Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Hari Pertama Belajar Menulis


__ADS_3

[Malam kak, apakah malam ini bisa untuk kita mulai belajar kak?]


Pesan ku kirim ke author dari pulau Bangka itu. Yang ia bersedia mengajariku sampai novelku terbit di berbagai aplikasi online.


[Bisa, tapi tunggu jam sembilan ya, aku juga lagi ada kelas sekarang] balasnya.


[Ok] balasku dengan membubuhkan emoticon jempol.


Sekarang masih menunjukkan waktu setengah sembilan, berarti aku akan menunggu sekitar setengah jam lagi. Aku manfaatkan waktu itu untuk melanjutkan part dua. Yang sebelumnya aku sudah menyelesaikan part satu.


Aku yang punya modal hobi menulis, tak membuat aku banyak menemukan kesulitan dalam menulis.


Yang aku ingin pelajari betul adalah bagaimana cara upload tulisan di aplikasi, aku selama ini taunya hanya membaca saja.


Setelah part dua selesai ternyata hari sudah menunjukkan jam sembilan.


Aku coba lihat pesan yang masuk di whatsapp dan ternyata sudah ada pesan dari author baik hati.


Ya memang aku menyimpan nomornya dengan nama author baik hati.


[Ayo kita mulai belajarnya, silahkan ke mesengger!]


Begitulan pesannya. Memang dari awal ia sudah mengatakan bahwa pembelajarannya akan dilakukan dimesengger.


Akupun segera meluncur ke mesengger.


[Malam kak, bisa kita mulai kak?]


Sapaku dimesengger.


[Bisa, kamu boleh tanya tanya dulu tentang pertanyaan seputar menulis novel] balasnya.


Mulai aku mempertanyakan segala hal yang belum aku ketahui tentang aplikasi.


Aku memang lebih banyak mempertanyakan tentang aplikasi ketimbang menulisnya.


Ia menjawab dan memberikan penjelasan dengan sangat jelas, jadi semakin terbuka pikiran dan keinginanku untuk segera menulis.

__ADS_1


[Kamu akan tau lebih jelasnya tentang aplikasi nanti setelah kamu menjalaninya langsung. Apa kamu sudah pernah menulis atau sudah ada novelnya?]


Begitulah pesan yang ia kirim kepadaku setelah kami bertanya jawab panjang lebar.


[Aku baru punya dua part kak.] Jawabku malu malu.


[Boleh tau judulnya?]


Akupun segera memberitahukan judulnya.


[Bagus. Aku bukan hanya mengajari kalian menerbitkan novel ya. Tapi memastikan tulisan kalian juga. Nah, coba kamu kirim part yang kamu tulis itu ke aku! Ketik aja disini. Sedikit saja.]


[Kalau tulisan kamu udah rapi, artinya kamu gak perlu belajar menulis lagi, tinggal belajar menerbitkan aja.]


Pesan darinya datang lagi.


Tanpa ragu lagi, karena aku memang benar ingin mencoba peruntungan dalam menulis, segera ku kirim part satu yang sudah kutulis.


Ia terlihat sudah membuka pesanku, namun tak kunjung membalas. Aku jadi cemas dan takut kalau kalau tulisanku gak menarik.


Selang beberapa menit, terlihat ia sedang mengetik, nah mungkin saja tadi dia sedang membaca ceritaku dulu. Aku nya aja yang sudah berprasangka aneh aneh.


Wah aku senang donk dengan komentarnya. Aku semakin memantapkan hati untuk segera menulis.


Belum sempat aku membalas pesannya, dia sudah terlihat mengetik lagi.


[Tapi nanti kalau sudah masuk aplikasi minimal satu partnya harus seribu kata ya!]


Ting ting, pesannya masuk lagi


Wah disini aku mulai ragu, apa aku sanggup untuk menulis satu part seribu kata. Aku lantas menghitung secara manual kata yang aku tulis di part satu, ternyata hanya enam ratusan kata. Aku semakin ragu. Ini baru dua part saja, aku tak mampu untuk seribu kata, bagaimana dengan banyak part nantinya? Aku mulai tak yakin disini.


Aku katakan apa yang aku takutkan ke author baik hati ini.


[Kak aku ragu untuk bisa menulis seribu kata dalam setiap part, ini saja baru dua part aku tak mampu mendapatkan seribu kata, barusan aku hitung] pesan ku kirim.


[Kamu menulis aja dulu, nanti kalau masih kurang, kamu tinggal tambahin pemanis cerita, kamu bisa tambahin di bagian atas atau tengah part! Jangan ragu, aku yakin pasti kamu bisa, itu kamu karena masih baru menulis saja. Nanti seiring berjalannya waktu, dan kamu sudah terbiasa menulis, jangan kan seribu kata untuk satu part, update untuk tiga atau empat part dengan masing masing part seribu kata pasti kamu jabanin.] Balasnya yang diikuti dengan emoticon semangat.

__ADS_1


Wah aku semakin pusing memikirkan ini. Namun si author baik hati ini terlihat yakin bahwa aku bisa.


Sementara aku sendiri mulai tak yakin.


Aku masih memikirkan ucapannya.


Karena aku yang belum membalas pesannya juga.


[Begini, aku punya trik khusus bagaimana caranya supaya kita gak buntu menulis seribu kata. Jadi begini, misal bab yang akan kamu tulis nanti kamu sudah punya ide, dan sudah kamu persiapkan, tapi kok dikit lho serunya. Paling cuma beratus kata. Nah, awal bab kamu tulis dulu basa basi. Misal menceritakannya siapa dulu, peran kedua atau pendamping. Atau peran pertama sedang mandi atau makan, kegiatan dia pokonya lah. Dan...Setelah banyak kata ***** bengek itu, baru kamu sambungin ke cerita inti nya. Jadi bab seru kamu ada di bawah bab. Jadi orang gregetan meskipun awal bab bertele-tele.]


Ia menjelaskan panjang lebar, disertai contoh. Disini aku mulai sedikit terbuka pikirannya.


Aku masih sibuk dengan pikiran sendiri.


Pesan darinya kembali masuk


[Coba dulu. Kamu bisa banyak masukin kata. Dari suasana sekitar peran juga. Kayak yang kamu tulis tadi itu udah banyak bertele-tele lho. Bertele-tele bukan berarti membosankan. Itu bagus. Aku harus ke novel dulu. Besok pagi kalau kamu ada waktu, kita sambung lagi jam sepuluh. Tapi kalau kamu sibuk. Bisa lanjut malam hari saja.]


Dengan sedikit keraguan aku membalas pesannya.


[Baik kak, akan aku coba, kita lanjut malam besok saja kak, karena siangnya aku sibuk dengan duta] balasku sambil membubuhkan emoticon senyum dan jempol.


Aku mulai memikirkan saran dan masukan yang diberikan oleh author baik hati itu. Aku kembali menambahkan cerita dipart satu, sesuai arahan yang diberikannya.


Setelah lama jemari ini bergelut dengan keyboard hp. Akupun sudah merasa kehabisan ide. Aku kembali menghitung kata demi kata, tanpa aku duga aku akhirnya bisa menembus seribu empat ratus enam puluh sembilan kata.


Wow keren! Gumamku dalam hati.


Aku sangat bahagia dengan pencapaian ini. Aku tak menyangka bisa menembus seribu kata, bahkan ini sudah sangat melampaui target yang harus dicapai.


Akupun lanjut ke part dua. Karena aku yang hanya mengetik di chatt whatsapp, dan aku kirimkan ke whatsapp suami, agar tak hilang. Jadi tak terlihat sudah berapa ketikan kata yang aku tulis, akupun kembali menghitungnya secara manual. Ternyata masih kurang.


Akupun kembali membacanya dan memutar otak dibagian mana yang harus aku tambahkan. Malam itu aku larut dalam kegiatan menulis, hingga jam sudah menunjukkan jam sebelas malam. Karena merasa sudah banyak tambahan akupun kembali menghitungnya lagi.


Akhirnya aku mencapai di seribu tujuh puluh sembilan kata. Aku tersenyum bahagia. Untuk yang kedua kalinya aku bisa mencapai target.


Namun tiba tiba, anakku menangis, dan aku segera menggendongnya, aku yang masih sambil memegang hp, berniat akan menidurkannya sambil membaca baca dan mengedit kalau kalau masih ada typo.

__ADS_1


Tiba tiba entah apa yang tertekan, semua chat di whatsapp ku hilang.


__ADS_2