
"Bunda bicara apa bund?" Ia kembali bertanya dan mendekat kearahku.
Namun lagi lagi aku semakin menjauh. Aku benar benar tak sudi lagi disentuh oleh tangannya yang sudah bersentuhan dengan wanita lain.
"Jangan mendekat. Diam di situ! Atau keluar dari kamar ini. Bahkan lebih baik keluar dari rumahku!" Ucapku berapi api, menunjuk nunjuk pintu kamar.
Terlihat suami sangat tercengang dengan ucapanku. Dia gusar dengan kasar rambutnya. Dan duduk terpaku di sisi ranjang.
"Tolong beri ayah alasan dengan sikap bunda yang berubah seperti ini! Hingga ayah bisa mengambil keputusan." Ucap suami masih dengan bawaan tenangnya.
Namun itu semua tak mempengaruhi hatiku. Aku masih saja membencinya, bahkan semakin membencinya.
"Tak mungkin aku memberikan penjelasan kepada seseorang yang sudah membuat kesalahan." Aku beranjak ke arah lemari pakaian dan mengeluarkan semua pakaiannya.
Ku lemparkan dengan kasar pakaiannya yang tadi terlipat rapi di dalam lemari.
Suami terlihat sangat kaget dan kebingungan melihat tingkahku.
Suami berdiri dari duduknya, tak mempedulikan pakaiannya yang sudah berserakan. Ia mendekat dan semakin mendekat ke arahku.
"Tak ada mendekat! Melangkah satu langkah saja." Ucapanku terhenti.
Aku sejenak memikirkan apa yang bisa menjadi ancaman agar suami tak mendekat. Aku tak memberikan sedikit kesempatanpun untuk ia menyentuhku. Tak sengaja pandanganku beradu ke laci kecil yang berada dalam lemari. Seketika aku teringat di dalam sana ada gunting kecil.
Dengan sigap ku buka laci. Dan mengambil gunting segera mengarahkan ke pergelangan tanganku.
"Melangkah lagi. Gunting ini akan berubah warna menjadi merah." Ancamku.
Suami terlihat ragu. Ia berhenti sejenak. Dan kembali mundur. Kembali duduk di sisi ranjang.
"Bunda. Ayah seperti tak mengenal bunda lagi saat ini. Selama kita berumah tangga ini kali pertama pertengkaran kita. Tanpa ayah tau sebabnya. Jika dulu kita banyak kekurangan dalam keuangan. Namun tak pernah terjadi hal seperti ini. Kenapa setelah semua doa doa kita dikabulkan Allah bunda menjadi seperti ini? Jika uang alasannya. Maka jika ayah bisa memilih. Ayah lebih memeilih kehidupan kita yang dulu." Ucapnya tanpa menoleh kepadaku. Ia tetap terpaku menatap ke arah depannya.
Seketika aku kembali teringat kepada kebahagian selama ini. Aku menangis sejadi jadinya. Mengingat masa masa sulit kami selama ini, namun tetap diselimuti kebahagian. Namun semua telah terhapus. Kenangan itu tak lagi mampu membuat aku tersenyum. Yang ada hanya bayangan foto foto itu mendominasi kebencian yang luar biasa.
Kami tak lagi saling bicara. Aku sibuk dengan pikiran masing masing. Begitu juga dengan suami, terdiam. Disudut matanya ku lihat butiran bening jatuh bergantian.
"Berikan alasan bunda seperti ini bund!" Suami kembali bersuara. Namun dia masih di sisi ranjang. Masih tanpa menoleh kepadaku.
__ADS_1
"Baik. Jika itu yang kamu mau. Tapi janji. Setelah itu. Kamu tinggalkan rumah ini, silahkan bersenang senang dengannya!" Ucapku sambil mengutak ngatik ponsel mencari pesan yang dikirim nomor tak dikenal tadi di aplikasi hijauku.
"Sekarang kamu berikan penjelasan atas foto foto itu!" Bentakku, sambil melempar ponsel ke atas kasur ke arahnya.
Aku yang melempar posel posisi di belakang suami. Hingga ponsel tepat berada di belakangnya. Ia membalikkan badan dan meraih ponsel. Menggenggamnya, mengangkatnya, dan melihat dengan seksama semua foto foto di layar ponselku.
Tak ada kata kata. Yang ada hanya helaan napas panjangnya. Dan dengan kasar ia usap wajah. Seterusnya kembali melempar ponsel ke arah semula.
Ia membisu. Tak menjelaskan apa apa. Namun aku menangkap ia sekarang seperti gelisah sekali. Panik juga. Dan juga terlihat sangat kesal. Berkali kali ia usap wajahnya. Namun masih dengan mode diam seribu bahasa.
Aku yang sudah tersulut emosi.
"Kenapa? Gak bisa jelasin kan kamu? Untuk itu silahkan pergi saja dari sini. Silahkan urus wanitamu di luaran sana!" Ucapku hendak keluar kamar. Baru saja memegang hendel pintu. Ponsel suami berbunyi.
Ting ting, ting ting, deringan ponsel terus saja berbunyi.
Tak ada tampilan seseorang memanggil. Berarti hanya notifikasi pesan whatsap.
Segera ku raih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jangan jangan itu pesan whatsapp dari nomer yang sama. Tiba tiba aku terpikir demikian.
Segera ku buka kunci. Kami yang saling percaya mengetahui kunci masing masing ponsel. Menguncinya hanya alasan agar anak anak tak bisa memainkan ponsel sesuka hatinya.
Aku langsung menuju aplikasi hijau, benar saja. Bertubi tubi pesan masuk. Dari nomor tanpa nama.
[Bang terima kasih untuk yang tadi ya!]
[Nanti setelah Indri tidur, kita telfonan ya!]
[Aku masih rindu samamu tau?]
[Perlakuanmu tadi membuat aku bahagia sekali.]
[Aku seakan akan merasakan keadaan dan perasaan seperti tiga belas tahun yang lalu.]
[Mantanmu yang selalu merindukanmu, Cita Rahayu.]
Pesanku baca dengan linangan air mata.
__ADS_1
Sementara suami hanya terdiam di posisi semula.
"Owh jadi dia Cita Rahayu?" Aku yang baru mengetahui orangnya, digambar tadi tak begitu jelas menampilkan wajah foto wanitanya.
Suami masih terdiam.
Aku terduduk di lantai. Meratapi nasib yang menimpa rumah tanggaku. Suami yang selama ini ku jaga dengan kesetiaan. Tega berkhianat di belakangku.
Melihat aku histeris. Suami bergerak meraih ponselnya. Sesaat membaca. Dan setelahnya ia menggenggam erat ponsel seakan meluapkan emosinya.
"Bun. Ini tidak seperti yang bunda duga." Suami mengeluarkan senjata ampuhnya.
Seperti di film film. Setiap yang bersalah akan memberikan pembelaan "ini tidak seperti yang diduga. Ini tidak seperti yang dipikirkan. Ini hanya salah paham." Entah lah aku tak peduli semua ini. Yang jelas hatiku hancur oleh kejadian ini.
"Dasar pengkhianat." Tudingku dengan kasar. Tapi tetap dengan suara parau karena tangisan.
"Bunda, gak mungkin ayah melakukan ini bund. Ayah yang begitu menyayangi bunda. Tak akan sanggup membuat bunda kecewa." Ia kembali membela diri.
Tapi ucapan sayangnya tak lagi mampu menyembuhkan luka ini.
Tidak munafik. Aku juga benar benar menyayanginya. Namun tak bisa menerima kenyataan untuk berbagi suami dengan yang lainnya.
Bayangan masa lalu. Yang kami alami menari nari dibenakku. Betapa bahagianya masa masa itu.
"Bunda harus dengarkan penjelasan ayah dulu. Kita dijebak bund." Ucap suami meyakinkanku.
"Hanya wanita bodoh yang percaya dengan ucapanmu barusan. Setelah semua bukti berbicara masih kah kamu menganggap ini jebakan?" Ucapku kembali membanting ponsel ke arahanya.
"Bunda harus dengarkan penjelasan ayah dulu! Setelahnya terserah bunda mau percaya atau tidak." Untuk pertama kalinya suami membentakku.
Aku kaget oleh bentakannya dan semakin yakin suamiku sudah berubah semenjak kehadiran wanita itu.
"Tega kamu mengkhianatiku, dan sekarang tega kamu membentakku? Aku benar benar yakin kamu sekarang sudah tak lagi setia." Balasku.
"Terserah mau bagaimana penilaian bunda terhadapku. Yang harus bunda tau semua itu tak seperti dugaan bunda. Sampai detik ini aku masih memegang kesetiaan untukmu. Sekarang esok dan selamanya." Setelah mengucapkan itu, suami berlalu keluar dan membanting pintu.
Kini tinggal aku sendiri. Meratapi nasib. Emosi benar benar terkuras habis hari ini. Kurebahkan tubuh di ranjang hingga aku tertidur berselimutkan kesedihan dan lelah hati serta pikiran yang begitu mendera.
__ADS_1