Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Happy Ending


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


Aku yang masih menyempatkan menulis di tengah tengah kesibukanku mengajar dan mengontrol usaha kue kering yang sudah semakin meningkat.


Namun pencapaian itu tak membuatku aku berhenti menulis dan melahirkan karya karya baru.


Sudah seperti air mengalir saja. Sekarang bagiku menulis bukan lah semata mata untuk menghasilkan. Tetapi lebih ke mengasah bakat ku. Sudah banyak novel yang lahir semenjak aku memutuskan menulis lebih kurang lima tahun yang lalu.


Jaringanku dalam menulis cukup luas. Aku banyak mengenal editor editor novel online di berbagai platform.


Secara perlahan tulisanku banyak diminati para pembaca dan mulai menghasilkan uang yang lebih dari cukup.


Bahkan aku mendapat tawaran untuk beberapa novelku dibukukan.Pencapaian yang sungguh luar biasa menurutku.


Akupun menyetujuinya. Aku ingin lihat juga bagaimana respon pembaca ceritaku di dunia nyata. Mana yang lebih menghasilkan ketimbang novel online.


Bermodal yakin dan percaya diri akhirnya editor membantu proses pencetakan novelku.


Namun di luar dugaan dan aku yakin itu adalah kekuasaan Allah. Novelku yang dibukukan atau pun yang online mengalami peningkatan pembaca. Hingga karyaku menjadikan aku penulis yang banyak dikenal orang.


Rupiah demi rupiah menumpuk di rekeningku.


Suatu sore.


"Yah beberapa novel bunda yang sudah dibukukan memberikan perkembangan pesat yah. Sekarang novel itu sudah tersebar dimana mana. Dan ayah tau? Sudah berapa saldo bunda sekarang? Bunda benar benar gak menyangka yah." Ucapku dengan mata berkaca kaca karena bahagia.


"Berapa emangnya bund?"


Aku yang sudah mengaktifkan BRIMO segera melihatkan saldo ku pada suami.


"Ha?" Mata suami melotot tak percaya.


"Bunda. Ini nyata bund? Saldo bunda mengalahkan saldo ayah loh bund." Ucap suami spontan.


"Ya jelas saja yah. Uang ayah memenuhi semua kebutuhan kita nah uang bunda ini? Sejak terisi saldo dari menulis hingga sekarang gak pernah dicicipi. Jelas saja ia menumpuk di sana." Jawabku menjelaskan pada suami.

__ADS_1


"Ya benar juga ya bund. Itu kan berarti penghasilan bunda selama menulis. Tanpa pernah dipergunakan." Suamipun membenarkan.


"Terus rencana bunda apa?" Ia kembali bertanya.


"Mau tetap menulis yah. Sepertinya menulis sudah mendarah daging dalam diriku." Jawabku tegas.


"Iya bund. Ayah tetap mendukung apapun keputusan bunda. Tapi yang ayah tanya tadi mau bunda apakan uang hasil menulis itu? Bukankah gaji bunda selama ini masih tersimpan rapi di rekening bunda yang satu lagi? Dan laba dari usaha kue kering juga tak pernah bunda gunakan" Suami memperjalas pertanyaannya.


"Owh itu. Gimana kalau kita gabung semua uang, terus kita renovasi rumah yah. Mumpung anak anak belum besar biayanya. Ditambah lagi di permanenkan kolam kolam ikan itu yah!" Akupun memberikan saran sambil menunjuk kolam kolam pembibitan ikan hias suami.


"Boleh juga bund."


"Bagus lagi di depan rumah. Di pinggir jalan itu buat toko khusus. Nah ayah bisa jadikan toko itu untuk pajangan ikan yah. Ketimbang sekarang ayah pajangnya di belakang rumah. Itupun tempat seadanya." Aku menyarankan pada suami.


Ya memang selama ini tempat ikannya yang sudah dipisahkan ke dalam botol botol kecil dipajang di ruang belakang yang awalnya ruangan itu adalah kamar kosong. Karena tak ditempatin lagi makanya suami menjadikan itu sejak merintis usahanya dulu.


"Benar juga bund. Di pinggir sana bisa kita buat dapur kue biar masaknya gak di dapur bunda lagi. Biar gak dempetan saat mau masak sama bikin kuenya." Ide suami lagi.


"Ah iya yah. Bagus juga. Gak usah besar besar." Akupun setuju dengan ide suami.


Kamipun mengutarakan ide tersebut sama ibuk. Ibukpun setuju. Ibuk mendukung semua yang kami rencanakan. Tanah sekitar yang masih luas. Jadi kami bisa merenovasi rumah ini menjadi lebih besar lagi.


***


Dua minggu setelah itu rumah kami pun mulai direnovasi. Pekerjaan dimulai dari pembangunan toko ikan hias di pinggir jalan dan mempermanenkan kolam untuk pembesaran dan pembibitan ikan hias. Agar nanti untuk merenovasi rumah tak mengganggu usaha suami. Dan juga mendahulukan membuat untuk dapur kue di samping rumah. Setelah semua itu selesai barulah mulai mengerjakan renovasi rumah.


Saat tengah melihat pekerjara.


Tiba tiba ponselku berbunyi.


"Ronal yah." Memberitahu suami.


"Angkat bund. Mana tau penting!" Titah suami.


Akupun segera mengangkat telfon Ronal.

__ADS_1


Ternyata Ronal menyampaikan ada sutradara yang mau menjadikan novel ku film. Ronal yang bekerja sebagai kameramen salah satu pruduksi film.


Jika aku bersedia maka film akan segera digarap.


Aku meminta Ronal Mengakhiri hubungan telfon sebentar untuk mendiskusikan tawarannya dengan suami dulu. Dan berjanji nanti akan menelfon kembali. Ronalpun setuju.


"Yah kata Ronal ada sutradara yang menawarkan untuk novelku dibukukan. Novel pertamaku loh yah. Yang berjudul Awal Seorang Penulis Terkenal. Gimana yah?"


"Bagus lah bund. Terima saja tawarannya!" suamipun setuju.


Akhirnya aku menelfon Ronal kembali.


Dan mengatakan jika aku setuju.


[Baik Ndri. Nanti aku urus di sini. Untuk kontraknya nanti bisa dikirim melalui email saja!]


Telfonpun di akhiri.


" Yah kata Ronal. Kita menunggu kontraknya saja nanti dikirim lewat email." Lapor ku pada suami.


"Iya bund. Semoga persyaratan kontrak segera selesai dan filmnya secepatnya digarap." Doa suamiku.


"Iya yah. Semoga! Eh aku gak sempat loh yah nanyai pendapatannya berapa?" Ucapku yang sesaat aku teringat aku belum menanyakan berapa keuntungan dari novelku yang difilmkan itu.


"Tunggu aja bund! Nanti pas tanda tangan kontrak pasti dikasih tau." Jawab suami.


Beberapa hari setelah persetujuanku dengan Ronal. Akhirnya ia mengirim kontraknya. Pas aku lihat dan baca. Aku sangat tak menyangka nominal yang tertera di sana cukup besar. Syukurlah. Berkali kali aku ucapkan rasa syukur akan pencapaianku. Setelah kontrak kubaca dan kupahami. Aku langsung membubuhkan tanda tangan pertanda setuju. Dan segera mengirim kembali ke Ronal.


Setelah kontrak selesai novelku mulai digarap untuk di filmkan. Kontrak sudah ditanda tangani. Sekarang aku tinggal memetik hasil dari karyaku lima tahun ke belakang, tanpa meninggalkan kegiatan menulis. Aku masih menyempatkan menulis. Jika tidak setiap haripun. Tetapi tulisan masih ada yang lahir dari jemariku yang menari nari dikeyboard ponsel.


Enam bulan kemudian.


Rumah kami telah selesai. Sekarang hunian kami sudah berubah. Dulu yang hanya hunian sederhana. Kini sudah menjadi hunian yang mewah. Di depannya berdiri sebuah toko ikan hias. Di sampingnya sebuah dapur kue. Dan halamannya masih sama seperti dahulu. Masih dikelilingi kolam kecil untuk pembesaran ikan hias namun dengan bentuk yang lebih bagus dan permanen.


Aku senang bangat dengan pencapaian ini. Pencapain yang tak pernah aku duga sebelumnya. Pencapain yang kami dapat dari keyakinan dan kerja keras.

__ADS_1


Suatu malam. Di ruang TV kami tengah asyik menikmati novel ku yamg difilmkan, yang diperankan oleh artis artis ternama ibukota.


TAMAT


__ADS_2