Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Hendel pintu bikin Malu


__ADS_3

Aku sangat sangat merasakan kesedihan, karena aku yang tiba tiba teringat dengan kejadian puluhan tahun yang lalu, dimana aku dan keluarga juga pernah melalui perjalanan ini dulu, ya dulu sekali, di saat awal mula aku berpisah dengan bapak, perpisahan yang dijanjikan akan kembali untuk bersama, perpisahan yang direncanakan hanya untuk sementara.


Namun semua tidak sesuai dengan rencana. Perpisahan pun tak mampu terelakkan.


Nah aku teringat akan perjalanan pulang dahulu, mungkin karena melalui perjalanan yang sama, tetapi dengan situasi dan kondisi yang berbeda, dulu aku masih sangat kecil, bahkan mungkin tak ada sedikit pun dimemori ku tentang perjalanan itu, aku hanya mendengar cerita cerita dari kakek dan nenekku. Dulu aku yang melalui ini mungkin penuh kerewelan, dulu aku yang melalui ini mungkin penuh dengan tangisan, dikarenakan masih bayi.


Berbeda dengan sekarang, sekarang aku melewati ini sudah dengan status bersuami, sudah dengan status yang juga menjadi seorang ibu untuk putra dan putriku. Yang tidak berbeda adalah ibuk yang masih setia disampingku.


Dengan keadaan itulah, semua terbayang dalam pikiran ku, semua seakan seperti kaset yang diputar. Seperti terlihat begitu jelas.


Aku rindu dengan orang orang yang selalu mendampingi mulai dari aku dijemput oleh kakek sampai aku seusia sekarang. Wajah mereka seakan nyata terlihat dipikiran ini, nenek dan kakek, itu lah dua orang yang mampu memberikan semangat dan banyak pelajaran terhadap diriku


Disamping status mereka adalah kakek dan nenekku, mereka juga bagaikan orang tua bagiku, karena mereka yang memenuhi semua kebutuhanku semenjak itu, dia yang tahu segala kebutuhanku, dia yang tahu apa saja dan bagaimana kebiasaan ku, mereka membesarkan dan mendidik aku dan abang ku seperti anak sendiri, bahkan terlihat lebih menyayangi kami.


Masih terngiang ditelinga ini,


"Anakku sepuluh, dua sudah meninggal dunia diwaktu kecil, nah sekarang seakan anakku kembali sepuluh, karena kehadiran cucu dari salah satu anakku, Allah seakan memberikan ganti yang sama, anak ku yang telah tiada juga sepasang, dan kami diganti dengan cucu sepasang juga yang dititipkan untuk tinggal bersama kami." begitulah jawaban nenek, setiap ada orang yang bertanya tentang status kami.


Nenekku adalah perempuan yang paling lembut yang pernah aku temui, tidak ada aku menemui wanita selembut itu, nada suaranya tidak pernah tinggi, tutur katanya yang lembut, tidak pernah berkata kasar kepada orang lain, sabar yang luar biasa dalam menghadapi perjalanan roda kehidupan.


Kakek dan nenek ku bukan orang yang berada dari awal, mereka juga pernah merasakan susahnya kehidupan. Kehidupan bertani yang ia geluti bertahun tahun, bukan tak mungkin ia pernah merasakan sedihnya perjuangan. Karena ketidak punyaannya, hinaan dan kucilan pun mereka rasakan. Namun kesabaran yang ia miliki, tak menimbulkan gejolak emosi atas apa yang mereka hadapi.

__ADS_1


Namun kerinduan akan nenek dan kakek tak akan pernah terobati, karena mereka sudah tak bersama kami lagi, usapan tangan nya tak bisa lagi aku rasakan, nasehatnya tak kan pernah lagi terdengar menghiasi telinga, raganya tak mampu lagi untuk aku raba, karena mereka sudah tenang di sisi-Nya.


Nenek meninggal disaat ia menunaikan rukun islam yang kelima. Ia meninggal di dalam masjid di kota makkah, posisi ia sudah berwudhu' dan sudah berdiri di syaf, sambil mendengarkan adzan dzuhur berkumandang, tubuhnya luruh ke lantai. Mengingat ini, hati kembali bersedih, semoga nenek dan kakek husnul khotimah.


***


Entah berapa lama aku larut dalam kesedihan ini, sehingga sebuah panggilan mengembalikan kesadaran diri.


"Bun.. bunda..." tegur suara dari sebelah ku.


Aku langsung menoleh, ternyata suami sudah menatap wajah ini dengan lekat. Mungkin ia penasaran dengan apa yang terjadi dengan ku.


"Kenapa menangis?" Ia balik bertanya.


Aku menggeleng, tangan terangkat sambil mengacungkan jempol, seakan memberikan isyarat bahwa aku baik baik saja, aku begitu, karena aku belum bisa menceritakan penyebab yang membuat aku menangis hingga berlinangan air mata.


"Beri aku waktu, dan jangan bahas dan pertanyakan ini dulu untuk saat ini, yah," jawab ku lirih.


Seakan mengerti dengan keadaan, suamiku paling mengerti dengan diriku, ia lantas merangkul tubuh ini, seakan memberikan penguatan dan asupan kesabaran.


"Tenanglah, ketika hatimu sudah siap untuk berkeluh kesah, jangan lupa kalau ada aku yang selalu setia mendengarkannya, berceritalah! Untuk saat ini mari kita nikmati perjalanan ini," dengan lembut ia mengusap sudut mata yang masih sedikit basah.

__ADS_1


Merasa sedikit sudah lebih tenang, aku melangkah menuju arena permainan anak anak, ya sejak pertama sampai di lantai tiga tadi, ibuk dan anak anak berada di arena permainan itu. Aihzan sicantikku yang sudah bangun saat berada di dalam kapal tengah asyik bermain dengan Rey, abangnya, dan juga banyak anak anak penompang lain yang juga menikmati fasilitas kapal tersebut.


Cukup lengkap juga fasilitas dalam kapal tersebut, mulai dari toilet, tempat sholat, cafe, dan tak tertinggal arena mainan anak anak. Aku kagum dengan ide desain kapal dan perkembangan zaman yang begitu canggih.


Merasa kapal sudah hampir merapat, kami berniat untuk kembali ke bus, kebetulan dirombongan yang sama sama akan menuju parkiran bus di lambung kapal, kami berada di bagian paling depan. Selama melewati tangga kami tidak bisa berjalan bersisian, karena tangga yang hanya bisa di lalui oleh satu orang, disetiap akan memulai melangkah pada anak tangga pertama, dan melangkah pada anak tangga terakhir sebelum kita melihat bus bus berjejeran ada pintu dulu yang membatasi.


Posisi yang berjalan paling depan adalah aku sambil menggendong Aihzan, dan di belakangku diikuti oleh ibuk, diurutan nomor tiga diikuti oleh suamiku sambil menggendong Rey anak laki lakiku. Dan urutan urutan berikutnya diikuti oleh penompang lain.


Bunyi derap langkah seakan menjadi irama dan saksi bisu penurunan tangga tersebut.


Sampailah kami di anak tangga yang paling terakhir, dan untuk menuju bus kami harus membuka satu pintu lagi, aku coba putar hendel pintu, dan mendorong, namun pintu tak kunjung terbuka, aku coba ulangi lagi, namun masih sama, aku balikkan badan ke belakang terlihat banyak antrian orang orang yang berharap agar pintu segera terbuka.


"Mungkin kita belum diizinkan turun." ucapku lirih.


Semua orang yang berada disana seakan menampilkan raut cemas, tak terkecuali Rey yang langsung menangis, Rey anakku mempunyai trauma pernah terjebak disuatu ruangan, ia berpikir bahwa kami sudah terkurung atau terjebak disana.


Eh tanpa diduga salah satu orang yang ikut dalam antrian membuka satu hendel yang berada didekatnya, pintu terbuka dengan lebarnya. Fixs ternyata aku memutar hendel yang salah.


Malunya aku. Wajahku memerah bagai kepiting rebus.


Semua tertawa meninggalkan anak tangga yang sudah melukiskan cerita mencemaskan yang berujung dengan memalukan yang luar biasa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2