
Setelah balasan dari nomor tersebut yang mengaku ia adalah Ronal, aku tak ada lagi membalasnya. Aku sibuk dengan pikiranku.
"Bagaimana bisa Ronal mengetahui perselingkuhan suamiku? Sementara Ronal tinggal di kota yang berbeda dengan kami. Terakhir yang ku tahu Ronal juga tak tinggal di kotanya, melainkan ia pindah ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di sana, dan setelah menyelesaikan pendidikannya ia bekerja di sana." Aku membatin sendiri.
Sulit mencerna kenyataan yang baru saja aku dapati. Ronal dan Cita adalah dua orang yang sepengetahuanku tak saling kenal. Dan mustahil mereka akan saling kenal. Entahlah kepala ku sakit memikirkan semua ini.
Tapi aku sedikit mulai lebih terbuka pikirannya. Karena mengetahui orang yang mengirimiku tentang perselingkuhan suami. Aku kembali ragu, dan ada sedikit mempercayai suami. Tapi sangat sedikit sekali.
Aku akan mencari tahu. Dan menyelidiki ini sendiri. Bathinku.
Tanpa aku berniat memberi tahukan suami tentang ini. Hubungan kami masih saja dingin.
Kembali ku perhatikan chat ku yang menggunakan ponsel lama dengan Ronal. Di chatingan Ronal mengatakan ia berada di kota X, berarti ia sekarang sudah kembali ke kotanya, tak lagi di ibu kota. Aku menyimpulkan demikian.
Antara kota Ronal dengan kotaku memiliki jarak lebih kurang satu jam. Kami beda kota, tapi masih di provinsi yang sama.
Kembali ku putar otak memikirkan strategi bagaimana caranya mengetahui kebenaran yang ia kirimi ke whatsapp pribadiku.
Sepintas aku memiliki ide. Segera ku raih ponsel lama, dan menuju aplikasi playstore, ku tulis facebook, dan segera ku instal. Sedang proses pengisntalan.
Aku berniat membuat akun facebook baru dan mengirim permintaan pertemanan kepada Ronal. Saat proses pengistalan facebook. Ku buka facebook ku dan ku klik pencarian, ku berniat mencari akun facebook Ronal. Segera ku ketik Ronal Firmansyah. Facebook ku yang tak berteman dengan Ronal sedikit kesusahan mencari akunnya, akhirnya setelah aku teliti masing masingnya, aku menemuka akun Ronal Firmansyah yang menampilkan foto profil ia sendiri, namun identitasnya dikunci. Aku tak bisa melihat identitasnya sama sekali, tapi aku yakin dari profil yang digunakan kalau itu adalah Ronal Firmansyah yang ku maksud. Tak banyak postingan di linimasinya, ku lihat salah satu postingan dilinimasi facebooknya, hingga ku baca baca komentar, dan aku menemukan satu kenyataan lagi, ia sekarang sudah menetap di kotanya yaitu kota X.
Kembali ku lihat ponsel lama. Facebook yang telah berhasil ku instal, segera ku daftarkan akun baru, yang tak menggambarkan identitas asliku. Setelah akun baru ku selesai. Ku kirim pertemanan ke orang yang tak memiliki pertemanan dengan facebook asliku, termasuk ke Ronal Firmansyah.
Sekarang aku tunggu ia menanggapi dulu, semoga saja ia secepatnya menerima pertemananku, jangan sampai ia mengabaikan. Doa ku dalam diam.
Banyak orang yang kebiasaannya selalu memposting perjalanan dan kegiatan hari harinya. Aku berharap Ronalpun demikian hingga aku bisa mendapatkan sedikit celah tentang masalah ini.
"Aku masih berpikir pikir. Apa motif Ronal mengirim itu semua kepadaku? Dari mana ia mendapatkan nomor whatsappku? Ah seketika aku teringat, nomor whatsappku memang terpampang di plang usaha suami di depan rumah. Jika ia mendapatkan nomorku dari plang tersebut, berarti ia sudah pernah kesini? Karena suami tak pernah menampilkan plang tersebut di media sosial. Untuk memberikan nomor whatsapp ke calon pembeli, suamipun mengiriminya lewat inbox. Jadi kemungkinan satu satunya Ronal mendapatkan nomor whatsappku dari plang tersebut. Atau dari seseorang yang mengenali nomor whatsappku dan juga mengenali Ronal. Tapi siapa? Rasanya hanya aku yang mengenali Ronal di kota ini." Banyak pertanyaan bermunculan di benakku, aku semakin pusing memikirkannya.
__ADS_1
Disela sela aku berkelana dengan pikiranku, aku melihat suami sibuk mengurusi ikan ikannya. Kelihatannya ia sibuk sekali hari ini, karena besok ia akan mengirim ikan ikannya ke Singapura, sesuai permintaan dari sana.
Dari kejauhan ku lihat suami, begitu semangat dan ikhlas bekerja.
Dari ketulusannya selama ini membuat aku ragu. Benarkah pengakuannya bahwa ini hanya jebakan? Aku berbicara sendiri. Jujur aku sebenarnya tak ingin berpisah darinya.
"Ayah! Apakah keikhlasan dan keseriusanmu hanya topeng semata agar perselingkuhanmu tak ku ketahui?" Berbagai dugaan mengisi benakku.
Tiba tiba panggilan anak anak mebuyarkan lamunanku.
"Bunda...." panggil Rey dan Aihzan sambil berlari ke arahku.
"Iya nak! Ada apa?" Balasku sambil memeluk mereka berdua.
"Bund, kami ingin jalan jalan sore. Kan kita sudah lama gak jalan." Rengek Rey.
Aku bingung jika anak anak sudah menagih ini. Kalau sudah berhubungan dengan jalan jalan pasti melibatkan ayahnya. Aku dilema.
"Eh lebih baik kita di rumah saja. Ayah lagi sibuk tuh." Balasku sambil menunjuk ke arah ayahnya yang memang lagi bekerja memilah ikannya.
"Hmp.. tapi aku ingin jalan jalan bunda... sekalian beli ayam kriuk! Rengek Rey lagi.
"Iya bunda!" Aihzan ikut merengek juga.
Mereka yang sangat menyukai ayam kentucky dan menamai ayam itu dengan ayam kriuk.
Permintaan dan rengekan mereka membuat hatiku bergetar. Antara kasian menolak dan malas juga jalan jalan dengan suami.
Karena aku yang belum juga merespon, Rey berlari ke arah ayahnya.
__ADS_1
Aihzan juga terlihat ingin mengikuti Rey, namun karena ia masih kecil dan belum bisa berjalan di pinggir pinggir kolam, ia mengajak aku untuk mengantarkan ke ayahnya. Ia tarik tanganku sambil menangis meronta ronta, karena aku tak kunjung beranjak dari posisiku semula.
Akhirnya aku tak punya pilihan, selain mengikutinya ke arah suami dan Rey.
"Iya yah, aku juga pengen jalan jalan, mau ayam kriuk juga." Ucap Aihzan dengan rengekan.
"Iya udah, kita jalan sekarang ya! Tunggu ayah bersih bersih dulu." Suami menerima ajakan anak anak.
"Hore... jalan jalan..." ucap Rey dan Aihzan dengan girangnya.
"Bunda ikut juga ya!" Pinta suami.
"Gak, pergi aja bertiga." Jawab ku ketus.
"Kasian anak anak bund, biasanyakan kita pergi bersama." Bujuk suami lagi.
Anak anak hanya terdiam memperhatikan percakapan kami.
"Pokoknya kamu aja. Aku banyak kerjaan." Kilahku.
"Rey dan Aihzan jalan jalannya sama ayah aja ya, bunda banyak kerjaan. Mau?" Suamipun menjelaskan aku tak bisa ikut kepada anak anak.
"Iya deh, gak apa apa." Merekapun setuju.
Suami segera menyelesaikan pekerjaannya, dan berjalan menuntun Rey dan Aihzan digendongannnya, akupun mengikuti dari belakang.
Setelah anak anak dan ayahnya berlalu, aku kembali mengambil ponsel lama, ku sentuh aplikasi biruku, dan banyak notifikasi masuk. Tentu saja, aku yang tadi banyak meminta pertemanan, sudah pasti dari yang ku minta pertemanan sudah ada yang menerimanya.
Segera ku lihat notifikasi. Senyum terukir dibibirku, melihat salah satu notifikasi yang bertuliskan [Ronal Firmansyah menerima pertemanan anda.]
__ADS_1