
Aku hari itu yang kebetulan ikut suami ke toko, karena hari yang sudah sore, semua toko sudah mulai tutup satu persatu, dan suamipun juga mulai tutup dibantu oleh bang Doni, setelah tutup, sebelum pulang, bang Doni, suami dan pedagang pedagang disekitar duduk di depan toko kami, bercerita tentang sulitnya usaha sekarang, hingga petang menjelang, dan adzanpun berkumandang dengan merdunya, akhirnya mereka pun usai.
Bang Doni terlihat tergesa gesa menaiki sepeda motornya, ia yang berbeda kota dengan kami, perjalannya menuju rumahnya sangat jauh, dan senjapun sudah menampakkan diri, mungkin ia takut akan kemalaman, dengan segera ia menaiki sepeda motornya, kami yang paling terakhir beranjak. Saat suami memutar motornya, tak sengaja sepintas mata ini menangkap sebuah buku tepat di samping bang Doni duduk tadi.
Segera tangan ini menyambar buku tersebut, dan mengeceknya sepintas, ternyata isinya adalah catatan penjualan bang Doni, setelahnya karena suami sudah berhenti di depanku, aku langsung memasukkan buku tersebut ke dalam tas, berniat besok akan kembali menyerahkan kepada bang Doni.
Namun keesokan harinya bang Doni tak lagi datang, akupun menyimpan buku itu, dan tak berniat memberi tahu suami, sampai akhirnya ia kembali setelah lima bulan tak ada pertemuan di antara kami. Namun pertemuan kali ini justru membawa secuil perselisihan di antara kami. Dan akhirnya aku memunculkakn buku ini sebagai bukti.
Saat suami mengatakan kalau bang Doni mempermasalahkan penjualan atas sisa barang dagangannya, seketika aku teringat buku itu, segera aku cek, dan alhamdulillah disana tertulis dengan jelas berapa penjualannya selama pindah ke toko kami sampai hari terakhir ia berjualan, dan secara tak sengaja buku ini tertinggal di depan toko.
Setelah mendengar cerita dari suami, akhirnya aku berpikir mungkin di saat itu ia akan membawa bukunya, agar tak ada bukti yang tertinggal di toko. Tapi Allah masih sayang kepada kami, hingga Allah yang merencanakan semua ini. Allah gerakkan hatiku untuk merekam disaat pertama kali ia pindah, Allah lupakan ingatan bang Doni terhadap buku itu disaat ia pulang terakhir kali dari toko, hingga buku yang memberikan bukti yang sangat akurat sekarang berada ditanganku.
"Ini buku siapa?" Ucapnya bertanya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan, antara cemas dan masih memperlihatkan kelicikan.
Ia berlagak tak mengenali buku tersebut.
Suami pun ikut bertanya.
"Buku apa itu bund?"
"Silahkan buka dan baca dengan suara lantang." Ucapku sambil menyerahkan buku itu kepada suami.
Aku memang tak berniat memberikan buku itu kepada bang Doni, karena ia yang terlihat begitu licik, jadi aku harus hati hati, bisa saja ia memusnahkan bukti yang ada ditanganku.
"Catatan penjualan, Doni Putra." Ucap suami dengan lantang membaca tulisan yang tertera dibagian depan buku.
__ADS_1
"Wah, itu bisa bisa kalian aja yang melahirkan buku itu, saya tak pernah punya buku itu." Ucapnya masih mengelak.
Wah benar benar nih orang licik ulung, desus ku dalam hati.
"Bang bagaimana tanggapan bang setelah melihat foto ini." Aku lantas memperlihatkan hp yang menampilkan foto waktu mereka bercerita, waktu terakhir bang Doni ke toko, karena ada diantara mereka yang mengabadikan moment tersebut dan memasukkan ke dalam group whatsapp pedagang.
Disana terlihat jelas kalau buku ini berada disamping bang Doni duduk.
Bang Doni tak lagi bersuara. Ia diam seribu bahasa.
"Jadi gimana bang? Masih mau menyangkal ini bukan milik bang?" Tanya ku sambil mengangkat ngangkat buku ini keudara.
Bang Doni terlihat semakin cemas. Dan terlihat menghela napas panjang, mungkin saja mempersiapkan pembelaan lagi agar ia berada dizona aman. Namun sebelum itu terjadi, aku lebih dulu bersuara dengan tegasnya.
Bang Doni masih diam.
"Jadi bagaimana? Masih menuntut untuk kami membayar?" Tanya ku lagi.
"Yaa.... tapikan.."
Sebelum ia melanjutkan aku sudah lebih dulu memotong.
"Tapi apa lagi? Tapi kami harus menuntut kepada bang Doni untuk membayar kontrakan lima bulan kebelakang ini? Yang katanya tadi mau bayar sebagian, berarti lima ratus ribu, selama lima bulan, jadi dua juta lima ratus ribu, dan persenan kami atas penjualan sebesar lima ratus dua puluh ribu. Sekarang juga silahkan bang Doni bayar ke kami sebesar tiga juta dua puluh ribu!" Ucapku menggebu gebu, karena masih sangat kesal, sudah sedemikian jelas bukti yang kami miliki, ia masih saja mencoba untuk memojokkan kami.
Benar benar ini orang, nasib apa juga kami bisa dipertemukan dengan orang licik seperti dia ini. Bathinku.
__ADS_1
Ia masih tak bersuara.
"Bund, ayah gak setuju untuk meminta kontrakan," ucap suami tiba tiba.
"Kita dari awal niat baik, dan tak perlu juga kita harus membalas kejahatan dengan kejahatan."
"Kita ambil persenan saja, dan sisanya silahkan serahkan ke bang Doni, dan untuk bang Doni, maaf saya tak bisa lagi menampung barang bang Doni, silahkan bawa sekarang juga!" Ucap suami dengan tenang namun tegas.
"Lah yah, gak bisa begitu donk, orang bang Doninya sendiri yang bilang kalau lebih dari sebulan, ia akan bayar uang kontrakannya, ya dia harus konsisten donk dengan ucapannya." Ucapku tetap ngotot untuk meminta uang kontrakan ke bang Doni.
"Bunda.... dari awal ayah berniat hanya membantu bang Doni, toh dia juga gak jualan selama lima bulan ini, jadi gak mungkin juga kita tagih uang kontrakannya, bunda percaya sama ayah, setiap kebaikan pasti ada balasannya." Ucap suami membujukku agar tak lagi menagih uang kontrakan kepada bang Doni.
"Ardi, bang minta maaf ya, kamu sudah sangat baik, bang saja yang gak menghargai kebaikan kamu. Bang bersedia bayar uang kontrakannya, tapi kasih bang waktu ya!" Ucapnya mulai lembut, mungkin sudah sadar dengan kesalahannya.
"Gak usah bang, bang terima ini, dan persenannya kami ambil ya bang," ucap suami sambil menyerahkan uang kearah bang Doni.
"Terimakasih banyak Ardi," ucapnya menunduk.
Bang Doni kelihatan malu, mungkin karena kejahatannya masih saja dibalas kebaikan sama suami. Saya juga tak bisa menolak keputusan suami, akhirnya sayapun setuju.
"Iya bang, sama sama, bisakan hari ini bang bawa semua barang bang? Nanti saya bantu deh bang." Ucap suami sambil senyum memperlihatkan deretan gigi yang tersusun rapi dan putih.
"Iya, bisa, ayo sekarang saja, nanti kemalaman." Ucapnya sambil meraih uang yang tadi diserahkan suami.
Ya memang sekarang senja sudah menghampiri. Bang Ardi dan bang Donipun beranjak menuju toko.
__ADS_1