
POV IBUK
Aku berniat untuk sholat magrib, aku segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Namun sebelum sampai di kamar mandi aku berpapasan dengan Indri, ia yang berlari dari arah ruang tamu menuju kamar, dengan raut wajah yang tak bisa diartikan, aku melihat ada kekesalan di raut wajahnya, juga ada kemarahan yang luar biasa.
Aku berusaha menegurnya, namun ia tak lagi menghiraukan, ia berlalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Tak cukup sampai disitu, ia memutar kunci dengan kasarnya, terdengar bunyi putaran kunci yang begitu kerasnya.
Aku penasaran, mencoba bertanya ke Ardi suaminya, namun Ardi juga tidak mengetahui kenapa Indri mengurung diri.
Aku mencoba pergi ke ruang tamu, karena tadi Indri datang dari arah sana, berniat mencari tau apa yang terjadi.
Dari kejauhan aku melihat Hanif membelakangi ruang keluarga. Aku semakin mendekat. Terlihat Hanif berbicara dengan seorang wanita yang menggendong anak perempuan, kira kira usia anaknya dua tahunan.
Aku berdiri tepat di belakang Hanif, dan menanyakan kenapa tamunya tak dipersilahkan masuk.
Namun betapa terkejutnya aku tanpa ba bi bu, wanita itu langsung menjabat tanganku, dan memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah salah satu anak mantan almarhum suamiku dengan wanita lain.
Bagai disambar petir. Aku terkejut bukan kepalang. Rasanya baru aku merasakan bahagia bisa berkumpul dengan kedua anak, menantu dan cucu cucuku, namun semua itu dirusak oleh kenyataan ini.
Wanita muda yang di depanku ini adalah darah daging mantan suamiku.
Aku mencoba menenangkan jiwa. Menyusun hati yang begitu hancur oleh kenyataan ini, aku kembali teringat dengan semua yang terjadi puluhan tahun yang silam.
Semua kenangan pahit itu kembali menari nari dipikiran begitu jelasnya, setiap ucapan dan janji janji manis kembali terngiang di telinga ini.
Sekarang aku tau, inilah yang membuat Indri bertingkah seperti tadi.
Aku berlalu menuju kamar tempat Indri mengurung diri. Namun masih tertutup. Terlihat Ardi yang mengetuk pintu dan membujuk Indri untuk mau keluar. Akupun juga ikutan mengetuk, dan memanggil manggil indri agar ia membukakan pintunya.
__ADS_1
Namun semua sia sia.
Selang beberapa menit, Ardi mengajak aku untuk tidak lagi mengetuk pintu, ia menyampaikan bahwa Indri sudah mengirimkan pesan yang isinya meminta waktu untuk sendiri.
Akhirnya aku mengalah. Aku menuju kamar mandi, untuk berwudhu dan segera melakukan sholat magrib.
Seusai sholat, aku menangis sejadi jadinya. Aku tumpahkan segala kesedihan hati. Aku sesali kenapa ini semua harus terjadi padaku.
Aku telisik lagi kepuluhan tahun ke belakang. Walaupun perpisahan antara kami telah terjadi. Namun orang tuanya begitu menyayangiku. Itu terlihat dari mereka yang masih menampungku untuk tetap tinggal bersamanya. Karena kebaikan itu semua seakan akan aku lupa dengan pengkhianatan suamiku.
Andai perpisahan diantara kami tidak terjadi, mungkin aku tidak sedemikian bisa merasakan kasih sayang orang tuanya yang begitu tulus. Mungkin apabila kami tidak berpisah, maka aku tidak akan tinggal serumah dan merasakan kasih sayangnya yang begitu tulus.
Aku yakin ini semua sudah garis tangan nasibku. Ini semua sudah skenarionya Allah. Perpisahanlah yang terbaik untukku. Aku yakin apa yang terjadi itulah yang terbaik. Karena aku percaya sekali, Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambanya, dan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya.
Aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan yang terjadi.
***
Suapan nasi tak lagi nikmat seperti biasanya. Hanya sekedar suapan, tak lagi ada kenikmatannnya.
Seusai makan, kami duduk duduk sambil memperhatikan anak anak yang tengah asyik bermain. Tak terasa waktu isya sudah masuk, kami pun sholat isya secara bergantian.
Seusai semuanya telah melaksanakan sholat isya, Hanif menelfon om nya agar datang ke rumah.
Sesampai om nya di rumah, semuanya berkumpul di ruang tamu. Tapi aku tidak mau bergabung dengan mereka. Aku masih butuh menyendiri menata hati dan pikiranku terhadap apa yang baru saja aku alami.
Sambil mengawasi cucu cucuku bermain, aku mendengarkan percakapan mereka dari ruang kuluarga. Percakapan Dinda tentang almarhum suamiku. Yang mana Dinda mengatakan bahwa suamiku menyesal telah mekhianati dan mengecewakan ku.
__ADS_1
Seketika aku tergerak untuk bergabung dengan mereka. Mendengarkan semua ucapan anak tiriku itu. Entah kenapa percaya dengan ucapannya. Memang suamiku orang yang tempramental, namun aku tau sekali dengan sikapnya, dibalik emosiannya, masih ada sisi penyayang dan tulus di dalam dirinya.
Sepintas aku teringat, mantan suamiku itu pernah tertusuk pisau saat menolong seseorang. Waktu itu, disaat ia pulang dari rumah majikannya, dengan mengendarai sepeda motor, diperjalanan yang cukup sepi, ia melihat ada seorang sopir taxi yang dianiaya oleh beberapa orang. Mungkin orang tersebut ingin merampok sopir taxi tersebut, ia lajukan motornya dengan pelan, ingin mengetahui siapa yang sedang dianiaya, namun ia terkejut, karena yang dianiaya tersebut adalah teman dimasa kecilnya.
Ia berniat sekali untuk menolongnya. Karena selain mereka berteman, orang tersebut juga tetangganya di kampung.
Ia lalu menghentikan motornya, dan berteriak minta tolong, namun karena ditempat sepi, tak begitu banyak pengendara yang lewat, ditambah juga hari sudah sangat larut malam.
Dengan keberanian yang ada ia melawan para perampok tersebut, namun karena ia melawan hanya dengan tangan kosong, akhirnya tancapan mata pisau mengenai jidat bagian atas alisnya sebelah kiri.
Entah pertolongan dari mana, sehingga disaat ia sudah terluka, berhentilah segerombolan pengendara yang melewati jalan dan berteriak, mengisyaratkan agar perkelahian segera dihentikan. Benar saja karena melihat segerombolan pengendara itu, perampok tadi ketakutan, dan langsung meninggalkan suamiku, dan sopir taksi yang tergeletak di aspal begitu saja, dia lalu berlalu dan memacu motornya dengan sangat kencangnya.
Akhirnya suamiku selamat dan hanya mendapat beberapa jahitan dilukanya itu.
Tak hanya itu pernah juga, suamiku membantu tetangga yang betul betul kesusahan dan tidak punya uang. Ia memberikan uangnya secara cuma cuma kepada tetangga, sementara kami pada waktu itu juga tidak memiliki uang lebih. Namun begitulah baiknya seorang suamiku.
Maka dari itu sampai sekarang masi menyisakan tanda tanya bagiku, kenapa ia bisa tega meninggalkan aku. Namun apa mau dikata, kepada siapa aku akan bertanya, toh dia sekarang sudah tiada. Aku tidak ingin memberatkan dia dengan dendam ini, dan juga aku tidak ingin terbebani karena dendam yang tak berujung ini.
Aku kembali teringat kepada ceramah yang sering aku setelah sholah shubuh berjamaah di masjid. Bahwa pentingnya kita memaafkan.
akhirnya aku putuskan aku memaafkannya dengan setulus hati.
Disaat Dinda masih saja memohon untuk aku memaafkan mantan almarhum suamiku. Dengan tegas aku menyampaikan bahwa aku sudah memaafkannya.
Dinda terlihat begitu senangnya. Dan tak lama berselang setelah aku memaafkan. Indri datang dari balik pintu dan segera memelukku.
Aku membalas pelukannya, dan berdoa agar Indri juga sama denganku, agar Indri bisa memaafkan kenyataan bahwa ia memiliki saudara sebapak.
__ADS_1
***
Selamat menikmati para reader.. Semoga suka dan berkenan memberikan dukungan..