
Sesampainya di bus, dan semua penompang sudah naik, bus segera meninggalkan kapal.
Kami kembali melalui perjalanan darat. Sambil menikmati perjalan yang ramai memenuhi jalan, aku segera menghubungi abang yang sedari tadi sudah setia menunggu di terminal Jati Jajar Depok.
Abangku sudah sangat lama menunggu, ia menunggu dari jam delapan malam, karena awalnya pihak bus memperkirakan kami akan sampai disana jam delapan, namun kenyataannya di pelabuban Bakauhuni tak semulus yang dipikirkan.
Belum lagi yang dari pelabuhan Merak, bus menuju terminal Kalideres dulu, sementara waktu sudah menunjukkan lewat jam sepuluh malam.
Terminal Kalideres merupakan terminal bus penumpang tipe A yang merupakan pintu masuk penumpang ke Jakarta dari arah barat (Banten dan Sumatera) dan sebagian Jawa bagian tengah dan timur. Terminal ini terletak di Jalan Daan Mogot, Kelurahan Kalideres, Kecamatan Kalideres, Kota Jakarta Barat.
Dari pelabuhan Merak kita harus melalui kira kira 104.0 KM, kira kira sekitar dua jam perjalanan.
Untuk kita sampai di terminal Kalideres kita harus melewati jalan tol. Jalan Tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai rasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.
Selang lebih dua jam kami sampai di terminal Kalideres, seusai menurunkan beberapa penompang, bus kembali meluncur menuju terminal Kampung Rambutan, jarak antara terminal Kalideres dengan terminal Kampung Rambutan sekitar 33.1 KM, kira kira 40 menit perjalanan. Terminal Kampung Rambutan adalah terminal yang kedua yang kami kunjungi. Terminal Kampung Rambutan berlokasi di jalan lingkar luar selatan, Rambutan Jakarta Timur.
Kami kembali membelah jalan tol yang sudah mulai sepi dari kenderaan, tentu saja karena hari sudah larut malam, mendekati jam 00.00 WIB.
Sesampainya di terminal Kampung Rambutan, penompang cukup banyak yang turun disini, yang awalnya akan turun di terminal Pondok Pinang, entah kenapa pihak bus memintanya turun disini, karena dari Kampung Rambutan bus segera menuju terminal Jati Jajar Depok.
Aku segera membuka hp dan coba membuka google map, aku mencari tahu berapa lama lagi perjalananku menuju terminal tersebut.
Ternyata cukup dekat hanya 21.1 KM, hanya sekitar 33 menit perjalanan saja. Aku segera menghubungi abang yang masih setia menunggu disana, mengatakan bahwa aku sudah menuju Jati Jajar Depok.
Setelahnya aku segera membereskan barang barang, seperti perlengkapan anak anak, mulai dari baju ganti, dan makanan.
Disaat menuju perjalanan terminal terakhirku, ibuk bertanya tentang siapa yang akan menjemput kami.
"Ndri apakah benar benar tidak ada orang yang menjemput kita?" Tanya ibuk mulai risau.
__ADS_1
"Tidak bu," jawabku bukan berniat berbohong.
Aku sengaja tidak memberitahu ibuk bahwasanya abangku bisa menjemput kami. Yang ia ketahui abang tidak bisa menjemput karena lagi ada proyek di luar kota.
Dari tadi aku sengaja menghubungi si abang melalui chatt diaplikasi warna hijau. Aku berniat memberikan surprise kepada ibuk.
Mungkin karena mengingat hari sudah sangat malam, ibu mulai cemas, kami yang hanya orang baru disini, ditengah malam lagi, kecemasan begitu terlihat diwajahnya.
Perjalanan yang sepi membawa kami pas di 33 menit sampai di terminal Jati Jajar Depok. Aku dan suami sudah saling kode, dan penasaran juga bagaimana reaksi ibuk nanti disaat bertemu pertama kali dengan abang yang tidak ia ketahui sebelumnya.
"Lantas kamu masih ingat rumah abangmu?" Tanyanya lagi.
Ya aku memang empat tahun yang lalu sudah pernah berkunjung juga ke rumah abang ku.
Aku anggukan saja kepala pertanda aku masih mengingat rumah abangku.
Disini ibu sedikit kesal dan marah kepadaku, terlihat diucapanya.
Aku hanya menyembunyikan senyum mendengar ucapannya yang panjang kali lebar, aku berucap di dalam hati "ibuk sayang.. tunggu saja kejutan untukmu."
Melihat aku tidak merespon apa apa, ibu terlihat akan bicara, sehingga dengan segera aku angkat bicara.
"Ibu tenang saja, nah ini kita sudah memasuki terminal, mari siap siap untuk turun!" Titahku, sambil senyum kepada suami yang sedari tadi hanya mendengarkan ocehan ibuk sambil menggendong Rey.
Setelah bus berhenti di terminal Jati Jajar Depok, aku sengaja menyuruh ibuk turun duluan, karena aku sudah beritahukan kepada abang no polisi bus yang membawa aku kesana, agar ketika melihat mobil itu berhenti di terminal, abang bergegas ke pintu bus untuk menyambut ibuk.
Sesuai usulanku, ibuk bergegas turun, dan ia begitu kaget di luar bus sudah terlihat anak lelaki yang begitu ia rindukan selama ini sudah berdiri menyambut tangannya.
"Tapi kata adekmu kamu tidak bisa menjemput kami?" tanya ibuk.
__ADS_1
Tanpa menjawab dan aba aba abang langsung memeluk tubuh ibuk, seakan menumpahkan kerinduannya.
Kami berikan kesempatan ibuk untuk menstabilkan perasaannya dulu dari yang awalnya dalam kecemasan yang luar biasa, sekarang dengan kebahagian yang tiada tara.
Aku yang sedang menggendong Aihzan dan suami yang menggendong Rey, memandu kernet untuk menurunkan semua barang bawaan kami.
Selepas semua barang diturunkan, setelah mengucapkan terimaksih, buspun melaju membelah jalan ke terminal tujuan berikutnya.
Aku dan suami ikut bergabung denga abang dan ibuk yang sepertinya sudah selesai dengan adegan melepas rindunya.
Aku dan suami langsung bersalaman dengan si abang.
Suasana terminal sangat sepi, hanya ada kami dan dua pekerja di terminal, dengan bantuan pekerja tersebut kami mengangkut barang bawaan menuju bibir jalan.
Sampai di pinggir jalan, abangku langsung memesan grab, sambil menunggu grab datang, ibuk kembali angkat suara,
"Rapi sekali rencana kalian ya, sehingga tidak ada kecurigaan sedikitpun dihati ibuk, ibuk benar benar tidak menyangka bakalan dijemput abangmu, yang kata mu dari kemaren kemaren abangmu di luar kota," kata ibuk sambil masih bersisian dengan abangku seakan tak ingin berjauhan.
Kami yang mendengar ucapan ibu hanya tersenyum bahagia.
Kami masih harus melakukan perjalanan lagi menuju rumah abangku.
Kira kira sekitar 40 menitan perjalanan menggunakan grab atau gocar.
Kami menikmati awal pertemuan ini sambil menceritakan perjalanan mulai dari keterlambatan di kapal sampai ibuk yang mengomel karena setaunya tidak ada orang yang menjemput kami ke terminal, tiba tiba ada mobil berhenti di depan kami, ternyata grab yang dipesan sudah datang.
Lalu suami dan abangku yang dibantu oleh driver grab, segera menaikkan barang barang bawaan kami.
Lepas itu, kami semua masuk ke dalam mobil, suami sambil menggendong Rey duduk disebalah driver, sementara di belakang kami bertiga dengan posisi ibuk di tengah, dan aku menggendong Aihzan.
__ADS_1
Berikutnya grab mulai tancap gas dan melaju membelah jalan. Jalanan yang sepi, membuat driver melajukan kenderaannya dengan kecepatan tinggi.