Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Dibawa ke Kantor Polisi


__ADS_3

Malam begitu indah, menemani suasa malam ini. Langit cerah dihiasi bintang bintang berterbangan menemani sang bulan. Sayup sayup terdengan suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara cicakpun ikut menghiasi sepi. Udara terasa begitu segar. Menemani kami yang sedang bersantai di teras depan.


Aku dan suami yang sedang duduk menikmati malam, bersantai sejenak dari kesibukan yang sudah dilakoni seharian.


Suami yang sibuk dengan sebatang rokok dan secangkir kopinya, larut dalam mengarungi dunia mayanya.


Sementara aku larut dalam ide ide yang akan aku tuangkan ke dalam tulisan, kata demi kata hingga menjadi sebuah cerita.


Aku yang memegang benda pipih langsung menuju mesengger, berniat untuk kembali menanyakan sesuatu hal yang masih mengganjal dihati ini.


[Malam kak, ah iya aku mau nanya, kalau untuk daftar dan update di aplikasi kita butuh persiapan berapa part kak?] Begitulah pesanku.


[Untuk posting diaplikasi, gak perlu kamu banyak bab. Cukup satu bab juga gak papa. Sembari mikir sembari nulis.]


[Dari dua bab yang kamu kirim ke aku, sepertinya kamu udah siap nulis di aplikasi. Dan kalau kamu udah siap posting, aku akan bimbing nanti, apa apa perlunya atau syaratnya. Mudah kok. Mudah banget malah.]


Kakak author baik hati ini sepertinya begitu yakin dengan kemampuan aku. Sementara akunya sendiri malah belum yakin.


[Aku malahan rencananya mau bikin beberapa stok part dulu, agar mudah dan tinggal update setiap hari satu part.] itu yang ada di dalam pikiranku kak pesan ku kirim dengan membubuhkan emoticon tersenyum dengan pipi kiri dan kanan yang memerah menandakan sedang malu.


[Gak usah ada stok sayang. Disana kamu cukup nulis satu bab. Terus terbit kan. Bisa lanjutin besok lagi. Satu bab tiap hari atau terserah kamu bisanya. Hanya saran satu bab perhari seribu kata atau lebih. Itu hanya saran agar kamu dapat rekomendasi dari pihak platform.] Ia kembali meyakinkan diri ini.


[Aku takut kalau aku gak sanggup bikin satu part tiap harinya kak. Makanya aku pengen banyak stok part dulu.] Aku menjelaskan kembali ketakutanku.


[Malah mudah lho disana. Bab bisa kamu simpen dulu. Bisa kamu edit edit lagi. Bila menurut mu sudah bagus baru kamu kirim kan.]


Balasnya lagi, berusaha meyakinkan ku.

__ADS_1


[Kak yakin kalau aku bakalan bisa update di aplikasi, dan bisa nulis satu part sehari?]


Pertanyaan kembali ku kirim.


[Yakin. Malah aku bisa lebih mudah baca novel kamu. Misal kamu up satu bab nih. Kamu bilang ke aku. Aku bisa baca disana. Bisa tau, eh ini kurang ini kurang ini. Begini, kamu bisa ubah lagi. Dan satu lagi kalau udah diaplikasi, kamu langsung bisa tau sudah berapa kata yang kamu tulis dalam satu babnya, kamu tidak perlu menghitung secara manual lagi, seperti yang kamu lakukan kemaren itu. Itu hanya akan membuang buang waktumu saja.] Balasnya panjang lebar dengan membubuhkan emoticon ketawa dan mengacungkan dua jari yang membentuk huruf v.


Ia seakan akan menertawakan aku yang menghitung kata demi kata, aku jadi malu.


[Jangan diketawain donk kak, maklum pemula.] Aku pun membela diri.


[hehe.. Ok..Begini saja. Coba beranikan diri untuk mencoba hal baru. Jika kamu ada kendala nanti bisa kasih tau aku. Kalau kamu sudah siap. Kamu hanya perlu menginstal aplikasi X. Setelah itu siapkan judul. Nanti aku buatin cover untuk karya kamu.]


Dengan keyakinan author baik hati ini, aku juga ikut terbawa yakin. Dengan bismillah dan bimbinganya aku mulai masuk keaplikasi.


Aku mulai belajar dari awal dengannya, dari mendaftar menjadi author, menulis deskripsi, bahkan coverpun dia bantu. Dia begitu sabar mengajari, screnshoot sana screenshoot sini, memberikan contoh apa yang akan aku lakukan berikutnya.


Bagaikan ada ilmu magicnya, jemariku begitu lancarnya menuliskan hasil pikiran disana, hingga tak beberapa menit seribu kata lebih di part tiga aku kantongin. Senang luar biasa, Itulah yang aku rasakan.


Sampai kak author baik hati itu mengajariku cara mempromosikan tulisan di group group komunitas menulis. Namun entah apa yang terjadi dengan salah satu sosial mediaku, hingga aku tak bisa memposting tulisan di group group komunitas menulis, sementara postingan bertanya, rekomendasi dan selain tulisan lengkap satu part, disetujui. Aku yang mulai putus asa dibantu oleh author tersebut mempromosikan mulai dari di berandanya, di group group komunitas menulis, menggunakan media sosialnya. Sepertinya banyak sekali ilmu dan kebaikan yang aku dapatkan dari kakak author baik hati dari pulau Bangka ini.


Aku yang sering kali bertanya karena kurang mengerti, sama sekali tak membuatnya kesal, ia dengan sabar sekali mengajari hingga malam begitu larutnya.


Kami terlena karena asyiknya berchat ria mengajariku banyak hal, hingga jam sudah menunjukkan jam dua belas malam.


Akhirnya aku yang besoknya akan kembali bekerja. Langsung meminta izin untuk dilanjutkan besok.


Sementara dia masih lanjut dengan menulis karya yang akan ia update diaplikasi esok harinya.

__ADS_1


Buset ini orang jam tidurnya berapa jam? Orang sudah terlena dengan alam mimpinya, sementara dia masih baru mau memulai menulis.


Sebegitunya kah jam kerja penulis? Aku bertanya tanya sendiri. Seketika keraguan kembali datang. Sanggupkah aku nanti setia dengan menulis?


Keraguan dan pertanyan mengantarkan aku ke alam mimpi.


***


Di ruangan kantor, aku yang lagi menikmati jam kosong mengajar, memanfaatkan masih dengan kesibukan baru, yaitu merangkai kata, menyusun kalimat, hingga menjadi sebuah cerita yang mampu menghibur penikmatnya.


Tiba tiba benda pipih di tangan ini menampilkan sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal.


"Assalamualaikum, benar ini dengan Indri?" Pertanyaan diseberang sana.


"Iya, benar, ini siapa ya?" Jawabku sedikit penasaran dengan yang menghubungiku.


"Saya Mely yang jualan di sebelah toko suamimu, Ardi." Jelasnya


Suamiku memang benar, di samping memiliki dapur kue yang sudah gulung tikar, ia juga mempunyai toko di pasar tradisional di kotaku, salah satu tempat ia memasarkan kue kuenya. Namun karena dapur kue yang mengalami penurunan omset sejak kejadian itu, tak menutup kemungkinan pemasukan dari toko kue ini juga melemah. Dan ikut tutup juga setelah dapur kue tutup.


"Ah iya, kak ada apa ya? Suami saya sepertinya lagi di rumah mamanya."


Jawabku, memang mungkin saja karena suamiku yang tak memiliki pekerjaan lagi, pastilah ia disana sembari menungguku pulang sekolah.


"Begini, Ndri tadi Ardi kesini, dan sekarang sudah dibawa ke kantor polisi." Jawabnya.


Seketika badan ini lemas, dan ambruk ke lantai. Pandanganpun gelap, dan aku tak tau apa apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2