
Aku kaget sekali dengan yang baru saja disampaikan suami.
Satu ekor dihargai dengan 20SGD, jika dirupiahkan jadi dua ratus ribu rupiah. Aku langsung kalikan dengan lima puluh ekor ikan laga kali dua ratus ribu, jadi sepuluh juta.
"Yah ini serius?"
"Serius lah bund, memangnya selama ini ayah pernah berbohong?"
"Ya.... pernah bohong sih gak yah, cuma pernah menyembunyikan sesuatu." Ucapku sambil mengerlingkan mata.
"Yang kemaren jangan diungkit ungkit lagi bund, ayah kan udah jelasin semua dan minta maaf." Ucapnya memelas.
"Iya deh, gak dibahas lagi. Tapi bunda kurang percaya karena dihargai mahal sekali yah."
"Ya bunda gak percaya karena bunda gak ngerti ikan hias, bagi orang yang ngerti mah itu udah harga murah bund, makanya si agannya cepat terima. Biasanya harga ke luar negeri itu tinggi dari yang ayah berikan."
"Tapi gak apa apa begitu yah? Nanti dibilang merusak harga lagi." Ucapku mulai ragu.
"Gak apa apa bund, itu juga harga diluar ongkir, ongkir dia yang nanggung. Biasanya orang orang yang ayah tau, harganya mahal tapi ongkir dari sipenjual, ya sama aja bund"
"Owh begitu ya, emang dikirim kapan yah?"
"Sekitar dua puluh lima hari lagi bund."
"Bunda udh gak sabar yah, lihat nominal sepuluh juta menumpuk di rekening ayah." Ucapku.
"Yang sabar bund, dan berdoa saja semoga bisa jadi langganan. Eh mana ada sepuluh juta bund."
"Terus berapa limapuluh kali dua ratus ribu yah? Delapan juta gitu?" Ucapku ketus.
"Sekitaran dua ratusan itu, lebih dari dua ratus bunda sayang...."
"Ha? Ayah coba pelan pelan bawa motornya!"
Aku meminta suami pelan membawa motor dan segera mengeluarkan benda terpintarku. Aku langsung menekan menu yang bersimbol huruf g, dan segera menulis 20SGD berapa rupiah.
Selang beberapa detik dilayar menampilkan 215.946. Mataku semakin melotot dan segera menghafal nominal yang tertera dilayar. Sambil mengingat ingat aku segera menuju menu kalkulator, dan langsung menekan angka yang aku ingat tadi 215.946 aku kalikan dengan lima puluh. Dan tertera jelas disana 10.797.300.
"Ayah...!"
Tanpa menyahut suami malah menepikan motor dan berhenti.
"Apa bund?" Kaget dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ini yah semuanya sepuluh juta tujuh ratus sembilan puluh tujuh, tiga ratus rupiah." Ucapku menjeda disetiap angka angkanya.
"Ya segitulah berarti bund, setelah ditransfernya nanti, ayah mau ganti cincin bunda yang kemaren ayah pakai buat modal, ayah ganti dua kali lipat sekaligus." Ucapnya dengan semangat sambil kembali melajukan motor.
"Alhamdulillah, sykurlah yah, bunda bahagia bangat rasanya."
"Iya makanya bunda selalu berdoa semoga anakan ikan selamat dan besar semua."
__ADS_1
"Iya yah, semoga kita pelan pelan bisa membangkitkan perekonomian."
"Iya, kalau usaha ikan laga ayah sudah maju. Jadinya kalau bunda udah lelah, gak usah aja kita bikin kue lagi. Dan jangan terlalu kecewa kalau nanti masih menyisakan kekecewaan atas status bunda di sekolah." Ucap suami panjang lebar.
"Ah kalau untuk status di sekolah, bunda masih mengejar untuk Pegawai Negeri yah, kalau untuk jualan kue, bolehlah berhenti. Hehe biar kita bisa istirahat yah, takutnya sakit nanti karena kurang istirahat." Aku langsung membantah suamiku karena memang bagaimana pun aku tetap berkeinginan menjadi Pegawai Negeri.
"Ya, kalau itu keinginan bunda, ayah juga gak bisa larang. Semoga keinginan bunda nantinya tercapai."
"Amin."
Motor pun melaju tanpa ada pembicaraan antara kami.
***
Sambil rebahan di rumah, menunggu waktu ashar.
"Bund. Tadi ayah kan ke warung bu Nani dan kak Indah." Kelihatan ragu.
"Iya, terus yah? Banyak sisa kue disana?"
"Gak bund, habis malahan."
"Alahmdulillah, terus ayah kenapa seperti cemas dan bingung begitu?"
"Kue kita habis semua bund, tapi...."
Suami menggantung kalimatnya.
"Uangnya gak ada bund."
"Maksudnya?"
"Kata kak Indah uangnya terpakai semua sama dia, dan dia janji minggu depan membayarnya, sementara bu Nani uangnya terpakai seratus ribu, karena anaknya sakit, dan dia pakai buat berobat anaknya. Jadi dari bu Nani tadi hanya menyerahkan enam puluh ribu saja."
Mendengar itu aku kembali teringat akan kejadian waktu usaha kue mertua dulu.
"Terus kue masih ayah titip disana?"
"Masih bund, rencana ayah, ayah titip disana lagi, kita kasih waktu dia dua minggu, kita lihat dua minggu kedepan gimananya? Kalau masih gak dibayar lunas seperti sebelumnya, kita berhenti saja titip disana bund. Ayah takut kejadian yang dulu terulang kembali."
"Iya yah, aku setuju seperti itu."
***
Setelah selesai sholat ashar kami kembali dengan adonan adonan kue.
Pas magrib adukan selesai. Kami berniat melanjutkan nanti setelah magrib.
Setelah sholat magrib dan makan malam, kami kembali berkutat dengan adonan, memotong motong menggunakan gunting, karena kue yang kami buat kali ini kue biji ketapang. Setelah dipotong potong nanti tinggal digoreng, dan itu adalah pekerjaannya suami.
Saat suami menggoreng kue, aku iseng iseng main hp suami. Dan terlihat notif ada pesan masuk.
__ADS_1
"Yah, ada pesan di messengger."
"Buka aja bund!"
Akupun segera membuka pesan dan membacakan dengan bersuara.
[Bos, jenis yang lain ada apa aja?]
Ternyata dari si agan yang sudah memesan lima puluh kemaren.
"Jawab apa yah?"
[Ada, koi, fccp, dragon, ct, doble tail, minat juga gan? Ini juga palingan dua bulan lagi panen.
jenis lain ada juga tapi masih lama untuk panennya.]
[Boleh gak nanti disaat kamu kirim yang pesanan, kasih sampel masing masing satu ekor?]
[Bisa gan, nanti saya kirimin, tapi bagaimana dengan ongkirnya gan?]
[Gampang, biar saya yang bayar. Nanti untuk pembayaran ongkirnya pilih yang bayar di tempat tujuan ya!]
[Ok gan.]
[Owh iya bos, nanti aku trasfernya hari H pengiriman barang ya, kalau barang sudah mau dikirim langsung kabari aku ya!]
[Seep.] Balasku dengan membubuhkan emoticon jempol.
Akupun sudah selesai berchat ria dengan agan tersebut seolah olah menjadi suami, eh padahal jawabannya hasil dikte dari suami kok.
"Yah, apa gak apa apa ayah kasih sampelnya, apa gak rugi?"
"Bund kita gak rugi sama sekali bund, mana tau dia nanti berminat dan memesan lagi. Kalaupun dia gak mesan diikhlasin aja bund, pasti Allah akan membalas semua, melalui pintu pintu yang tak pernah terpikir oleh manusia."
"Iya deh yah, yang penting semua lancar dan usaha ayah makin sukses,"
"Iya bund, anggap aja sampel sampel yang ayah kirim nanti magnet untuk menarik kesuksesan."
"Semoga yah, amin. Masih banyak yang mau digoreng yah?"
"Gak bund, tinggal satu kali lagi. Owh iya bunda gimana tulisannya?"
"Ya gitu yah, masih sepi pembaca, tapi udah mendingan dari kemaren, semenjak udah mulai promosi di group komunitas menulis di sosial media"
"Syukurlah bund, semangat terus ya nulisnya!"
"Iya yah, tapi bunda udah update ditiga aplikasi loh yah."
"Baguslah bund. Semoga tulisan bunda banyak pembacanya!"
"Kalau gak sekarang semoga esok atau nanti bunda bisa menikmati hasil gerakan jari ini yah." Ucapku berharap sambil kembali melanjutkan ceritaku.
__ADS_1