Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Jebakan dibalas Jebakan


__ADS_3

"Bund, bunda percaya deh sama ayah!" Ucap suami di suatu malam, saat anak anak sudah tidur dengan pulasnya.


Aku yang sedang asyik tengah berselancar di dunia maya menggunakan akun palsu melalui ponsel lama. Pastinya masih mantengin status status Ronal.


Aku mendelik ke arah suami. Berpikir sejenak. Menimbang nimbang, apakah lebih baik aku mengatakan kepada suami tentang Ronal. Suami masih saja menatapku, menandakan berharap agar aku mempercayainya.


"Ayah! Lihat ini deh!" Ucapku sambil mengarahkan ponsel ke arah suami.


Aku memperlihatkan foto profil Ronal kepada suami. Sebenarnya suami sama sekali tak mengenali wajah Ronal, ia hanya tau namanya saja. Aku berniat menjelaskan tentang Ronal kepada suami, aku sengaja melihatkan fotonya kepada suami sekalian memperlihatkan siapa dalang dibalik gejolak pertengkaran antara kami.


Baru saja aku melihatkan foto Ronal.


"Inikah sepupunya Cita bund." Ucap suami sambil menunjuk ke arah ponsel.


Aku kaget donk mendengar ucapan suami.


"Sepupu bagaimana? Ayah tau darimana?" Ucapku dengan penasaran yang menggebu gebu.


"Kemaren itu, ia ikut disaat reunian. Dan Cita memperkenalkan kalau ia adalah sepupunya." Jelas suami.


Aku sungguh kaget mendengar ini. Benarkah mereka sepupuan? Aku semakin pusing.


"Benarkah begitu? Atau hanya akal akalan mereka? Ini Ronal mantanku yang pernah ku ceritakan dulu." Ucapku sambil menatap serius pada suami.


"Tapi kemaren Cita memperkenalkan namanya Firman bund."


"Ya namanya Ronal Firmansyah yah, apa jangan jangan mereka yang sudah menyusun semua ini?" Lirihku.


"Bisa jadi bund. Makanya ayah dari kemaren kemaren sudah bilang ayah gak pernah melakukan itu. Bunda aja yang gak percaya. Owh pantesan saja, saat ayah menggendong Cita, si Ronal itu gak ada dikerumunan. Ternyata dia yang jadi fotografernya." Suami kembali bersuara.


Mendengar kata fotografer, aku semakin yakin, ini ulah mereka, suami mengaku waktu adegan si Cita pingsan itu orang ramai. Sementara di foto hanya terlihat Cita dan suamiku saja, ia yang sudah mengedit foto itu, si Ronal alias Firman itukan memang seorang fotografer. Aku ingat sekali dulu ia memutuskanku karena akan kuliah jurusan fotografer, dan kulihat di Facebooknya kemaren, emang sekarang pekerjaannya seputar fotografer, kameramen dan sejenisnya. Jadi mudah sekali bagi mereka mengedit foto. Makanya foto suami kemaren kelihatan seperti benaran.


"Ya sekarang aku juga mikir begitu. Mau mereka sepupuan ataupun tidak. Sudah pasti ini semua perbuatan mereka." Ucapku, tapi aku masih belum mempercayai seratus porsen sebelum membuktikannya sendiri.


"Jadi bunda percayakan sama ayah?" Suami mendekat dan menatap manik hitam sambil menyentuh kedua pipiku. Mensejajarkan tatapan kami.


"Entahlah yah." Lirihku.

__ADS_1


"Apalagi yang bunda khawatirkan? Demi allah bund, ayah gak pernah mengkhianati bunda. Dan akan tetap menjaga hati dan perasaan ini." Suami kembali meyakinkanku.


"Aku ingin bukti yang lebih lagi atas permasalahan ini yah." Ucapku lembut.


"Terus apa rencana bunda?"


"Sekarang giliran aku yang akan menjebak mereka. Hingga menemukan bukti bahwa ini adalah perbuatan mereka. Kalau bisa aku akan merekam pengakuan mereka tanpa mereka sadari." Ucapku yakin.


Aku lantas mengambil ponselku, dan menuju aplikasi berwarna hijau. Ku scroll ke bawah mencari riwayat chatinganku dengan Ronal. Selanjutnya ku kirim pesan.


[Ronal, dari mana kamu tau kalau itu suamiku??? Terima kasih sudah memberitahuku, hatiku hancur dikhianati suami yang begitu ku sayangi, aku akan menggugat cerai suamiku.]


Sengaja aku ketik pesan seperti itu, agar Ronal terpancing, aku penasaran juga sebenarnya apa sih yang membuat ia melakukan ini.


Beberapa menit pesanku tak kunjung dibaca.


Kami akhirnya merebah, dan berniat tidur karena hari yang sudah menunjukkan pukul sepuluh.


Tapi belum jadi mata tertidur sempurna, dering ponselku kembali berbunyi, ada pesan masuk. Segera ku buka, ternyata balasan dari Ronal.


[Tak penting aku tau suamimu dari mana. Yang jelas aku masih melindungimu walaupun kamu sudah menjadi milik orang lain. Tapi pilhanmu menjadikan ia suami sunggah tidak tepat. Ia memiliki wanita lain selain dirimu. Untuk itu. Segeralah mengurus perceraian dan kita bisa bersama seperti dulu lagi. Aku masih mencintaimu.]


***


Pagi pagi sekali saat aku ke luar rumah untuk menyirami bunga, pas membuka pintu, aku disambut oleh sesuatu benda yang tergeletak di atas kursi teras.


Ada buket bunga dari berbagai jenis coklat, silverqueen, cadbury, kitkat, dairy milk, toblerone, hershey's. Pokoknya berbagai macam merk coklat batang, tersusun rapi disana. Indah sekali.


Aku yang penasaran lalu meraih buket tersebut. Ada tulisan. "Aku yang selalu menyayangimu dari tiga belas tahun yang lalu. Perpisahanku lakukan hanya karena aku ingin meraih mimpi untuk membahagiakanmu kelak. (Rf)"


Aku sudah bisa menebak ini pasti dari Ronal. Aku tersenyum sinis.


"Cih dulu aja sakit yang kamu goreskan. Setelah goresan sakit yang kamu berikan dulu, perlahan dihapus suamiku, sekarang kamu hadir kembali. Jangan harap jebakan murahan kalian mampu membuat aku terjebak." Lirih ku dalam diam.


Dari kejauhan di pinggir jalan aku melihat seseibu sedang memulung. Sebuah ide terlintas dibenakku.


"Buk! Buk!" Panggilku sambil berlari kecil ke arahnya, dan buket tadi masih digenggamanku.

__ADS_1


"Iya nak Indri." Jawab ibuk tersebut sambil juga berjalan ke arahku.


Ibuk itu masih orang sini juga, makanya ia mengenaliku.


"Ada apa Nak?" Tanyanya setelah posisi kami berdekatan.


"Ini untuk ibuk." Ucapku sambil memberikan buket coklat tersebut ke arahnya.


Aku tau ibuk ini punya bebrapa anak. Dan pasti mereka akan bahagia bangat di kasih ini.


Dengan mata berbinar binar, menggambarkan ibuk itu sedang bahagia sekali. "Terimakasih nak Indri." Ucapnya sambil meraih buket coklat itu dari tanganku.


"Sama sama buk, ya sudah aku lanjut mau nyiram bunga dulu buk." Ucapku izin untuk melanjutkan aktivitas.


"Ah iya nak, semoga rezeki nak Indri semakin lancar, dan selalu dilindungi-Nya." Ucap ibuk itu mendoakan kebaikan untukku.


"Amin. Terima kasih juga doanya buk." Ucapku sambil tersenyum, dan kami saling melangkah menjauh.


Suami yang terlihat sedang duduk di kursi teras sambil memperhatikanku yang berlari kecil dari arah jalan.


"Dari mana bund?" Tanyanya.


"Dari luar, tadi ada buket coklat disini, sepertinya kiriman dari Ronal, tapi aku kasihkan ke ibu yang biasa mulung di depan. Mereka benar benar niat bangat buat hancurin rumah tangga kita." Aku memberitahu suami.


"Ah yang benar. Cie ya pagi pagi dapat hadiah coklat." Ledek suamiku.


"Ayah ah kok gitu."


"Gak ayah cuma bercanda bund. Baguslah bunda kasih ke orang, jadi bermanfaat. Ntar bunda kalau kepengen biar ayah beliin. Enak aja si Ronal itu beliin istri orang. Gak mampu pun ayah beliin bunda coklat, ayah tetap gak ikhlas bunda makan pemberian darinya. Apalagi ini ayah mampu, sepuluh buket ayah beliin sekarang juga bisa." Suami meninggi. Mungkin sakit hati juga terhadap kelakuan Ronal.


"Cie.. yang cemburu..." gantian aku yang menggoda.


"Iyalah siapa yang gak cemburu coba. Istri dapat buket dari sang mantan." Jawabnya ketus.


"Lebih cemburu mana? Suami menggendong sang mantan?" Aku gak mau kalah.


"Udahlah bund. Gak usah di bahas lagi. Kita harus lebih hati hati lagi. Jangan sampai termakan jebakan mereka." Suami kembali melembut.

__ADS_1


"Iya yah." Ucapku lagi dan melanjutkan menyiram bunga.


__ADS_2