
Hari itu juga kami menyelesaikan kelengkapan bahan yang diminta.
Di rumah akupun memberitahukan berita bahagia ini kepada suami dan ibuk. Merekapun ikut bahagia dengan berita itu.
Seusai magrib terdengar deru mobil dari luar rumah. Tak berapa lama terdengar ketukan dari luar.
"Tok tok tok. Assalamualaikum." Ucap seseorang dari luar sana.
"Walaikum salam." Jawabku sambil berlalu menuju pintu. Sementara suami tetap duduk di depan televisi menemani anak anak menikmati film kartoon kesuakaan mereka.
"Eh Cita dan Ronal. Silahkan Masuk!" Ajakku.
Merekapun masuk. Dan duduk di sofa ruang tamu setelah sebelumnya ku persilahkan.
"Yah ada Cita dan Ronal tuh." Kuberitahu suami tentang siapa yang datang.
Terlihat suami menuju ruang tamu dan aku ke belakang untuk mengambil minum.
Tak berapa lama akupun kembali dengan nampan berisi minum dan kue.
Setelah menghidangkan dan mempersilahkan mereka mencicipi. Akupun duduk di sisi suami.
"Bagaimana kabar Kasih sekarang Cita?" Ucapku memulai pembicaraan yang sempat terhenti karena kehadiranku dari belakang tadi.
"Alhamdulillah udah baikan Ndri." Jawab Cita.
"Di, Ndri. Kami ke sini akan menyampaikan sesuatu. Aku dan Cita akan segera menikah. Untuk itu kehadiran kami hari ini untuk mengundang kalian." Jelas Ronal tegas.
Kami kaget donk. Karena semenjak pertemuan di rumah sakit kemaren kami tak lagi ada bertemu dan komunikasi. Mungkin karena kesibukan masing masing. Dan sekarang mereka sudah memutuskan untuk menikah.
"Syukurkah Nal. Kamu sudah menjatuhkan pilihan. Semoga langgeng sampai kakek nenek ya!" Suami mendoakan mereka.
"Iya semoga bahagia selalu!" Akupun mendoakan mereka.
"Terima kasih Di, Ndri." Ucap mereka bersamaan.
"Terus acaranya kapan?" Akupun bertanya hari pernikahannya.
"Kami menikah tanggal 30 bulan ini. Kami tak melangsungkan pesta di sini. Kami hanya akad nikah saja. Dan pestanya di Jakarta nanti. Aku akan kembali ke Jakarta dan memboyong Cita dan Kasih ke sana. Kebetulan ada panggilan pekerjaan di sana. Makanya kami datang langsung ke sini untuk mengundang kalian. Karena hanya akad nikah saja kami tak mencetak undangan." Jelas Ronal.
"Owh iya. Yang penting akad nikah dulu saja." Jawab suami.
__ADS_1
Karena ke asyikan mengobrol kami tak sadar waktu sudah menunjukkan jam sepuluh.
Akhirnya Ronal dan Cita mengakhiri pembicaraan.
"Terimakasih ya Di. Aku senang bisa mengenalmu. Dan terima kasih atas nasehat mu malam itu." Kata Ronal.
"Iya Nal. Sama sama kita saling menasehati. Semoga komunikasi kita tetap terjalin walaupun kalian tak di sini lagi."
"Iya."
"Ya makasih juga ya Ndri." Ucap Cita yang lebih banyak diam dari tadi.
Akhinya mereka pamit pulang.
***
Tak cukup waktu satu bulan. Kami mendapatkan undangan untuk pengambilan Surat Keputusan pengangkatan. Dengan menggunakan seragam hitam putih kami memenuhi aula kantor.
Sambil menunggu giliran di panggil untuk penyerahan Surat Keputusan pengangkatan aku tak henti hentinya bersyukur dalam hati.
Ya Allah terimakasih atas anugerahmu." Syukur selalu terlafas dalam hatiku. Bayang bayang wajah orang orang yang ikut andil dalam perjalananku menjalani kehidupan memenuhi benakku.
Usaha suami yang makin meningkat. Usaha kue keringku yang sudah lebih berkembang. Kami akhirnya menyetujui saran Jhasril untuk tetap menjalankan usaha kue, dengan menggunakan jasa karyawan. Menulis novel yang masih aku geluti. Walau masih belum membuahkan hasil. Hingga sekarang status yang aku dambakan sudah dalam genggaman.
Tiba tiba nama ku terpanggil.
Setelah sumpah dan semuanya selesai. Kami diizinkan pulang. Karena jam pembelajaran yang sudah selesai dari tadi kamipun langsung pulang ke rumah masing masing.
Seperti biasa aku di jemput suami. Karena tadi juga suami yang mengantar ke sana.
Suami hanya menjemput sendirian.
"Anak anak kemana yah? Kok gak ikut." Tanyaku saat kami sudah diperjalanan.
"Gak katanya bund. Mereka lagi asyik main." Jawab suami.
Akupun tak bertanya lagi. Karena anak anak jika asyik dengan mainan atau permainannya mereka akan lebih memilih di rumah ketimbang ikut."
Saat hampir mendekati rumah. Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil warna hitam terparkir di halaman rumah.
"Mobil siapa itu yah?"
__ADS_1
"Gak tau bund." Jawab suami singkat.
"Apa mungkin mobil Ronal yah?" Ucapku lagi.
"Tapi aku tak yakin juga itu mobil Ronal. Karena berbeda dengan mobil yang dipakai Ronal saat datang kemaren. Tapi gak tau juga sih." Jawabku masih penasaran dengan mobil tersebut.
"Bisa jadi juga itu mobilnya Ronal bund. Secara kan Ronal OrKay.... Orang Kaya...." ucap suami dengan nada yang di buat buat.
Akhirnya kami sampai juga di rumah. Suami parkir persis di belakang mobil tersebut.
Akupun turun motor, dengan rasa yang masih penasaran sekilas aku melihat ke arah pintu ruang tamu. Memastikan apakah memang ada tamu. Jika ada sudah pasti ini mobilnya si tamu.
Sepertinya tak ada tamu. Tak ada sendal yang asing di depan pintu.
"Lantas ini mobil siapa? Plat nomor putih lagi. Kelihatan masih sangat baru. Bodynya sangat kinclong abis" Bathinku. Aku makin penasaran.
Aku melirik suami ia masih didekat motor. Entah apa yang ia lakukan di sana. Sibuk dengan motornya. Seperti tak penasaran sedikitpun dengan kehadiran mobil misterius di halaman rumah.
Berbekal penasaran yang luar biasa aku mengitari mobil misterius itu. Dan ada sesuatu yang aneh di depannya. Aku segera mendekat.
[Selamat bunda! Akhirnya kesabaran memberikan hasil yang luar biasa. Percayalah! Kerja keras tak akan mengkhianati hasil.]
Sebuah spanduk bertuliskan kata kata tepat di bagian depan mobil. Hampir menutupi seluruh bagian depan mobil.
Setelah membaca tulisan itu. Aku melirik ke arah suami tadi. Namun di sana tak ada lagi siapa siapa. Ternyata tanpa sepengetahuanku. Mungkin karena serius membaca tulisan spanduk itu hingga tak mengetahui kehadiran suami di sampingku.
"Yah apa...." ucapku belum selesai tapi sudah dipotong oleh suami.
"Itu mobil kita bund." Jelas suami sambil tersenyum dan mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celananya.
Belun sempat aku berucap.
"Bunda... selamat ya! Kata ayah dan nenek doa bunda sudah dikabulkan oleh Allah. Dan itu hadiah dari ayah bund. " Ucap Rey sambil berlari dari dalam rumah yang diikuti oleh Aihzan dan neneknya.
Aku kaget. Gak menyangka juga suami akan memberikan surprise ini. Bisa bisanya ia membeli mobil tanpa berdiskusi denganku.
Tapi melihat kebahagiaan hari ini. Kuurungkan niatku untuk menyalahkan suami yang tak berdiskusi denganku. Toh sudah terjadi juga.
Aku lantas memeluk anak anak, suamipun ikut memeluk kami bertiga. Terlihat ibuk senyum bahagia menyaksikan kebahagian kami. Merasa puas berpelukan dengan anak anak dan suami. Kamipun mengurai pelukan. Dan aku segera merangkul ibuk. Memeluk ibuk dengan kuatnya.
"Terimakasih ibuk selalu mendampingiku dan membantuku dalam mengurus anak anak buk." Ucapku sambil memeluk dan mencium pipi ibuk.
__ADS_1
Terima kasih yang tak terhingga untuk seorang ibuk.
Hari ini aku bahagia bangat.