
POV ARDI
Aku sangat kaget dengan kedatangan Dinda ke rumah bang Hanif.
Aku tau pasti Indri belum siap dengan keadaan ini. Terlihat ia yang langsung pergi dan meninggalkan Dinda sendirian di ambang pintu. Sementara ia berlalu ke kamar dan mengurung diri disana.
Aku sangat kenal bangat dengan karakter Indri, dia orang yang keras, namun perasaannya sangat halus. Sedikit masalah saja sudah mengganggu pikirannya, dan juga ia orangnnya emosian, mungkin sifat Bapak yang emosian diwarisinya.
Namun dibalik sikapnya seperti itu, ia sebenarnya baik hati, dan penyayang.
Dan dia juga aku lihat lihat apabila bermasalah dengan orang lain, selalu mau memaafkan dan tidak pernah mendendam.
Namun aku juga sangat heran, kenapa kebenciannya kepada Dinda begitu mendalam. Apa yang membuat ia begitu membencinya, padahal di dalam darahnya mengalir darah yang sama.
Pernah suatu hari, aku beranikan diri untuk bertanya kepada Indri, apa yang membuatnya begitu membenci Dinda.
Namun aku terkejut, bukannya ia menjawab, malah ia menangis sejadi jadinya.
Aku berikan waktu untuk ia menangis, melepaskan semua sesak di dadanya. Sehingga dengan sendirinya ia berhenti, dan memulai berbicara.
Ia ceritakan semua yang mengganjal di hatinya. Ia ceritakan apa yang ia rasakan selama ini, ia membenci Dinda karena, semenjak kehadiran Dinda Bapaknya tak pernah lagi membiayai kebutuhannya. Walaupun semua kebutuhannya telah dipenuhi oleh kakek dan neneknya, namun yang ia sayangkan, sekalipun Bapak tak pernah menghubunginya. Padahal zaman sudah semakin canggih, sudah ada hp tapi tak sekalipun Bapak menelfon dan menanyakan kabar.
Dia ceritakan juga disaat ia bertemu dengan Bapak yang terakhir kalinya, saat itu Bapak pulang kampung karena nenek yang akan berangkat haji, dia cukup lama di kampung waktu itu, baru beberapa sampai bapak di kampung, ia meminjam hp Indri untuk menelfon Dinda, dengan kejadian itu semakin menimbun kebencian di hatinya, sementara ia yang ditinggalkan bertahun tahun tak pernah sekalipun dihubungi.
Dan tak cukup sampai di situ, sudah lah Bapaknya meninggalkannya dan menikah lagi, luka kembli ia torehkan luka, Bapak tega memboyong anak dan istri barunya ke kampung, tanpa memikirkan perasaan Indri dan ibuk.
Kenapa Bapak tidak bisa menahan diri sedikit untuk tidak mengajak anak dan istrinya ke kampung. Apakah ia tidak berpikir bagaimana perasaan kami? Apakah tak terpikir olehnya hal ini akan semakin menumbuhkan kebencian di hati, melihat mereka bersama, bagaikan keluarga yang lengkap. Hatiku semakin teriris.
Tak sampai di situ, ia juga menyesalkan selama ia mempunyai status seorang Bapak, walaupun sudah terpisahkan oleh jarak dan kehadiran ibuk tiri dan saudaranya, dari Indri berusia tiga belas bulan hingga berusia 19 tahun Indri hanya bertemu tiga kali dengan Bapaknya, sampai Bapaknya di panggil yang maha kuasa pun, seakan tak ada celah untuknya melihat Bapaknya untuk yang terakhir kalinya, sementara saudara saudaranya yang lain menyaksikan dan bahkan turut menyelenggarakan jenazah Bapaknya.
__ADS_1
Sementara ia sampai sekarang untuk melihat kuburpun belum pernah.
Semenjak itulah, ia merasa ia tak diharapkan. Dari kecil ditinggalkan dan sudah besarpun seperti tak diharapkan kehadirannya.
Itulah yang dirasakan Indri.
Bukan aku tak pernah untuk mendamaikan hatinya dengan kenyataan. Namun ia yang keras hati dan kepala tetap bersikukuh dengan perasaannya.
Namun pada saat kehadiran Dinda aku dibuat tercengang ia sudah berbesar hati memaafkan dan benar benar terlepas dari belenggu kebencian.
Aku sangat bersyukur atas itu. Dan juga terlihat Indri sudah mulai akrab dengan Dinda. Gimana tidak, banyak kesamaan di antara mereka, dan yang paling utama ditubuhnya mengalir darah yang sama.
***
POV BANG HANIF
Aku memang tidak pernah membenci saudara sebapakku, mungkin karena aku yang pernah tinggal dengan mereka disaat Bapak masih ada, disaat itu aku baru pertama kali merantau. Sehingga kekuatan persaudaraan begitu dekat di antara kami.
Namun Indri tak mau mendengarkan, ia tetap bersikukuh kalau Bapak tak pernah menyayanginya.
Berkali kali aku beri nasehat, namun jawabannya tetap sama, kalau Bapak sayang padaku tak akan mungkin ada orang ketiga dalam keluarga kita.
Aku benar benar rumit memikirkan ini.
Dan juga pernah Indri marah kepadaku. Karena menganggap aku yang bisa menerima saudaraku yang lain, ia menganggap aku tak memikirkan persaan dan juga tak menyayanginya lagi.
Aku berikan jawaban bahwa dugaannya salah. Aku jelaskan bahwa Bapak tetap menyayanginya. Aku jelaskan Bapak yang tak menghubungi karena ia tak sanggup karena perasaan bersalah sudah terlebih dahulu menguasai jiwa dan hatinya.
Dan juga aku jelaskan aku menyayanginya sama dengan menyayangi Dinda. Namun jawabanku bagai bumerang bagi diri sendiri. Indri yang keras kepala tak menerima itu. Ia pintar menjawab sehingga aku terpojok.
__ADS_1
Tak mungkin sama sayangnya bang, aku yang saudara serahim denganmu kau samakan sayangnya dengan yang hanya saudara sebapak? Kita pernah berada di rahim yang sama. Kita besar karena Asi yang sama. Kenapa bisa kamu menyamakan sayangmu antara aku dan dia. Sementara ibu kita berbeda.
Belum sempat aku menjawab, ia sudah kembali bersuara.
Ibaratkan dua tanganmu itu. Tangan mana yang paling sering kamu gunakan, tangan mana yang paling sering membantumu, tangan mana yang paling kamu butuhkan. Dan begitu juga dengan kami. Mana yang lebih dekat denganmu. Sungguh aku kecewa padamu. Cerososnya lagi.
Saat itu aku kehabisan kata kata.
Sejak itu Indri tak seperti dulu lagi kepadaku. Ia seperti membatasi jarak dengan ku.
Tapi setelah ia menikah dan mempunyai anak. Hubungan kami sudah mulai membaik. Sejak itu aku tak lagi pernah membahas tentang saudara saudara yang lain dengannya.
Aku usahakan untuk menjaga perasaannya. Agar benih benih kebencian tak lagi bermunculan didirinya. Aku selalu berdoa agar Indri bisa memaafkan dan menerima kenyataan yang terjadi dalam keluarga kami.
Sampai pada saat Dinda datang tiba tiba di rumah. Saat itu aku benar benar frustasi.
Memikirkan perasaan ibuk, perasaan Indri, dan juga aku tak mungkin mengusir Dinda.
Aku dilema. Saat itu aku berserah diri saja. Apapun yang terjadi berarti itulah yang terbaik.
Setelah Dinda masuk, aku segera sholat magrib. Dan dilanjutkan dengan berdoa, memohon agar hati hati yang diselimuti kebencian, bisa memafkan.
Aku serahkan semua kepada sang pencipta, sesungguhnya dialah yang maha membolak balikkan hati manusia.
Kami berbincang bincang di ruang tamu. Aku hadirkan om sebagai pengganti Bapak bagi kami, agar bisa mengenangahi masalah ini.
Setelah melalui bayak perdebatan dan penjelasan dari Dinda tentang Bapak.
Akhirnya ibuk dan Indri mampu memaafkan dan membebaskan diri dari kenbecian yang sudah menggerogotinya selama bertahun tahun.
__ADS_1
Sekarang aku memiliki dan menyayangi adik adiku, tanpa sembunyi sembunyi lagi.