
[Bos, saya puas bangat dengan barangnya, dan terima kasih untuk sampelnya. Bos bisa gak ngirim sebulan sekali sebanyak seratus ekor saja. Tapi yang jenis jenis berkualitas saja. Dan harga bisa disepakati.]
Itulah yang membuat suamiku tadi histeris, yang membuat aku kembali tertunda menikmati black forest yang serasa sudah sampai di tenggorokan.
Ya, aku berhasil meraih ponsel suami. Karena kesal oleh ulahnya black forest belum kunjung juga sampai di dalam mulutku.
Namun kini, seakan aku tak lagi peduli dengan black forestku.
"Ayah? Benaran ini? Sakit gak yah?" Ucapku juga tak kalah histeris sambil mencubit kedua pipi suami dengan kedua tanganku, memastikan ini nyata atau mimpi.
"Aduh bund, sakiiit." Ucap suami meringis sambil melepaskan tanganku dari pipinya.
Akupun segera melepaskan tanganku, karena suami sudah berteriak sakit. Fix berarti ini nyata.
"Ayah. Katanya minta dikirim sekali dalam sebulan. Dengan jumlah seratus ekor saja. Seratus ekor saja katanya yah? Lima puluh ekor saja sudah membuat kita bahagia luar biasa. Nah ini seratus ekor. Mimpi apa kita semalam yah?" Ucapku mengoceh dengan apa saja yang baru aku ketahui.
"Iya bunda ayah juga bersyukur bangat, berarti satu pintu rezeki kita sudah terbuka. Semoga membuka pintu pintu rezeki yang lainnya. Dan semoga kita selalu dilindungi_Nya."
"Iya ayah, amin."
"Sini dulu hp nya bund! Ayah mau balas dulu pesan si agannya."
Sembari suami mengutak atik ponselnya untuk membalas. Ibuk mencolek lenganku. Akupun menoleh.
"Ada apa?" Ibu bertanya dengan pelan sambil menunjuk suami yang tengah konsentrasi memainkan jemarinya dilayar ponsel.
"Ada yang mesan ikannya, minta dikirim setiap bulan seratus ekor." Jawabku masih memancarkan aura bahagia di wajah.
"Owh hanya sekali sebulan saja?" Tanya ibuk lagi dengan ekspresi biasa saja. Tak terlihat rona bahagia di wajahnya.
"Iya buk, ibuk tau berapa uangnya seratus ekor ikan ikan itu?" Akupun bertanya balik, karena ibuk tak bahagia sedikitpun mendengar kabar yang sangat membahagiakan hatiku ini
"Gak tau. Emang berapa?" Masih dengan ekspresi biasa.
"Dua puluh jutaan buk." Menekan disetiap deretan angka angkanya.
"Ha. Apa? Gak salah itu? Ikan sekecil kecil itu. Dihargai sampai dua puluh juta?" Kini seakan akan ibuk tertular antusias yang tadi mendera kami. Ibuk tak kalah kagetnya dan berteriak.
__ADS_1
"Ya, begitulah buk harganya." Ucapku mulai tenang. Mungkin perasaanku sudah mulai stabil.
"Terus minta dikirim setiap bulan?" Ibuk kembali bertanya.
"Permintaannya sih iya buk, sekali sebulan. Tapi gak tau ke depannya. Ya.... kita berdoa saja! Semoga lancar lancar aja terus usaha bang Ardi ini."
"Iya. Semoga ya! Jangan lupa kalia sedekah!" Ibuk mengingatkan.
"Iya buk. Pasti."
Suami sepertinya sudah selesai dengan ponselnya. Terlihat ia meraih kue.
"Yah, ayah balas apa?" Penasaran.
"Ya ayah bilang ayah usahain. Dan semoga ke depannya jual beli kita berkah dan amanah. Ternyata dia punya toko ikan hias yang cukup besar dan terkenal di Singapura bund." Sambil mengarahkan pisau ke arahku dan mengisyaratkan agar aku memotong kue yang sudah tertunda beberapa kali dari tadi.
"Benaran yah? Wah semoga ini awal yang baik yah, ayah harus jaga kwalitas ikan ikannya ya. Dan lebih rajin lagi membibitkan." Ucapku mengingatkan.
"Siap istriku! Buruan ah dipotong kuenya."
Sekarang kami tengah asyik menikmati kue, sepotong dua potong. Entah berapa potong yang sudah masuk ke dalam mulutku. Ibuk yang sudah merasa puas, berniat mencuci tangan ke dapur.
Tiba tiba berbalik karena teriakanku.
"Aduh.... to-to-long! Ayah...." ucapku sambil minta tolong dan memegang tenggorakan dengan kedua tanganku seperti orang keselek.
Semua orang cemas, serentak melepaskan apa saja yang ada ditangannya. Langsung lebih mendekat ke arahku. Dan meraba raba badan ini.
"Bunda kenapa bund?" Ucap suami dengan sangat panik terlihat dari suara dan gerakannya menggoyang goyangkan tubuhku.
"Bunda! Bunda kenapa?" Rey terdengar menangis, suaranya terdengar parau.
"Indri. Kamu kenapa?" Ibukpun tak kalah panik melihat keadaan ku dan mencoba menepuk nepuk punggungku.
Namun tak ada reaksi apa apa dari ku. Aku tetap saja berteriak minta tolong dengan terbata bata sambil memegangi dada, tenggorokan dan mulut secara bergantian. Sesekali aku mencoba batuk dan berdehem.
Perlahan mataku terpejam dan tak ada reaksi apa apa lagi. Aku tak lagi bisa bersuara.
__ADS_1
"Ardi. Jangan jangan Indri keselek sama cincin yang kamu taruh di dalam kue tadi. Kalau itu terjadi. Dan sesuatu yang buruk terjadi dengan Indri. Ibuk tidak bisa memaafkan kamu Ardi." Ucap ibu marah.
"Buk aku minta maaf, aku tidak menyangka akan begini jadinya buk, maafin aku buk." Suami semakin bersedih.
"Bunda.... bunda... huhuhu..." Rey terdengar memanggil manggil aku sambil menangis.
Aihzah pun terdengar menangis. Dan sepertinya sudah digendong sama ibuk.
"Bunda maafin ayah. Ayah gak menyangka ini akan terjadi." Suamiku terdengar menangis, menyesali perbuatannya
"Pokoknya ibuk gak akan maafin kamu Ardi." Ibuk kembali terdengar membentak.
Sementara bang Ardi masih saja berusaha menggungcang guncang tubuh ini, memukul mukul punggung sambil memanggil manggilku.
"Bunda! Bunda! Bangun bund! Maafin ayah bund!"
"Ardi coba kamu panggil orang keluar. Minta bantuan!" Ibuk memerintah kepada bang Ardi.
"Tapi aku malu buk. Apa yang harus aku jawab nanti, kalau orang orang bertanya Indri kenapa?" Jawab suami menolak perintah ibuk untuk minta bantuan.
"Terus kamu mau membiarkan Indri mati secara perlahan?" Ucap ibuk kembali membentak.
"Gak begitu juga buk. Aku juga gak mau Indri pergi. Aku baru mendapatkan secercah peluang untuk membahagian Indri buk." Ucap suami membela diri.
"Bohong kamu. Buktinya kamu membiarkan Indri. Tanpa mau meminta tolong kepada orang lain. Apa jangan jangan ini sebagian rencana kamu. Karena usahamu sudah mulai berhasil. Dan uangmu sudah banyak sekarang." Berbagai tuduhan ibuk lontarkan kepada bang Ardi.
"Buk, bukan begitu. Jangan menuduhku seperti itu buk. Aku gak akan mungkin melakukan itu kepada Indri. Dan gak akan pernah aku menyakiti Indri sedikitpun, apalagi sampai membuat ia tersiksa kesakitan seperti ini buk. Indrilah yang setia menemaniku selama ini buk. Aku juga gak akan sanggup kehilangan Indri." Ucapnya parau membantah tuduhan tuduhan ibuk atas dirinya.
Rey terus saja menangis. Memanggil manggilku.
"Bunda... bunda gak boleh meninggalkan Rey. Bangun bunda! Rey mau dipeluk bunda. Rey gak mau lagi mainan, Rey hanya mau bunda." Tangisnya pecah saat memeluk tubuhku dengan mata terpejam.
"Ya terus kamu harus cari cara Ardi! Kalau memang kamu gak mau Indri tersiksa." Ibuk masih marah.
"Iya buk. Iya. Owh iya buk. Di ponsel Indri ada whatsappnya bidan Marini, aku telfon dan tanya dia saja buk, atau minta dia datang kesini untuk membantu Indri."
"Oek oek...."
__ADS_1