Awal Seorang Penulis Terkenal

Awal Seorang Penulis Terkenal
Screenshot Chattingan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Burung burung meliuk liuk terbang menuju sarangnya. Pertanda siang akan berganti dengan malam.


Aku kembali masuk ke dalam rumah.


Mendapati Indri yang sedang di kamar, sembari duduk di depan meja rias.


Tapi aku lihat sekarang Indri tak lagi menangis. Ia sudah lebih segar dan tenang dari sebelumnya.


Kamar yang tadi berantakan, sekarang sudah berbanding terbalik, kamar begitu tertata dengan rapi. Tak ku lihat lagi pakaian yang berserakan. Mungkin Indri sudah merapikan kembali ke dalam lemari.


"Sudah sholat bund?" Aku menyapa dengan lembut, seperti tak terjadi apa apa. Menanyakan apa dia sudah sholat atau belum, karena waktu magrib sudah masuk.


"Sudah."


Indri menjawab pertanyaanku walaupun sikapnya masih terlihat dingin. Dalam hati aku sedikit senang. Karena dia tak lagi emosi seperti tadi.


Aku berniat setelah selesai menunaikan sholat magrib akan menjelaskan kepada Indri, agar hubungan kami kembali membaik.


Seusai sholat aku menuju ruang tengah, di sana terlihat Indri dan anak anak sedang makan.


"Ayah.... ayo makan yah!" Ucap anak anak antusias memanggil ku.


Aku segera bergabung, akupun mengambil nasi. Rey dan Aihzan terlihat makan begitu lahapnya. Sementara Indri hanya mengaduk ngaduk makanannya dengan malasnya. Pandangannya masih nanar. Menggambarkan begitu sedihnya perasaan yang ia rasakan.


Aku merasa bersalah, karena kecerobohanku, Indri menanggung semua ini.


Selesai makan, aku main dengan anak anak, sementara Indri mengurung diri di kamar, aku tak tau apa yang ia lakukan di dalam sana.


Cukup lama anak anak bermain, hingga kantuk menyerang keduanya.


Kamipun masuk kamar. Terlihat Indri sedang memainkan ponselnya.

__ADS_1


Melihat anak anak datang, Indri langsung menghentikan mengotak atik ponselnya dan melepaskannya asal di atas kasur.


Anak anak langsung berhamburan ke Indri. Masing masing mengambil tempat ternyamannya, yaitu di kiri dan kanan bundanya, dan lengan Indri menjadi bantalnya.


Setelah mendapatkan posisi ternyamannya Indri menuntun anak anak membaca doa tidur.


Aku pun ikut berbaring di sisi Rey.


Tak lama anak anak terlihat sudah mengarungi alam mimpinya masing masing.


Indri terlihat ingin bangun dari ranjang. Segera ku tepis tangannya, ketika ia akan mengayunkan langkah sepertinya ingin berjalan meninggalkan ranjang. Entah kemana tujuannya. Dengan sigap ku cekal tangannya. Bersamaan dengan itu langkahnya terhenti, ia menatap mataku, mengangkat alisnya, pertanda mempertanyakan kenapa aku menghentikan langkahnya.


"Duduk di sini bund!" Ucapku menatap manik matanya lekat. Sambil meraba kasur di sebelah sisiku.


Dia berpikir sejenak, dan akhirnya mau mengikuti permintaanku. Ia duduk di sisi ranjang sebelah ku sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Namun masih dengan raut wajah dinginnya.


Aku senang bangat, sepertinya indri sudah mulai melunak. Aku berniat menjelaskan semua yang terjadi.


"Bunda. Bunda harus dengarkan dulu penjelasan ayah. Ini semua jebakan bund. Orang orang itu berharap keutuhan rumah tangga yang kita bina selama ini hancur. Bahkan bisa jadi mereka berharap kita bercerai. Jika itu terjadi ia akan bersorak dan merasa menang. Apa bunda ingin perceraian itu terjadi?" Aku rangkai kata kata yang cukup panjang. Terlihat Indri mendengarkan dengan seksama, tanpa ada sanggahan sanggahan dari mulutnya. Ia mendengarkan kalimat demi kalimatku dengan tenang. Dalam hati aku bahagia sekali. "Mungkin sekarang pikiran Indri sudah terbuka, tidak diselimuti emosi lagi." Bathinku dalam hati.


Cukup lama setelah aku berhenti menjelaskan. Indri masih diam. Ia jauh lebih tenang dari yang tadi. Akupun diam menunggu tanggapan Indri atas penjelasanku.


Dalam diam aku melihat Indri mengutak atik ponsel digenggamannya. Ia terlihat menuju aplikasi hijaunya, sesaat ia meletakkan ponselnya di atas ranjang di dekatku.


"Masihkah kamu mengatakan kita dijebak?" Sambil menunjuk layar ponselnya.


Aku segera mengambil ponsel Indri yang tergeletak di atas ranjang dan menatapnya.


Disana terlihat screenshot chatingan.


Di atasnya terlihat dengan jelas pesan ini dari aku. Nama nya tertulis di atas bagian kiri bertuliskan 'Bang Ardi Sayang', dan juga jelas terlihat di sana, dalam lingkaran kecil sesuai dengan foto profil whatsappku, yaitu foto kami berempat.

__ADS_1


Chatingannya terlihat jawaban dari pesan yang dikirimkan seseorang yang mengaku Cita Rahayu siang tadi ke ponselku.


Terlihat discreenshot tersebut percakapan kami seperti ini.


[Bang terima kasih untuk yang tadi ya!] Terlihat balasan dariku [Iya, kapan kapan kita atur lagi waktunya ya!]


[Nanti setelah Indri tidur, kita telfonan ya!] [Aku gak bisa untuk malam ini, karena Indri sudah tau hubungan kita, entah siapa yang mengirim foto kita tadi ke whatsapp Indri. kita harus main lebih cantik lagi, agar Indri tak curiga.]


[Aku masih rindu samamu tau?] [Aku juga sangat merindukanmu, rasanya pertemuan kita tadi terlalu singkat, tak bisa mengobati rindu yang sudah bertahun tahun menyerang.]


[Perlakuanmu tadi membuat aku bahagia sekali.] [Aku senang jika kamu bahagia, mulai sekarang aku akan membuatmu selalu bahagia, dan jika butuh uang, kasih tau saja! Aku pasti akan mengirimimu.]


[Aku seakan akan merasakan keadaan dan perasaan seperti tiga belas tahun yang lalu.] [Akan kita jadikan kenyatan perasaanmu itu, aku juga bahagia bisa kembali bersamamu. Tapi untuk saat ini kita batasi pertemuan maupun komunikasi, aku meyakinkan Indri dulu agar ia tak curiga, dan percaya kalau kami dijebak."]


Aku begitu geram setelah membaca chatingan dari hasil screenshot yang dikirm seseorang ke whatsapp Indri.


Ku kepalkan tangan. Aku emosi sekali. Niat bangat orang orang itu untuk menghancurkan rumah tanggaku.


Ku hela napas panjang. Ku atur strategi untuk kembali menjelaskan bahwa semua ini tak benar.


"Bunda." Ucapku sambil mengatur duduk lebih mendekat.


"Tak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Pasti di saat kamu keluar tadi kamu chatingan sama dia. Kan kamu membawa ponsel tadi keluar. Dan sekarang seperti apapun kamu menyusun kalimat untuk menjelaskan bahwa kita dijebak. Aku tak akan percaya." Ucap Indri menekan kalimat terakhirnya.


"Bunda ayah berani sump..." Indri memotong pembicaraanku.


"Apa kamu tidak dengar? Aku tak akan percaya apapu penjelasan darimu. Ini sudah menjadi bukti bahwa kamu memang sedang berselingkuh." Ucapku sambil mengangkat ponsel di hadapannya. Ia lantas berdiri dan berjongkok ke arah kolong ranjang. Terlihat ia menyeret dua tas pakaian dengan ukuran cukup besar.


"Sekarang kamu angkat kaki dari sini!" ucapny menatapku tajam dan meletakkan dua tas pakaian dihadapannya.


"Keluar!" Bentaknya sambil menunjuk pintu kamar.

__ADS_1


"Aku sekarang sudah tak percaya lagi dengan apapun penjelasanmu. Bahkan lebih baik kamu tak perlu lagi menjelaskan apa apa. Semua bukti sudah berbicara. Dan semua ini akan aku bawa ke pengadilan agama." Indri semakin emosi. Didorong dengan kasar tubuhku yang masih mematung ke arah pintu.


__ADS_2