
Namun aku yang malas membalas ucapannya. Hanya diam. Tanpa merespon.
"Maaf Ronal! Aku harus pergi menjemput anakku."
Tanpa menunggu jawaban darinya aku melenggang menuju sekolah Rey.
"Ndri!" Ia berusaha mencekal tanganku.
Tapi tak bisa. Aku berjalan sedikit berlari.
Sesampai di sekolah Rey. Aku masih melihat ia berdiri di depan gerbang sekolahku.
"Sial! Ia masih saja disana." Aku membatin. Geram.
"Bunda! Ayolah kita ke sekolah bunda!" Ajak Rey.
Aku masih saja memikirkan bagaimana caranya agar aku tak lagi dicekalnya.
Untuk mengulur waktu lebih baik aku mengajak Rey jajan dulu.
Aku berjalan sedikit menjauhi sekolah menuju jajanan anak anak.
Di saat kami mengantri. Aku tak lagi memperhatikan Ronal yang berada di gerbang sekolah ku. Posisi aku yang membelakangi gerbang sekolah.
Setelah pesanan selesai, saat aku akan menyodorkan uang untuk membayar. Tiba tiba seseorang di sebelahku dengan cepat menyodorkan uang kertas dua puluh ribu.
"Ini mas." Ucapnya menyodorkan uang.
Aku melihat ke arah suara. Ternyata...
"Ronal! Ngapain kamu di sini?" Aku kaget dan tidak menyangka ia akan mengikutiku.
Tanpa menjawab ia tersenyum.
Namun senyumnya tak mampu meluluhkan hatiku. Aku muak melihat tingkahnya. Aku kesal sekali.
Tanpa pikir panjang aku tetap menyodorkan uang sepuluh ribuan ke arah penjual. Dan berlalu pergi.
"Ndri! Indri! Berhenti dulu!" Teriak Ronal dari belakang.
Ia yang menungu uangnya dikembalikan dan dikerumunan anak anak yang kebetulan ingin berbelanja juga, membuat ia ketinggalan oleh langkahku.
Rey seakan mengerti dengan kondisiku. Ia juga mempercepat langkahnya. Hingga kami sudah memasuki gerbang sekolah.
Aku sempatkan menoleh ke belakang. Syukurlah. Ia tak lagi mengikutiku masuk gerbang.
Sesampainya di kantor. Aku teringat akan sesuatu. Aku langsung menuju sebuah ruangan. Di sana dibantu operator aku mendapatkan yang ku mau.
"Yes." Batinku.
Senyum kemenangan terukir jelas dibibirku.
***
Sementara di rumah.
Di rumah aku yang tengah istirahat menikmati secangkir kopi. Pastinya kopi bikinan sendiri. Karena istri tercinta masih di tempat kerjanya.
Aku yang bersantai sambil berselancar dimedia sosial. Masih seperti biasa. Tak bosan bosannya memposting peliharaanku yang mampu berubah jadi rupiah jika bertemu dengan orang yang membutuhkannya.
Tiba tiba ponselku berdering. Pertanda sebuah pesan whatsapp masuk.
Ting ting.
Segera ku cek siapa yang mengirim pesan.
"Semoga orderan masuk." Batinku.
__ADS_1
Namun dugaanku salah.
Melihat pesan yang dikirim seseorang. Disana tertulis Cita. Cita mengirim beberapa foto. Aku tersenyum getir.
"Permainan murahan."
Aku segera mengetik. Beberapa menit pesan ku kirim.
[Terima kasih sudah mengirim ini. Aku gak menyangka istriku akan berbuat seperti ini.]
Aku yang sudah mengetahui kartu mereka. Mencoba untuk mengikuti alur permainan mereka.
Aku sangat yakin sekali. Ini adalah bagian dari jebakan mereka.
[Makanya kamu dibilangin gak percaya.] Balasnya dengan terlalu percaya diri.
[Dari mana kamu dapat bukti ini?] Tantangku lagi.
Setelah pesan ku centang dua berwarna biru. Tak ada balasan lagi darinya.
Ku putar otak. Mencari ide. Bagaimana membuat pecundang Ronal dan Cita itu kapok. Akhirnya. Aku menemui ibuk dan meminta nanti malam untuk bersedia menjaga anak anak. Karena aku punya ide untuk makan malam. Tapi hanya berdua saja.
Setelah ku sampaikan ide ku kepada ibuk. Akhirnya ibuk setuju.
Segera ku gulirkan jemari di ponsel kesayanganku.
Dan membuat sebuah status whatsapp, yang sebelumnya sudah ku atur hanya dapat dilihat oleh kontak Cita saja. Aku sengaja memancingnya. Aku yakin ia akan mengikuti semua yang berhubungan denganku.
[Gabut. Butuh ketenangan. Sepertinya nanti malam Cafe Taria adalah pilihanku.]
Benar saja tak beberapa saat terlihat Cita sudah melihat status whatsappku. Dan terlihat ia mengetik.
[Butuh aku temanin?] Tawarnya.
Aku tersenyum sinis. "Kaupun terjebak." Bathinku.
[Up to you!] Balasku singkat.
"Silahkan aja." Batinku.
Aku tak lagi membalas pesannya.
***
Sore hari setelah semua aktivitas negara Indri selesai. Mulai dari bersih bersih rumah, mandi. Dan sekarang di jam menunjukkan angka setengah enam sore.
Di dalam kamar.
"Ayah!" "bunda!"
Ucap kami hampir bersamaan.
Melihat kami saling panggil. Kamipun tertawa kecil.
"Bunda duluan deh!"
Sambil senyum senyum. "Yah bagaimana kalau nanti malam kita keluar? Ada sesuatu yang ingin bunda bicarakan."
Dalam hati aku bahagia sekali. Aku memang berniat juga untuk mengajak Indri makan di luar hari ini.
"Oke. Sebenarnya ayah tadi juga mau ajak bunda makan malam. Tapi hanya kita berdua. Ayah tadi sudah minta ibuk buat jagain anak anak. Ibuk setuju. Setelah yang kita lalui. Sepertinya kita harus menyediakan waktu untuk berdua saja walaupun sebentar."
"Owh begitu. Iya deh yah. Aku setuju."
Setelah sholat magrib kami melajukan motor menuju cafe yang sebelumnya sudah aku booking tanpa sepengetahuan Indri.
Tak memerlukan waktu lama. Akhirnya kami sampai di cafe tujuan.
__ADS_1
Aku mengarahkan Indri duduk di tempat yang sudah ku booking. Sambil menunggu pesanan. Aku lirik ponsel ada pesan dari Cita mengatakan ia sudah sampai di cafe.
Tak ku balas. Hanya ku baca.
"Aku pastikan kalian bagaikan cacing kepanasan malam ini." Batinku.
Aku yakin sekali ia pasti datang dengan Ronal.
Sesaat setelah membaca pesan Cita. Ku simpan ponsel kembali. Dan aku minta izin ke Indri untuk ke toilet sebentar.
Aku berbohong pada Indri. Yang tadi ngakunya ke toilet. Padahal aku naik panggung.
"Selamat malam kepada para tamu cafe yang sedang menikmati makan malam dengan keluarga, sahabat ataupun dengan calon keluarga alias pacar." Terdengar kekehan dari sana.
"Aku izin untuk mempersembahkan lagu ini untuk istriku tersayang. Yang sedang duduk di meja nomor 10."
Aku sontak kaget dengan ucapan terakhirnya. Aku yang menempati meja nomor sepuluh.
"Berarti itu ayah?" Batinku
Meja nomor sepuluh letaknya yang agak ke pojok. Jadi tak terlihat panggung dari sini. Hanya terdengar suaranya saja.
Aku tak menyangka suami akan naik panggung. Aku tersenyum sendiri. Tapi rada malu juga hampir semua mata yang ada disekitarku tertuju ke arahku.
Wajahku yang sudah memerah bak kepiting rebus. Ku alihkan dengan melihat ponsel. Hanya pelarian. Aku tak tau akan melihat apa. Karena perasaanku tak menentu saat ini.
Aku 'tak mampu menyakitimu
Aku 'tak sanggup untuk menduakanmu
Oo-oh, oo-oh...
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
Aku hargai ketulusanmu, untuk cintamu
Tapi 'ku milik dia
Reff.
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
'Ku 'tak mungkin mencintaimu
Karena hatiku telah dimiliki dia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
Kau 'tak mungkin memiliki 'ku sepenuh hati
Aku hanya ingin setia
Aku hanya ingin setia, oo-oh...
__ADS_1
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh...
*Ku Ingin Setia --> Armada Band*