menangis gara gara potongan pembicaraan yang tak sengaja ku dengar.


Pikiran sudah tenang, bahkan bahagia. Secuil harapan kembali aku gantungkan, ya walapun perekrutan itu masih akan dilakukan berapa bulan lagi. Kadang bisa jadi lebih lama lagi. Akupun melanjutkan menulis.


***


Hari sudah menunjukkan jam sebelas malam. Semua orang di rumah ini sudah tertidur. Hanya aku sendiri yang masih membuka mata, dan berkutat dengan tulisan. Tulisanku tinggal satu BAB lagi. Masih ada waktu satu jam lagi. Gumamku.


Aku kembali melanjutkan cerita. BAB ini adalah BAB terakhir. Ditemani suara hewan malam aku terlarut menulis happy ending ceritaku.


Tepat jam sebelas lewat lima puluh menit, aku berhasil update BAB ke enam puluh delapan dengan sub BAB Happy Ending.


"Yes. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan kesempatan yang masih diberikan aplikasi." Gumamku puas dengan kerja kerasku, ya, walau belum memberikan hasil, setidaknya karyaku sudah nangkring di tiga aplikasi. Setia menunggu ia menghasilkan nominal.

__ADS_1


"Cepat atau lambat, semoga memberikan hasil yang memuaskan!" Doaku selipkan dalam hati.


__ADS_2