
"Ia, bang Doni tadi datang ke toko, karena toko tutup, ia menelfon aku. Dan ia memintaku untuk menemuinya di toko." Jelas suamiku.
"Terus bagaimana dengan kamu yang dibilang kak Mely dibawa ke kantor polisi?" Tanya ku yang semakin tak sabaran.
"Bund ayah minta maaf ya." Lirihnya.
Aku semakin penasaran dan tidak sabar lagi untuk mendapatkan penjelasan atas ini semua.
"Kenapa kamu minta maaf? Memangnya apa yang sudah terjadi? Ayo jelaskan jangan berbelit belit!" Perintahku.
"Ya bunda tenang dulu. Maaf aku yang sudah menyembunyikan ini semua dari bunda selama ini. Sebenarnya sebulan yang lalu bang Doni sempat menelfon ku, dan berniat akan ke toko untuk melihat barangnya. Ya aku bilang aja silahkan datang, kebetulan juga toko sudah tutup, kan lebih bagus barangnya dibawa dari pada didiamin aja di toko yang tutup. Aku juga sampaikan ada beberapa barang yang terjual, sekaligus nanti disaat ia kesini mau langsung aku serahkan uangnya." Jelas suamiku.
Mendengar penjelasannya, aku semakin kesal, kesal karena ia tak memberitahuku tentang ini, dan kesal juga karena penasaranku belum juga terjawab.
"Kamu kenapa tidak ceritain ini kepadaku dari awal? Dan tolong berikan penjelasan atas info yang disampaikan kak Mely! Aku kembali membentak.
"Iya, ok bunda, aku bakalan jelasin semuanya, makanya dengarin penje.."
__ADS_1
"Ayah? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" Ucapku lagi lagi memotong pembicaraannya dengan kasar.
"Ya bunda, makanya dengarin aku dulu, beri aku kesempatan menjelaskan!" Ucap suami sambil merangkul bahu ini agar aku lebih tenang.
Akupun mulai mengulur emosi, dan duduk sesuai arahannya.
"Begini bund. Sebenarnya bang Doni itu, sudah datang ke toko, beberapa hari setelah ia menelfon dulu, sebelum kita ke tempat bang Hanif dulunya. Nah setelah ia datang ke toko dan melihat barangnya, dan aku memperlihatkan catatan barang yang terjual, nah, masalahnya sekarang ia tak menerima dengan yang aku sampaikan. Menurutnya barangnya yang terjual tidak sesuai dengan catatan yang aku berikan, menurutnya barangnya banyak terjual dan menuduh aku yang menggelapkan uangnya, padahal selama ini aku selalu mencatat setiap kali barangnya yang terjual, terus dia memperlihatkan bukti bukti catatan barangnya yang ada di toko kita, setelah di cek memang banyak barang yang sudah tidak ada, dan tuduhannya barang itu sudah aku jual, sementara sama aku tidak ada bukti barang apa saja yang ada di toko kita dari awal barangnya berada di toko, itulah kekeliruan ku selama ini, yang mempercayakan semua catatan sama dia, aku sudah menjelaskan namun ia tak terima dan ngotot kalau barangnya yang terjual lebih dari yang ada di catatan penjualan yang aku berikan. Dan juga katanya selama ia tak datang datang lagi ke toko sudah lima bulan kebelakang ini, ia meminta uang sewa seperti gantungan pakaian, boneka pajangan pakaiannya, dan katanya barangnya tidak laku terjual karena kita yang sering tidak buka toko. Jadinya kita dibilang hanya menumpuk barangnya. Dan membuat dia rugi. Ternyata selama kita pergi ke rumah bang Hanif kemaren ia sering datang ke toko. Nah karena toko kita yang sering tutup itulah ia manfaatkan untuk memojokkan kita yang hanya menumpuk barangnya, dan barang sulit untuk terjualnya." Kata suamiku panjang lebar.
Aku melotot, dan juga kaget.
"Ha? Mana ada pula seperti itu, jelas jelas kita yang memberikan pertolongan ke dia, apa kamu gak jelasin seperti itu? Ha?" Ucapku yang kembali emosi mendengar semua penjelasan suami.
Akupun mulai pusing.
"Enak saja dia, dia yang sudah tidak datang berbulan bulan lamanya, sekarang tiba tiba meminta sewa, ganti rugi, ah entahlah apapun namanya, kita tak perlu membayarnya. Atau memang selama ini kamu memang sudah menjual barangnya melebihi dengan catatan yang kamu buat? Kalau iya berarti memang kamu yang menggelapkan uangnya." Kataku penuh penekanan dan mulai menuduh suamiku.
"Terus, karena masalah ini kamu sampai terseret ke kantor polisi?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Ya karena ayah gak mau bayar itulah ayah dibawa ke kantor polisi, dia mengancam kalau gak mau bayar atau berjanji akan membayar, kita selesaikan ini di kantor polisi saja. Karena ayah yang merasa gak bersalah ayah ikutin aja apa maunya. Makanya tadi memang ayah ke kantor polisi bersama bang Doni itu." Suami menjelaskan lagi.
"Terus apa kata polisi?" Tanyaku lagi masih penasaran.
"Ya gimana, karena bukti hanya ada pada bang Doni saja, maka polisi menyuruh kami menyelesaikan secara kekeluargaan saja. Makanya ayah bisa berada disini sekarang." Ucap suami sambil ketawa kecil, seperti menertawakan kejadian di kantor polisi tadi.
"Terus, apa kata bang Doni setelah dari kantor polisi? Eh emang berapa sih katanya yang harus kita bayar?"
"Tujuh juta bund. Makanya ayah juga pusing ini. Mana kita gak punya bukti apa apa lagi. Sementara penjualan kita selama ia tinggalkan hanya dua juta"
"Wah benar benar ini orang licik ya, dia suruh kita yang bayar, yang ada dia yang harus bayar ke kita, karena barangnya yang berbulan bulan di tempat kita, tanpa ada kabar berita dari dia. Dia pikir uang tujuh juta sedikit? Jangankan tujuh juta, tujuh ratus ribu saja kita sekarang gak punya. Aku dari awal memang sudah kurang percaya dengan ini orang, kamunya aja yang bilang ia baik, ia baik. Baik dari mananya? Baik untuk ditendang iya." Cerosos ku.
"Ya ayah juga gak bakalan menyangka seperti ini bund. Niat ayah kan awalnya baik, ia aja yang dasarnya licik, gak bisa ngehargain kebaikan orang." Suami membela diri.
"Udah aku gak mau tau, kamu urus sendiri, selesain sendiri, kalau mau bayar bayar sendiri. Kita yang lagi pusing karena gak ada lagi pemasukan, eh ada aja masalah yang datang. Tau kayak gini dulu biarin aja si Doni Doni itu cari tempat sendiri."
Percikan api pertengkaran antara kami pun membesar. Aku lalu mengusir suami keluar dari kamar, karena muak oleh masalah ini. Andai saja suami ku gak berbaik hati dulu, mungkin ini tak akan terjadi.
__ADS_1
Ini namanya kebaikan dibalas dengan kejahatan ucapku membathin di kamar sendirian.